Oleh  Bayu Gautama

Bosan Jadi Penerima Daging Qurban

Tahun lalu, seorang sahabat bertandang ke rumah dan mengungkapkan satu 
keinginan orang
tuanya. "Ibu saya bilang sudah bosan menjadi penerima daging qurban. Ibu ingin
sekali tahun depan keluarga kami bisa menyembelih seekor hewan qurban," begitu
lirih sahabat saya.

Saya menyentuh tangannya, memegangnya erat-erat sambil berkata, "kamu bisa 
mewujudkan
keinginan ibumu. Tahun depan itu masih ratusan hari lagi, dan sangat
mungkin itu bisa terealisasi," saya menepuk semangatnya.

Apa yang terjadi setelah hampir satu tahun kemudian adalah sesuatu yang sudah 
bisa terduga.
Belum lama ia menelepon dan bertanya tentang harga seekor kambing untuk qurban.
"Saya punya tabungan delapan ratus ribu, apakah sudah cukup untuk
membeli seekor  kambing?" tanyanya bersemangat. Tentu saja uang sejumlah itu 
sudah
lebih dari cukup untuk seekor kambing.

Ia pun membawa kabar gembira itu kepada ibunya di rumah dan mengatakan akan 
segera
ada hewan qurban di rumah itu. Semua anggota melonjak kegirangan dan air mata
bahagia tak tertahankan tumpah ruah bersamaan dengan datangnya kabar tersebut.
Bahwa ia, sahabat saya itu, lelaki satu-satunya di keluarga itu semenjak sang 
Ayah
berpulang sebelas tahun yang lalu, akhirnya bisa mewujudkan mimpi sang
ibu untuk  berqurban.

Menurutnya, lantaran keluarga mereka termasuk dalam kategori keluarga miskin, 
maka
setiap  tahun pula mereka selalu mendapatkan jatah zakat fitrah maupun daging
qurban.
Bahkan setiap kali ada perayaan hari besar Islam yang menyertakan
acara santunan bagi anak-anak yatim piatu, ia beserta ketiga adiknya tak pernah
terlewat dalam  catatan panitia penyelenggara sebagai penerima santunan. Tidak 
hanya itu,
bahkan sang ibu pun masuk dalam daftar penerima, dengan status janda
miskin.

Tahun ini, merupakan tahun paling membahagiakan di keluarga itu. Bayangkan, 
bukan bermaksud
menyombongkan diri jika di hari raya Idul Adha nanti keluarga ini akan
menolak kiriman daging qurban dari panitia di masjid. Dengan sedikit bangga
mereka akan berkata, "Terima kasih, kami keluarga pequrban. Silahkan berikan
kepada yang lain yang lebih berhak".

Kalimat bangga semacam ini pula yang belum lama ini mereka miliki menjelang 
hari raya
Idul Fitri. Keluarga itu memohon kepada panitia zakat untuk tak memasukkan
namanya dalam daftar mustahik tahun ini. Dan luar biasa, hal itu memang mereka
lakukan karena keinginan kuat mereka untuk memerbaiki kualitas dan taraf hidup
mereka. "Siapa yang mau seumur hidup menyandang status fakir miskin? Kami harus
berubah".

Sepakat dengan semangat keluarga ini. Bagaimana pun hidup dibayangi belas 
kasihan orang lain
tetaplah tidak nyaman. Senikmat-nikmatnya makanan adalah yang dihasilkan dari 
jerih
payah dan hasil memeras keringat sendiri, bukan dari pemberian orang lain,
bukan dari usaha tangan di bawah alias meminta-minta.

Si Sulung, sahabat saya ini pun membawa keluarganya pada posisi yang lebih 
terhormat.
Mereka bukan lagi golongan mustahik, melainkan muzakki. Ia senantiasa 
bersedekah dan
berinfak, tak lagi berharap sedekah orang untuk menghidupi ibu dan
adik-adiknya. Dan di hari raya Idul Qurban tahun ini, keluarga ini
benar-benar  akan mengatakan, "kami bosan menjadi penerima daging qurban".

Sungguh, berinfak, sedekah, membayar zakat, juga berqurban, tak semata 
menjalankan
perintah Allah.
Secara langsung semua aktifitas 'tangan diatas' ini serta merta
meningkatkan derajat seseorang. Baik derajat ketaqwaan di mata Allah, maupun
derajat sosial  di mata masyarakat sekitarnya.

Wallaahu 'a'lam (gaw)
***




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: 
[EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke