Kumis Penyaring Kopi | Cerita Pendek Pinto Anugerah

Diposkan oleh IBOEKOE pada 04 Apr 2012 | View Comments

http://indonesiabuku.com/?p=12191

Draft kumpulan cerpen ini didiskusikan dalam forum Obrolan Senja pada
hari Sabtu, 7 April 2012, pukul 16.00 – 18.00. di Angkringan Buku,
Yayasan Indonesiabuku, Jl. Patehan Wetan No 3 Alun-alun Kidul Keraton
Yogyakarta. Setelahnya, nonton bersama film “Status” garapan sutradara
muda Bambang C Irawan yang telah memperoleh beberapa penghargaan
tingkat nasional.

Mula-mula saya bertanya-tanya, kenapa Pinto Anugrah banyak
membicarakan ‘ibu’ dalam kumpulan cerpen berjudul Kumis Penyaring
Kopi. Akhirnya saya memakluminya. Ia kelahiran Padang, ibu kota
Sumatra Barat. Tanah kelahiran Malin Kundang. Mungkin dalam darah
Pinto mengalir darah si Malin. Itu masih mungkin.

Tetapi, ada hal yang mengindikasikan bahwa Pinto ini seolah-olah si
Malin itu. Ia paham betul dengan laut, kapal, bahkan sebuah kotak kayu—
cerita yang mengawali cerita dalam kumcer—yang mengasumsikan harta
karun. Juga sekarang Pinto sedang merantau. Meninggalkan ibunya di
kampung.

Dalam cerita rakyat, Malin dikisahkan pulang ke kampung halamannya.
Alasan kepulangannya selain ibu, karena ia cinta pada kampung
halamannya. Hal demikian juga terjadi pada Pinto. Ia cinta betul pada
kampung halamannya itu. tak ayal jika keduabelas cerita dalam
kumcernya itu, seluruhnya adalah cerita tentang kampung halamannya,
Padang, Sumatera Barat.

Selesai membaca kumcernya itu, saya berharap Pinto tak menemukan gadis
ayu dan kaya agar ia tak menyerupai si Malin. Meski seharusnya saya
tak perlu berharap demikian karena toh tak akan terjadi. Yang jelas
terasa beda di antara mereka adalah, Malin bukan cerpenis.

* * *

Judul Kumis Penyaring Kopi dalam kumcer Pinto Anugrah ini sebenarnya
sama sekali tak memiliki hubungan seluruh isi kumcernya. Ia bukan
judul salah satu cerpen dan juga tak memiliki hubungan dengan satu
cerpen pun. Memang, ada satu cerpen berbicara tentang kopi, tapi toh
cerpen itu tak ada kedekatan dengan judul kumcernya itu. Ini memang
bukan masalah besar, tapi biasanya inilah yang pertama ditanyakan
pembaca ketika terbit dan dibedah nanti. Maka pemilihan judul perlu
dipertimbangkan secara khusus, selain ia sebagai bonus bagi penulis.

Meski dengan judul kumcernya tidak memiliki hubungan dengan
keseluruhan cerita yang disuguhkan, judul masing-masing cerpen cukup
menarik. Pendek, memikat, dan membuat penasaran.

Padang merupakan tema besar yang diangkat oleh Pinto. Tema itu
kemudian dieksplor menjadi beberapa tema kecil,seperti hak waris
(dalam cerpen Kotak Kayu dan Pandam), ibu (atau bapak) (dalam cerpen
Kota Lalu, Ibu; Kepundan Ayah; Anggang, Orang Rantai; dan Lapik
Buruk). Kedua tema itulah yang sering kali diangkat ketika bicara
tentang kampung halaman. Selain itu, guru mengaji juga kadang menjadi
bahan pembuatan cerpen. Dalam kumcer ini, guru mengaji ada dalam
cerpen Guru Siak. Sementara tema-tema lainnya seperti kopi, cinta,
nenek, dan merantau ada dalam cerpen Kopi Daun, Emma Haven, Bakiak,
Tiga Patahan.

Dari keseluruhan cerita yang disuguhkan, ada satu cerpen yang tidak
biasa. Ciri-ciri cerpen yang ada dalam kuncer tersebut biasanya;
banyak kosa-kata lokal, menyuguhkan cerita dengan serius, menggali
kearifan lokal melalui hal-hal sederhana, dan idealis. Tapi yang satu
ini cukup berbeda dari yang lain. Seperti cerpen yang lain, awal
hingga pertengahan cerpen ini ditulis dengan serius dan pembaca diajak
untuk mengencangkan otot, apalagi dengan isu-isu agama saat ini.

Diceritakan, seorang guru ngaji sedang berkunjung ke rumah muridnya
karena undangan. Tiba waktu sholat, guru ngaji itupun bergegas sholat.
Si murid yang juga pemilik rumah itu mengintip tamu yang juga guru
ngajinya sedang sholat. Si murid merasa ganjil dengan sholat yang
dilakukan guru ngajinya. Jawaban pun terus dicari, hingga akhirnya si
murid menemukan globe di ruang pustaka sekolah. Ia mengerti, ke mana
pun menghadap ketika sholat, ketemunya pasti akan ke arah kiblat
karena bumi ini bundar. Pulang dari sekolah, ia langsung sholat. Sang
ibu keheranan dan ini di luar kebiasaan anaknya. Ibu mengikutinya ke
kamar, melihat anaknya sholat tidak menghadap ke arah semestinya, ibu
marah. “Siapa yang mengajarkan?” “Guru mengajimu itu?” “Sesat!”. Guru
itu lalu dipanggil untuk dimintai keterangan. Tak merasa mengajarkan
hal demikian, ia pun bertanya pada muridnya, “Benar kau lakukan
itu?”Mui mengangguk. “Benar kau melakukan itu karena melihatku pernah
sembahyang seperti itu?” Mui mengangguk. Guru Siak berkerut keningnya,
berpikir di mana kira-kira ia telah melakukan kekhilafan dalam
sembahyang. “Di mana? Di tempat mengaji?” Mui menggeleng. Lalu
menunjuk kamar abangnya dengan mukanya…. ia tidak menyangka bahwa Mui
akan melihat cara ia sembahyang waktu itu. Tapi itu ia lakukan karena
di dinding kamar itu, persis di hadapan saat sembahyang, ada poster
perempuan setengah telanjang yang tertempel, makanya ia alihkan arah
sembahyangnya.

Ya. Cerpen Guru Siak di atas terasa berbeda dengan cerpen-cerpen
lainnya. Sekilas membaca cerpen itu, saya tertawa cukup lama hingga
merasa harus menghentikan membaca cerpen-cerpen lainnya untuk sejenak.
Mulanya, saya mengira Pinto akan mengangkat masalah mendasar dalam
beribadah bagi kaum muslim. Saya berfikir bahwa ini merupakan hal yang
riskan, tapi saya meleset dan berbalik menjadi terhibur. Tepat rasanya
cerpen itu berada di tengah-tengah cerpen yang lain, di mana saya
merasa cukup penat dengan membaca cerpen-cerpen sebelumnya.

Bisa jadi, cerpen dengan tokoh utama Mui ini merupakan sendirian bagi
MUI yang latah belakangan ini. Mengharamkan pilihan manusia dewasa
yang sudah bisa memilih mana yang baik dan buruk baik dirinya dalam
hal agama.

Tak hanya berkutik pada wilayah lokalitas saja, Pinto juga menyuguhkan
wacana kolonialisme dalam cerpen Orang Rantai, Emma Haven, dan Bakiak.
Ke tiga cerpen itu memiliki keterkaitan dengan masa kolonialisme.
Terutama sekali dalam cerpen Emma Haven. Emma Haven merupakan nama
pelabuhan, yang kelak dikutip sebagai nama anak dari pasangan pribumi
dan penjajah, Emma, agar kelak ketika kekacauan politik di Hindia
sudah mereda, si penjajah dapat dengan mudah mengenali anaknya.

Cerpen Emma Haven seperti dibangun dengan kesadaran wacana
kolinialisme pengarang dengan menyebutkan ciri utama bangsa Eropa
menjajah belahan dunia. Misalnya terlihat dalam perdebatan antara anak
dan ayah berikut ini,

    “Pergilah ke tanah rempah itu! Di tanah rendah ini kau tidak akan
dapat apa-apa, hanya sebagai pengangguran dengan seonggok daging yang
akan membuat tanah ini makin tenggelam! Di sana tanah surga, tanah
yang akan memberimu banyak keuntungan!”

    “Keuntungan rampasan dari hak mereka? Kita akan dibenci tuhan,
Ayah!”

    “Tidak, saya yakin, tuhanlah yang mengutus kita ke tanah surga
itu, tanah yang belum terjamah oleh tangan-tangan tuhan, dan kita
diminta untuk mengajarkan mereka peradaban tuhan!”

    “Kenapa harus tuhan alasannya? Dan saya tidak yakin, apakah dengan
menjadi makelar lada itu sebuah pekerjaan penyampai tangan-tangan
tuhan?”

    “Ya.”

    “Walau orang-orang di negeri itu tertindas?”

    “Ya, karena mereka belum punya peradaban tuhan!”

    “Mereka punya peradaban sendiri! Saya rasa, Ayah tahu itu. Ah,
Ayah telah termakan kata-kata penguasa itu.”

    “Tidak! Kita telah diutus tuhan untuk mengajarkan mereka
peradaban. Itu keputusan gereja! Kita tidak bisa mengingkari!”

    “Dan saya sudah merasa berdosa pada tuhan, namun tidak pada
gereja!”

    “Kalau kau tidak mau pergi ke tanah surga itu, baiklah, tanggalkan
nama Schrik di belakang namamu!”

    Ia tak bisa berkata lain. Ayahnya punya pilihan lain, “demi nama
keluarga Schrik yang kau sandang!”

Demikian juga dalam cerpen Orang Rantai. Mulanya, sebuah keluar hidup
bahagia. Sang ayah bekerja di pabrik milik Belanda. Di akhir bulan,
saat gajian tiba, perusahaan akan menggelar pasar malam sebagai tempat
pestanya para pekerja. Dalam kesempatan itu, sang ayah bermain dadu.
Namun, di tengah riuhnya keramaian itu tercipta keramaian yang lebih
gaduh. Lalu terdengar berita, sang ayah membunuh pembesar Belanda.
Dari kondisi ini, sang ayah lalu mengalami pengasingan dan kerja Rodi.
Cerpen ini memperlihatkan relasi kuasa antara penjajah dengan pribumi.

Pada cerpen Bakiak waktu melaju dengan cepat hingga masa PRRI. Cerpen
ini fokus pada sejarah bakiak bagi seorang nenek. Bakiak yang hilang
itu ternyata mas kawin dari suaminya. Ia disunting saat bakiak begitu
berharga dan menjadi barang bergengsi. Sebab itulah ia sangat sedih
dan tak ingin digantikan dengan bakiak yang lain. Ketika itu, komunis
menarik simpati masyarakat dengan memberikan bakiak kepada penduduk.
Bagi orde yang berkuasa, siapa pun yang memakai bakiak, ia adalah
komunis. Maka suami si nenek dikejar-kejar oleh orde yang berkuasa
meski ia sebenarnya bukan komunis. Si suami terus gelisah karena
dikucilkan oleh negara dan masyarakat hingga akhirnya ia meninggal.
Bakiak itu menjadi penyebab kematian si suami, begitulah si nenek yang
meninggal karena kehilangan bakiak.

Ketiga cerpen terakhir mungkin merupakan cerpen yang benar-benar
terjadi. Hal ini terlihat dengan tahun dan peristiwa yang disebutkan
di dalamnya. Misalnya tahun 1938 pada cerpen Emma Haven, tahun 1891
pada cerpen Orang Rantai¸dan peristiwa PRRI pada cerpen Bakiak.

CERITA PENDEK-cerita pendek di dalam ini pernah dipublikasikan di
Koran Tempo, Jurnal Nasional, Jurnal Nasional Bogor, Padang Ekspres,
Haluan, Riau Pos, Jurnal Selarong, dan Jurnal Kreativa. Pernah
memenangi beberapa sayembara penulisan cerita pendek, di antaranya:
Lomba Cipta Cerpen Pemuda Menpora RI 2010, Sayembara Cerpen Balai
Bahasa Padang 2005, dan Sayembara Cerpen Escaeva 2007. Pernah juga
terpilih dalam beberapa penghargaan: Cerpen Pilihan Riau Pos 2008 dan
Cerpen Pilihan Temu Sastrawan Indonesia II. Begitu juga di antaranya
pernah menjelma sebagai naskah lakon dan naskah monolog, yang
dipentaskan oleh Teater Langkah, Ranah Teater, dan Rumah Kreatif
Kandangpadati.

Daftar Isi Kumis Penyaring Kopi

Kotak Kayu

Pandam

Kota Lalu, Ibu

Kepundan Ayah

Anggang

Orang Rantai

Kopi Daun

Emma Haven

Guru Siak

Tiga Patahan

Lapik Buruk

Bakiak

TENTANG PROSAIS

Pinto Anugrah, lahir 09 Maret 1985 di Sungai Tarab, Tanah Datar,
Sumatra Barat. Besar di Padang dan berproses kreatif di sana. Untuk
sementara ini tinggal di Yogyakarta. Sangat mencintai kampung
halamannya. Hubungi di [email protected]

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke