Wahai sanak Ajo Duta, bara pulo dari nan punyo muncuang-muncuang nan sato makan dek nyo tu , malahia kan katurunan dari hasia makan nan haram tu, kalau dibanakan nan macam tu tantu batambah rami preman atau sabangsonyo dimuko bumiko. Baa gak ti, sangenek.com.


--------------------------------------------------
From: "ajo duta" <[email protected]>
Sent: Saturday, March 03, 2012 6:17 AM
To: <[email protected]>
Subject: Re: [R@ntau-Net] Retribusi di Kiktenggi

Indak baa juo pitih pungli masuak ka saku preman. Kan ikuik manjawok
masalah lapangan karajo. Bara muncuang nan sato makan dek nyo.

Kalau masuak ka pamarentah paling2 indak jalan lo penggunaannyo.

Baa gak ti?

On 3/2/12, Lies Suryadi <[email protected]> wrote:
Aha....manguap... bantuak kantuik dalam sarawa. Antahlah...baa lai caronyo manyalamaik'an kepeng rakyaik ko --dari pajak, retribusi, dll? Co carito kak
kancia jo baruak: baruak disuruah dek kancia maambiak pisang masak,
ditampuang dek kak kancia jo sumpik sompong di bawah. Lah badaram2 pisang ko
turun dek baruak, tapi sumpik ko indak pernah panuah. Masuak paruik kak
kancia nan banyak pisang ko pai e.

Wassalam,
Suryadi


________________________________
Dari: "[email protected]" <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Dikirim: Jumat, 2 Maret 2012 11:41
Judul: [R@ntau-Net] Retribusi di Kiktenggi



Miliaran Rupiah Retribusi Menguap







Jumat, 02 Maret 2012 02:13

ULAH OKNUM DI PASAR BAWAH

BUKITTINGGI HALUAN — Ratusan pedagang kreatif lapangan (PKL) disekitar jalan
Perintis dan jalan Soekarno Hatta depan Banto Trade Center (BTC) Pasar
Bawah, mengeluhkan nasib mereka yang kerap dikejar-kejar petugas Satpol PP
Kota Bukittinggi.

Padahal menurut penga­kuan pedagang, setiap berjua­lan di sekitar badan
jalan Perintis dan Soekarno Hatta itu, mereka membayar uang retribusi
sebesar Rp1.000 setiap harinya.

Salah seorang pedagang sayur bayam, Nurmayati (60), asal Gadut Tilatang
Kamang kepada Haluan Kamis kema­rin, mengatakan,“Kami mam­bayia Rp1.000 tiok
hari. Tapi kanai garo juo di Pol PP. Cuma nan mamintak seo, antah urang
dinas pasa, antah pareman. Ado laki-laki baba­dan gadang gampa nan
ma­min­tak. Tapi kalau pedagang padusi, nyo suruah padusi nan lo nan
mamintak. Indak lo di agiah karcis doh. Tu kok takuik kami. Asa lai aman
manggaleh, bialah kami baia.”

Secara kasat mata jumlah PKL di lokasi sepanjang jalan depan BTC dan muka
pasar jalan Soekarno Hatta di Pasar Bawah berjumlah sekitar 300  hingga
350-an orang.  Memang PKL yang berdagang disana, secara aturan Perda,
dilarang Pemko Bukittinggi.

Namun sayang, aksi pungutan liarpun seperti dibiarkan begitu saja oleh
pemerintah setempat.

Jika dihitung secara bodoh saja, pada satu titik di pasar tersebut, dari 350 lapak PKL tanpa izin ini, di pungut bayaran oleh orang tak di­kenal (OTK), alias petugas pasar siluman, Rp1.000 per pedagang, maka jumlah pe­ma­sukan
yang di dapat ada­lah Rp350.000.- per harinya.

Dan di kalikan setahun jumlah titik PKL tanpa izin itu dengan sebarannya ada
sepuluh titik saja, maka asumsinya, retribusi yang jumlahnya lebih dari
Rp1,26 miliar, dikantongi oleh para petugas pasar siluman. Asum­sinya (350
lapak X 10 titik sebaran X Rp1000 rupiah X 30 hari X 12 bulan).

Menanggapi kondisi yang sangat nyata itu, Kepala Dinas Pasar Hermansyah
kepada Haluan menegaskan, pedagang di luar pagar dan badan jalan pasar bawah
jalan Soekarno-Hatta dan Perintis Kemerdekaan adalah ilegal. Oleh karena
itu, pemu­ngut retribusinya juga ilegal.

Sebagai Kepala Dinas Pasar, Hermansyah tidak akan menertibkan PKL di badan
jalan tersebut, karena itu kewenangan Satpol PP.

Kondisi yang sama terli­hat nyata di Pasar Atas, Taman Pedistrian Kawasan
Jam Gadang dan Pasar Simpang Aur.

Jika penanganan pedagang dibiarkan atau diserahkan kepada petugas siluman,
entah berapa miliar uang retribusi pasar yang masuk ke kantong mereka?
(h/jon/mg1)

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/


--
Sent from my mobile device

Wassalaamu'alaikum
Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
suku Mandahiliang,
lahir 17 Agustus 1947.
nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman.
rantau Deli, Jakarta, kini Sterling, Virginia-USA
------------------------------------------------------------

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
 1. E-mail besar dari 200KB;
 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
 3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
 1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke