Sadisme Kembali Hiasi Ranah Minang 

DI HALAMAN depan surat kabar Singgalang edisi kemarin, terpampang
berita-berita yang membuat buluk kuduk kita berdiri. Kita teren­yuh karena
kabar yang disampaikan, tidak sepatutnya terjadi di negeri ini. Nagari yang
dikenal santun, berakhlak mulia, menganut norma-norma adat yang disandarkan
pada tatanan Islam. 

Laporan utamanya adalah kasus pembantaian yang terjadi di Tampat Durian,
Kelurahan Korong Gadang, Kuranji, Padang. Syahrial, 29, tewas mengenaskan
setelah dibantai oleh para pelaku menggunakan samurai, golok dan pisau.
Peristiwanya terjadi Rabu (23/1), sekitar pukul 10.45 WIB. 

Sebelumnnya, Selasa (22/1) sekira pukul 22.30 WIB, Yusdarman, 49, seorang
pengusaha salon di Lubuk Alung, tewas mengenaskan. Selain ditemukan bekas
gorokan senjata tajam di bagian leher, terdapat pula bekas bacokan di
punggung korban. Masih di halaman pertama, ada lagi kasus temuan ganja oleh
murid SD di Padang, ulah para sopir yang mengganti bahan bakar truk dengan
minyak tanah serta kasus shabu-shabu yang melibatkan artis Minang
Misramolai. 

Bila kita rajin mencermati pemberitaan surat kabar yang bermoto ‘Membina
Harga Diri untuk Kesejahteraan Nusa dan Bangsa' ini, mungkin inilah kali
pertama laporannya halaman pertama yang didominasi oleh kasus-kasus kriminal
dan sadisme. Kenapa bisa demikian? 

Jawabannya: kami mencemaskan, rupanya sadisme dan kriminalitas benar-benar
telah mencuri peradaban kita. Oleh karenanya, segala daya dan upaya harus
segera dilakukan. Kita harus segera bertin­dak. Akar permasalahannya mesti
ditemukan secara tepat dan benar. Bila terlambat, negeri ini akan tumbuh
menjadi daerah yang rawan bagi kesejahteraan umat manusia, anti peradaban,
barbarian dan mengabaikan norma-norma Islam yang jadi panutan masyarakat
Mi­nangkabau. 

Dari beberapa diskusi dan kajian-kajian, tayangan sadisme dan kriminalitas
yang menjadi ‘tambang uang' bagi stasiun televisi-televisi nasional,
dianggap sebagai pemicu maraknya tindakan sadisme itu di tengah-tengah
masyarakat. Kondisinya makin diper­parah oleh hadirnya koran-koran lokal
yang komoditas dagang utama adalah kriminalitas dan sadisme itu. Manusia
bila pikiran dan pandangannya setiap hari disesaki dengan kejadian-kejadian
krimi­nalitas dan sadisme, maka hampir dapat dipastikan akan mengalami
gangguan kejiawaan. 

Dengan demikian, adalah wajah bila kalangan moralis dan pakar kejiwaan,
sangat menentang sekali tayangan-tayangan sadisme dan kriminalitas tersebut,
baik secara reaktif dan revolusioner melalui televisi, maupun uraian-uraian
vulgar koran-koran yang menjadikan kejahatan sebagai komoditas utama
dagangannya. 

Memang, ada juga yang berkilah bahwa sadisme dan kriminalitas selalu
mengiringi perjalanan hidup manusia. Di mana ada manusia, di situ ada
kejahatan. Bahkan, katanya, pembunuhan pun sudah terjadi pada masa Adam AS.
Alasan demikian, di satu sisi ada benarnya. Akan tetapi kita haruslah
menyadari, modus operandi kejahatan —sadisme dan kriminalitas, tidaklah bisa
tumbuh secara instingtif semata. Ia adalah prilaku meniru, perbuatan yang
terakumulasi dari pengalaman, baik berbentuk pandangan maupun pendengaran.
Semakin banyak modus operandi kejahatan yang diketa­hui seseorang, semakin
berkembang pula modus itu ke pusat-pusat peradaban umat manusia di daerah
lainnya. Itu artinya, televisi dan koran yang menjadikan sadisme dan
kriminalitas sebagai mata dagangan, boleh disebut sebagai agen yang menabur
modus operandi kejahatan ke tengah-tengah masyarakat yang beradab. 

Persoalannya kini adalah kran kebebasan yang telah kebablasan di negeri ini.
Orang, seakan-akan, menghalalkan semua cara atas nama kebebasan pers,
kebebasan menyampaikan informasi dan reformasi media massa. Ini jelas
pandangan keliru yang mesti kita luruskan. Televisi dan koran-koran
kriminal, mestinya turut bertanggungja­wab atas maraknya kejahatan di negeri
ini. Kini, sadisme telah menghiasi Minangkabau, hari-hari anak nagarinya pun
telah dike­pung oleh tayangan-tayangan sadisme dan kriminalitas, tanpa ada
yang bisa membendung. Mau kita biarkankah persoalan ini terus meremukkan
sendi-sendi peradaban manusia di negeri ini?*** 

http://www.hariansinggalang.co.id/tajuk.html


No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.11/1242 - Release Date: 24/01/2008
20:32
 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Selalu mematuhi Peraturan Palanta RantauNet lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-palanta-rantaunet
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount

-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke