Pencerahan dan pengetahuan baru yang saya dapat dari penjelasan Ajo Suryadi. Menurut saya, apa yang sudah ajo lakukan adalah sebuah bagian dari kerja besar membuat sebuah timeline/milestone sejarah orang minangkabau. Tidak mereka-reka cerita saja.
Soal kebengisan, hobi madat dan berjudi, saya juga menemukan cerita ini dari buku yang beberapa bulan lalu saya baca tentang jejak orang perancis di Indonesia. Dalam sebuah catatan perjalanan ini di buku tersebut dilaporkan kawasan air bangih dan Tiku. Disana dinyatakan kita orang minangkabau sebagai orang yang licik, culas, dan kalau mengamuk agak gila. Cuma itu kan versi orang eropa. Mungkin pencarian literatur bisa dikembangkan pada pencarian catatan perjalanan bangsa asia selatan atau timur tengah. Sebagai pembanding dari sisi orang Islam atau Hindu. Karena bagaimana pun ketika itu, para penjelajah dan penjajah eropah sangat tidak senang dengan agama Muhammad. Colombus dalam suratnya kepada Raja Spanyol sebelum dan sesudah perjalanannya, eksplisit menyatakan kebenciannya kepada pengikut agama Muhammad. Mungkin ini pula yang melatarbelakangi, agak didramatisirnya kejelakan orang minang tempo doeloe. Wassalam, Mantari Sutan ----- Original Message ---- From: Lies Suryadi <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Friday, November 23, 2007 3:42:20 PM Subject: [EMAIL PROTECTED] mereduksi subjektifisme Assalamualaikum ww.wb. Tarimo kasih atas apresiasi Kakak/Apak, Sanak Dt. Endang, Hanifah, Ichwan, Nofendri, dll. ateh tulisan ambo tentang Tuanku nan Renceh nan dimuek di weblog Dr. Oman Fathurahman dan alah dipostingkan ka lapau kito ko. Komentar2 tu sangai bamanfaaik bagi ambo. Banang merah nan ambo dapek: bahaso sejarah tak lepas dari subjektifitas. Itu memang benar, tak terbantahkan. Tapi sejauh seorang peneliti akademik sadar posisinya, maka insya Allah akan muncul analisis yang tidak hanyut dalam subjektifitas itu (sperti ambo tulih di Kompas). Namun, untuk menghilangkan 100% subjektifitas itu tentu tidak mungkin. Soalnya, data sejarah itu sendiri, mungkin sudah mengangdung subjektifitas juga. Ambo berusaha merekonstruksi Tuanku Nan Renceh berdasarkan data2 sejarah itu, sambil tetap waspada bahaso ambo sebagai urang Minang sendiri, dan sebagai seorang Muslim, harus hati2 agar jangan sampai jatuh pada subjektifitas tadi. Komentar2 dunsanak tentang pola organisasi Gerakan Paderi sebenarnya sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut. Analisis ambo sementara: Perjuangan kaum Paderi itu tak sepenuhnya terorganisir, dalam arti tak ada komando tertinggi yang terus-menerus dipatuhi, meskipun ada bukti bahwa antara sesama pemimpin Paderi ada korespondensi (seperti terefleksi dalam Naskah Tuanku Imam Bonjol). Kita tahu bahwa ciri geopolitik tradisional Minangkabau tidak mengenal kekuasaaan terpusat (seperti kerajaan2 di Jawa). Nagari adalah unit politik yang merdeka, yang duduak samo randah, tagak samo tinggi dengan nagari2 lainnya. Istana Pagaruyung dan dinasti Raja Minangkabau tidak lebih sebagai simbol saja. Seorang Belanda pada abad ke-17 menyaksikan seorang penduduk mintak api rokok kepada raja Pagaruyung. Begitulah sikap demokratis orang MInang itu. Kalau itu dilakukan di Jawa, alamiak ka bacarai kapalo jo badan.... Dengan demikian potensi konflik antarnagari di Minangkabau sangat besar (ini masih tersisa sampai zaman modern ini: beberapa kali penduduk dua nagai terlibat cakak banyak). Salah satu kebiasaan yang umum terjadi di zaman lampau adalah apa yang disebut oleh sumber2 Belanda sebagai PRANG BATOE (maksudnya: PARANG BATU) yang sering terjadi antara dua nagari bertetangga. Nagari TARAM di dekat Payakumbuh tercatat sebagai salah satu nagari yang sering melakukan PARANG BATU terhadap nagari2 tetangganya. Bahwa seringnya terjadi aksi penghadangan oleh penduduk suatu nagari terhadap DAGANG (dalam pengertian PANGGALEH ataupun MUSAFIR) dari daerah lain yang melintas atau lewat di suatu nagari dengan jelas dilaporkan dalam HIKAYAT SYEKH JALALUDDIN. Kebiasaan ini juga dilaporkan dalam sumber2 lain. Kebiasaan judi dan madat juga merupakan salah satu sifat masyarakat kita di masa lampau. Laporan statistik Belanda menunjukkan bahwa di Pariaman dan darek konsumsi CANDU/MADAT termasuk yang tertinggi di Sumatra, malah di Hindia Belanda. Sabung ayam dan judi adalah ikutannya. J.C. Boelhouwer, komandan militer Belanda di Pariaman menggambarkan dalam bukunya (1841) sifat laki2 Pariaman dan Minangkabau umumnya. Di desa2, demikian kata Boelhouwer, wanita bekerja keras di sawah dan ladang--bertanam, merawat tananam, dan memanen. Lelaki tidak pernah bekerja. Seluruhnya diserahkan kepada wanita. Sementara kaum wanitanya bekerja di bawah terik matahari di sawah, para lelaki mengepit ayam dan pergi ke pasar yang terdekat, dan seringkali mereka kembali pulang dalam keadaan bangkrut. Tetapi mereka tidak berniat meninggalkan perjudian itu untuk menyelamatkan rumah tangga mereka. Mereka kembali ke pasar dengan uang sedikit-banyaknya, seringkali mampir dahulu ke tempat penjual madat, dan tak jarang pada pagi hari mereka dijumpai masih tertidur lelap untuk menghilangkan mabuknya (lihat: J.C. Boelhouwer, Herrineringen van mijn verblijf op Sumatra's Westkust gedurende de jaren 1831-1834' [Kenangan semasa saya tinggal di Sumatra Barat antara tahun 1831-1834]. 's-Gravenhage: De Erven Doorman, blz.40-1 [dikutip oleh Suryadi dalam Syair Sunur: Teks dan konteks 'otobiografi' seorang ulama Minangkabau abad ke-19. Padang: YDIKM & Citra Budaya, hlm. 124]). Toh kisah SITI BAHERAM DAN SIJOKI adalah bukti jelas sifat laki-laki Pariaman yang pejudi itu (Saya kira banyak urang di lapau kito ko nan alah tahu kisah tragis yang terjadi di awal abad ke-20 itu; laporannya pernah saya baca di harian Sinar Sumatra). Kondisi masyarakat Minang yang seperti itulah, menurut hemat saya, yang ikut berkontribusi dalam melahirkan Gerakan Paderi. Sayangnya gerakan itu sendiri membawa ciri sifat orang Minang yang 'merdeka' itu, yang kurang mau tunduk ke dalam satu koordinasi. Akibatnya, ya, terjadilah tragedi itu: antara sesama orang Minang saling berbunuhan. Bukan tidak mungkin penyerangan kampung2 oleh Kaum Paderi itu, sadar atau tidak, membawa dendam perseteruan antara nagari yang memang sudah terinternalisasi dalam sistem geopolitik Minangkabau, seperti telah saya sebutkan di atas. Jadi, jika kita mabil hikmah historis dari kejadian Gerakan Paderi itu: ada sisi baik dan ada sisi jeleknya. Yang baik: revolusi agama itulah yang, menurut saya, menyebabkan lelaki Minang sekarang jauh lebih sadar akan tanggung jawab keluarganya (kalau tidak, jan gan2 lelaki MInang kini masih ngepit ayam ke pasar, kayak lelaki Bali, he he). Bukti2 historis yang saya kumpulkan menunjukkan bahwa gerakan Paderi sedikit banyak juga memberi kontribusi pada menguatnya peran ayah dalam keluarga. Sisi jeleknya: Revolusi Kaum Paderi itu meninggalkan trauma historis yang akut dalam kollective memory orang Minang sampai sekarang. yang jelas, masih banyak hal dari perisitwa sejarah Minang itu yang maih harus diteliti. Misalnya, kenapa kok akhirnya gelongan Radikal (Tuanku Nan Renceh dkk.) yang mendapat angin dan naik daun, sehingga golongan moderat dalam Gerakan Paderi (Tuanku Nan Tuo, Fakih Saghir dll.) menjadi tersingkir. Apakah ada faktor2 internal dan eksternal yang mempengaruhinya? Para cadian pandai di lapau ko mungkin labiah tahu dari ambo. Namun, lepas dari itu, hal yang paling penting adalah menjaga agar peristiwa itu hendaknya jangan terulang lagi di negeri ini (atau di negara ini). Setiap gerakan radikal akan memakan anaknya sendiri. Itulah antara lain pesan saya dalam tulisan mengenai Tuanku nan Renceh yg dimuat di weblog Dr.Oman Fathurahman itu. Sebab ambo liek dari jauh, ado pulo nan mulai mengembangkan sikap2 radikal nana barajo di hati surang tu, babana ka pangka langan, dalam masyarakat kita di Sumatra Barat. Kito, dunasak kito, anak kamanan kito, urang kampuang kito, harus diingatkan sebelum nasi barubah jadi bubua. Salam arek, Suryadi yang daif > Sanak Nofend ysh, > Sungguh menarik ulasan sanak Suryadi mengenai > Tuanku nan Renceh, suatu referensi yang relatif baru > mengenai tokoh-tokoh di balik Perang Paderi yang > saat ini mulai banyak terungkap. Diharapkan sanak > Suryadi dapat mengembangkan usaha-usaha > transliterasi dari berbagai sumber untuk melengkapi > pengetahuan kita bersama. > > Saya memiliki beberapa catatan dari tulisan > tersebut sebagai berikut : > Pemahaman terhadap profil tokoh hendaknya sudah > mulai dapat dikaitkan dengan situasi kondisi pada > masa itu. Saya sampai saat ini masih belum > mendapatkan informasi tentang peralihan kepemimpinan > di dalam pasukan Paderi, katakanlah mulai dari > inisiatif “3 haji” kemudian menjadi “harimau nan > salapan”, kemudian dikoordinasi oleh Tuanku > Pamansiangan, kemudian “secara informal dan > selanjutnya formal” di bawah komando Tuanku nan > Renceh, hingga akhirnya kepada Tuanku Imam Bonjol. > > ...... ________________________________________________________ Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/ ____________________________________________________________________________________ Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how. http://overview.mail.yahoo.com/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di https://www.google.com/accounts/NewAccount =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
