Pandangan Islam Atas Bencana Gempa Bumi

11 April 2012 11:23 pm | Syariah - Dibaca 652 kali 

 



Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, keluarga, para 
sahabat dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau. Amma ba’du:

Gempa Bumi, Di Antara Tanda Kekuasaan Allah

Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui terhadap semua yang 
dilaksanakan dan ditetapkan. Sebagaimana juga Allah Maha Bijaksana dan Maha 
Mengetahui terhadap semua syari’at dan semua yang diperintahkan. Allah 
menciptakan berbagai tanda-tanda kekuasaan-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Dia 
pun menetapkannya untuk menakut-nakuti hamba-Nya. Dengan tanda-tanda tersebut, 
Allah mengingatkan kewajiban hamba-hamba-Nya, yang menjadi hak Allah ‘azza wa 
Jalla. Hal ini untuk mengingatkan para hamba dari perbuatan syirik dan 
melanggar perintah serta melakukan yang dilarang. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا نُرْسِلُ بِالآيَاتِ إِلا تَخْوِيفًا

“Dan tidaklah Kami memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti.” 
(QS. Al-Israa: 59)

Allah Ta’ala juga berfirman,

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ 
أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap 
ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa 
Al-Qur’an itu benar. Dan apakah Rabb-mu tidak cukup (bagi kamu), bahwa 
sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Fushilat: 53)

Allag Ta’ala pun berfirman,

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ 
أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ 
بَأْسَ بَعْضٍ

“Katakanlah (Wahai Muhammad) : “Dia (Allah) Maha Berkuasa untuk mengirimkan 
adzab kepada kalian, dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian, atau Dia 
mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan), dan 
merasakan kepada sebagian kalian keganasan sebahagian yang lain” (QS. Al-An’am: 
65)

Imam Bukhari meriwayatkan di dalam kitab shahihnya, dari Jabir bin ‘Abdillah 
radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala turun 
firman Allah Ta’ala dalam surat Al An’am [قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ 
يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ], beliau shallallahu ‘alaihi wa 
sallam berdo’a: “Aku berlindung dengan wajah-Mu”. Lalu Rasulullah shallallahu 
‘alaihi wa sallam melanjutkan (membaca) [أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ], beliau 
shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a lagi, “Aku berlindung dengan wajah-Mu.” 
[2]

Diriwayatkan oleh Abu Syaikh Al Ash-bahani, dari Mujahid tentang tafsir surat 
Al An’am ayat 65 [قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا 
مِنْ فَوْقِكُمْ], beliau mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah halilintar, 
hujan batu dan angin topan.  Sedangkan firman Allah [أَوْ مِنْ تَحْتِ 
أَرْجُلِكُمْ], yang dimaksudkan adalah gempa dan tanah longsor.

Jelaslah, bahwa musibah-musibah yang terjadi pada masa-masa ini di berbagai 
tempat termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah guna menakut-nakuti para hamba-Nya.

Musibah Datang Dikarenakan Kesyirikan dan Maksiat yang Diperbuat

(Perlu diketahui), semua musibah yang terjadi di alam ini, berupa gempa dan 
musibah lainnya yang menimbulkan bahaya bagi para hamba serta menimbulkan 
berbagai macam penderitaan, itu semua disebabkan oleh perbuatan syirik dan 
maksiat yang diperbuat. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ 
كَثِيرٍ

“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan 
tangan kalian sendiri, dan Allah mema’afkan sebagian besar (dari 
kesalahan-kesalahanmu)” (QS. Asy-Syuura: 30)

Allah Ta’ala juga berfirman,

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ 
فَمِنْ نَفْسِكَ

“Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang 
menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisaa: 79)

Allah Ta’ala menceritakan tentang umat-umat terdahulu, 

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا 
وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ 
وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا 
أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara 
mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu krikil, dan di antara mereka 
ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur (halilintar), dan di antara mereka 
ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami 
tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi 
merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ankabut: 40)

Kembali pada Allah Sebab Terlepas dari Musibah

Oleh karena itu, wajib bagi setiap kaum muslimin yang telah dibebani syari’at 
dan kaum muslimin lainnya, agar bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, 
konsisten di atas agama, serta menjauhi larangan Allah yaitu kesyirikan dan 
maksiat. Sehingga dengan demikian, mereka akan selamat dari seluruh bahaya di 
dunia maupun di akhirat. Allah pun akan menghindarkan dari mereka berbagai 
adzab, dan menganugrahkan kepada mereka berbagai kebaikan. Perhatikan firman 
Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ 
بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا 
كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan 
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka 
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan 
perbuatannya.” (QS. Al-A’raaf: 96)

Allah Ta’ala pun mengatakan tentang Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani),

وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ 
إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan 
(Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Rabb-nya, niscaya mereka akan 
mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.” (QS. Al-Maidah: 
66)

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ 
نَائِمُونَ, أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ 
يَلْعَبُونَ, أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا 
الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan 
Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah 
penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada 
mereka di waktu matahari sepenggahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka 
apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah 
yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. 
Al-A’raaf : 97-99)

Perkataan Para Salaf Ketika Terjadi Gempa

Al ‘Allaamah Ibnul Qayyim –rahimahullah- mengatakan,

”Pada sebagian waktu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan izin kepada bumi 
untuk bernafas, lalu terjadilah gempa yang dahsyat. Akhirnya, muncullah rasa 
takut yang mencekam pada hamba-hamba Allah. Ini semua sebagai peringatan agar 
mereka bersegera bertaubat, berhenti dari berbuat maksiat, tunduk kepada Allah 
dan menyesal atas dosa-dosa yang selama ini diperbuat. Sebagian salaf  
mengatakan ketika terjadi goncangan yang dahsyat, ”Sesungguhnya Allah mencela 
kalian”.

‘Umar bin Khatthab -radhiyallahu ’anhu-, pasca gemba di Madinah langsung 
menyampaikan khutbah dan wejangan. ‘Umar -radhiyallahu ’anhu- mengatakan, ”Jika 
terjadi gempa lagi, janganlah kalian tinggal di kota ini”. Demikian yang 
dikatakan oleh Ibnul Qayyim -rahimahullah-. Para salaf memiliki perkataan yang 
banyak mengenai kejadian semacam ini.

Bersegera Bertaubat dan Memohon Ampun pada Allah

Saat terjadi gempa atau bencana lain seperti gerhana, angin ribut dan banjir, 
hendaklah setiap orang bersegera bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, 
merendahkan diri kepada-Nya dan memohon keselamatan dari-Nya, memperbanyak 
dzikir dan istighfar (memohon ampunan pada Allah). Rasulullah shallallahu 
’alaihi wa sallam ketika terjadi gerhana bersabda, “Jika kalian melihat 
gerhana, maka bersegeralah berdzikir kepada Allah, memperbanyak do’a dan bacaan 
istighfar.”[3]

Dianjurkan Memperbanyak Sedekah dan Menolong Fakir Miskin

Begitu pula ketika terjadi musibah semacam itu, dianjurkan untuk menyayangi 
fakir miskin dan memberi sedekah kepada mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa 
sallam bersabda,

ارْحَمُوا تُرْحَمُوا

“Sayangilah (saudara kalian), maka kalian akan disayangi.”[4]

Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِى الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ 
مَنْ فِى السَّمَاءِ

“Orang yang menebar kasih sayang akan disayang oleh Allah Yang Maha Penyayang. 
Sayangilah yang di muka bumi, kalian pasti akan disayangi oleh Allah yang 
berada di atas langit”[5]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ

“Orang yang tidak memiliki kasih sayang, pasti tidak akan disayang.”[6]

Diriwayatkan dari ‘Umar bin Abdul Aziz –rahimahullah- bahwasanya saat terjadi 
gempa, beliau menulis surat kepada pemerintahan daerah bawahannya agar 
memperbanyak shadaqah.

Yang Mesti Diperintahkan Pemimpin Kaum Muslimin kepada Rakyatnya

Di antara sebab terselamatkan dari berbagai kejelekan adalah hendakanya 
pemimpin kaum muslimin bersegera memerintahkan pada rakyat bawahannya agar 
berpegang teguh pada kebenaran, kembali berhukum dengan syari’at Allah, juga 
hendaklah mereka menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar. Allah ‘Azza wa Jalla 
berfirman,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ 
بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ 
وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ 
سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) 
menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, 
mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at 
kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. 
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijakasana” (QS. At-Taubah: 71)

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ, 
الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا 
الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ 
عَاقِبَةُ الأمُورِ

”Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya 
Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika 
Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, 
menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang 
mungkar ; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj : 40-41)

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا 
يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya 
jalan ke luar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. 
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan 
(keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaaq: 2-3)

Ayat-ayat semacam ini amatlah banyak.

Anjuran untuk Menolong Kaum Muslimin yang Tertimpa Musibah

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ

”Barangsiapa menolong saudaranya, maka Allah akan selalu menolongnya”.[7]

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ 
عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ 
يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا 
سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا 
كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

”Barangsiapa yang membebaskan satu kesusahan seorang mukmin dari 
kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah akan melepaskannya dari satu kesusahan di 
antara kesusahan-kesusahan akhirat. Barangsiapa memberikan kemudahan kepada 
orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkan dia di dunia dan akhirat. 
Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di 
dunia dan akhirat. Dan Allah akan selalu menolong seorang hamba selama hamba 
itu menolong saudaranya”.[8] Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab 
shahihnya.

Hadits-hadits yang mendorong untuk menolong sesama amatlah banyak.

Hanya kepada Allah kita memohon agar memperbaiki kondisi kaum Musimin, 
memberikan pemahaman agama, menganugrahkan keistiqomahan dalam agama, dan 
segera bertaubat kepada Allah dari setiap dosa. Semoga Allah memperbaiki 
kondisi para penguasa kaum Muslimin. Semoga Allah menolong dalam memperjuangkan 
kebenaran dan menghinakan kebathilan melalui para penguasa tersebut. Semoga 
Allah membimbing para penguasa tadi untuk menerapkan syari’at Allah bagi para 
hamba-Nya. Semoga Allah melindungi mereka dan seluruh kaum Muslimin dari 
berbagai cobaan dan jebakan setan. Sesungguhnya Allah Maha Berkuasa untuk hal 
itu.

Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat, dan 
orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga hari pembalasan.

_____________________________________

[2] Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Tafsir Al Qur’an no. 4262 dan At 
Tirmidzi dalam Tafsir Al Qur’an no. 2991

[3] Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Al Jumu’ah no. 999 dan Muslim dalam Al 
Kusuf no. 1518

[4] Diriwayatkan oleh Ahmad dalam musnadnya no. 6255.

[5] Diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Al Birr wash Shilah no. 1847.

[6] Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 5538 dan At Tirmidzi 
dalam Al Birr wash Shilah no. 1834.

[7] Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Al Mazholim dan Al Ghodhob no. 2262 dan 
Muslim no. 4677 dengan lafazh yang disepakati oleh keduanya.

[8] Diriwayatkan oleh Muslim dalam Adz Dzikr, Ad Du’aa dan At Taubah no. 4867 
dan At Tirmidzi dalam Al Birr wash Shilah no. 1853.


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke