Saat itu tanggal 10 Februari 1958. Sudah 54 tahun berlalu. Saat itulah
genderang perang dengan pusat ditalu. Daerah melawan. Pemicunya,
ketidakpuasan daerah kepada pemerintah pusat: banyak senjang, tak
sedikit yang timpang dalam roda pemerintahan. Gerakan koreksi ini
dinamakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

Maka, 10 Februari 1958, lewat Radio Republik Indonesia (RRI) Padang,
PRRI yang disebut dengan Dewan Perjuangan membacakan tuntutannya untuk
pemerintahan pusat yang dikenal dengan “Piagam Perjuangan”. Isinya:
1). Bubarkan Kabinet Djuanda dan kembalikan mandatnya ke presiden, 2).
Bentuk zaken kabinet nasional dibawah suatu panitia pimpinan M. Hatta
dan Hamengkubuwono IX, 3). Beri kabinet baru mandat sepenuhnya untuk
bekerja sampai pemilu mendatang, 4). Presiden Soekarno/Pj. Presiden
agar membatasi diri menurut konstitusi. 5). Bila tuntutannya tak
dipenuhi dalam tempo 5x24 jam, Dewan Perjuangan akan mengambil
kebijaksanaan sendiri.

Militansi para pejuang koreksi jalannya pemerintahan pusat
itu—pemerintah pusat menyebut PRRI sebagai pemberontak—membuat murka
pusat. Pemerintah Pusat terasa diultimatum. Digaham oleh daerah, tentu
saja Pusat murka. Jika orang pusat murka, alamat hancur negeri ini.
Lima hari setalah ancaman itu, Pusat kirim tentara ke Padang sebanyak
7500-10000 personil terdiri dari Kodam Diponegoro, Siliwangi,
Brawijaya dan elit Banteng Raiders juga KKO khusus Marinir AL ke
Sumatra Tengah (Minangkabau). Tidak cukup? Pusat memperkuat lagi
dengan mengirim 5-7 kapal perang dan ditambah dengan pesawat tempur.
Kolonel Ahmad Yani memimpin penyerangan.

Galibnya sebuah pertempuran, tentu pakai sandi. Namanya Sandi Operasi
17 Agustus. Maka, berdarah-darahlah negeri ini. Dentuman dan raungan
senjata perang sahut-menyahut. Perang sesama saudara sendiri. Saling
mengunus senjata dengan saudara yang pernah sama-sama berjuang
mengusir penjajah. Peristiwa yang sangat ironis, dan terkesan naif.

Di Pasa Ateh Kota Bukittinggi, saat pagi masih merangkak, ratusan
pedagang dibantai tentara pusat karena dicurigai ada tentara pro PRRI
yang menyelinap di dalamnya, ternyata dugaan itu salah. Rakyat sipil
yang akan menggelar dagangan pagi itu terbunuh sia-sia. Dan tak ada
yang bertanggung-jawab. Di Nagari Simarasok, Kabupaten Agam, kepala
seorang datuk dipancung oleh OPR lalu diarak keliling kampung untuk
ditonton ramai-ramai. Semua di luar batas kemanusiaan. Harga diri
telah hancur. Masyarakat yang tidak tahu apa-apa menjadi tumbal
kekejaman ambisi dan ketaatan terhadap perintah.

Saat itu, masyarakat tidak mengetahui secara pasti apa sebenarnya yang
terjadi di negerinya. Mengapa tiba-tiba saling bunuh sesama bangsa.
Meletusnya perang sesama saudara ini hingga kini tidak pernah jelas
berapa jumlah nyawa manusia yang terbunuh. Negara Indonesia
(pemerintah pusat atau pun daerah) sebenarnya harus menjelaskan
sejarah hitam ini secara transparan kepada publik, apa sebenarnya yang
terjadi.

Banyak pelaku dan juga sejarahwan mengatakan, semula gerakan itu tidak
tampak berniat ingin menghancurkan keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI). Tetapi, pemberontakan itu akhirnya dikenal sebagai
“gerakan anti-Jawa”, karena kesenjangan pembangunan antara Pulau Jawa
dan luar Jawa dianggap semakin besar.  Namun peristiwa itu, perjuangan
koreksi itu, yang kini baru sebagian terealisasi dengan adanya otonomi
daerah, tenggelam begitu saja. Kemarin, tak ada secercah pun peristiwa
peringatan PRRI itu, terutama di Sumatera Barat, digelar.

Kita menyadari, mungkin pelaku-pelaku PRRI itu tak begitu banyak yang
masih hidup sekarang ini. Kita berharap, ada upaya pemerintah daerah
untuk menggelar peringatan PRRI ke depan, kendati mungkin sulit
menerima, apa yang dilakukan para pejuang PRRI itu benar adanya.
Stigma pemberontak memang sangat sulit terhapus.

Peristiwa berdarah itu memang membuat luka. Luka bagi siapa saja.
Tetapi, saat kini, barangkali, luka itu sudah dilupakan. Dilupakan
oleh perjalanan masa. Dilupakan oleh pemerintah yang semakin tidak
menghargai rakyatnya. Lima puluh empat tahun memang rentang waktu yang
tidak panjang.  Karena masih segar, tentu tidak menutup kemungkinan
peristiwa yang sama akan muncul lagi, jika negeri ini masih tetap
dijarah, diperkosa, dikuras, dan rakyat makin menderita dari hari ke
hari. Kita lihat saja.***

Harian Singgalang, Sabtu, 11 Februari 2012 03:00
http://bit.ly/wDNfQ3

Wassalam
Nofend | 35-L | Cikasel

Sent from Pinggiran JABODETABEK®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke