On Tue, May 1, 2012 at 3:43 PM, Lies Suryadi <[email protected]> wrote:
> Mamak2, Kakak2, sarato Dunsanak di lapau, > Rancak juo dibaco2 artikel di bawah ko sambia maunjua2. Nan takana dek > ambo sasudah mambaco artikel ko: baa caro e ujian tes masuak Fakultas > Kedokteran di universitas2 di Indonesia (tamasuak di Unand?). Kok lai > kualitas isi kapalo nan jadi patokannyo, tantu rancak hasilnyo. Tapi > kabanyo masuak Fakultas Kedokteran ko iyo harus bakambuik nek'e pitih rang > gaek. Iyo tu? > Pak Suryadi, awal artikelnya menarik tapi beberapa bagian agak aneh. Sedikit 'disclaimer', istri saya adalah dokter alumni FK UI dan bekerja di puskesmas. Bagian aneh yang saya maksudkan adalah bagian yang menyoroti tingginya biaya masuk FK. Hal ini aneh karena penulis (Elizabeth Pisani) lahir di Amerika Serikat, lama di Inggris, dan sudah melanglang buana. Biaya tinggi untuk sekolah kedokteran berlaku di banyak negara, termasuk AS dan UK. DI Inggris pun menjadi masalah: http://www.guardian.co.uk/society/2009/jun/26/medical-students-debt-low-income http://www.bma.org.uk/press_centre/presstuitionfees.jsp Oleh karena itu, lebih tepat jika dilakukan studi terhadap biaya sesungguhnya untuk studi kedokteran sebelum menjadi sesuatu yang dianggap cacat. Kemudian, masalah obat yang disoroti juga aneh mengingat Pisani bekerja di bidang kesehatan. Puskesmas adalah tempat pemberi layanan kesehatan primer dan dalam kebanyakan kasus, dokter belum bisa memberikan diagnosis pasti di kunjungan pertama. Oleh karena itu, memang lazim pada kunjungan pertama yang diberikan adalah obat seperti parasetamol jika keluhannya melibatkan panas tinggi atau sakit kepala. Harganya pun sangat terjangkau. Justru yang perlu disoroti adalah kurangnya kesadaran akan pengobatan rasional di masyarakat. Banyak yang bermudah-mudah dengan obat yang kuat, termasuk antibiotika. Padahal hal tersebut bisa menimbulkan resistensi yang akan mempersulit pengobatan. Dari cerita teman-teman di Belanda dan Jepang, dokter di sana malah jarang memberikan obat di kunjungan pertama. Mungkin Pak Suryadi bisa cerita. Selain itu, juga banyak yang masih meragukan obat generik. Banyak yang mengandalkan merk dan harga mahal (sayangnya termasuk sebagian penyedia layanan kesehatan juga lebih suka memberikan obat yang mahal). Wassalaam, -- Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim (l. 1400 H/1980 M) -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
