Gemericik air bening mengalir di sela2 bebatuan sungai jernih yang tepian nya 
ditutupi kerimbunan pohon bambu. Sungai kecil yg berkelok2 ini berhulu dari 
hutan di atas gunung  sana. Sebagian airnya dibelokkan utk mengairi sawah yang 
seperti piring bertumpuk2 menuruni bukit di tanah yg subur ini. Suara kicauan 
burung menambah ceria suasana pagi saat matahari sepenggalahan naik, semburat 
sinarnya memancar dari balik ranting pepohonan tinggi menjulang di kaki bukit. 
Nun jauh dibalik kerimbunan sana, tampak sekumpulan rumah2 kayu tersempil 
diantara ladang dan sawah. Demikianlah sekelumit suasana khas kampung  ranah 
minang di dataran tinggi Sumatera barat.
Kedekatan dengan alam, membukakan cakrawala berpikir untuk memahami alam, 
tanda2 alam , mengenal ketentuan2 mengenai alam, pelajaran ttg alam yg antara 
lain diwujudkan dalam bentuk pepatah dan pantun dg mengambil pelajaran dari 
alam sekitar, yang kemudian oleh orang Minang dinyatakan dalam ungkapan  Alam 
terkembang jadi guru. Dengan berguru pada alam kita bisa memperlakukan alam dg 
baik, mengambil pelajaran dari alam untuk memahami perilaku manusia dan 
masyarakat, semisal mengambil analogi dari perilaku binatang dan lain 
sebagainya. Alam terkembang jadi guru, adalah salah satu falsafah hidup etnis 
minang yg cukup terkenal sejak lama. 
Walau berada di alam yg indah, tanah yg subur, orang minang terkenal sebagai 
perantau. anak2 muda dianjurkan untuk pergi merantau, demi mencari ilmu dan 
pengalaman hidup,seperti kata pepatah, “Pergi merantaulah anak muda dahulu, 
karena di rumah belum begitu dibutuhkan” . Merantau pergi jauh melintasi alam, 
gunung dan lembah, agar selamat di jalan sampai di tujuan, perlu lah belajar 
dari alam, bisa membaca tanda2 alam, sebagaimana disampaikan dalam ungkapan 
dalam cerita lama minang berikut ;
Jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasa
jauh berlayar banyak bersua, banyak pengalaman untuk diri ini
jauh memandang banyak ditengok 
negeri orang, adat budaya orang lain, dan perilakunya, 
di situ lah tempat berguru, disana kita tegak bertanya,
barulah terbuka alam yg luas , terkembang alam diri, 
alam terkembang jadi guru ,
tidak lagi bagai katak dalam tempurung, tidak bagai ayam dalam sangkar
 
Dalam kitab suci Al Quran, perintah yg pertama turun pada nabi yg mulia,  ialah 
“Iqra” yg artinya membaca, diturunkan di gua hira yg berada di atas gunung batu 
yg tinggi. Tak ada buku yg akan dibaca, di tempat itu, tapi yg diperintahkan 
dibaca ialah ciptaan Allah, gunung, alam luas dan segala ciptaan Nya.  Dalam 
kitab suci Al quran, banyak disampaikan ayat2 agar kita mau mempelajari, 
merenungi alam ini, mengambil perumpamaan, memahami ayat2 tanda kekuasaan Allah 
pada alam dan semua ciptaan Allah swt.
 
Silakan baca selengkapnya pada link berikut  ;
http://hdmessa.wordpress.com/2012/05/02/alam-terkembang-jadi-guru/
 
Semoga bermanfaat
HM
 
---------
ALAM TERKEMBANG JADI GURU
Gemericik air bening mengalir di sela2 bebatuan sungai jernih yang tepian nya 
ditutupi kerimbunan pohon bambu. Sungai kecil yg berkelok2 ini berhulu dari 
hutan di atas gunung  sana. Sebagian airnya dibelokkan utk mengairi sawah yang 
seperti piring bertumpuk2 menuruni bukit di tanah yg subur ini. Suara kicauan 
burung menambah ceria suasana pagi saat matahari sepenggalahan naik, semburat 
sinarnya memancar dari balik ranting pepohonan tinggi menjulang di kaki bukit. 
Nun jauh dibalik kerimbunan sana, tampak sekumpulan rumah2 kayu tersempil 
diantara ladang dan sawah. Demikianlah sekelumit suasana khas kampung  ranah 
minang di dataran tinggi Sumatera barat.
Alam ranah minang subur dan indah,  menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat 
nya, alam menyediakan berbagai keperluan hidup sehari2nya, tanah yg subur 
menghasilkan makanan,  air yang mengalir sepanjang tahun mengairi sawah 
ladangnya. Kedekatan dengan alam, juga  membuka  pikiran untuk belajar dari 
alam, membaca tanda2 alam, kapan saat bercocok tanam, kapan pergantian musim, 
kapan turun hujan dll. Salah satu yg masih teringat saat masa kecil di ranah 
minang dulu, tinggal  di rumah nenek yang berada di dusun kecil pinggir hutan, 
bilamana kita mendengar suara monyet siamang bertalu2 dari balik hutan di atas 
bukit sana, kata orang itu adalah pertanda akan turun hujan deras, entah 
darimana orang2 tua dulu belajar tapi memang selalu terjadi spt itu, sehingga 
bila mendengar suara tsb, org2 yg sedang berada di perjalanan mempercepat 
langkahnya atau siap2 mencari tempat berteduh bilamana hujan besar turun.Banyak 
tanda2 alam lain nya yg difahami dengan baik
 oleh masyarakat disana. Saat kecil saya tak faham hal tsb, sekarang saya bisa 
mengerti, mereka telah terbisa membaca tanda2 alam, belajar dari alam.
Dalam budaya masyarakat yg terus berkembang, akhirnya berkembanglah pula, 
pemahaman akan tanda2 alam, ketentuan2 mengenai alam, pelajaran ttg alam yg 
antara lain diwujudkan dalam bentuk pepatah dan pantun dg mengambil pelajaran 
dari alam sekitar, yang kemudian oleh orang Minang dinyatakan dalam ungkapan  
Alam terkembang jadi guru. Dengan berguru pada alam kita bisa memperlakukan 
alam dg baik, mengambil pelajaran dari alam untuk memahami perilaku manusia dan 
masyarakat, semisal mengambil analogi dari perilaku binatang dan lain 
sebagainya. Alam terkembang jadi guru, adalah salah satu falsafah hidup etnis 
minang yg cukup terkenal sejak lama. Salah seorang sastrawan dari ranah minang 
yg mempopulerkan kembali istilah tersebut ialah A.A. Navis.
Kalau kita membaca sastra2 lama minang, mempelajari budayanya, seperti 
peribahasa dan cerita2 lama kita bisa menemukan banyak ungkapan dan kaidah yg 
didasarkan dari pemahaman ttg alam.  Sebagai contoh berikut beberapa buah 
konsep mengenai alam yg menjadi salah satu dasar pokok adat etnis minangkabau.
Semisal tata aturan pemanfaatan lahan tanah, yang biasa dijadikan acuan 
masyarakat minang dalam mengatur tata letak perkampungan nya. Dengan berbagai 
kondisi kontur alam, semua lahan dimanfaatkan sebaik mungkin, tak ada 
lokasi/tanah yang sia sia, walau bagaimanapun keadaan nya, bisa dimanfaatkan 
dengan baik, dengan berdasarkan keadaan yang ada ;
 
Tanah yang lereng tanami padi
Yang tunggang tanami bambu
Yang datar jadikan kebun
Yang basah jadikan sawah
Yang padat untuk perumahan
Yang ketinggian jadikan kuburan
Yang berlubuk jadikan tambak ikan
Yang padat tempat gembala
Yang berlumpur kubangan kerbau
Yang berawa tempat itik berenang.
 
Contoh lain ialah, kaidah pemanfaatan sumber daya alam semisal kayu,  tak ada 
kayu yg terbuang bagaimanapun jenis nya ;
Kayu yang kuat untuk tiang utama rumah, 
Yang lurus untuk sudut paran
Yang lentik untuk bubungan/plafon
Yang bungkuk untuk tangkai bajak
Yang kecil untuk tangkai sapu
Yang setapak tangan untuk ani-ani ( alat memotong padi)
Rantingnya untuk pasak sunting
yang buruk dan lapuk bisa jadi kayu bakar 
Abunya pemupuk padi
Analogi kondisi alam tersebut, bisa dijadikan juga analogi utk memahami 
perilaku manusia dan bagaimana mengelolanya dengan baik, sebagaimana di 
sampaikan dalam ungkapan berikut ;
Masing2 manusia telah mempunyai fungsi & kedudukan nya sendiri, tak ada manusia 
yg tersia sia kan walau bagaimana pun keadaannya ;
Orang yang buta jadi peniup lesung
Yang tuli pelepas bedil
Yang lumpuh penunggu rumah
Yang kuat pembawa barang
Yang pandai tempat bertanya
Yang cerdik tempat berunding
Yang kaya tempat minta tolong


Pada berbagai pelajaran dari alam tersebut ( tanah, kayu dll ) bisa ditarik 
analogi pada manusia, bahwa sama hal nya dengan alam, setiap manusia ada 
kelebihan dan kekurangan masing2, kalau ditempatkan pada posisi yg sesuai dan 
dikelola dengan baik, akan selalu ada manfaat nya. Allah swt maha bijaksana 
dengan semua ciptaan nya, tak ada yg sia sia di alam ini. Kaidah2 ttg alam 
tersebut dihasilkan dalam proses yg lama dan memerlukan kecerdasan sendiri 
untuk merumuskan nya, sebuah kecerdasan alam  ( natural inteligent). Untuk 
mendapatkan kesimpulan tersebut, diperlukan proses pemikiran dan perenungan y g 
mendalam. 
Walau berada di alam yg indah, tanah yg subur, orang minang terkenal sebagai 
perantau. anak2 muda dianjurkan untuk pergi merantau, demi mencari ilmu dan 
pengalaman hidup,seperti kata pepatah, “Pergi merantaulah anak muda dahulu, 
karena di rumah belum begitu dibutuhkan” . Merantau pergi jauh melintasi alam, 
gunung dan lembah, agar selamat di jalan sampai di tujuan, perlu lah belajar 
dari alam, bisa membaca tanda2 alam, sebagaimana disampaikan dalam ungkapan 
dalam cerita lama minang berikut ;
Jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasa
jauh berlayar banyak bersua, banyak pengalaman untuk diri ini
jauh memandang banyak ditengok 
negeri orang, adat budaya orang lain, dan perilakunya, 
di situ lah tempat berguru, disana kita tegak bertanya,
barulah terbuka alam yg luas , terkembang alam diri, 
tidak lagi bagai katak dalam tempurung, tidak bagai ayam dalam sangkar
 
Dari perjalanan merantau tersebut, banyak pelajaran yg bisa diraih, tak hanya 
dari alam tapi juga belajar tentang manusia, budaya, bahasa masyarakat di 
tempat lain. Jadi makna alam, bukan sekedar alam lingkungan & binatang, tapi 
juga manusia, masyarakat, budaya di tempat lain, adalah juga alam yg patut 
untuk dipelajari. Dalam konteks modern saat ini, dunia maya, internet adalah 
juga tempat belajar, begitu pula halnya dengan kondisi sosial budaya, politik, 
ekonomi di berbagai tempat , bisa jadi bahan pelajaran pula. Semisal untuk  
memahami kondisi politik di suatu tempat dengan segala konspirasi nya bisa 
dengan mengambil analogi perilaku berbagai binatang di rimba raya.
Konsep alam terkembang jadi guru menjadikan alam sebagai guru dan juga bagai 
sahabat dekat yang harus dihargai dan diberlakukan dengan baik, dijaga  
kelestarian nya. Berbeda dengan pemahaman di sebagian tempat yg lain, dimana 
alam dianggap memiliki kekuatan magis yg harus dipuja dan ditakuti, semisal 
memuja2 pohon besar, gunung dll. Tak ada pelajaran yg diraih, hanya sekedar 
pengkultusan. Berbeda pula dengan konsep budaya barat yang materialis yang 
melihat alam sebuah sebuah sumber daya yg bisa dikeruk sebanyak mungkin 
kekayaan alamnya, tanpa memperhitungkan kelestarian alam. 
Dalam kitab suci Al Quran, perintah yg pertama turunpada nabi yg mulia,  ialah 
“Iqra” yg artinya membaca, diturunkan di gua hira yg berada di atas gunung batu 
yg tinggi. Tak ada buku yg akan dibaca, di tempat itu, tapi yg diperintahkan 
dibaca ialah ciptaan Allah, gunung, alam luas dan segala ciptaan Nya.  Dalam 
kitab suci Al quran, banyak disampaikan ayat2 agar kita mau mempelajari, 
merenungi alam ini, mengambil perumpamaan, memahami ayat2 tanda kekuasaan Allah 
pada alam dan semua ciptaan Allah swt.
Proses membaca seperti membaca buku , adalah sebuah aktivitas timbal balik , 
pembaca perlu proses utk memahami makna dari apa yg dibaca nya, ia bisa meng 
apresiasi atau malah meng interograsi isi buku tsb, hal tsb akan menumbuhkan 
kebiasaan berpikir kreatif, reflektif, kontemplatif dll.  Kebiasaan membaca 
buku bisa dikembangkan untuk bisa pula  “membaca” dalam cara lain , seperti 
membaca alam dan membaca berbagai kejadian2  sosial masyarakat. 
Dalam proses berguru pada alam, kita bagai memotret alam terbuka, melihat 
secara menyeluruh, kemudian memahami bagian2 kecilnya, melakukan perenungan yg 
mendalam, memahami hubungan antara berbagai bagian tersebut. Dan akhirnya 
didapatkanlah hikmah yg membawa pencerahan jiwa, sebuah proses pencerdasan. 
Dalam istilah psikologi terjadi beberapa tahapan proses berpikir; berpikir 
analisa dan berpikir reflektif. 
B erpikir reflektif adalah proses berpikir yg lebih tinggi, lebih luas daripada 
berpikir analis/critical thinking. Berpikir reflektif tak diajarkan di sekolah 
yang lebih fokus pada kemampuan menghapal (memorize ) dan pola berpikir 
analisis. Karena memang kemampuan tersebut yg diperlukan dalam dunia kerja, 
untuk mengelola data dan mencari pemecahan masalah ( problem solving). 
 
Proses berpikir reflektif sederhananya ialah melihat suatu hal dengan pandangan 
yg lebih luas ( bird view) merenunginya dan mendapatkan hikmahnya.Menurut John 
Dewey, seorang ahli pendidikan, berpikir reflektif ialah proses pemahaman 
terhadap sesuatu dengan melihat hubungannya dengan berbagai hal dan selanjutnya 
dihasilkan sebuah kesimpulan. 
Kemampuan berpikir, bagian dari pencerdasan manusia, seharusnya dikembangkan di 
sekolah sebagai lembaga pendidikan. Tapi realita saat ini  sekolah yang 
didirikan sebagai tempat belajar, seperti mulai kehilangan esensi nya untuk 
memberikan pencerdasan. Dalam dunia yang materialis saat ini, sekolah telah 
menjadi bagaikan pabrik otak yg mencetak para tenaga kerja untuk menggerakkan 
roda2 perusahaan kapitalis ( pemilik modal). Sekolah dipolakan seperti itu, 
karena dalam kaidah kapitalis sekolah adalah bagaikan pabrik otak untuk 
menghasilkan para tenaga kerja yang akan memutar roda2 perusahaan kapitalis 
juga, yang dibutuhkan ialah para pekerja bukan pemikir/perenung.
 
Dalam kaidah kapitalis-materialis, sebagian besar orang adalah para pekerja dan 
pembelanja ( konsumen) dan semuanya mengabdi pada kepentingan orang kaya/ 
pemilik modal ( kapitalis ). Orang2 masuk sekolah bukan untuk belajar, tapi 
dipersiapkan jadi tenaga kerja. Kasarnya belajar bukan jadi cerdas, tapi untuk 
menjadi pekerja yg terampil.  Jadi pekerja dan upah dari kerjanya, selanjutnya 
selepas kerja menghabiskan waktunya dg menghibur diri/menikmati hidup. 
Menghabiskan uangnya untuk berbelanja kebutuhan2 yg bisa jadi tak begitu 
dibutuhkan nya, tapi ia tetap berbelanja, karena tanpa disadari banyak orang 
terjebak dalam kecanduan belanja ( konsumerisme )
 
Para pekerja tersebut bisa diandaikan bagai sekrup bagian dari mesin besar 
kapitalis, mereka bekerja, mendapatkan  upah kerja, kemudian dihabiskan untuk 
belanja dan menikmati hidup. Yang lebih parah lagi ada sebagian orang terjebak 
dalam hutang/ kredit pada bank, mereka bekerja bukan sekedar memenuhi kebutuhan 
hidup sehari2nya, tapi juga untuk membayar hutang nya yang tambah lama tambah 
menumpuk.Mereka bagaikan orang yang terhisap oleh lindah darat.
Berbagai masalah kehidupan, ekonomi, politik , budaya, etika yg mengungkung 
kita sehari2,  membuat orang tak sempat lagi berpikir panjang, istilah kasarnya 
boro2 berpikir, untuk mengisi perut saja susah. Berpikir dianggap sudah 
selesai, belajar sudah selesai di bangku sekolah, tak perlu lagi belajar, namun 
karena hal itu, orang2 pun makin terkungkung dalam kebodohan. Banyak orang yang 
tahu tentang suatu kesalahan, atau pernah melakukan kesalahan tapi ia tetap 
saja mengulang kesalahan tersebut. Padahal kata pepatah, hanya keledai yg 
terjatuh ke lubang yg sama, manusia makhluk berakal tak harusnya seperti itu.
Ini adalah sebuah contoh kecil realita sosial yg banyak dihadapi di berbagai 
belahan dunia saat ini. Khususnya pada masyarakat yg tak terbiasa membaca, 
cenderung berpikir pendek, bertindak spontan dan reaktif. Karena itulah 
berbagai  masalah yg terjadi, cenderung  disikapi secara spontan dan reaktif 
saja, tanpa usaha perbaikan yg menyeluruh agar kejadian tsb tak terulang lagi.
 
Demikianlah salah satu realita dunia modern saat ini. Dengan konsep berpikir 
alam terkembang jadi guru, berpikir yg lebih luas dan arif, kita bisa memahami 
apa yg terjadi, mengambil kesimpulan dan mencari jalan keluarnya. Pola berpikir 
seperti ini, menjadi sebuah kebutuhan saat ini.
Perintah membaca (Iqra) dalam kitab suci Al Quran dan falsafah Alam terkembang 
jadi guru, mengambil pelajaran dari alam sekitar atau kejadian sehari2, adalah 
sebuah ajakan untuk mendayagunakan kemampuan berpikir manusia sebaik mungkin, 
membawa pencerahan. Jiwa yg cerdas tercerahkan akan bisa melihat dengan jernih 
untuk bisa menapaki perjalanan hidup ini dengan baik. Belajar dari alam, kita 
akan bisa memahami juga kebesaran pencipta alam dan semua isinya ini, menyadari 
kekuasan Nya. Hal itu semua akan membuat kita lebih dekat dengan Sang Maha 
Pencipta, Allah swt.
 
Semoga kita semua bisa selalu belajar dari alam yang luas terkembang ini, agar 
sempit pikiran seperti katak dalam tempurung dan juga bisa pula belajar dari 
pengalaman dan kegagalan hidup,  karena hanya keledai lah, yg terjatuh kembali 
ke lubang yg sama.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke