MOHAMMAD NATSIR

Natsir dan Warisan yang Terabaikan
13-08-2007

Sangatlah  berbeda,  orang  yang  mati tapi bila menyebut namanya kita
merasa hidup, dengan orang yang masih hidup tapi bila menyebut namanya
kita merasa mati. (Ibnu Qayyim)

Di  tengah  kegalauan  batin kita melihat kondisi umat Islam saat ini,
jalannya  nasib  bangsa  yang  terancam bahaya kehancuran dan diombang
ambingkan  gerak  sejarah yang menuju labirin ketidakpastian, rasanya,
kenangan   akan  sosok  Mohammad  Natsir  amat  pantas  untuk  kembali
dihidupkan.  Adalah  kerinduan yang wajar untuk mengangankan kehadiran
manusia  seperti  Natsir dengan segala semangat, kejujuran, kecerdasan
intelektualitas,  ketulusan  dan  empati kepemimpinannya. Namun sayang
seribu  sayang,  kita  tak  mungkin  lagi berharap Natsir akan datang.
Natsir amat mungkin ingin sekali datang, tapi makhluk sejarah hari ini
tak sudi akan kedatangannya.

Mohammad Natsir adalah tokoh sejarah yang malang dan terlupakan. Peran
pentingnya   seolah   hilang   karena  rekayasa  sejarah  politik  dan
kemanusiaan   yang   banyak   diarahkan  untuk  selalu  sesuai  dengan
kepentingan  kekuasaan.  Sejarah  yang  tertuang dalam lembaran kertas
bisa saja mengebiri, memburukkan dan meniadakan jasanya, namun sejarah
sebagai  fakta  tak  pernah  bisa berdusta, tetap saja akan selalu ada
orang-orang yang mau jujur dan mengakui eksistensi sejarah Natsir.

Natsir  adalah tokoh sejarah yang menurut filsuf sejarah, tokoh dengan
kualitas  kemanusiaan  seperti dia hanya akan muncul sekali dalam satu
abad untuk sebuah bangsa. Dalam dirinya melekat beragam kelebihan yang
jarang  sekali  tergabung  pada diri seseorang. Dia memiliki kefasihan
sebagai   seorang  intelektual,  kejernihan  seorang  ulama,  kearifan
seorang  negarawan  dan  kecintaan  seorang pemimpin yang tiada pamrih
terhadap  umat  dan  rakyatnya.  Kharisma,  integritas  dan  moralitas
kepemimpinannya   banyak  memberi  inspirasi  dan  teladan  bagi  para
intelektual dan pemimpin periode berikutnya.

Tanpa  maksud mengabaikan tokoh lain yang telah berjasa besar terhadap
bangsa  ini,  Natsir  sekian  kali  memberikan kontribusi sejarah yang
menentukan. Natsir adalah mentri penerangan pertama di awal negeri ini
lahir   sebagai  sebuah  negara  yang  merdeka.  Di  saat  negeri  ini
terpecah-pecah menjadi negara serikat sebagaimana yang dimaui penjajah
Belanda,  Natsir dengan pikiran yang brilian mencoba menyelamatkannya.
Mosinya  yang kemudian dikenal dengan  Mosi Integral Natsir  merangkai
kembali  Indonesia  sebagai  negara  kesatuan  yang  utuh  yang  telah
berjalan  lebih  50 tahun lamanya, namun dalam beberapa tahun terakhir
terancam  tercabik-cabik. Berbekal Mosi Integral Natsir inilah Sukarno
meresmikan  kembali  Indonesia sebagai negara kesatuan pada 17 Agustus
1950.  Peristiwa  ini  adalah  proklamasi  kedua  republik ini setelah
proklamasi  1945.  Berkat  jasanya  ini Sukarno kemudian mengangkatnya
sebagai  perdana  mentri,  namun  karena  sifat  lurusnya  ia kemudian
mengundurkan diri dari jabatan itu.

Pada  masa  mudanya  Natsir  sering  berpolemik  di media massa dengan
Sukarno  tentang  beragam  persoalan  serius  dan fundamental. Setelah
kemerdekaan kedua tokoh ini bersatu dalam sebuah pemerintahan. Sukarno
sering  berdiskusi  tentang soal-soal kenegaraan dengan Natsir, bahkan
sering   dimintai  untuk  menulis  pidato  Sukarno.  Namun  pada  masa
pertengahan  pemerintahan  Sukarno,  kedua  sahabat  ini  mulai sering
berbeda  sikap.  Sukarno  mulai  menjadi  otoriter  dengan  mewujudkan
demokrasi  terpimpin  setelah sebelumnya membubarkan Konstituante yang
merupakan  hasil  Pemilu  1955 yang amat demokratis. Natsir sebelumnya
bersama  Hatta  sudah sering mengingatkan Sukarno, namun Sukarno sudah
menjadi   berkepala  Batu  dan tak mau lagi menengarkan nasehat orang.
Keiikutsertaan Natsir dalam PRRI adalah salah satu bagian dari itu.

Perjalanan  sejarah dua orang yang pernah dekat ini akhirnya berbalik,
PRRI  menjadi  alasan  bagi  Sukarno  dan  para petualang di lingkaran
kekuasaannya   untuk   memenjarakan  Natsir  dan  partai  Masyumi  pun
diultimatum  untuk  bubar.  Masyumi  bubar sebelum batas hari terakhir
yang  ditentukan  Sukarno.  Natsir  dan  banyak tokoh lainnya kemudian
dikandangkan  ke  dalam penjara tanpa sebuah proses pengadilan. Karena
tak  mau mendengar nasehat dari para sahabatnya seperti Natsir, Hatta,
Syahrir, dan lain-lain, akhirnya Sukarno menuai badai dari sikap keras
kepalanya. Pada tahun 1966 ia jatuh dari kekuasaannya.

Kejatuhan  Sukarno  dengan Orde Lamanya, rezim negeri ini berpindah ke
tangan  Orde  Baru di bawah kepemimpinan Suharto. Pada masa ini Natsir
dibebaskan,  ia ingin kembali meneruskan perjuangan. Namun watak rezim
ini tak jauh beda dengan rezim sebelumnya, malahan perilaku rezim Orba
ini  jauh lebih buruk. Partai Masyumi sebagai wadah perjuangan politik
Natsir,  dengan  segala rekayasa tak diizinkan lagi untuk hidup. Sejak
itu  Natsir  berhenti berjuang lewat proses politik kepartaian. Ia dan
kawan-kawan  kemudian  mendirikan  Dewan  Dakwah  Islamiyah  Indonesia
(DDII).  Sampai  akhir  hayatnya,  di  sinilah  ia  menjalankan kiprah
pengabdian untuk umat dan bangsanya.

Walau  tak  diberi  tempat  dalam ranah politik formal kenegaraan pada
zaman  Orba, Natsir tak pernah berhenti memberikan kontribusi terhadap
bangsanya.  Ia  membantu  memperbaiki  hubungan  dengan  Malaysia,  ia
mengirim  surat  pada  Tengku Abdurrahman, pemimpin Malaysia saat itu.
Karena rasa hormatnya pada Natsir, hubungan Indoinesia dengan Malaysia
kembali membaik.

Natsir  pula  yang  berperan  besar  agar  Jepang  memberikan  bantuan
keuangan  pada  pemerintah  Indonesia,  setelah  Suharto  pulang  dari
kunjungannya ke negara Matahari Terbit itu dengan tangan hampa. Dengan
sebuah  surat  Natsir  yang  ditujukan  pada  PM  Jepang Takeo Fukuda,
didirikanlah  IGGI  (International  Govermental  Group for Indonesia).
Bantuan  Jepang dan negara lain pun cair. Juga yang tak bisa dilupakan
adalah  uluran  tangan  Natsir  untuk  menjalin  persahabatan  anatara
Indonesia  dengan  negara-negara  Timur  Tengah.  Sejak  itu, hubungan
Indonesia  dengan  negara-negara  kaya minyak itu berjalan dengan baik
hingga berdampak tak sedikit kucuran bantuan yang diterima Indonesia.

Banyak  lagi  peran  Natsir yang pernah mengharumkan nama Indonesia di
tingkat internasional. Ia pernah menjadi Presiden Liga Muslim se-Dunia
(Islamic  World  Congres).  Ia  pernah  menjadi  Sekjen Rabithah A lam
Islami,  Ketua  Dewan  Masjid  se-Dunia. Pernah hampir dipilih menjadi
Presiden  OKI  (Organisasi  Konferensi Islam), namun ia mundur sebelum
dicalonkan.

Terlalu  banyak jasa yang telah diberikan Natsir pada negeri ini, baik
pada  masa  pergerakan kemerdekaan, pada masa Orla, tidak sedikit pula
pada  zaman Orba, apalgi jika dihitung pengaruh internasionalnya dalam
membangun  citra  bangsa  dan  umat  Islam  Indonesia.  Namun, tak ada
balasan  yang  baik  dari  pemerintahan negeri ini terhadap Natsir. Ia
dicap  sekadar  pemberontak,  peran besarnya dihilangkan dari lembaran
sejarah.  Sadar atau tidak, penggelapan sejarah ini juga didukung oleh
para  sejarawan.  Orang yang peran sejarahnya kecil atau malahan tidak
jelas  sama  sekali,  begitu mudah dibesar-besarkan malahan dinobatkan
sebagai   pahlawan,   namanya   diabadikan   pada   gedung  jalan  dan
dimonumenkan.    Sementara    Natsir   dan   tokoh   sejarah   lainnya
ditenggelamkan.

Kita adalah bangsa yang tega  membunuh  Natsir sehingga peran besarnya
sebagai  seorang  pejuang,  pemikir,  pembela  umat dan pendiri bangsa
dilupakan.  Generasi  hari ini rata-rata tidak tahu peran sejarah yang
telah  ditorehkan Natsir. Bahkan Natsir pernah jadi perdana mentri pun
hampir tak ada generasi hari ini yang mengetahuinya. Kalaupun ada yang
mengenali  Natsir,  itu  tak  lebih terkait dengan PRRI. Natsir adalah
pemberontak.

 Pembunuhan   dan  pengabaian  terhadap Natsir ini tak hanya dilakukan
oleh   para   tokoh   yang  merupakan  musuh  politiknya,  namun  yang
menyedihkan  adalah, sadar atau tidak, para pengikut Natsir pun banyak
yang  ikut   membunuh   kehadiran  Natsir  dari lingkungan sejarah dan
kehidupan  hari  ini.  Natsir  yang  bekerja keras untuk mempersatukan
umat,  namun  sebahagian  besar  orang  yang  mengklaim  diri  sebagai
pengikutnya,  karena  kepicikan  dan  hawa  nafsu  lebih  senang  akan
perseteruan  dan perpecahan. Natsir terbiasa akan kesederhanaan, namun
banyak  pengikutnya,  lebih  senang akan kemewahan. Natsir amat peduli
akan  nasib  rakyat  kecil,  namun  sebagian pengikutnya hari ini yang
punya posisi penting dalam kekuasaan, bungkam akan penderitaan rakyat.
Sungguh   ironi,   para   pengikut   Natsir  seringkali  dengan  fasih
menyebut-nyebut   kemuliaan  Natsir  dan  mengajak  orang  lain  untuk
menauladaninya,  Namun  mereka  sendiri  jauh dari perilaku hidup yang
telah dicontohkan Natsir.

Natsir dan warisannya yang terabaikan
Bukan bermaksud melebih-lebihkan, Natsir adalah manusia multi dimensi.
Ia  tak  hanya  sekadar  tokoh  politik Islam dan seorang ulama, namun
dalam  dirinya  melekat  beragam  dimensi  lainnya.  Ia adalah seorang
intelektual  Muslim  par  excellent  yang menguasai khazanah ilmu-ilmu
keislaman  dengan  amat  luas.  Ia  memahami  tafsir, hadis, fikih dan
syariah. Ia paham bahasa Arab dan sejarah. Kemampuannya ini menjadikan
Natsir  bisa  memahami  agama  secara lebih holistik dan komprehensif.
Agama  tak  hanya  dipahami  sebagai  persoalan keakhiratan namun juga
bagaimana  mengatur  dunia  sehingga menjadi lebih baik dan memberikan
kemaslahatan.

Di  sisi  lain, Natsir, karena latar belakang pendidikan formalnya, ia
amat  menguasai, sejarah, filsafat, kebudayaan dan peradaban Barat. Ia
juga amat menguasai beragam bahasa dari Barat. Ia juga mengerti dengan
sangat  kuat  banyak perspektif dan terminologi ilmu pengetahuan Barat
yang  sesungguhnya  hanya  mampu  dikuasai  para sarjana berpendidikan
tinggi.  Tak  hanya  itu,  ia  juga mengerti dengan amat baik berbagai
pengetahuan tentang agama lain di luar Islam.

Lebih  dari  itu,  Natsir  juga  akrab dengan produk-produk kebudayaan
Barat  dan  Islam.  Mungkin  sedikit sekali yang tahu, Natsir ternyata
juga  amat  menggemari dan memiliki apresiasi yang baik tentang musik.
Saat  bersekolah  di  AMS Bandung, ia pernah memimpin orkestra. Natsir
cukup  piawai  dalam  memainkan  beragam  alat musik. Natsir juga amat
menyukai  karya-karya  komponis  asal Austria seperti Wolfgang Amadeus
Mozart,  komponis  Jerman  Ludwig  van Bethoven, dan konon Natsir juga
amat menikmati lagu-lagu Ummi Kaltsum legenda musik asal Mesir.

Natsir  adalah tipe manusia pemebelajar yang haus akan banyak ilmu dan
pengetahuan.  Semuanya ia pelajari dengan sungguh-sungguh baik melalui
pendidikan  formal  maupun yang ia dapatkan secara otodidak. Ia adalah
manusia  yang  identik dengan buku dan khazanah ilmu. Kemampuannya ini
menjadikan  Natsir  sebagai penulis banyak menghasilkan buku dan karya
tulis  lainnya.  Sampai  hari  tuanya  Natsir tak lepas dari aktivitas
menulis  dan  membaca.  Beragam  buku  yang ditulis Natsir, mulai dari
fikh,  kebudayaan,  politik kebangsaan, idiologi, hubungan antaragama,
kebudayaan  dan  peradaban,  dan  banyak  pikiran pentingnya terkumpul
dalam  sebuah  buku  yang merupakan magnum opusnya Capita Selecta yang
terdiri dari dua jilid yang amat tebal.

Natsir  tak  hanya paham tentang segala sesuatu yang besar-besar, tapi
ia  juga mengerti hal-hal yang kecil dan detail. Natsir tak meremehkan
hal-hal  kecil  dan  sepele, tapi ia juga tak menganggap berat hal-hal
yang  besar.  Natsir  sering menyampaikan, masalah-masalah kecil kalau
dibiarkan,  suatu  saat akan menjadi besar. Tapi masalah-masalah besar
kalau segera dikerjakan, suatu saat akan menjadi kecil.

Natsir   adalah  sosok  pemimpin  yang  sederhana  namun  berkharisma.
Sebagaimana banyak tokoh-tokoh bangsa pada periode sejarah sebelumnya,
penampilan,   keseharian  dan  gaya  hidup  Natsir  jauh  dari  segala
kemewahan. Yang dipikirkan Natsir bukanlah dirinya, tetapi selalu umat
dan bangsanya.

Dari  keseluruhan  diri  Natsir,  banyak  hal yang telah dia wariskan.
Natsir  merupakan  warisan  ilmu  dan teladan kepemimpinan. Namun umat
hari  ini mengabaikan warisan itu. Umat Islam Indonesia hari ini tetap
saja  menjadi  umat  yang terbelakang, miskin dan terpecah belah. Jika
umat   Islam   hari   ini   mencoba  belajar  dan  menauladani  dengan
sungguh-sungguh  segala  awrisan  Natsir dan tokoh-tokoh lain, niscaya
kondisi  sejarah umat tidaklah akan separah saat ini. Namun apa hendak
dikata,  bangsa  ini  memang  selalu  terbelakang dan pelupa, sehingga
warisan dengan harga setinggi apa pun selalu diabaikan.

Bagi  sebagian  kecil  orang,  mengutip Ibnu Qayyim di atas, mendengar
nama Natsir mampu menghidupkan. Namun bagai sebagian orang atau bahkan
yang  mengaku  pengikutnya  sekalipun, mendengar nama Natsir tak mampu
lagi  menghidupkannya.  Natsir  bagi  sebagian  orang  mungkin tinggal
sekadar  kenangan.  Kebaikan,  keluhuran,  keistikamahan dan kecintaan
Natsir terhadap umat terlupakan. Warisan Natsir pun terabaikan.

Oleh Abel Tasman 
Sumber : padangmedia.com




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Jika anda, kirim email kosong ke >>: 
berhenti >> [EMAIL PROTECTED] 
Cuti: >> [EMAIL PROTECTED] 
digest: >> [EMAIL PROTECTED] 
terima email individu lagi: >> [EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke