Sanak Suryadi ysh,
  Senang sekali sanak sudah mulai mengungkap beberapa data masa lalu. Kalau 
boleh bertanya, kira-kira dimensi/ukuran cap itu sebesar apa dan ditemukan 
dimana?
  Saya sampai saat ini masih menduga bila kedua Datuk itu tidak saja 
mencerminkan perbedaan dua aliran politik dan kemasyarakatan, tetapi juga 
perbedaan agama.
  Kedua, dari catatan Edwar Djamaris hampir semua tambo diterbitkan pasca 
Perang Paderi; kalau tidak salah ada 1-2 naskah tambo yang ditulis semasa 
Perang Paderi. Apakah ada perbedaan signifikan antara tambo dari kedua masa 
tersebut? Apakah pernah ditemukan tambo yang ditulis sebelum masa Perang Paderi?
  Demikian sanak, mudah-mudahan berkesempatan menjawabnya.
   
  Wassalam,
  -datuk endang
  

Lies Suryadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
              Padang Ekspres, Minggu, 1 Juli 2007
    STEMPEL DATUAK KATUMANGGUNGAN DAN DATUAK PARPATIAH NAN SABATANG   
    .fullpost{display:none;}    
  OLEH Suryadi
   
  
  Umumnya orang Minangkabau – bukan Minang kerbau seperti acap kali ditulis 
dalam koran Soenting Melajoe pimpinan Mahyuddin Dt. St. Maharadja – mengenal 
nama Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Mereka termasuk 
founding father orang Minang. Nama keduanya disebut-sebut dalam berbagai wacana 
kebudayaan Minangkabau – dalam tambo, dalam cerita rakyat, dalam pidato adat 
dan pasambahan, dalam kaba, dan mungkin juga dalam mimpi para datuak kita. 
Konon jejaknya juga dapat dilacak dalam material culture Minangkbau: ada Batu 
Batikam di Batusangkar, sebagai ‘bukti arkeologis’ percanggahan ideologis yang 
amat prinsipil antara kedua mamak muyang orang Minang itu: yang satu hendak 
menegakkan sistem otokratis (ketek babingkah tanah, gadang balingkuang aua 
[Laras Koto Piliang]), yang lain hendak menerapkan sistem demokratis (titiak 
dari ateh, bosek dari bumi [Laras Bodi Caniago]). Kata pakar pernaskahan 
Minangkabau dari Universitas Andalas, Dra. Zuriati M.Hum, kepada
 saya, tongkat kedua datuak kita itu ditemukan di Solok. Tongkat itu sudah 
berdaun. Ondeh! Sedangkan almarhum Anas Navis dalam salah satu artikelnya di 
www.ranah-minang.com menulis bahwa kuburan kedua datuak kita itu yang juga 
ditemukan di Solok. Wallahualam! Ini kaba orang yang saya kaba(r)kan, dusta 
orang saya tak serta.
   
  Lepas dari bukti-bukti setengah mengawang di atas tentang Datuak 
Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang, dalam tulisan ini saya 
membicarakan ‘bukti’ yang lain yang jarang dibicarakan orang Minang. Bukti itu 
adalah stempel kedua datuak-muyang kita itu. 
  Stempel? Jadi, kedua datuak kita itu pandai menulis? Pandai membaca? Kalau 
mamak muyangnya tidak pandai tulis-baca, tentu anak cucunya pandai maota saja. 
Cerita yang kita dengar selama ini mengatakan bahwa Datuak Katumanggungan dan 
Datuak Parpatiah nan Sabatang memang pintar: pandai mambaco dalam raik, pandai 
manyurek manilantang.
  

  Stempel Datuak Katumanggungan (a) dan Stempel Datuak Parpatiah Nan Sabatang 
(b).
  
  (Sumber: Leiden University Library Cod.Or. 1745, hal. ii & iii)
  (Konon) kedua stempel yang gambarnya disajikan di sini adalah stempel (cap) 
Datuak Katumanggungan dan stempel Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Bentuknya 
serupa tapi tak sama, seolah mencerminakan ideologi politik keduanya yang 
sarantak balain dagam. Sumber stempel a dan b adalah naskah Tambo Minangkabau 
yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, di bawah kode 
Cod. Or. 1745, halaman ii dan iii. Kemungkinan naskah ini sudah pernah diresek 
oleh Edwar Djamaris dan M. Yusuf, dua orang pakar pernaskahan Minangkabau. 
Kolofonnya mengatakan bahwa Tambo ini disalin oleh Bagindo Tanalam [(Su)tan 
Alam?] Sikutare [Si Kutar?] pada tahun 1824 (Di Pariaman, misalnya, nama 
Sikutar biasa didengar, sebagai peminangan dari nama Mukhtar; juga kata Ahmad 
yang menjadi [Si] Amaik; Sahrul yang menjadi [Si] Arun, dll.) Tak disebutkan 
dimana tempat penyalinan naskah ini (Lihat Wieringa 1998:103). Menurutnya, 
Tambo ini dimulai dengan cerita tentang nenek moyang orang Minang, Sri
 Maharaja Diraja, yaitu keturunan Iskandar Zulkarnain, dilanjutkan kemudian 
dengan kisah tentang kedua originators Minangkabau: Datuak Katumanggungan dan 
Datuak Parpatiah Nan Sabatang. “On pp. ii-iii the seals of these two rulers are 
to be found” (Ibid.) Abstrak naskah ini juga dapat dilihat dalam Iskandar 
(1995: 14); Haji Wan Ali Wan Mamat (1885: 20); dan Juynboll (1899: 245-46). 
Semula naskah ini adalah koleksi Akademi Delft. Akademi ini ditutup pada tahun 
1864, dan koleksi naskah Nusantara yang ada disana dipindahkan ke Perpustakaan 
Universitas Leiden.
   
  Inskripsi stempel a (Aksara Arab-Melayu/Jawi) adalah sebagai berikut: “Inilah 
cap Datuk Katemanggungan nan banama Maharaja Diraja.” Di atas dan di bawah 
stempel terdapat anotasi (keterangan): “Matlab Datuk Katemanggungan jua adanya 
nan bergelar Sultan Paduka Besar; adapun Datuk Katemanggungan itu ialah nan 
tuah pada Laras Kota Piliang adanya. Inilah cap besar kepada segala anak cucu 
Datuk Katemanggungan pada tiap2 lu[h]ak dan laras dan pada tiap2 batang rantau, 
lalu ke laut nan sedidis, ombak nan be[r]debur.”
  Inskripsi stempel b, yang juga ditulis dalam aksara Jawi, adalah sebagai 
berikut: “Inilah Cap Datuk Parpatih Sebatang nan bernama Si Manang Sutan”. Di 
atas dan di bawah cap terdapat anotasi: “Matlab Datuk Perpatih Sebatang jua 
adanya nan bernama Si Manang Sutan adanya. Adapun Datuk Perpatih Sebatang itu 
ialah nan tuah di dalam Laras Bodi Caniago jua adanya. Inilah cap besar kepada 
segala anak cucu Datuk Perpatih Sebatang pada lu[h]ak dan laras dan pada tiap2 
batang rantau, lalu ke laut nan sedidis dan ombak nan be[r]debur jua adanya.” 
(Lihat juga Wieringa 1998: 104; Gallop 2002: part 1, vol. II, 133).
   
  Teks inskripsi kedua stempel itu, beserta anotasinya, menarik untuk dibahas 
lebih lanjut. Mudah-mudahan para pakar pernaskahan Minangkabau akan tertarik 
menelitinya. Saya hanya pandai manatiangkan ide-ide dan persoalan. Misalnya, 
ada kata matlab yang cukup arkhais. Ternyata juga nama yang disebut adalah 
“Datuak Perpatih Sebatang”, tanpa kata nan yang umum dikenal oleh orang Minang. 
Inskripsi stempel itu juga menyebutkan nama lain Datuak Katumanggungan, yaitu 
Maharaja Diraja ([tak] sama dengan Sri Maharaja Diraja?), dan juga ada gelarnya 
yang lain, yaitu Sultan Paduka Besar. Sedangkan nama lain Datuk Parpatih Nan 
Sabatang adalah Si Manang Sutan. Jadi, yang satu punya nama dan gelar lebih 
banyak daripada yang lain. Boleh jadi ini merefleksikan gradasi otoritas 
keduanya? Yang jelas dalam wacana budaya Minangkabau memang disebutkan bahwa 
Datuak Katumanggungan lebih tua daripada Datuak Parpatiah nan Sabatang.
   
  Akan tetapi, yang paling menarik adalah keterangan “Inilah cap besar kepada 
segala anak cucu [datuak nan berdua itu] pada lu[h]ak dan laras pada tiap2 
batang rantau, lalu ke laut nan sedidis dan ombak nan be[r]debur…”. 
Interpretasi saya yang daif: redaksi stempel ini tidak diubah-ubah dan sudah 
turun temurun digunakan dari generasi ke generasi. Stempelnya sendiri 
(fisiknya) mungkin sudah berkali-kali diganti (stempel pastilah tidak begitu 
dapat tahan lama). Kata “cap besar” juga mengindikasikan bahwa stempel ini 
pernah memiliki otoritas dan wibawa yang tinggi, baik di luhak (laras yang 
tiga) dan rantau yang membentang sampai ke “laut nan sedidis dan ombak nan 
be[r]debur”.
   
  Seperti telah disebut di atas, Tambo tempat stempel ini ditemukan ditulis 
tahun 1824. Dengan demikian, umurnya baru kurang lebih 183 tahun. Jadi, kurang 
logis bahwa stempel ini adalah stempel yang asli yang pernah dipakai oleh 
datuak kita nan berdua itu. Masa hidup Datuak Katumanggungan dan Datuak 
Parpatiah Sabatang pastilah berasal dari periode yang jauh lebih lama daripada 
tarikh itu, setidaknya ketika Gunung Merapi sudah sedikit lebih besar dari 
telur itik. Timbul pertanyaan lain: bagaimana otoritas stempel itu di masa 
lalu? Apakah stempel itu dipegang oleh satu otoritas saja atau boleh dipegang 
oleh beberapa otoritas di Minankabau? Kenapa hanya Or. 1745 saja yang punya 
stempel itu? Apakah ini dapat membantu kita menelusuri kira-kira dimana Cod.Or. 
1745 ditulis atau disalin? Silakan para pakar filologi 
  Minangkabau lebih lanjut memikirkannya.
   
  Ada banyak hal seputar stempel ini yang bisa didiskusikan, namun tidak 
mungkin dilakukan dalam artikel yang pendek ini. Yang jelas, Datuak 
Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang tetap penuh misteri. Dunia 
ilmiah belum dapat memberikan lebih banyak bukti yang meyakinkan mengenai 
banyak hal seputar sejarah hidup kedua originators sukubangsa Minangkabau 
itu.***
   
  Suryadi, kandidat doktor di CNWS Leiden University, Belanda
Dimuat di Padang Ekspres, Minggu, 1 Juli 2007
  





       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Selalu mematuhi Peraturan Palanta RantauNet lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-palanta-rantaunet
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount

-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke