Assalamualaikum, wr. wb

Menambahkan informasi yang kita dapatkan dari Buya Hamka. Saya sudah pernah 
menyelediki kisah Datuk di Sulawesi Selatan - Tenggara. Saya mencoba menuangkan 
dalam tulisan sebagai berikut :

Tiga orang datuk asal minangkabau penyebar islam di tanah bugis (?)
Walaupun banyak yang sudah tahu, bahwasanya ada tiga orang datuk yang berasal 
dari Minangkabau itu – paling tidak berasal dari tanah Sumatera, yang 
mengislamkan wilayah-wilayah kerajaan di Sulawesi Selatan pada abad 16, yaitu :
1. Khatib Tunggal Datuk Makmur, atau populer di kalangan masyarakat Sulsel 
dengan nama Datuk Ribandang.
2. Khatib Sulung Datuk Sulaiman dikenal Datuk Patimang.
3. Syekh Nurdin Ariyani dikenal dengan nama Datuk RiTiro. Akan tetapi penulis 
yakin masih banyak generasi muda minang yang belum mendapat informasi seputar 
jasa tiga orang datuk dari Minangkabau, yang menyebarkan agama islam di 
Sulawesi Selatan.
Dari berbagai sumber, penulis berhasrat menyampaikan perihal tiga orang datuk 
yang disebut-sebut dari Minangkabau serta sebelumnya penulis tertegun didalam 
hati – adakah tiga orang datuk ini – masuk dalam bagian sejarah di Minangkabau 
? Apa dan bagaimana perjuangan dan kiprah mereka dalam penyebaran agama islam 
di Sulawesi Selatan ini ? Berikut ini saya mencoba menyimpulkan sebagai berikut 
:

lebih lanjut dapat dibaca pada alamat 
: http://bundokanduang.wordpress.com/2008/10/10/kunang-kunang/

Artikel ini sudah lama dibuat, yang tujuannya agar kita bisa melakukan 
penelitian lebih dalam - karena masyarakat di Makassarpun meyakini akan 
kebenaran info ini, sehingga mereka menuangkan dalam situs mereka.
 
Di buku sejarah Kota Kolaka - Sulawesi Tenggara, saya mendapati keterangan 
islamisasi oleh Tiga Orang Datuk ini- yang mereka katakan pula sebagai Datuk 
datuk dari Minangkabau. 

Analisa saya seputar Tiga Orang Datuk ini adalah :
1. Mereka adalah 3 orang Ulama dari pesisir pantai barat Minangkabau,- yang 
saat itu sedang berada dibawah pengaruh ke Sultanan Aceh. Ingat tiga abad 
lamanya pesisir barat dikuasai pihak Aceh. 
2. Mereka sebenarnya adalah pedagang - dan orang kaya (Istilah Ipho Santosa) - 
yang sangat religius dan sangat aktif menyebarkan agama Islam. Mereka pergi 
merantau karena berdagang. Seperti halnya pedagang Arab yang menyebarkan agama 
Islam ke Indonesia. Selain berdagang, mereka ingin mengikuti jejak Maulana 
Malik Ibrahim ini yang sebelumnya bernama Maulana Al Magribi dan telah 
mendirikan Perguruan Islam Mazhab Maliki di Gresik.
3. Seperti kita ketahui Pusat cendekiawan Islam pada abad itu - yang berada di 
wilayah timur ada di Kota Gresik. Di kota Gresik domisili terakhir  Maulana 
Malik Ibrahim, yang sebelumnya pernah singgah cukup lama di Tiku - Pariaman. 
4. Ketika datangnya pengaruh kristenisasi dari utara - dari Filipina ke 
Minahasa, akibat kekuasaan Portugis, maka dilakukan upaya membendung dan 
pencegahan oleh cendekiawan muslim yang berdomisili di Kota Gresik itu. Dari 
Gresiklah tiga orang Datuk ini  berlayar ke Sulawesi guna berdagang - dan 
sekaligus melakukan Islamisasi itu. Disaat itu peluang pedagang Islam 
sesungguhnya tengah dihambat oleh Portugis, lebih lebih jatuhnya Ke Sultanan 
Malacca ketangan Portugis. Sehingga banyak Monopoli dagang terlepas dari tangan 
pedagang Islam.
Coba kita renungkan, Jika sekiranya Tiga Orang Datuk ini tidak berlayar ke 
Sulsel untuk melakukan Islamisasi, dapatlah kita bayangkan dampaknya bahwa 
wilayah ini seluruhnya akan dikuasai oleh pihak lain.

5. Setelah proses Islamisasi ini - barulah kerajaan kerajaan di Sulawesi 
Selatan melakukan kontak dengan kerajaan kerajaan dipesisir SUmatera. Baik 
dalam hubungan diplomatik zaman dahulu. Setahu saya di Kerajaan Bone terdapat 
Payung Kuning (terbuat dari emas) - pemberian dari salah satu kerajaan di 
Minangkabau. 

Sekedar info pada abad 15, seorang raja kecil dari Kerajaan Mekongga menerima 
bendera dari raja Luwu yang warnanya sama dengan Merawa kita, yaitu Merah, 
Kuning, hitam. Raja kecil itu kemudian bernama " SANGIA NIBANDERA ". 

Demikian mudah-mudahan berkenan,

Wassalam,
 
3vy Djamaludin
(Kawasan Puspiptek, Kota Tangerang Selatan)





________________________________
 Dari: Ramadhanil pitopang <[email protected]>
Kepada: [email protected] 
Dikirim: Senin, 18 Juni 2012 22:04
Judul: Bls: Fw: [R@ntau-Net] Peranan raja-raja Pagaruyung dalam Islamisasi  
kawasan Timur Indonesia.
 

Assalamualaikum WW.
Dari buku Prof. Hamka ttg Sejarah Islam.

Menurut
catatan Kerajaan Goa dan Bone, agama islam masuk dengan resmi ke negeri itu
adalah sekitar tahun 1602 atau 1603, karena Raja Goa Kraeng Tanigallo telah
menerimanya dari tiga orang guru agama Islam yang dating dari Minangkabau yaitu
Dato’ Ri Bandang, Dato, Ri Patimang dan dato, Ri Tiro. Tetapi sebelum raja
memeluk agama Islam, namun orang sebagai pedagang telah ada di Goa jauh sebelum
itu. Ketika suatu perutusan Portugis dating ke Goa pada tahun 1540, mereka
telah mendapati beberapa orang berdiam di Goa, tetapi mereka datang dari daerah
lain. Dapatlah laporan orang Portugis itu diterima, jika diingat setelah Malaka
jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511 banyak pedagang Islam melarikan
nasibnya ke daerah lain, diantaranya ke Makassar.
            Sultan Babullah dari Ternate  giat mempropagandakan Agama islam  ke 
daerah Makassar itu tahun 1570 dan tahun
1583. Pulau Buton telah menerima islam dari Ternate. Tetapi Raja Makassar yang
belum memeluk agama Islam itu, masih berfikir-fikir dan menimbang-nimbang,
agama yang manakah yang akan baginda terima. Kattholikkah, yang telah
dipropagandakan oleh Portugis, atau Islam yang dipropagandakan oleh Ternater,
keduanya sama mendesak. Memeluk suatu agama resmi, bagi seorang raja yang besar
dengan sendirinya akan sangat besar pengaruhnya atas politik.
            Dalam hati kecilnya sang baginda
raja Goa telah sudi menerima islam tetapi jangan hendaknya di bawah pengaruh
Kerajaan Ternate yang dekat tempatnya. Dan dalam hati pula baginda belum bias 
menerima
ajaran Khatolik, tetapi bujukan pendeta bertubi-tubi. Akhirnya baginda
mengambil keputusan yang cerdik sekali, beliau akan masuk ke dalam salah satu
agama, Katholik atau Islam. Tetapi baginda hendak meminta penjelasan/penerangan
yang lebih luas dan dalam yaitu dari sumber yg asli. Dimintalah kepada Portugis
untuk mendatangkan Pendeta dari Malaka dan dimintnya pula kepada pihak Islam,
supaya mengirimkan ulama yang lebih alim dari Kerajaan Aceh, sebab Aceh lebih
tua Islamnya.
            Baru saja permintaan itu kepada
Sultan Aceh (Sultan saidi Al-Mukammil) permintaan itu segera dilaksanakan.
Sehingga dikirimlah sebuah perutusan Ulama. Dalam catatan orang Bugis Makassar
ulama itu dating dari Minangkabau diantaranya Khatib Tunggal  (disebut Dato Ri 
Bandang gelarnya di Makassar
atau Dato di Bandar disebut gelarnya di Bhima) terdapat kuburnya sekarang ini
di Tallo sebelah utara Goa. Tidaklah ada perbedaan pendapat bahwa  mereka dari 
Minangkabau, diutus oleh Sultan Aceh.
Sebab Tiku, Pariaman, Air Bangis, Painan dan Indrapura adalah pantai pesisir
Minangkabau yang pada ketika itu di bawah kekuasaan Aceh.  Dikatakan para 
mubaligh Islam dari Minangkabau
tersebut berasal dari kerajaan Islam Indrapura.
Agama Islam
diterima oleh Kraeng tanigallo thn 1603, lalu beliau memakai gelar Islam “Sultan
Ala’udin Awwalul Islam” yang menerima ajaran tauhid dari Khatib Tunggal (Dato
Ri Bandang) yang telah menimbulkan semangat baru bagi orang Makassar. Sultan
Alauddin mangkat (setelah mangkat disebut gelarnya “Matinro Ri Agamanna/
mangkat karena memajukan agamanya), naiklah putranya Sultan Hasanuddin 


(Sumber
Sejarah Islam :  Prof. Dr. Hamka, Cetakan
Pertama 1994. Pustaka nasional PTE LTD, Singapura).
Ada juga
kisah penyebaran Islam di Tanah Kaili (Sulawesi Tengah) menyusul…

Wassalam,
Ramadhanil Pitopang
Palu- Sulawesi Tengah, 48 tahun- Laki-laki

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke