Assalammualaikum Wr Wb Bapak Alma yth
   
  Senang membaca tulisan bapak.
  Hanifah setuju 100 %.
   
  Dari pengalaman dengan melakukan penilaian apa adanya, dan paham trik-trik 
yang mungkin akan dilakukan oleh mahasiswa dan selalu memikirkan bagaimana 
supaya nilai yang mereka peroleh cocok dengan usaha yang mereka lakukan, Insya 
Allah akan membuat pelajar atau mahasiswa setidak tidaknya untuk matapelajaran 
/ matakuliah yang kita asuh, mereka tidak main-main. Ada kegembiraan bagi yang 
cerdas atau yang bekerja keras kalau berhasil mendapatkan nilai A atau B. Bagi 
yang belum lolospun kadang mereka mengakui kalau mereka tidak belajar 
sebagaimanamestinya. 
   
  Agak mudah mengatasi kecurangan untuk matakuliah eksakta, dan 
sebaliknya...... 
  Dulu ITB akan membuang langsung mahasiswa yang pemalas atau bermasalah atau 
yang ketauan tidak jujur ... entahlah sekarang.
   
  Nah yang sering berkibar di lapangan adalah orang sosial  kan ??? 
  Bagaimana solusinya?
   
   
  Wass
   
  Hanifah Damanhuri
  

b-alma <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  
PENDIDIKAN ANTI KORUPSI, MEMBANGUN BANGSA YANG JUJUR, DISIPLIN,
PERCAYA DIRI, KREATIF, DAN RAJIN MEMBACA MELALUI PROSES UJIAN SEKOLAH

OLEH. PROF.DR.H.BUCHARI ALMA
(GURU BESAR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA, BANDUNG)

Tertarik akan berita di surat kabar, tentang Usaha melaksanakan
Pendidikan Antikorupsi di Padang belum berjalan maksimal, maka penulis
ingin urun rembug bagaimana menemukan solusi membiasakan anak-anak
generasi muda bangsa yang akan datang agar selalu berperilaku jujur.
Sebab perilaku jujur adalah modal dasar hidup ditengah masyarakat.
Memang orang yang tidak jujur bisa juga berhasil hidupnya tapi hanya
untuk sementara, setelah itu ia akan menderita.
Diberitakan dalam surat kabar tersebut tentang upaya membiasakan
berperilaku jujur dengan cara melatih anak-anak melalui kotak
kejujuran dan kantin jujur. Ini adalah salah satu usaha yang terpuji
dan diharapkan akan berhasil. Namun sampai dimana tingkat
keberhasilannya belum jelas.
Kemudian kita perhatikan fenomena yang terjadi dalam diri bangsa
Indonesia
1. Kita sulit mencari pegawai, kasir, partner bisnis bahkan mencari
calon pemimpin yang jujur. Kalaupun ada pemimpin yang jujur, orang-
orang sekelilingnya banyak yang tidak jujur sehingga menghambat
kinerja sang pemimpin. Ada kasus calon pemimpin berijazah palsu, suatu
bukti ketidakjujuran moral yang harus dihukum seberat-beratnya,
2. kita sangat maju dalam praktek demokrasi tapi hanya dalam demokrasi
prosedural untuk memilih presiden, gubernur, bupati, dsb. yang
seringkali diikuti dengan perkelahian. Demokrasi dinegara kita belum
mampu mengambil manfaat substansial dari demokrasi itu sendiri, karena
kekurangan pengetahuan,
3. lulusan sekolah pada tingkat apapun selalu ingin menjadi pegawai,
tidak kreatif, malas baca dan kurang percaya diri.
4. jika ada kesempatan/ peluang selalu ikut kelompok untuk korupsi,
tidak mungkin menolak ajakan menyeleweng dari kelompoknya
5. Dunia pendidikan digunakan sebagai ajang promosi, beberapa daerah
berusaha meningkatkan mutu pendidikan melalui tingkat kelulusan 100 %
yang dilakukan dengan berbagai cara. Beberapa cara yang tidak terpuji
adalah sedikit melonggarkan pengawasan dalam ujian, jika perlu guru
membantu membuat jawaban kemudian dibagikan kepada siswa yang sedang
diuji (ini sudah rahasia umum).

Usaha-usaha yang tidak lazim diatas, menyebabkan proses pendidikan
yang dilakukan selama ini, mengarah kepada pembentukan watak, perilaku
lulusan sekolah akan menjadi koruptor, tidak disiplin, tidak jujur,
tidak bertanggung jawab tidak percaya diri, dsb.
Salah satu usaha yang menurut penulis akan berhasil secara signifikan
untuk merubah perilaku bangsa Indonesia ialah melalui proses ujian
sekolah yang bersih dan jujur mulai dari tingkat bawah (SD) sampai
tingkat S1, S2, dan S3. Selama ini telah betahun-tahun negara kita
melaksanakan ujian sekolah apa yang terjadi?

PELAKSANAAN UJIAN SEKOLAH MEMBENTUK KARAKTER MANUSIA TIDAK JUJUR,
MALAS BACA , MUDAH NYONTEK DAN KORUP
Memang dunia pendidikan kita dikatakan carut marut, kusut dengan
berbagai persoalan yang tidak kunjung selesai. Para pakar selalu
memikirkan bagaimana mengurai benang kusut ini, dari mana dimulai,
simpul mana yang harus dibongkar? Depdiknas sudah berusaha melakukan
perbaikan kurikulum, menatar guru-guru, membenahi distribusi buku,
meninjau atau reevaluasi perbukuan, proyek perpustakaan, meningkatkan
dana pendidikan, tapi semua ini belum membuahkan hasil yang
diinginkan.
Seharusnyalah dunia pendidikan ini diserahkan kepada orang-orang yang
ahli dibidangnya. Kita punya universitas pendidikan, fakultas
pendidikan, sarjana pendidikan yang ahli dalam bidangnya, mereka harus
terlibat dalam merumuskan pengelolaan pendidikan nasional. Serahkan
segala urusan kepada ahlinya.
Tingkat produktivitas dunia pendidikan kita rendah, diukur dari
berbagai aspek yang telah diungkapkan melalui berbagai survai dan
penelitian. Proses belajar mengajar dalam lembaga pendidikan kita
gagal, mendidik generasi muda bangsa menjadi generasi yang diidam-
idamkan. Manusia tidak jujur dan korup lahir dari hasil pendidikan
kita, setelah tamat mereka menjadi polisi, guru, dokter, sarjana
hukum, sarjana teknik, pengusaha berbaur dengan lingkungan eksternal
yang sudah rusak oleh generasi pendahulu.
Penulis melihat perilaku NYONTEK dalam proses ujian adalah simpul yang
amat strategis yang perlu dibasmi dalam proses ujian dunia pendidikan
kita. Kita harus mengembangkan suatu budaya DILARANG KERAS NYONTEK
dalam ujian, dan harus diberikan sanksi berat dan tegas tidak pandang
bulu.
Sekarang coba perhatikan fenomena ujian yang dihadapi oleh murid-murid
dari dari SD-SLTP-SLTA-PERGURUAN TINGGI S1-S2-S3- dan sebagainya
selalu saja terbuka kesempatan, banyak peluang untuk nyontek. Murid
sama murid nyontek, guru sama guru jika diuji juga nyontek, guru
memberi kesempatan siswa nyontek, atau guru memberikan jawaban soal
dalam ujian akhir nasional, siswa siswa-siswa S1, S2, S3 juga biasa
nyontek. Dimana-mana selalu nyontek.
Kasus terakhir, kita baca, bahwa ada guru yang dilempari batu karena
terlalu keras mengawas UAN, ini menyalahi prosedur dan kebiasaan yang
berlaku. Selama ini pengawas harus pura-pura tidak tahu bahwa para
siswa nyontek. Jadi harus ada toleransi dari pengawas dan ini sudah
biasa.
Penulis pernah melakukan survei dan memberi angket kepada para
mahasiswa sebanyak 55 orang, hasilnya sangat mengagetkan bahwa 100 %
mereka pernah nyontek dalam ujian. Lebih separoh diantaranya sering
dan seringkali menyontek.
Akibat dari nyontek ini sudah jelas akan muncul perilaku, atau watak,
tidak percaya diri, tidak disiplin, tidak bertanggung jawab, tidak mau
membaca buku pelajaran tapi rajin membuat catatan kecil-kecil untuk
bahan nyontek, potong kompas, menghalalkan segala macam cara, dan
akhirnya menjadi koruptor.
Di negara maju, Amerika, Eropa, Australia, dsb. sangat ditekankan
TIDAK DIBENARKAN NYONTEK dalam ujian. Barangsiapa kedapatan nyontek,
maka ia akan dikeluarkan dari sekolah, dan cari sekolah lain yang
sesuai. Hasilnya budaya jujur bisa terbentuk selama mereka mengalami
proses pendidikan, dan lebih percaya diri.
Proses ujian yang tidak membolehkan nyontek ini harus kita budayakan
dilingkungan sekolah, dan perguruan tinggi, tidak ada peluang lagi
untuk nyontek.
Alasan klasik mungkin muncul untuk membiarkan berkembangnya perilaku
nyontek, yaitu murid kita terlalu banyak, dalam satu kelas ada 50 - 60
orang. Untuk mengatasi ini, maka murid harus dibagi dua kelompok, dan
menggunakan dua ruangan, hal ini bisa diatur. Yang penting tidak ada
lagi peluang untuk tidak jujur dalam ujian.
Pengaruh dari pelaksanaan ujian seperti ini ialah, siswa akan belajar
giat, guru akan mengajar lebih serius, anak-anak akan rajin membaca,
kegiatan siswa akan fokus pada pelajaran, bukan pacaran, bukan
tawuran, mencuri, kenakalan remaja, bermain-main, tapi siswa mulai
disiplin dan bertanggung jawab, dan orang tua tidak lagi mencampuri
urusan pendidikan. Semua prestasi hasil belajar, adalah benar-benar
"murni" mencerminkan kemampuan anak-anak mereka. Selanjutnya UAN tidak
akan dipersoalkan lagi, UAN menjadi hal yang biasa, UAN sangat
diperlukan pengawasan yang ketat makin ditingkatkan, perilaku jujur
akan menjadi budaya nasional kita khususnya budaya jujur dalam dunia
pendidikan.
Nah mulai dari hal yang simpel ini, kita akan bisa membangun generasi
anak bangsa menjadi membanggakan dan sesuai dengan yang kita idam-
idamkan. Alangkah indahnya jika budaya tidak dibenarkan atau HARAM
HUKUMNYA NYONTEK, NYONTEK SAMA DENGAN MALING/ MENCURI mulai
diterapkan di negara kita Ini suatu usaha mudah, dan hasilnya sangat
maksimal, mari kita coba dibawah komando Depdiknas.
Siapapun yang pegang kekuasaan, cobalah penjuangkan, diskusikan dan
deklarasikan mulai hari ini DIHARAMKAN NYONTEK DI SEKOLAH, ATAU DI
DAERAH KITA. Bapak Mendiknas, Bapak Dirjen bisa deklarasikan ini untuk
diberlakukan diseluruh NKRI, atau Kepala Diknas Prov.,Kab,/ Kota,
ataupun Kecamatan bisa mendeklarasikan ini, kemudian diikuti dengan
pengawasan pelaksanaannya. Pengawasan dilakukan terhadap pelaksanaan
ujian itu sendiri, yang diawasi sekarang guru yang mengawasi ujian.
Begitu dideklarasikan maka Indonesia akan geger, kita akan bangkit,
menuju bangsa yang berbudaya jujur dan perilaku korup akan berkurang.
Mudah-mudahan dengan demikian dunia pendidikan betul-betul akan mampu
merubah perilaku generasi muda dan akan berpengaruh terhadap orang
tua, para pemimpin yang akan mengakui eksistensi, otonomi, kemandirian
dunia pendidikan yang mengutamakan proses pendidikan, melalui proses
ujian yang mendidik lulusannya menjadi orang jujur, tidak korup,
memiliki budaya malu, disiplin, bertanggung jawab, percaya diri, dan
rajin membaca. Inilah "SIMPUL" yang selama ini dibicarakan dan belum
terpecahkan.

Catatan:
Pemikiran diatas adalah pemikiran umum, yang saya angkat dalam sebuah
paper sederhana, mudah dimengerti dan dipahami, disampaikan kepada
semua pihak dan media massa. Mudah-mudahan ada yang tergugah dan
yakin, bahwa bangsa Indonesia sulit "bangkit" tanpa merubah watak dan
perilaku generasi muda melalui proses ujian demi ujian di sekolah yang
jujur. Tidak ada lagi usaha mengkatrol nilai, tidak lagi dicari rumus-
rumus agar siswa banyak lulus, tidak ada lagi usaha yang tidak lazim
yang dilakukan oleh guru. Semua orang tidak takut lagi dengan UAN-UAN
diperlukan.
Juga disampaikan kepada Yth Bpk Wakil Presiden dan Bpk. Mendiknas
Identitas penulis:
Prof.DR.H.Buchari Alma,
FAX 022-2020373, HP. 0812 237 9315



       
---------------------------------
Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo Mobile. Try it now.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Jika anda, kirim email kosong ke >>: 
berhenti >> [EMAIL PROTECTED] 
Cuti: >> [EMAIL PROTECTED] 
digest: >> [EMAIL PROTECTED] 
terima email individu lagi: >> [EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke