Perjuangan Tan Malaka Sejak dari Kampung Halaman
:: Lukman Santoso ::

Berjuang tapi dihapus dalam catatan sejarah Orde Baru. Begitulah nasib
tragis Tan Malaka yang akhirnya mati dibunuh dengan tuduhan
pemberontak. Buku-buku yang meluruskan sejarah perjuangan Tan Malaka
kemudian marak muncul sejak Orde Baru tumbang. Citizen reporter Lukman
Santoso mengulas salah satu buku tentang Tan Malaka yang tidak hanya
mengulas mobilitas perjuangan Tan Malaka di Asia, tapi juga gerakan
kiri di kampungnya, Minangkabau. (p!)

Judul Buku:
Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau
Penulis:
Zulhasril Nasir
Penerbit: Ombak Yogyakarta
Cetakan I:
Agustus 2007
Tebal:
xxii + 223 halaman

Sejarah merupakan bagian terpenting dari eksistensi sebuah bangsa.
Disadari atau tidak, sejarah sangat berpengaruh terhadap maju dan
mundurnya perkembangan sebuah bangsa. Hal ini perlu dipahami sebagai
rangkaian dialogis, kritis, dan berkelanjutan antara pelaku peristiwa
masa kini dengan pelaku peristiwa masa lalu demi terciptanya idealisme
sebuah negara yang mapan. Sikap kritis dalam membaca sekaligus
memahami paparan sejarah menjadi semakin penting, terlebih jika
konteks pemaparannya didominasi oleh kalangan tertentu. Khususnya
dominasi kalangan penguasa yang tentunya memiliki kecenderungan dan
kepentingan tersendiri terhadap realitas masa lalu.

Persoalan mendominasi catatan sejarah inilah yang selama ini menjadi
kegelisahan banyak pakar sejarah terhadap kondisi sejarah Indonesia
yang notabene telah "dikaburkan" selama tiga dasawarsa lebih. Salah
satunya, adalah sejarah ketokohan Tan Malaka dalam kaitannya dengan
gerakan revolusi di Indonesia.

Berlatar dari konteks ini, Zulhasril Nasir melalui buku "Tan Malaka
dan Gerakan Kiri Minangkabau" berupaya memotret secara gamblang dan
komprehensif perjuangan Tan Malaka yang bersifat lintas bangsa dan
lintas benua selama 30 tahun lebih, serta korelasinya dengan gagasan
gerakan kiri yang dilahirkannya. Selain itu, buku yang merupakan hasil
penelitian Zulhasril ini memiliki beberapa tujuan, diantaranya,
pertama, merupakan upaya untuk membuktikan hubungan ke-revolusioner-an
Tan Malaka dengan demokrasi alam Minangkabau yang merupakan tanah
kelahirannya. Kedua, untuk menjelaskan tentang perbedaan idiologi
antara Tan Malaka dengan tokoh pergerakan kiri asal Minangkabau
lainnya sebagai akibat dari perbedaan penerapan filosofi masyarakat
Minangkabau. Ketiga, untuk mengkaji faktor kepeloporan orang
Minangkabau sebagai pendorong pergerakan kiri di tanah air dan di
semenanjung Malaya.

Dalam lintasan sejarah, Tan Malaka memang merupakan salah satu tokoh
revolusi kiri yang namanya hingga kini masih terus berkibar, paling
tidak di Eropa. Sehingga tak heran jika Harry Poeze, peneliti senior
sekaligus Direktur KITLV Belanda, menulis disertasi mengenai Tan
Malaka pada tahun 1976 yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia
dalam dua jilid. Poeze kemudian melanjutkan buku kisah perjalanan
hidup Tan Malaka ini sampai akhir hayatnya pada 1949, yang dalam buku
tersebut diungkap mengenai lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur
dan siapa yang menembaknya. Penelusuran Poeze ternyata tidak hanya
berhenti disitu, pada 8 Juni 2007 lalu, di Universitas Leiden Belanda,
Poeze meluncurkan buku yang berjudul Verguisd en Vergeten, Tan Malaka;
De linkse Beweging en Indonesische Revolutien 1945-1959. Buku setebal
2.194 halaman ini mengisahkan sepak terjang Tan Malaka ketika
Indonesia dalam masa revolusi. Di Eropa buku ini di jual seharga 99,90
Euro, dan cukup mendapat apresiasi dari khalayak pembaca.

Menurut Zulhasril, Tan Malaka yang lahir di Sumatera Barat tahun 1896
ini, dikenal sebagai tokoh gerakan kiri yang gigih memperjuangkan
gagasan revolusioner anti penjajahan dan menuntut kemerdekaan 100
persen. Namun, sejak era Orde baru, namanya telah dihapus dalam kamus
sejarah Indonesia, atau dalam bahasa para ahli peneliti, Tan Malaka
telah menjadi "off the record" dalam sejarah Orde baru. Bahkan, gelar
pahlawan nasional yang disematkan Soekarno padanya tidak pernah
disebut lagi. Alasannya bisa jadi karena Orde baru menganggap Tan
Malaka sebagai tokoh partai yang terlibat terhadap berbagai
pemberontakan. Padahal realitasnya Tan Malaka justru menolak
pemberontakan PKI tahun 1926/1927, apalagi pemberontakan PKI Madiun
1948. Selain itu, partai yang didirikannya, yakni partai Murba juga
telah berseberangan idiologi dengan PKI.

Tan Malaka pantas disebut sebagai pahlawan yang terlupakan. Mengapa
demikian? Karena perjuangannya berpuluh-puluh tahun bersama rakyat di
berbagai wilayah di Nusantara tidak mendapat penghargaan sama sekali.
Ia kemudian malah dibunuh dan dikuburkan di samping markas militer di
sebuah desa di Kediri pada 1949 dengan dalih pemberontak. Tak banyak
orang yang tahu soal ini.

Padahal bila ditelusuri, kenyataan sejarah perjuangan Tan Malaka jauh
dari kesan "pemberontakan". Ketika ia pertama kali menginjakkan kaki
di tanah Jawa, ia mendirikan Sekolah Rakyat di Semarang. Padahal saat
itu Tan Malaka ketika sedang dalam pengejaran Intelijen Belanda,
Inggris dan Amerika. Menurutnya, pendidikan jelas merupakan cara
terbaik membebaskan rakyat dari kebodohan dan keterbelakangan untuk
membebaskan diri dari kolonialisme. Dalam konteks regional, misalnya
Tan Malaka dan gagasannya tidak hanya menjadi penggerak rakyat
Indonesia, tetapi juga membuka mata rakyat Filipina dan semenanjung
Malaya menuju kemerdekaan.

Penggunaan istilah kiri yang digunakan Zulhasril dalam buku ini,
tampaknya memiliki makna yang lebih longgar. Istilah itu secara
historis-politik pada mulanya digunakan untuk menyebut anggota
parlemen di Perancis yang terbentuk sesudah revolusi Perancis yang
duduk di sebelah kiri dari Ketua Dewan. Jadi kelompok yang duduk
disebelah kanan yang dianggap moderat, sedangkan yang dibagian kiri
yang dipandang lebih progresif atau revolusioner. Namun, dalam
perkembangan politik internasional istilah kiri kemudian dipahami
sebagai gagasan untuk menghapuskan hak-hak sosial istimewa, segala
bentuk penindasan kolonial, pembatasan hak berbicara dan berekspresi
serta menganjurkan kebebasan dan berkeadilan. Penelaahan Zulhasril
dalam buku ini tampaknya lebih memposisikan gerakan kiri dalam konteks
regional Asia Tenggara.

Dalam buku ini ia menjelaskan bagaimana cara atau proses pembentukan
jaringan kiri tersebut, sejauh mana faktor etnisitas berperan dalam
pembentukannya, serta bagaimana berbagai surat kabar kiri yang terbit
pada masa itu turut berperan di Hindia Belanda dan di Malaya dalam
mengiringi perkembangan gerakan kiri. Selain itu, Zulhasril juga
sedikit mengulas tentang tokoh-tokoh kiri yang juga mengiringi
perjuangan Tan Malaka.

Secara lebih jauh, dalam buku setebal 223 halaman ini, penulis juga
memaparkan tabel yang menggambarkan mobilitas Tan Malaka secara
intensif tanpa henti di dalam negeri maupun lintas benua selama
berpuluh tahun. Ini menurutnya penting untuk diulas, karena disadari
atau tidak, jarang sekali ditemukan dalam paparan sejarah nasional,
seorang pemikir yang berjuang dalam situasi konflik terus-menerus
menyebarkan pemikiran bersamaan dengan aktifitas perjuangannya didalam
negeri serta menembus kancah pergerakan bangsa lain. Sehingga dalam
kerangka ini, penulisan sejarah Tan Malaka menjadi sangatlah berarti
untuk membangun atau mengkonstruksikan apa yang telah terjadi pada
masa lampau, dipedomani pada masa sekarang dan dipakai untuk referensi
ke masa depan.

Senada dengan apa yang dikatakan Frederick Jameson (1981), bahwa
menulis sejarah juga bermakna menjadikan teks itu sebagai kekuatan
(power) karena sejarah memiliki pengaruh besar dalam pembangunan
identitas budaya. Maka, buku ini patut diapresiasi sebagai gerbang
pembuka menuju sejarah Indonesia yang lebih obyektif. (p!)

*Citizen reporter Lukman Santoso adalah penikmat buku dan peneliti
Pada Centre for Studies of Religion and State (CSRS) Yogyakarta dapat
dihubungi melalui email [EMAIL PROTECTED]
http://www.panyingkul.com/view.php?id=543&jenis=bukukita

Komentar-komentar terhadap buku ini :

19-09-2007 Dari : Ganjar REY Had shu |
Tan Malaka adalah tokoh besar dengan pemikiran sangat modern munkin
kisah hidup Tan Malaka perlu dibuat dalam film seperti halnya Soe Hok
gie sehingga para generasi muda bisa mengenal Tan Malaka sebagai salah
satu pahlawan bangsa ini atau bahkan bisa menjadi inspirasi untuk
membangun bangsa yang kita cintai ini THANK YOU TAN MALAKA WE NEVER
EVER FORGET YOU

07-09-2007 Dari : joko | cemara_hijau@
tan malaka. orang besar yang terlupakan. tragis. sejarah memang milik
para pemenang. orang-orang seperti tan malaka, sutan syahrir atau
mungkin hatta adalah tokoh-tokoh yang bahkan ketika telah meninggal
pun tetap diasingkan. ide-ide mereka kalau kita baca bukunya, sangat
indonesia. mereka bukan tokoh atas angin yang tidak risau dengan
konteks ke indonesiaan. sosialisme yang mereka perjuangkan jadi stigma
negatif. kita phobia dengan istilah itu. kayak tong kita sudah paham
dengan sosialisme yang mereka pahami. pake kaca mata kuda. pokoknya
mereka salah. Sejarah pada akhirnya adalah pergulatan. antara ide yang
menang dan kalah. mudah2 an orang muda seperti kita bisa lebih fair
melihat dari dua sudut pandang sebelum memberikan justifikasi.

25-08-2007 Dari : rusle | muhruslee@
entah bagaimana jalan pikiran orde baru, sampai berusaha menghilangkan
tokoh pejuang adiluhung dalam kanvas sejarah pergerakan ini. sayang
sekali kita hanya bisa menikmati tulisan dan kisah tentangnya jauh
setelah kita tak lagi di bangku sekolah. bahkan hanya ketika kita
kesasar mengklik sesuatu di internet baru mendapatkan sosok sosialis
dari minang ini. beruntunglah kita yang bisa 'membaca' hidupnya.

Dan.... manuruik sanak??????

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Jika anda, kirim email kosong ke >>: 
berhenti >> [EMAIL PROTECTED] 
Cuti: >> [EMAIL PROTECTED] 
digest: >> [EMAIL PROTECTED] 
terima email individu lagi: >> [EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke