Nofend St. Mudo wrote:

>Semenjak rame Novel Negara Kelima dulu, saya sangat kepingin juga
>membaca, tapi sampai saat ini, belum kesampaian juga, yah tau dikit
>dari Refernsi dan beberapa ulasan di net saja. dan...
>
>Belum yang itu kebaca, sekarang dah benerdar lagi karya besarnya yang
>berjudul "Rahasia Meede", yang pasti belum saya lihat juga.
>Moga2, akhir tahu ini, niat untuk memiliki 2 dari beberapa Karya ES IT 
>tersebut.
>
>Apa hubungannya dengan Minang????
>Hehee.. dihubung hubungi, tetapi tidak juga, di "Negara Kelima" sangat
>jelas sekali kita liat (dr refensi) mengenai Budaya Minang Kabau, dan
>juga di Novel "Rahasia Meede" yang baru ini, salah satu tokohnya
>sepertinya ber etnis minang juga.
>
>Dari data dirinya, yang hanya anak seorang ibu Petani dan Bapak
>Pedagang, ES ITO sepertinya sulit sekali memperlihatkan identitasnya,
>tapi dari nada-nadanya, sepertinya anak muda (katanya) yang lahir 1981
>ini adalah generasi sari para Sastrawan2 besar dahulu.
>
>Entah lahh...
>Mungkin uda IJP bisa sedikit memberi identitas ini, dan bisa juga
>memberi ulasan mengenai Karya2 ini.
>
>Salam.
>Rola
>
>from harfianto.blogspot.com
>
>Pram Muda itu Telah Lahir
>Tiga tulisan diawal merupakan intreprestasi saya atas rekaman wawancara dengan
>ES Ito disuatu malam, seusai penulis muda ini bedah karyanya, Rahasia Meede.
>Berikut kutipan lengkapnya (*)
>
>Kenapa tertarik menulis fiksi sejarah?
>
>setelah Pram, novel sejarah seperti ruang kosong yang tidak terisi.
>Penulis-penulis Indonesia terlalu sibuk dengan trend kediriannya masing-masing.
>Mereka ingin menularkan pengalamannya yang pahit tentang pendidikan, kisah 
>cinta
>yang terlalu dilebih-lebihkan, misalnya. Itu tidak memberikan pencerahan
>terhadap bangasa. Tapi kalau penulis ingin memberikan pencerahan, dia harus
>melihat ke belakang
>
>Sejarah berada pada posisi berbeda. Waktu tidaklah linear. Waktu itu acak. Apa
>yang terjadi dimasa lampau bisa saja terjadi dimasa mendatang. Sejarah bukan
>sesuatu yang hilang ditelan begitu oleh waktu. Menulis sejarah berarti
>memprediksi masa depan. Dan tugas seorang penulis adalah menggariskan masa
>depan. Tugas ini belum banyak yang mengambilnya.
>Bagaimana dengan Pram?
>
>Pram terlalu sibuk dengan Jawa.
>
>Jawa sentris?
>
>Tidak Jawa sentris. Tapi dia tidak mencoba mengangkat bagian lain dari 
>Indonesia
>untuk memberikan semangat perlawannan. Dia menafikan peran suku bangsa lain
>dalam mendirtikan republik ini. Pram dalam novelnya bicara tentang medan
>Priyayi, dan itu sangat Jawa. Tidak semua suku bangsa memiliki penulis. Tidak
>ada orang Papua, Bugis dan lainnya yang jadi penulis terkenal. Siapa yang akan
>mengangkat mereka. Bagaimana feel (perasaan) orang Papua terhadap republik ini,
>jika dia tidak menjadi bagian dari entitas budaya republik ini. Tidak ada yang
>bisa memastikan kalau Papua satu nasionalisme dengan kita, kalau tidak ada yang
>mengenalkan. Harus ada yang memulai.
>
>Ada kemiripan anda dan Pram dengan realisme sosialisnya, bagaimana tanggapan
>anda?
>
>Kalau kita menulis soal sekarang, mengambil kontek sosial dan politik sekarang.
>Itu memang harus realis. Tidak berarti, saya mengambil apa yang dilakukan Pram.
>Apapun yang kita gambarkan saat ini adalah realis. Politik kita, identitas
>demokrasi kita, semuanya penuh omong kosong. Keterwakilan seperti yang
>disinggung tokoh Kale dalam Rahasia Meede, hanya orang gila yang berdemokrasi.
>Siapaun yang menulis soal bangsa saat ini, pasti akan mirip dengan Pram.
>
>Ada yang menyamakan anda dengan Pram muda, apa pendapat anda?
>
>Itu sah-sah saja. Tapi saya dan Pram jelas berbeda. Pram membangun 
>kemegahannnya
>sendiri, saya juga sedang membangun kemegahan saya sendiri. Siapa yang berhasil
>kita lihat nantilah. Kalau Pram masih hidup saya bakal tukar tandatangan dengan
>beliau.
>
>Ada juga yang mengatakan gaya anda mirip dengan Dan Brown?
>
>Gaya bercerita seperti itu bukan hanya milik Brown. Kenapa orang tidak
>menanyakan, bukannya Brown yang belajar ke Sidney Sheldon. Saya lebih dulu baca
>Sidney ketimbang Brown. Saya dengan Brown berbeda. Brown mengangkat isu-isu 
>kuno
>soal agama. Dan menjadi menarik, karena brown menyentuh standar moral sesorang
>soal agama. Sedang saya mencipatan dunia baru, saya menciptakan peradaban baru.
>Saya memperkenalkan Indonesia pada dunia secara utuh. Bukan etnis dan agama.
>
>Brown tidak mempromosikan Eropa atau Amerika, tapi Brownm mempromosikan sesutu
>yang sudah terjadi dimasa lalu. Konflik agama. Itu lumrah. Sedang saya
>menampilkan kesatuan sebuah bangsa dalam satu entitas yang terbentuk sejak
>berpuluh-puluh abad silam. Dan itu hanya terjadi di Indonesia. Brown jelas 
>tidak
>mungkin mengungkap Amerika seperti saya mengungkapkan Indonesia
>
>Apakah Rahasia Meede sudah mengungkapakan Indonesia secara utuh?
>
>Belum dan harusnya memang belum. Harus ada penulis lain yang mengambil ini. 
>Saat
>ini penulis terlalu sibuk dengan selera pembaca. Urusan saya menulis, kalau ada
>pembaca yang tidak suka, jangan baca. Urusan penulis menciptkan dunia baru,
>bukan mengikuti yang sudah ada.
>
>Dalam Rahasia Meede diungkap soal harta karun VOC, apakah ini sebuah fakta?
>
>Untuk yang ini, saya usulin pemerintah untuk membentuk tim saja.
>
>Buku anda kaya denan dokumen sejarah, bagaimana mendapatkannya?
>
>Saya melakukan studi di Gedung Arsip Nasional Jakarta untuk dokumen-dokumen 
>KMB.
>Sedang untuk VOC, Batavia dan Pieter, saya melakukan wawancara dengan 
>sejarahwan
>Alwi Sahap. Untuk Pulau Hondrus, Papua, Mentawai saya mendatanginnya. Intinya
>ada studi pustaka, wawancara, dan penelitian. Saya pikir untuk penulis zaman
>sekarang, studi dan penelitian itu harus dilakukan seberapa pun keterbatasan
>bujet kita. Kita harus menampakan potret asli rakyat. Kita tidak bisa lagi
>menyajikan mimpi-mimpi yang tidak mungkin terjadi. Novel-novel yang menampilkan
>mimpi, tidak lebih dari roman picisan. Tapi itu haknya penulis. Menurut saya
>harus ada penulis yang keluar dari itu.
>
>Jadi apa sebenarnya tugas seorang penulis?
>
>Tugasnya adalah memberikan kesadaran baru kepada masyarakat, membengkokan
>peradaban. Itu yang dilakukan Gorki (Maxim Gorki) yang menginspirasi revolusi
>Bolsyevik tahun 1917 lewat Ibunda yang ditulisnya pada 1906. Itu juga yang
>dilakukan Pram dengan tetraloginya, walau kita tahu tidak memberikan dampak
>politik apa-apa bagi Indonesia, kecuali PRD. Itu juga yang dilakukan penulis
>Ceko yang menumbangkan Rezim Sosialis di Ceko. Kata-kata mereka jauh lebih kuat
>dari tank-tank Soviet yang ada di Ceko.
>
>Menurut saya, harus ada penulis yang mengambil posisi itu. Kita juga tidak bisa
>menutup mata kalau ada juga penulis yang menulis soal stensilan. Namun orang
>tidak harus menulis sesuai selera masyarakat. Saya menolak setiap upaya meminta
>saya menulis apa yang mereka inginkan. Saya hanya menulis apa yang saya
>inginkan.
>
>Artinya penulis adala pendobrak awal perubahan?
>
>Harusnya seperti itu. Kalau kita bicara konsep Nasionalisme Indonesia. Tidak 
>ada
>satu pun kata-kata yang lebih menggemparkan ketimbang sebuah pamlet yang 
>ditulis
>Raden Mas Soewardi Soerjaningrat "Ik eens Nederland Was" atau "Seandainya Saya
>Seorang Belanda". Dampak pamlet itu pengaruhnya jauh lebih masif ketimbang
>kongers SI (Syarikat Islam) yang dihadiri puluhan ribu orang.
>
>Penulis itu memberikan kesadaran baru bagi masyarakat. Bahkan wartawan pun, 
>pada
>banyak hal jauh lebih berguna dari novelis.
>
>Apakah ini bentuk sikap anda?
>
>Setiap penulis harus membawa ideologi.
>
>Tapi untuk mencapai kesadaran seperti itu, pasti ada tahapan-tahapan 
>sebelumnya?
>
>Kesadaran adalah himpunan dari pengalaman. Saya SMA di Taruna Nusantara,
>pedidikan militer. Kesadaran konyol tentang Indonesia ada disitu. Tapi cukup
>memberi wawasan tentang kesatuan Indonesia. Lalu saya kuliah di Fakultas 
>Ekonomi
>Universitas Indonesia, ikut demo juga, lalu jadi kordinator I BEM UI.
>
>Itu pengalaman yang membentuk kesadaran. Saya pernah datang disebuah tempat
>minum didepan bundaran HI. Disana tempat terjadi tawar-menawar aksi 
>demonstrasi.
>Proses-proses demokrasi seperti itu semuanya omong kosong. Kita hanya dimainkan
>wacana dan isu yang membuat otak ini semakin buntu. Hanya elit-elit yng 
>bermain.
>Kesadaran yang dibangun media, TV pun, yang terus menerus berganti, membuat
>orang lupa pada esensi masalah.
>
>Indonesia harus seperti apa dan saat ini bagaiamana?
>
>Indonesia adalah proses yang belum selesai. Di negara ini banyak ketidakadilan,
>begitu amburadulnya sistem. Harusnya dalam kondisi ini, Indonesia bisa
>melahirkan penulis-penulis hebat di dunia. Kita hanya melahirkan Pram. Para
>politisi kita ketika bicara soal rakyat, dia punya misi meraup suara. Begitu
>juga SBY saat bicara rakyat dia juga sambil menatap 2009. Harus ada yang
>memberikan kesadaran-kesadaran baru bagi rakyat.
>
>Buku adalah sebuah produk, ada nilai bisnis didalamnya. Apa anda tetap
>berkomitmen menulis buku sejenis, jika tidak lagi diminati secara bisnis?
>
>Saya pikir, buku-buku seperti ini tidak pernah akan habis. Yang namanya realis
>tetap akan menjadi trend. Banyak muncul aliran-aliran baru realis, tapi
>substansi tetap sama. Umberto Eco, Dan brown dan lainnya, bisa mewakili itu.
>Saya Insya Allah tidak akan beralih.
>
>Bagaimana pandangan anda soal novel-novel Teenlit, Roman Picisan dan 
>sebagainya?
>
>Tidak ada hak saya untuk mengemontarinya. Orang cari duit. Tapi mereka
>bertanggung jawab membentuk bangsa ini menjadi instan. Sebenarnya yang lebih
>diwaspadai adalah teenlit yang dibungkus agama. Kalau yang sekuler bisa
>dihindarkan. Kita punya perangkat untuk itu. Tapi kalau dibungkus agama gimana.
>
>Yakin bisa hidup sebagai penulis?
>
>Tanyakan hal yang sama pada presiden. Apa dia bisa hidup sebagai presiden.
>Presiden dan penulis tidak jauh berbeda. Presiden pasti akan memikirkan apakah
>pemilih masih mood dengan dia. Begitu juga penulis, apakah pembaca masih
>menyukai karyanya.
>
>Dalam novel anda sering dibawa identitas Minang, kenapa?
>
>Kalau kita ingin terlibat dalam percaturan global. Maka akarnya adalah tanah
>kelahiran kita. Ketika orang Itali di New York, mereka akan bangga sebagai 
>orang
>Sisilia. Kita harus punya dedikatif hidup pada tanah kelahiran kita. Dan ini
>bukan etnosentris. Akar terdalam seseorang adalah, pertama ibunya, kedua tanah
>kelahirannya. Itulah kenapa saya memasukan daerah-daerah di sumbar. Untuk
>menjadi besar, orang tak boleh durhaka pada ibunya, pertama ibu kandung kedua
>tanah kelahirannya.
>
>Kita juga tidak bisa lepas dari konteks historis, Orang Minang terlibat dalam
>pembentukan republik ini. Itu kutukan sejarah yang tidak bisa kita hindari. 
>Yang
>terus membebani kita sangat besar, sehingga kita menjadi kerdil saat ini.
>
>Kenapa tentang diri anda sangat sedikit diulas?
>
>Saya kan bukan penulis murahan. Kalau saya penulis murahan, saya tuliskan
>semuanya. Tapi ngapain saya menonjolkan apa yang telah berlalu. Pernah diburu
>50-an pasukan berani mati, sedang kami hanya 13 orang. Hal seperti ini sudah
>berlalu dalam hidup saya, terlalu cengeng untuk saya tuliskan. Penggemar CV itu
>untuk lamar kerja bukan untuk penulis.
>
>Apa rencana anda setelah ini?
>
>Saya sekarang sedang memikirkan sebuah cerita yang substansinya sama. Konsepnya
>sama dengan sekarang, tetap mengangkat realistas yang ada. Tapi lebih tipis dan
>ringan. Obsesi terbesar saya adalah menulis soal Perang Kamang. Namun untuk
>membuat karya ini saya harus melakukan studi ke Belanda, karena disana
>data-datanya paling lengkap. Tradisi kaba di Minangkabau menyulitkan saya.
>Selain itu, saya juga mau menulis soal Rafles, Tan Malaka, tapi pada konteks
>yang lebih pelik, masa lalu.
>
>Saya juga mau menulis tentang PRRI. Masih banyak yang belum terungkap. Ini
>tantangan buat anak-anak Padang. Karena PRRI adalah model otonomi daerah yang
>diingkari Jakarta. Sumbar tidak pernah melepaskan diri dari NKRI, yang ingin
>diganti adalah pemerintahnya. Penumpasan PRRI dikenal sebagai operasi Agustus.
>Sebagai orang minang, kita tidak boleh bangga dengan operasi itu. Karena 
>membuat
>orang Minang mati secara kultur. Saya ingin tanyakan, apa yang diajarkan
>buku-buku sejarah pada kita soal ini. Pada 1958 itu, PRRI jauh lebih benar dari
>pada RI.
>
>Apakah anda akan menulis buku teks sejarah?
>
>Kayaknya ngak, saya belum siap menggantikan Nugroho Notosusanto. . 
>(hahahaaa)(*)
>
>oleh Harfianto Afgani
>Pukul 1:28 AM
>
> 
>
Assalaamu alaikum Wr. Wb

Kami mohon dengan hormat untuk tidak mengirim email dalam bentuk apapun 
ke alamat kami.

Trima kasih atas segala pengertiannya

Wassalam

Divisi L2K3
PT. Pertamina Tongkang Jakarta    

>>
>
>
>
>  
>


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Selalu mematuhi Peraturan Palanta RantauNet lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-palanta-rantaunet
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: 
[EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount

-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke