Antara Agam (Tuo) dan Bukittinggi Oleh : Dt Tan Tuah
Alumni 1973/Dosen Geografi UGM Padang Ekspres • Rabu, 14/03/2012 10:45 WIB • 45 klik Pada 9-11 Maret 2012 lalu, eks Pelajar SMPN 4 Bukittinggi (biasa disebut SMP 4) mengadakan reuni di sekolah tempat mereka menimba ilmu di masa silam. Untuk persiapan acara, paling tidak dalam setahun terakhir sudah didengung-dengungkan melalui berbagai media. Ibaratnya “di langik alah tabarito, tibo di bumi jadi kaba”, seperti itulah kegiatan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok alumni menyongsong “alek gadang” ini. Di dalam sejarah perjalanannya, sekolah yang pada Zaman Hindia Belanda dikenal sebagai MULO dan sekian puluh tahun berada di Panorama (Ateh Ngarai) pernah menjadi fenomena, yang berawal ketika diadakan penataan nomor urut sekolah oleh Pemko Bukittinggi dan Pemkab Agam. Karena SMP Tanjungalam yang selama ini dikenal sebagai SMP 3 tidak dapat lagi disebut sebagai SMPN 3 Bukittinggi, maka angka tersebut digunakan untuk SMP 4. Perubahan nomor dari 4 ke 3 sempat dipermasalahkan oleh alumni yang jumlahnya telah mencapai ribuan orang. Sewaktu bernama SMPN 3 Bukittinggi, Kemendiknas membangun gedung baru untuk sekolah ini di Bukikapik, yang diresmikan Prof Dr Boediono (waktu itu masih sebagai Gubernur BI). Beberapa tahun kemudian Pemko Bukittinggi mengembalikan nomor dan lokasi sekolah ke tempat semula. Dari kejadian ini patut dipertanyakan, begitu berartikah angka empat? Dan, begitu kuatkah jaringan alumni sekolah? Atau sebaliknya seperti kata bersayap, apalah artinya nama? Inilah yang patut dilakukan analisis sepanjang kata empat digunakan. Mungkinkah pula angka tersebut merujuk kepada sistematika cara berpikir orang Minang yang menjadi pola pendidikan danpengajaran di sekolah ini? Nan Ampek (ba ukua, ba jangko, ba barih, jo ba balabeh). Wallahu’alam, karena sesungguhnya permasalahan seperti itu terjadi dimana-mana dan dengan latar belakang yang amat beragam, di antaranya karena pemekaran wilayah maupun otonomi daerah. Luhak Agam dan Tradisi Keilmuan Di Luhak Agam, terbagi sama antara jumlah nagari yang memakai adat Koto Piliang dan Bodi Caniago. Masing-masing mencakup 16 koto. Luhak yang terbentang dari Kotobaru hingga Padangtarab (PLTA Batang Agam) memiliki adagium “aienyo karuah, ikannyo lia, tanahnyo angek”, sebagai gambaran dari karakter masyarakatnya. Secara administratif daerah yang sering dikenal sebagai Agam Tuo (Oud Agam) atau Agam Timur ini terletak antara Kecamatan Baso (di sebelah timur) hingga Kecamatan IV Koto (di sebelah barat) mencakup beberapa kecamatan, dengan luas wilayah lebih dari 600 km persegi dan jumlah penduduk sekitar 300 ribu jiwa. Sebagaimana daerah Minangkabau lainnya, semula yang dipentingkan anak nagari Agam Tuo-pun adalah pengetahuan tentang adat-istiadat, ditularkan melalui perkataan penghulu kepada murid-murid dengan cara menghafal. Setelah Agama Islam menyebar, maka fakih dan labai mengajarkan kepada anak nagari tentang syarat-rukun agama serta pelajaran mengaji Al Qur’an. Setelah di Bukittinggi berdiri Sekolah Guru Negeri (Kweekschool) yang juga disebut sebagai Sekolah Raja, maka keadaan semakin berubah. Sekolah ini diperuntukkan bagi murid pilihan dari anak pegawai tinggi yang telah menamatkan Sekolah Kelas Satu (seperti HIS) maupun Sekolah Kelas Dua, mereka disiapkan untuk mendidik guru-guru pribumi. Tidak lama setelah itu maka pelajaran membaca, menulis dan berhitung mulai menjadi perhatian anak-anak di Luhak Agam. Laporan pemerintah Hindia-Belanda pada awal abad ke-20 menyebutkan bumi-putera daerah ini lebih menyukai pendidikan dibandingkan dengan bumi-putera Palembang, Lampung, Bengkulu, Riau dan lain-lain. Di dalam buku Koto Gadang Masa Kolonial, seorang ulama Minangkabau menulis syair tentang kekagumannya terhadap semangat belajar bumi-putera Agam Tuo, dengan menyebut : “...lieklah urang Matua jo Kotogadang, ilmu apo nan ndaknyo hadang...dst”. Hal ini juga tidak terlepas dengan berdirinya HIS yang berpengantar Bahasa Belanda sejak tahun 1912 di Kotogadang. Di Matur beberapa waktu kemudian juga didirikan Sekolah Ukur (Land Surveying). Di beberapa tempat lain juga berdiri dan dirintis sekolah keagamaan, seperti Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung (Sjech Sulaiman Ar-Rasuli), Kulliah Dianah Parabek (H Bustami Abdul Gani), Modern Islamic College Bukittinggi (St. Sulaiman dkk.), Kamang University (H Ridjal Abdullah) dan lain-lain. Di Candung pada 1928 dideklarasikan berdirinya Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PTI), perkumpulan yang berazas Islam bermazhab Ahli Sunnah wal Jama’ah. Perkumpulan ini kemudian menjelma menjadi Partai Islam Perti setelah kemerdekaan, dan pada kongres tahun 1955 kantor Pimpinan Pusat dipindahkan ke Jakarta. Tidak heran jika semenjak dari masa pergerakan kemerdekaan hingga berdirinya republik banyak nagari di luhak ini menjadi pusat perjuangan dan memiliki beberapa tokoh nasional yang mengharumkan Ranah Minang. Pada periode berikutnya yang juga perlu dicatat adalah tempat berdirinya Sekolah Polisi Wanita pertama di Indonesia, IKIP Negeri (kini UNP) sebelum dipindahkan ke Kota Padang, dan APDN yang pernah dilebur menjadi STPDN di Sumedang (kini sebagai IPDN memiliki kampus di Baso). Fakultas Kedokteran Unand juga pernah memiliki kampus di Baso. Saat ini sebagian fakultas pada Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat terdapat di Bukittinggi. Beberapa jurusan pada IAIN Imam Bonjol juga terdapat di wilayah ini sebelum berdiri sebagai STAIN Sjech M Djamil Djambek. Selain itu, sampai sekarang masih terdapat beberapa perguruan tinggi swasta dengan berbagai program studi dan minat. Realita dan Masa Depan Secara fisiografis sebagian besar daerah ini berupa hamparan dataran yang cukup luas, tanah yang subur, air yang cukup dan bentuklahan yang lengkap serta panorama yang indah. Bentang alam yang luasnya sekitar separoh dari Kota Padang ini, mencakup wilayah Banuhampu, Sungaipuar, IV Angkat, Candung, Baso dan Tilatang Kamang. Pada masa lalu di daerah ini terdapat lapangan terbang (perintis), jalur dan stasiun kereta-api yang memadai, dan berbagai fasilitas olah raga (seperti lapangan pacuan kuda, puluhan lapangan sepak bola dsb). Hingga dasawarsa 80-an daerah ini masih menjadi magnet di sektor pendidikan untuk wilayah Sumatera Barat dan sekitarnya. Meskipun suasana pada saat ini sudah berubah, tetapi Tim dari Universitas Negeri Yogyakarta setelah melakukan survei di beberapa daerah menyimpulkan bahwa untuk kegiatan pendidikan di Sumatera Bagian Tengah, maka wilayah Agam Tuo tetap merupakan daerah yang paling sesuai dan strategis. Di Indonesia, pengaturan daerah perkotaan didasarkan kepada peraturan perundangan, seperti Permendagri Nomor 2 Tahun 1987, dimana setiap kota harus memiliki RUTRK (Rencana Umum Tata Ruang Kota) yang dituangkan ke dalam RDTRK (Rencana Detail Tata Ruang Kota). Di dalam RUTRK wilayah kota dibagi menjadi beberapa BWK (Bagian Wilayah Kota), dimana Pusat Kota (sebagai pusat pemerintahan, jasa dan perdagangan) merupakan satu BWK tersendiri. Berbeda dengan tata-ruang yang dijumpai pada kota-kota di Eropa maupun Amerika, di Indonesia umumnya pusat usaha (pertokoan, bank, hotel, tempat hiburan dll) bercampur dengan permukiman padat, pergudangan, pabrik dan pasar tradisional. Hal ini yang mengakibatkan pusat kota di Indonesia sangat sibuk dan ramai, sehingga sangat sulit dalam pengaturannya. Untuk beberapa tahun yang akan datang telah direncanakan pembangunan Jembatan Ngarai Sianok, yang merupakan salah satu dari tujuh proyek strategis di Sumatera Barat, juga menjadikan Bukittinggi sebagai Multy City, dan kabarnya juga akan membangun Islamic Center. Sudah saatnya pula dipikirkan grand design Tata Ruang Kota untuk 25-50 tahun ke depan, seperti penataan dan pengembangan kawasan permukiman, jasa, usaha/bisnis, transportasi, pendidikan, ruang terbuka, budaya/wisata, konservasi dan fasilitas umum lainnya. Beberapa tahun menjelang berakhirnya Orde Baru, diwacanakan oleh legislatif dan eksekutif waktu itu (dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi) memekarkan Bukittinggi dengan memilih beberapa nagari di sekitar, yang berujung dengan keluarnya PP Nomor 84 Tahun 1999 tentang Perluasan Kota Bukittinggi. Tetapi karena PP tersebut dirancang menjelang berakhirnya Orde Baru, maka kondisinya juga ringkih dan memicu polemik berkepanjangan. Apalagi lahirnya PP tersebut disaat Pemerintah Pusat menyambut tuntutan Otonomi Daerah melalui UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, yang kemudian direvisi menjadi UU Nomor 32 Tahun 2004. Setelah menguraikan berbagai aspek tentang Luhak Agam dan Kota Bukittinggi dengan tinjauan sosiologi, kesejarahan, kultural, ekologi hingga kewilayahan yang didukung oleh literatur tentang perkotaan dan perencanaan wilayah, maka sebagai penutup dari tulisan ini akan disampaikan tiga hal. Pertama, terealisasi atau tidaknya pemikiran seperti dalam PP 84/1999, mestinya antara Kota Bukittinggi dengan Agam Tuo khususnya harus tetap terbangun sinergi yang kuat, “hiduik sanda-manyanda, sarupo aua jo tabiang”. Kedua, untuk jangka panjang (mungkin) ada peluang daerah ini kembali menjadi Kota Besar, karena itu diperlukan kepemimpinan “Tali Tigo Sapilin” yang kuat dan teruji guna pengaturan tata-ruang wilayah, penataan tanah adat dan pengelolaan sumberdaya yang berkelanjutan. Ketiga, tidak hanya menjadikan anak nagari kelahiran rantau sebagai pelengkap, padahal generasi ini terdidik, cerdas, karir yang bagus, profesional dan sangat mencintai kampung-halaman. (*) Sumber : http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=1670 Salam, Dody 32 , Bekasi, Ampek Angkek -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
