16 Nopember 2007 Lirih 
Ketekunan Tukang Pijat 


Sudah berkali-kali, Herman Buyung (40) memenuhi panggilan pihak sekolah
lantaran anaknya belum melunasi biaya sekolah. Ia terjepit dilema,
pilihan manakah yang harus diutamakan. Membayar kontrakan, memenuhi
kebutuhan dapur, atau biaya sekolah anak. Tiga-tiganya buah simalakama,
tidak hanya untuk menentukan, memenuhi salah satunya saja sungguh sulit.

"Kalian tidak boleh malu. Selama tidak diusir dari sekolah, tetap saja
sekolah, nanti bapak yang akan temui kepala sekolah," kata Herman pada
empat anaknya menyemangati. "Saya selalu ingatkan anak-anak. Kita boleh
miskin tetapi pendidikan tak boleh berhenti. Sesulit apapun jalan yang
harus ditempuh, saya akan tetap berjuang untuk membiayai anak-anak,"
terang lelaki asal Solok, Sumatera Barat yang berprofesi sebagai tukang
pijat keliling itu.

Sudah tujuh tahun, Herman Buyung menekuni profesinya sebagai tukang
pijat keliling. Dengan mengendarai sepeda pancal, yang dipasang papan
nama, Herman berputar dari perumahan ke perumahan. Dari jam sepuluh pagi
ia berangkat, pulang ke kontrakannya di bilangan Cimanggis, Depok, bisa
sampai jam empat jelang subuh.

Ia tak pernah mengeluh. Semangatnya meledak-ledak, acapkali bicara
pendidikan dan masa depan anak-anaknya. Herman, selalu menanamkan pada
anak-anaknya untuk hidup mandiri dan tidak gengsi. Tinggal di kontrakan
yang sempit, tak boleh membuat anak-anaknya rendah diri. "Ini masalah
nasib dan ujian. Kita mau menyerah dan menjadi peminta-minta, atau kita
bangkit dan bekerja keras. Alhamdulillah, anak-anak saya bisa memahami
keadaan saya," ungkap Herman yang juga pernah menjadi sopir angkot.

Selain memijat keliling, usai sholat subuh, Herman memanfaatkan waktu
untuk bercocok tanam di lahan kosong dekat kontrakan. Lahan itu, ia
tanami singkong dan ubi-ubian. Hasilnya lumayan untuk mengganjal
kebutuhan dapur dan dibagi ke para tetangga. Demikian pula sang istri,
juga membantu Herman dengan membuat susu kedelai.

Rizki Septian, anak kedua Herman yang duduk di bangu kelas tiga MTs
Nadlatul Qoir, kebagian jualan susu kedelai itu. Jam satu siang,
sepulang sekolah, Rizki berjalan kaki sembari memikul susu kedelai
menuju ke perempatan lampu merah Gas Alam, Cimanggis. Jarak dari
kontrakan ke Gas Alam lebih kurang empat kilo meter. "Saya kasihan
sebenarnya. Saya suruh naik angkot, katanya sayang uangnya pak, lumayan
buat nambah biaya sekolah," kata Herman yang kerap terharu melihat
kegigihan putra putrinya. 

Tak hanya Rizki yang gigih meringankan beban orang tuanya. Anak ketiga
Herman yang duduk di bangku kelas satu di sebuah SMP swasta, juga turut
membantu dengan jualan es lilin di SD Mekarsari. Demikian pula anak
pertamanya, tak ada anak-anaknya yang berpangku tangan. Herman mengaku
bangga dan bersyukur, memiliki anak-anak yang rajin dan taat pada agama.
Apalagi, dari empat anaknya itu, semua masuk dalam peringkat sepuluh
besar di sekolahnya.

Herman memang tak sempat sekolah. Ia berhenti di tengah jalan sampai
kelas tiga sekolah dasar. Tetapi, ia mengisi kekurangannya itu dengan
melahap berbagai macam buku bacaan, koran, dan majalah. Dari membaca
itulah, ia menyadari pentingnya pendidikan. Ia meyakini, dengan
pendidikan kemiskinan yang melilitnya bisa terurai. Itulah mengapa ia
terus berlelah-lelah siang dan malam.

"Dalam tulisan yang saya baca, orang-orang yang sukses dalam hidupnya,
dulu mereka juga orang-orang yang hidupnya menderita. Saya yakin,
kesabaran dan kegigihan anak-anak saya akan memetik buahnya kelak," kata
Herman Buyung sembari bersiap mengayuh sepedanya, menyusuri jalan di
gang-gang perumahan untuk menawarkan jasa pijat. Jika nasib beruntung,
sehari ia bisa medapatkan lima pasian. Kalau nasib kurang baik, tak
seorangpun menjadi pasiennya. Ia tetap sabar dan semangat. adhiatmoko

 

  _____  

Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id
Berita bisa dilihat di :
http://www.republika.co.id/Cetak_detail.asp?id=314063&kat_id=484
<http://www.republika.co.id/Cetak_detail.asp?id=314063&kat_id=484> 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Jika anda, kirim email kosong ke >>:
berhenti >> [EMAIL PROTECTED]
Cuti: >> [EMAIL PROTECTED]
digest: >> [EMAIL PROTECTED]
terima email individu lagi: >> [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke