Rancak juo, untuak parintang-rintang ari dan mancaliak diri awak masiang-masiang apo nan disampaikan dek Kanda KJ di Singgalangko.
Salam, Rola ========= Negeri kita, adalah negeri pasar malam. Kata anak ABG, negeri nano-nano, rame rasanya. Ada yang alim aluhurobbi, tapi tetangganya raja rampok. Ada yang tukang cegah beredarnya narkoba, tapi di sini, ditemukan pabrik ekstasi paling besar di dunia. Ada tukang berantas korupsi, tapi korupsi menjadi-jadi juga. Ada transparansi, namun jatah proyek 10 persen tak dilupakan. Anak-anak hafal Asmaul Husna, tapi bapaknya tidak. Anak bangun pagi, bapak bangun siang. Ada birokrat jujur dan lurus tabung, tapi banyak yang tukang kecoh. Yang gila ke masjid banyak, sama banyaknya dengan yang tidak salat. Yang tukang cemooh juga banyak, sama pula banyaknya dengan yang tukang ngobrol hilir-mudik. Yang bekerja sedikit. Orang kaya mengisi puncak piramida, di dasar piramida orang miskin berhimpitan. Banyak pejabat gila penghargaan, bayar roundtable Rp7,5 juta. Pasang iklan dan pariwara. Penghargaan itu dibanggakan pada rakyat. Rakyat mencibir dari belakang. Semua orang berniat agar negeri ini baik, tapi tidak banyak yang berbuat. Ulama mencerca ulama. Ulama serimonial disisihkan, ulama tradisonal, tak bisa menggugah umat. Yang populer mubaligh yang pandai melawak atau menyanyi. Kaji diperjualbelikan lewat paket-paket kelas mahal. Pengajian spritual menjadi-jadi, tapi prilaku tak berubah. Berteriak hentikan merambah hutan, tapi perambah hutan konco palangkin dengan penegak hukum. Jaksa menegakkan hukum, jaksa yang lain melibas hukum. Polisi berkeringat menegakkan peraturan, polisi yang lain memetik hasil. Wartawan jujur bekerja jujur, wartawan brengsek kerjanya memeras orang. Ahli hukum memperdagangkan hukum. Sementara itu, demokrasi ditegakkan, maka Indonesia negara paling sukses menerapkan sistem itu, tapi pilkada bermandi uang. Main sogok dan entah apalagi. Bupati/wako berkelahi dengan wakilnya. Muncul forum para wakil. Mereka ingin pula jadi nomor satu. Tak bupati, tak walikota, tak gubernur, di tingkat presiden dan wakil presiden pun begitu. Negeri ini memang rame .Banyak sarjana tapi tidak punya pekerjaan, banyak atlit tapi tak berprestasi, banyak koran tapi yang membeli koran tidak seberapa. Yang disuka tayangan televisi. Televisi menjual airmata, ibu rumahtangga termagu di layar kaca, anaknya pun begitu. Satu rumah dua televisi, karena berkelahi memperebutkan mata acara. Kesukaan beda-beda. Di sekolah, guru jadi raja, kurikulum jadi kandang besi. Ujian Nasional jadi pedang tajam yang diayun-ayunkan. Orang-orang di belakang UN, panen uang. Tak boleh jual buku ke sekolah, tapi dijual juga. tender buku jadi rebutan sama dengan tender jalan hotmix. Investor dielu-elukan, tapi kita sering kena tipu, karena kita suka pula menipu orang. Gila gelar, diundang Malaysia, bagaduru datang ke sana dengan uang sendiri. Belanja di sana suka-suka, pulang-pulang, dana APBD yang jadi sasaran. Awak memberi gelar adat untuk orang, pecah langit karena diprotes, tapi orang yang diberi gelar dan rombongannya telah membelanjakan uangnya di sini. Pariwisata dijadikan primadona, tapi tak dibedaki. Sudah dibedaki, tukang peras atau preman dibiarkan menguasai obyek tersebut. Bandara besar kita punya tapi sama dengan terminal. Inilah rutinutas menjemukan negeri pasar malam. Semua tersedia. Semua ada, semua dimaksudkan untuk hiburan. Maka muncullah Republik Mimpi. Kerjanya mencemooah semua sisi bangsa. Bagai gempa, acara di Metro TV itu, bak gempa 4 SR. Ada juga baiknya, energi buruk bisa dilepas sedikit-sedikit. Negeri pasar malam ini, menjual telekomunikasinya pada bangsa asing, dengan nama privatisasi. Uang mengalir dari bank sentral ke anggota parlemen. Uang yang lain mengalir dari hotel ke hotel lewat lobi-lobi rahasia. Di ladang dan di sawah petani terus mencakul, tersenyum membayangkan hasil panennya. Tapi, anak-anak mereka nyaris putus sekolah, karena semua serba mahal. Yang sudah tamat, menangis mencari kerja, tidak juga dapat-dapat. Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk membuat daftar kelemahan, tapi untuk membangunkan kita, bahwa bangsa kita memiliki banyak kekurangan. Karena itu diperlukan kerja keras. Tiap kita, punya andil untuk memperbaiki yang rusak, bukannya manambah kerusakan. Satu sisi peetumbuhan ekonomo, perbaikan fasilitas, sarana dan prasarana terus dilakukan. Tapi, karena negeri ini sangat luas, diperlukan biaya yang sangat besar. Sementara sebagai bangsa kita punya hutang yang banyak. Kita semua menyadari, untuk sampai pada posisi yang 'manis', kita perlu bekerjasama dengan baik. Berpikiran positif. Rakyat sebagai penonton harus berpikiran positif, tapi penyelenggara negara juga dan wajib berbuat positif. Sepanjang akal bulus, masih dimainkan, sepanjang itu pula, Indonesia akan menjadi negeri pasar malam. Jamaknya pasar malam, ribut, bising, banyak yang ada, tapi banyak pula yang tidak tersedia. Bunyi mik/pengeras suara, di setiap sudut. Karena itu, kita harus bisa menyeleksi bunyi mik mana yang patut didengar. Bersama kita bisa, kata Pak Presiden SBY. Sumbar baru, kata Pak Gamawan Fauzi. Sumbaranglah, pokoknya, kita maju! * Oleh Khairul Jasmi http://www.hariansinggalang.co.id/komentar.html --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di https://www.google.com/accounts/NewAccount =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
