Mak Ban ysh,
Saya baru pulang dari NTT dan bersiap-siap lusa berangkat lagi ke Papua untuk
2 minggu ke depan. Sebelumnya saya sampaikan dengan bahasa Indonesia karena
diskusi ini saya sampaikan juga ke milis lain.
Berikutnya, sebenarnya tidak semua email sanak di RantauNet masuk ke Inbox
saya, termasuk email Mak Ban, Ahmad Ridha, dll, karena mungkin ada pembatasan.
Sanak Benny sudah menjelaskan, dan kelihatannya masih ada sisa-sisa dari
benteng Bonjol itu. Sejujurnya saya belum pernah memperhatikan secara seksama
mengenai bentuk dan situasi benteng tersebut, selain hanya melintasi saja waktu
remaja dulu.
Hampir tiap tahun hingga 25 tahun yang lalu setiap perjalanan dari Padang
Sidempuan ke Bukit Tinggi, saya selalu melintasi Bonjol ini. Yang saya ingat
adalah memasuki daerah Bonjol masyarakatnya memang senang berpakaian
putih-putih. Di salah satu tepi jalan terletak sebuah tebing dan ada beberapa
lubang (gua), yang oleh Buya almarhum disebutkan sebagai salah satu bagian
benteng Bonjol.
Dari catatan AQD saya rumuskan kembali mengenai benteng Bonjol ini :
" Beberapa waktu setelah itu (kejadian Kototangah) Tuanku nan Renceh
memerintahkan muridnya, Peto Syarif atau Muhammad Syahab atau kemudian dikenal
dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol untuk membuat benteng di Bukit Tajadi sekitar
Alahan Panjang. Benteng dibangun pada areal seluas 90 hektar, dengan tembok
setinggi 4 meter dan tebal 3 meter. Lokasi Alahan Panjang ini yaitu di hulu
sungai Alai Panjang, sebuah tempat antara Kota Lubuk Sikaping dan negeri
Bonjol, dan pada saat ini berada di tepi jalan lintas Sumatera. "
Selengkapnya saya kutip AQD sebagai berikut :
" Untuk mengokohkan gerakan kaum Padri, Tuanku Nan Renceh telah
memerintahkan salah seorang murid-nya yang bernama Malin Basa atau Peto
Syarif atau Muhammad Syahab, untuk membuat sebuah benteng yang kuat,
sebagai markas gerakan kaum Padri. Pemilihan Malin B asa, yang kemudian
bergelar Tuanku Mudo nntuk membuat benteng besar, guna menjadi pusat
gerakan kaum Padri, disebabkan karena Malin Basa (Tuanku Mudo) seorang
murid yang pandai, alim dan berani.
Perintah Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan ter-tinggi gerakan Padri dan
guru dari Tuanku Mudo, dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan
keberanian dan berhasil memilih tempat di sebelah timur Alahan Panjang, di
kaki bukit yang bernama Bukit Tajadi. Deng an bantuan seluruh umat Islam
yang tinggal di sekitarAlahan Panjang, di mana setiap hari bekerja tidak
kurang dari 5000 orang, akhirnya 'Benteng Bonjol' yang terletak di bukit
Tajadi itu menjelma menjadi kenyataan dengan ukuran panjang kelilingnya
kira-ki ra 800 meter dengan areal seluas kira-kira 90 hektar, tinggi
tembok empat meter dengan tebalnya tiga meter. Di sekelilingnya ditanami
pagar aur berduri yang sangat rapat.
Di tengah-tengah benteng Bonjol berdiri dengan megahnya sebuah masjid yang
lengkap dengan per-kampungan pasukan Padri dan rakyat yang setiap saat
mereka dapat mengerjakan sawah ladangnya untuk keperluan hidup
sehari-hari. Sesuai dengan, fungsinya, maka be nteng Bonjol juga
diperlengkapi dengan per-senjataan perang, guna setiap saat siap
menghadapi per-tempuran. Benteng Bonjol itu dipimpin langsung oleh Tuanku
Mudo yang bertindak sebagai 'imam' dari masyarakat benteng Bonjol, yang
sesuai dengan struktur pem erintahan kaum Padri. Oleh sebab itu, Tanku
Mudo digelari dengan 'Imam Bonjol'.
Setelah benteng Bonjol selesai dan struktur pemerin-tahan lengkap berdiri,
Imam Bonjol memulai gerakan Padrinya ke daerah-daerah sekitar Alahan
Panjang dan berhasil dengan sangat memuaskan. Keberbasilan Imam Bonjol
dengan pasukannya menimbulkan kecemasan para penghulu di Alahan Panjang
seperti antara lain Datuk Sati. Kecemasan ini melahirkan satu gerakan para
penghulu di Alahan Panjang untuk menyerang pasukan Imam Bonjol dan merebut
benteng sekaligus. Pada tahun 1812 Datuk Sati dengan pasukannya menyerbu
benteng Bonjol, tetapi sia-sia dan kekalahan diderita olehnya. Untuk
mencegah hal-hal yang lebih buruk, maka Datuk Sati mengajak diadakannya
perdamaian antara para penghulu dengan Imam Bonjol. "
Beberapa catatan saya disini di antaranya priode pembangunan benteng Bonjol
adalah antara tahun 1808 s/d 1812, karena pada tahun 1812 terjadi penyerangan
benteng ini oleh kaum adat di Alahan Panjang, dipimpin oleh Datuk Sati. Satu
catatan penting: benteng Bonjol semula tidak dimaksudkan untuk menghadang
Belanda, karena Belanda baru masuk ke Padang pada tahun 1820.
Maksud pembangunan benteng masih simpang siur, dan terdapat beberapa teori:
1. Selain benteng Bonjol, juga dibangun benteng di Rao dipimpin oleh Tuanku
Rao dan juga benteng di Dalu-dalu dipimpin oleh Tuanku Tambusai. Formasi
benteng sepertinya menghadang "pengaruh dari utara", dan dalam banyak riwayat
disebutkan bila seringnya serangan-serangan dari utara yang masuk ke
Minangkabau. Pembangunan benteng berarti pola pertahanan defensif, dan bukan
ofensif. Bila kemudian menjadi agresif, terbukti bila pasukan Paderi "tidak
menduduki" wilayah-wilayah utara. Sifatnya hanya punishment.
2. Teori lain adalah penghadangan pengaruh Rafles (Inggris) di Sumatera
Tengah, dengan melalui jalur tradisional; di antaranya dengan adanya serangan
dari kaum adat. Namun dari posisi dan formasi benteng tersebut meragukan saya
terhadap teori ini. Namun cukup banyak tulisan yang menyebutkan berbagai upaya
Rafles untuk masuk kembali ke Sumatera pada masa itu (di antaranya diselesaikan
melalui Treaty of London 1817 s/d 1821).
Saya kutip kembali :
" Kampung Bonjol kira-kira 1200 hasta panjangnya dan 400 sampai 700 hasta
lebarnya, sebab bagian selatan dari dinding barat mundur kira-kira 200 hasta
ke
belakang. Letak kampung ini antara 1000 atau 1200 hasta dari tepi timur suang
Batang Alahan Panjang. Di timur dan tenggaranya terdapat tebing terjal dan
sebuah bukit yang tegak hampir lurus keatas, yang dengan Bonjol dipisahkan
oleh
sebatang anak sungai kecil. Bukit ini Tajadi namanya, menguasai lapangan di
setelah barat dan timurnya.Di atas bukit ini pasukan Padri mem-buat beberapa
kubu pertahanan yang kuat dan baik letaknya, dan dari sana mereka menembakkan
meriam yang bermacam kaliber kepada musuh di seberang barat Alahan Panjang.
Di kampung itu banyak rumah yang terbuat dari kayu, yang sebagian besar
dinaungi oleh hutan bambu, pohon-pohon kelapa dan pohon buah-buahan. Di
sebelah
barat dan utara kampung Bonjol terbentang sawah luas.
Di sebelah timur Bonjol membujur bukit barisan tinggi membujur, yang
diselimuti
oleh hutan lehat. Di balik timur bukit barisan itulah terletak tanah Lima
Puluh
Kota. Tanah di sebelah selatan dan tenggara Lambah Alahan Panjang ini
bergunung-gunung dan ber-bukit batu yang benjal-benjol. Keadaan alam ini
diper-gunakan oleh pasukan Padri sebagai benteng pertahanan yang paling besar
dan menjadi markas besar Imam Bonjol. Pada umumnya, semak, belukar dan hutan
yang sangat tebal di sekitar Bonjol ini, sehingga kubu-kubu pertahanan
pasukan
Padri tidak mudah dilihat dari luar. Di tengah lembah mengalir dan
berliku-liku
sungai Batang Alahan Panjang dari utara ke selatan. "
Dari kondisi geografis ini dapat diperkirakan bila benteng Bonjol sebenarnya
merupakan benteng alam, dalam posisi yang sangat baik untuk pertahanan. Saya
mencoba mereka-reka lokasi benteng itu pada peta topografi, dan kelihatannya
ketemu ancar-ancarnya. Memang posisinya cukup sempurna karena berada di daerah
ketinggian. Bisa dibayangkan bertahun-tahun Belanda mencoba menembus pertahanan
benteng tersebut dengan susah payah. Juga disebutkan bila akhirnya benteng itu
bisa ditembus, tersedia jalur pelarian yang cukup aman, walaupun terkepung
dengan sangat rapat.
Sehubungan dengan informasi sanak Benny, saya sampaikan analisis sbb:
Perang Paderi sebenarnya telah memasuki perang modern, yaitu dengan telah
digunakannya persenjataan berat oleh kedua belah pihak. Meriam-meriam yang
digunakan oleh pasukan Paderi merupakan buatan Turki, yang pada masa itu
dikenal dengan kekuatan dan keakuratannya. Sehingga harus diakui bila memang
ada relasi antara Timur Tengah dan Sumatera pada masa itu. Hal ini bila kita
coba perdalam, sebenarnya era ke-2 Perang Paderi (1821-1832) patut dicurigai
sebagai kelanjutan Perang Salib yang telah berpindah lokasi ke Asia Tenggara.
Patut pula dipertanyakan bila pilihan dan strategi "perang frontal" ini
dilakukan "pertama sekali" ke Minangkabau (1821), dan bukannya ke
wilayah-wilayah lain di Nusantara. Kita pernah mengkaji tujuan dan strategi
kontak fisik pertama Belanda di Maluku (1817) dan beberapa daerah lainnya di
Indonesia pada masa-masa sekitar itu.
Sementara demikian dulu sanak.
Wassalam,
-datuk endang
Benny Farlo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ass.w.w
Menarik juga topiknya, kebetulan Ibu saya asli orang Bonjol, Anak dari Datuk
Majo Indo, sesekali jika ada kesempatan saya pulang kampung ke Bonjol,
karena disana masih ada rumah turun menurun yang berlokasi didesa Labuah
panjang, bukti perjuangan Imam Bonjol masih ada disana, diantaranya Benteng
dan Meriam dan peluru yang separonya masih tertanam di tanah, yang konon
katanya Meriam tidak bisa di tarik seluruhnya ke permukaan dari tanah, makin
ditarik makin masuk ke tanah, walau udah memakai bantuan kuda,
walahu..alam..
salam,
Sutan Bunsu.
----- Original Message -----
From: "mak Ban"
To:
Cc: ; ;
Sent: Thursday, November 08, 2007 8:42 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Benteng Imam Bonjol ?? (was Re: [EMAIL PROTECTED] Re:
Tuanku Imam Bonjol)
>
>
> Kpd Dtk Endang.
>
> Apokoh benteng Imam bonjol masih ado saat iko ??
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui
jalur pribadi.
===============================================================
Jika anda, kirim email kosong ke >>:
berhenti >> [EMAIL PROTECTED]
Cuti: >> [EMAIL PROTECTED]
digest: >> [EMAIL PROTECTED]
terima email individu lagi: >> [EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---