---------- Pesan terusan ----------
Dari: satria satriadi <[email protected]>
Tanggal: 26 Mei 2012 01:00
Perihal: urang minang diarab
Ke: [email protected]




SELASA malam kemarin agaknya hari yang paling bersejarah bagi 300 jemaah
umrah Al-Haram Islamic Wisata. Karena disamping dapat pengajian, juga
sekaligus bertemu dengan sesepuh Minang Arab Saudi.
Yang lebih bahagia lagi tentulah sesepuh Minang itu sendiri. Ia adalah
Prof. DR. Abdul Karim Faden, 76. Laki-laki asli orang Minang ini mengaku
lahir di Mekah, namun saat ini menetap di Jeddah.
“Sanang bana ambo batamu jo dunsanak malam kini”. Begitu ia pertama berucap
dengan bahasa Minang. Meski agak terpatah-patah, namun satu hal yang bisa
dipetik dari dia yakni kecintaan akan Minangkabau dan segala asesoris
keminangannya.
Ini tentu saja berbeda dengan sebagian orang Minang yang merantau ke daerah
lain. Kadang baru lima atau sepuluh tahun di negeri orang sudah lupa dengan
ba-hasa dan budaya Minang. Apalagi kalau sudah sukses.
Bagi Buya Abdul Karim, Minangkabau adalah harga mati. Sampai kapanpun
Minang adalah kampung dan tanah leluhurnya yang tetap dicintai. Bahkan jika
bertemu orang Minang ia lebih senang berbahasa Minang ketimbang bahasa
Indonesia.
Tak hanya itu ia juga membantu pelajar-pelajar dari Minang yang tengah
menimba ilmu di Arab Saudi. Bahkan ia ikut memperjuangkan dana untuk
kelanjutan pembangunan Mesjid Raya Sumbar yang di Padang Baru, Padang ke
pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Cuma saja proposal yang dikirim dari Sumbar
harus direvisi lagi lantaran ada di antara kalimat yang kurang pas untuk
ukuran Arab Saudi.
“Ambo sadang manulih buku,” katanya kepada Singgalang.
Buku yang sedang ia tulis itu diharapkan nanti bisa menambah ilmu dan
wawasan semua orang. Inti dari buku yang akan ia rampungkan tahun depan itu
ialah menyiapkan generasi yang siap dan bisa menguasai berbagai sektor
kehidupan. Judul bukunya Khorithah Attariq Lijiil Ruwwad Annahdhah
Al-Hadhariyah Al-Islamiyah Al-Alamiyah (Peta Pergerakan untuk Generasi
Pemandu Kebangkitan Peradaban Islam Dunia)
Dalam pengajian Selasa malam itu Buya Karim mengingatkan supaya beribadah
jangan tanggung-tanggung. Setiap ibadah yang dijalankan harus dengan hati
yang khusuk. Selain itu diingatkan juga agar tidak mudah terpengaruh oleh
hal-hal yang akan merusak ibadah itu sendiri.
Buya Abdul Karim adalah putra asli Minang. Kedua orangtuanya berasal dari
Gurun Laweh, Padang. Ia telah pernah bertemu Buya Hamka, Bung Hatta dan
Sjahrir, Sjafruddin Prawiranegara dan lainnya.
Dari pengakuannya, ayah dan ibunya meninggal saat ia kecil. Ibunya lebih
dulu meninggal saat ia berusia 8 tahun. Empat tahun kemudian menyusul
ayahnya.
Buya Karim lahir di Mekah karena kedua orangtuanya tidak setuju dengan
perlakuan Belanda yang menjajah Minangkabau atau Indonesia secara
keseluruhan.
“Bia ambo lahia di Arab tapi masih bisa bahaso Minang. Ambo waktu ketek
diaja jo bahaso Minang dan itu indak ambo lupo,” kata mantan pendidik di
Universitas King Abdul Aziz ini.
Inilah keminangan seorang Abdul Karim yang mengaku belum pernah melihat
tanah leluhurnya, tapi selalu cinta dengan Minangkabau.
Direktur PT Al-Haram Islamic Wisata, Herman Lain Rajo Mangkuto berjanji
akan memfasilitasi Abdul Karim untuk pulang ke Padang guna melihat tanah
leluhurnya.
“Istri beliau juga ingin ke Padang,” katanya. (singgalang)
-- 
*     SATRIADI
      **BATAM
  BUKITTINGGI

*



-- 
*     SATRIADI
      **BATAM
  BUKITTINGGI

*

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke