Sanak Suryadi yang ambo hormati,
  Ada berita dari Waspada mengenai jawaban Basyral Hamidy tentang TIM, yang 
butuh klarifikasi. Mungkin ini suatu kendala bila kajian sejarah hanya 
mengandalkan data-data tertulis saja ?
  Wassalam,
   
  -datuk endang
   
            Sabtu, 08 Desember 2007 02:44 WIB     Kepahlawanan Imam Bonjol Dan 
Tambusai Digugat (Menanggapi H. Kosky Zakaria)                  WASPADA Online

Oleh Basyral Hamidy Harahap

H. Kosky Zakaria adalah salah seorang penanya, setelah saya membacakan makalah 
pada seminar bertema Holong Mangalap Holong: Prinsip Dakwah Masyarakat 
Mandailing yang diselenggarakan Program Pascasarjana IAIN-SU di Medan, 17 
November lalu. Saya menjelaskan pada seminar itu, lafal langgam bicara orang 
Mandailing kaya sekali dengan huruf sengau, semua huruf diucapkan secara 
sempurna seperti bahasa Al Quran yang memberi hak suara kepada setiap huruf, 
sehingga menimbulkan efek relaksasi. Langgam bicara seperti itu besar 
pengaruhnya dalam berdakwah, karena menimbulkan rasa damai dan saling sayang 
menyayangi (holong mangalap holong).

Menanggapi penjelasan saya itu, H. Kosky Zakaria mengatakan, langgam bicara 
orang Minang seperti orang yang tercekik. Saya kaget, karena baru pertama kali 
saya mendengar hal itu, apalagi diucapkan seorang cendekiawan Minang sendiri, 
seorang ahli komunikasi, dosen Program Pasca Sarjana, IAIN-SU Bidang Studi 
Komunikasi Islam. H. Kosky Zakaria juga menyebutkan pada kesempatan seminar 
itu, orang Minang banyak akal. Selanjutnya H. Kosky Zakaria meminta klarifikasi 
tentang rekayasa penyerahan diri Tuanku Imam Bonjol seperti yang saya ungkapkan 
di dalam buku Greget Tuanku Rao.  Berangkat dari kesan-kesannya dari seminar 
itu, H. Kosky Zakaria menulis artikel dalam rubrik opini Harian Waspada edisi 
27 November 2007 di bawah judul Kepahlawanan Imam Bonjol dan Tambusai Digugat. 
Beberapa hal yang dikemukakan H. Kosky Zakaria di dalam artikel itu ingin saya 
tanggapi, agar masalahnya menjadi jernih. 

Maklumlah, karena waktu yang terbatas tidak semua pertanyaan dapat dijawab 
seluas-luasnya dalam acara tanya jawab pada seminar tersebut. Saya jelaskan, 
informasi tentang rekayasa penyerahan diri Tuanku Imam Bonjol bersumber pada 
Naskah Tuanku Imam Bonjol. Bahan primer ini berbahasa Minangkabau dan Melayu 
yang dialihaksarakan oleh Drs. H. Sjafnir Aboe Nain dari aksara Jawi (Arab 
Gundul) ke dalam aksara Latin. Tuanku Imam Bonjol sendiri menulis catatan 
harian itu setebal 191 halaman, kemudian dilanjutkan putranya, Sutan Chaniago, 
dari halaman 192 s.d. 318. Terungkap di dalam buku itu sejauh mana Tuanku Imam 
Bonjol ikut merekayasa penyerahan dirinya kepada kompeni. Buku yang memuat kata 
Sambutan Gubernur Sumatera Barat, Zainal Bakar, ini diterbitkan pada tahun 2004 
oleh Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM), Jl. Veteran No. 93, Padang, 
Telefon/Fax 31356-7877344. 

Sulit sekali mendapatkan buku sumber dari tangan pertama pemimpin Paderi ini, 
apalagi ternyata PPIM sudah bubar. Saya melacak keberadaan publikasi sumber ini 
ke berbagai lembaga, toko buku dan tokoh-tokoh di Padang, Medan dan Jakarta. 
Saya gagal. Akhirnya melalui bantuan teman saya Ammar Haryono di Bandung, saya 
berhasil memperolehnya dari Bapak Armahedi Mahzar, dosen ITB, seorang kelahiran 
Malang berdarah Kota Gadang, Bukit Tinggi, yang keluarga istrinya diincar-incar 
kaum Paderi. Buku inilah yang membeberkan berbagai peristiwa yang dialami 
Tuanku Imam Bonjol, termasuk pernyataanya mengundurkan diri dari gerakan 
Paderi, karena menyadari kekeliruannya melakukan peperangan. 

Pada suatu hari Jumat Tuanku Imam Bonjol memerintahkan kepada pengikutnya untuk 
mengembalikan barang-barang rampasan pasukan Paderi. Para pengikut Tuanku Imam 
Bonjol menolak pengunduran dirinya dari gerakan Paderi. Tetapi pendirian Tuanku 
Imam Bonjol tetap teguh, kemudian menyatakan, jika ada masalah adat supaya 
diselesaikan oleh para petinggi adat, sedangkan masalah agama diselesaikan oleh 
malin nan barampek. Sejak itulah pertama kali didengar istilah adat basandi 
syarak. Ini semua ada di dalam Naskah Tuanku Imam Bonjol.

Saya sudah memberikan fotokopi dari Naskah Tuanku Imam Bonjol kepada Dr. Ichwan 
Azhari, Direktur Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial (PUSSIS) Unimed, 
sekaligus pemilik Pustaka Humaniora yang beralamat di Jln. Tuasan 69, Medan. 
Saya persilahkan kepada H. Kosky Zakaria membuat fotokopi naskah itu. 
Seterusnya, saya mengharapkan kesediaan H. Kosky Zakaria membaca buku Greget 
Tuanku Rao dengan sabar dan tekun. Pada kesempatan ini saya meminta kesediaan 
H. Kosky Zakaria untuk mencatat dua kesalahan ketik yang mengganggu, ialah pada 
halaman 87 tercetak Leonardo da Vinci, seharusnya Dante Alighieri, dan pada 
baris terakhir halaman 202 tercetak 1969 seharusnya 1869.

H. Pandapotan Nasution, SH tanpa dia sadari sudah terjebak di dalam lingkaran 
subyektivitas dalam bentuk 'asal menyatakan tidak' terhadap apa-apa yang saya 
kemukakan di dalam buku Greget Tuanku Rao dan makalah saya pada seminar Holong 
Mangalap Holong: Prinsip Dakwah Masyarakat Mandailing itu. H. Pandapotan 
Nasution, SH. antara lain menyatakan, buku Greget Tuanku Rao subyektif. 
Alasannya, karena saya menceritakan pengalaman leluhur saya yang menjadi korban 
kaum Paderi. Saya bertanya, 'Apakah kalau kita menulis tentang fakta yang 
dialami leluhur kita tidak bisa obyektif?' H. Pandapotan Nasution, SH juga 
menyatakan dengan tegas, sumber-sumber Belanda yang saya pakai, dia ragukan 
kebenarannya. 

Pasalnya, bahan-bahan itu sukar didapat oleh orang lain untuk membuktikan 
kebenaran tulisan saya. Bukankah pernyataan itu justru subyektif? Bertolak 
belakang dengan pernyataan itu, pada bagian lain H. Pandapotan Nasution, SH 
menyatakan, selaku sarjana hukum dia mengakui, penerbitan Belanda 
Adatrechtbundel adalah bacaan wajib dalam studi hukum. Agaknya Pandapotan 
Nasution tidak melihat dengan seksama, ada sumber saya yang diambil dari 
Adatrechtbundel. Serial Adatrechtbundel itu diterbitkan oleh Koninklijk 
Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde (KITLV). KITLV adalah lembaga ilmiah 
yang didirikan tahun 1851, memiliki reputasi internasional dan menyimpan 
koleksi yang sangat kaya tentang Indonesia. 

Sebagai orang yang bekerja selama 26 tahun di KITLV (1969-1995), saya 
terheran-heran mendengar penilaian orang sekaliber Pandapotan Nasution yang 
memasang ukuran keabsahan literatur pada sukarnya orang lain memperoleh bahan 
yang saya gunakan. Maka, saya anjurkan kepada Pandapotan Nasution agar pergi ke 
pusat-pusat arsip, dokumentasi dan perpustakaan di Negeri Belanda seperti yang 
saya lakukan berkali-kali sejak tahun 1975. Seorang kawan saya, Ammar Haryono, 
telah mensponsori perjalanan saya ke Negeri Belanda pada bulan Juli-Agustus 
2006, hanya untuk membaca dan mencari bahan penelitian di KITLV, Leiden. Insya 
Allah, sponsor yang sama akan memberangkatkan saya lagi ke Leiden pada bulan 
Juni-Agustus 2008. Pandapotan Nasution perlu mengetahui, KITLV dan semua 
lembaga arsip dan dokumentasi di Belanda terbuka untuk kepentingan riset.

Saya setuju sekali anjuran H. Kosky Zakaria agar para ahli sejarah menggali 
kebenaran tentang apa yang saya kemukakan di dalam buku Greget Tuanku Rao. Buku 
yang ditulis dan diterbitkan secara komersial yang beredar di dalam masyarakat 
itu sendiri, adalah sosialisasi temuan-temuan. Perlu saya sebutkan, saya sudah 
berbicara di forum terbuka dalam acara bedah buku Greget Tuanku Rao yang 
dihadiri banyak pihak termasuk wartawan, antara lain tanggal 8 November 2007 
yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Budaya UI, Studi Klub Sejarah, dan Komunitas 
Bambu di Pusat Studi Jepang UI. Kemudian 10 November 2007 di Unimed yang 
diselenggarakan PUSSIS Unimed, dilanjutkan 17 November 2007 di IAIN-SU, yang 
dihadiri H. Kosky Zakaria sendiri. 

Menurut rencana, acara yang sama akan digelar di Jakarta pada bulan Desember 
2007. Ini bukti kesediaan saya berbicara di muka forum terhormat, seperti di 
beberapa perguruan tinggi bergengsi itu. Tak terbersit seberapa pun kecilnya 
niat di dalam hati saya untuk meruntuhkan harkat dan martabat orang Minang 
melalui buku Greget Tuanku Rao, seperti yang dituduhkan Kosky Zakaria di dalam 
artikelnya. Prasangka seperti itu harus dibuang jauh-jauh dari pikiran siapa 
pun. Lagipula, manalah mungkin harkat dan martabat orang Minang runtuh hanya 
karena buku ini. Lebih tak terbersit lagi apa yang diejekkan Kosky Zakaria, 
'Siapa tahu Bung Basyral akan diangkat pula sebagai 'Pahlawan Pelurusan Sejarah 
Bangsa Indonesia'. Jan baitu angku. 

Sebagai penutup baiklah saya kutip di sini alinea terakhir makalah saya pada 
seminar Holong Mangalap Holong di Pasca Sarjana IAIN-SU tanggal 17 November 
itu, untuk direnungkan dalam-dalam, sbb.:

'Pergaulan orang Mandailing dengan orang Minangkabau sangatlah eratnya, 
barangkali paling erat dibandingkan dengan pergaulan orang Minangkabau dengan 
etnis lain. Jika orang Mandailing memperkenalkan dirinya sebagai orang 
Mandailing apalagi dilafalkan dengan logat Minangkabau, Urang Mandailiang, 
niscaya terasa ada getaran gaib yang mengeratkan hubungan batin keduanya. Saya 
mempunyai banyak pengalaman seperti itu'. Terakhir, mohon Angku H. Kosky 
Zakaria menulis nama saya yang sebenarnya, Basyral Hamidy Harahap, bukan 
Basyral Hadi Harahap. Nama saya diambil dari ayat di dalam Al Quran, Basyr Al 
Hamid yang artinya pasti angku H. Kosky Zakaria ketahui. 

Penulis adalah pemerhati masalah-masalah sosial budaya masyarakat Tabagsel. 

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: 
[EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke