EDITORIAL Media Indonesia Kamis, 22 Maret 2012 00:01 WIB     

MENTERI Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan kembali membuat berita.
Mantan wartawan itu mengamuk ketika dihadang antrean panjang di pintu Tol
Semanggi, Jakarta, Selasa (20/3) pagi.

Dahlan bukan tanpa dasar menumpahkan amarahnya itu. Ia geram bukan kepalang
lantaran pintu tol dipadati antrean lebih dari 30 mobil karena cuma satu
loket manual dan otomatis yang dibuka.

Dahlan yang hendak menuju Cengkareng untuk rapat dengan Direksi PT Garuda
Indonesia pun turun, memeriksa dua loket yang kosong melompong, dan membuang
kursi yang ada.

Belum cukup, mantan Direktur Utama PT PLN itu membuka palang pintu tol dan
membiarkan mobil yang antre lewat secara gratis. Lebih dari 100 kendaraan
melenggang tanpa bayar.

Buat Dahlan, kejadian di pintu tol Semanggi tidak hanya menyebalkan, tetapi
juga melanggar instruksinya. Kepada PT Jasa Marga sebagai pengelola jalan
tol, Dahlan sudah menetapkan antrean di pintu tol maksimal lima kendaraan.
Sudah puluhan kali pula ia mengingatkan agar perintahnya itu dipatuhi, tapi
fakta yang terjadi memperlihatkan sebaliknya.

Bukan kali ini saja, Dahlan membuat gebrakan. Sebagai Menteri BUMN, ia kerap
melakukan terobosan demi meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik.
Untuk mengecek secara langsung layanan PT KAI, misalnya, ia beberapa kali
naik kereta rel listrik (KRL) kelas ekonomi dari Stasiun Depok menuju Istana
Negara untuk rapat kabinet.

Dahlan memang bukan menteri biasa. Gaya kepemimpinannya yang lain daripada
yang lain sering dipuja. Ia panen apresiasi karena dipandang bukan tipe
pemimpin yang hanya suka duduk manis di belakang meja.

Kita pun patut berempati dengan sejumlah langkah Dahlan untuk memperbaiki
pelayanan BUMN. Akan tetapi, kita patut mengingatkan agar Dahlan tidak
narsis karena makin terkesan ia cenderung pamer gebrakan.

Kita mengingatkan pula bahwa untuk menyelesaikan seabrek persoalan di negeri
ini tidak cukup dengan marah-marah, mengamuk, atau membanting kursi. Tidak
bisa disangkal, pelayanan amburadul dari perusahaan milik negara bersifat
sistemik.

Antrean panjang di pintu tol, misalnya, hanyalah bagian kecil dari buruk
rupa PT Jasa Marga yang selalu kelebihan dalih menaikkan tarif tol, tetapi
miskin upaya meningkatkan pelayanan bagi pengguna tol.

Dari hari ke hari, jalan berbayar itu kian akrab dengan kemacetan dan malah
semakin menyiksa. Jalan tol yang semestinya mulus tak lepas dari wajah
bopeng, apalagi ketika memasuki musim hujan.

Langkah Dahlan memang terdengar heroik dan inspiratif. Namun, itu hanya
efektif sesaat. Tidak cukup dengan marah untuk mengubah sebuah keadaan yang
sudah rusak karatan. Dahlan ialah panglima tertinggi BUMN yang setiap saat
bisa menghunus pedang menebas semua yang busuk di BUMN.

Kalau tidak dibarengi dengan pembenahan sistemik, aksi Dahlan tak lebih dari
pertunjukan di panggung publik.

http://www.mediaindonesia.com/read/2012/03/22/307315/70/13/Panggung-Dahlan

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke