Kala Ali Telat Subuh Berjamaah

Oleh  Mochamad  Bugi  |  28  Februari  2007 @ 15:55 | 9/Safar/1428 H |
Kategori: Tarikh Islam

Dini  hari  itu  Ali  bin ABi Thalib bergegas bangun untuk mengerjakan
shalat  Subuh  berjamaah  di  masjid  bersama  Rasulullah.  Rasulullah
tentulah sudah berada di sana. Rasanya, hampir tidak pernah Rasulullah
keduluan  orang  lain  dalam berbuat kebaikan. Tidak ada yang istimewa
karena  memang  itulah aktivitas yang sempurna untuk memulai hari, dan
bertahun-tahun lamanya Ali bin Abi Thalib sudah sangat terbiasa.

Langit  masih  gelap,  cuaca  masihlah  dingin, dan jalanan masih pula
diselimuti  kabut  pagi  yang  turun  bersama  embun. Ali melangkahkan
kakinya  menuju  masjid.  Dari  kejauhan,  lamat-lamat sudah terdengar
suara  Bilal memanggil-manggil dengan adzannya yang berkumandang merdu
ke segenap penjuru Kota Madinah.

Namun  belumlah  begitu  banyak  melangkah, di jalan menuju masjid, di
hadapannya  ada  sesosok orang. Ali mengenalinya sebagai seorang kakek
tua  yang  beragama Yahudi. Kakek tua itu melangkahkan kakinya teramat
pelan  sekali.  Itu  mungkin  karena usianya yang telah lanjut. Tampak
sekali ia sangat berhati-hati menyusuri jalan.

Ali   sebenarnya   sangat  tergesa-gesa.  Ia  tidak  ingin  tertinggal
mengerjakan   shalat   tahyatul  masjid  dan  qabliyah  Subuh  sebelum
melaksanakan  shalat  Subuh  berjamaah  bersama  Rasulullah  dan  para
sahabat lainnya.

Ali paham benar bahwa Rasulullah mengajarkan supaya setiap umat muslim
menghormati orang tua. Siapapun itu dan apapun agamanya. Maka, Ali pun
terpaksa  berjalan  di  belakang  kakek  itu.  Tapi apa daya, si kakek
berjalan  amat  lamban,  dan  karena  itu  pulalah  langkah  Ali  jadi
melambat.  Kakek  itu  lemah  sekali,  dan Ali tidak sampai hati untuk
mendahuluinya.  Ia khawatir kalau-kalau kakek Yahudi itu terjatuh atau
kena celaka.

Setelah  sekian  lamanya  berjalan,  akhirnya  waktu mendekati masjid,
langit  sudah  mulai  terang.  Kakek  itu  melanjutkan  perjalanannya,
melewati masjid.

Ketika  memasuki  masjid,  Ali  menyangka shalat Subuh berjamaah sudah
usai. Ia bergegas. Ali terkejut sekaligus gembira, Rasulullah dan para
sahabat  masih  rukuk  pada rakaat yang kedua. Berarti Ali masih punya
kesempatan   untuk   memperoleh  shalat  berjamaah.  Jika  masih  bisa
menjalankan  rukuk  bersama,  berarti  ia  masih  mendapat satu rakaat
shalat berjamaah.

Sesudah Rasulullah mengakhiri shalatnya dengan salam, Umar bin Khattab
memberanikan  diri untuk bertanya.  Wahai Rasulullah, mengapa hari ini
shalat Subuhmu tidak seperti biasanya? Ada apakah gerangan? 

Rasulullah balik bertanya,  Kenapakah, ya Umar? Apa yang berbeda? 

 Kurasa sangat lain, ya Rasulullah. Biasanya engaku rukuk dalam rakaat
yang  kedua  tidak sepanjang pagi ini. Tapi tadi itu engkau rukuk lama
sekali. Kenapa? 

Rasulullah  menjawab,   Aku juga tidak tahu. Hanya tadi, pada saat aku
sedang  rukuk  dalam rakaat yang kedua, Malaikat Jibril tiba-tiba saja
turun lalu menekan punggungku sehingga aku tidak dapat bangun iktidal.
Dan itu berlangsung lama, seperti yang kau ketahui juga. 

Umar makin heran.  Mengapa Jibril berbuat seperti itu, ya Rasulullah? 

Nabi  berkata,   Aku  juga  belum  tahu.  Jibril belum menceritakannya
kepadaku. 

Dengan  perkenaan  Allah,  beberapa waktu kemudian Malaikat Jibril pun
turun.  Ia berkata kepada Nabi saw.,  Muhammad, aku tadi diperintahkan
oleh  Allah  untuk  menekan punggunmu dalam rakaat yang kedua. Sengaja
agar  Ali  mendapatkan  kesempatan  shalat  berjamaah denganmu, karena
Allah  sangat  suka kepadanya bahwa ia telah menjalani ajaran agamaNya
secara  bertanggung  jawab.  Ali menghormati seorang kakek tua Yahudi.
Dari  pegnhormatannya  itu  sampai  ia  terpaksa berjalan pelan sekali
karena kakek itupun berjalan pelan pula. Jika punggungmu tidak kutekan
tadi, pasti Ali akan terlambat dan tidak akan memperoleh peluang untuk
mengerjakan shalat Subuh berjamaah denganmu hari ini. 

Mendengar  penjelasan  Jibril itu, mengertilah kini Rasulullah. Beliau
sangat  menyukai  perbuatan  Ali  karena  apa  yang  dilakukannya  itu
tentunya  menunjukkan  betapa  tinggi  penghormatan  umat Islam kepada
orang lain. Satu hal lagi, Ali tidak pernah ingin bersengaja terlambat
atau  meninggalkan  amalan  shalat  berjamaah.  Rasulullah menjelaskan
kabar itu kepada para sahabat.

-------------------------------------------------------------------------------
Artikel dicetak dari situs dakwatuna.com: http://www.dakwatuna.com
URL ke artikel: 
http://www.dakwatuna.com/index.php/tarikh-islam/2007/kala-ali-telat-subuh-berjamaah/




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: 
[EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke