Siapapun elemen bangsa ini tidak mau disebut Indonesia negara gagal. Itu pasti 
dan saya sangat setuju. Tapi secara pribadi saya tidak peduli siapapun yang 
mengatakan bahwa Indonesia sebagai Negara GAGAL, dan itu tidak perlu dianggap 
serius, kenapa ?. Gagal atau tidak yang mengukurnya adalah kita sendiri. Saya 
berpendapat bahwa setelah Reformasi, bangsa ini benar-benar rapuh seolah-olah 
pemiliknya adalah Politikus-politikus Bangsa. Saya tidak melihat Pemimpin yang 
benar-benar memikirkan bangsa ini seperti era Soekarno dan Soeharto. Semuanya 
berebut kekuasaan tanpa malu, dan saya menganggap bahwa kita diambang Negara 
Gagal (lebih kurang 2 tahun yang lalu pernah saya sampaikan disini hasil dari 
pencerahan orasi Prof. MT. Zen di ITB). Coba renungkan keseharian yang kita 
lalui:
1.Korupsi dimana-mana tanpa ditoleh oleh pimpinan bangsa ini
2.Penguasa Hukum termasuk Pengacara berlomba-lomba mencari kekuasaan dan 
semuanya serba maha tahu dan beranggap benar.
3.Lihat apa yang terjadi dengan kinerja Eksekutif, Legeslatif, dan Yudikatif. 
Semuanya menunggu.................... menunggu. tanpa ada penyelesaian, dan 
komedi sering dipertontonkan
4.Masyarakat sudah seenaknya, hasil pempelajaran dari penguasa
 
Masih banyak permasalahan lainnya, dan silahkan renungkan................ yang 
jelas gejala-gejala tidak memiliki arah tujuan dari bangsa ini sudah tidak 
terelakkan lagi. Kenapa harus malu, kalau kita menyatakan bahwa Negara ini 
memang diambang GAGAL setelah melewatri masa KERAPUHAN. Detik perdetik, 
menit-permenit, jam per-jam, dan hari ke hari lihat di media cetak dan 
Televisi..................................MENYEDIHKAN.
 
Wassalam,
 
Herman Moechtar / 62 TH

--- On Thu, 6/21/12, Darwin Bahar <[email protected]> wrote:


From: Darwin Bahar <[email protected]>
Subject: [R@ntau-Net] Kita Tak Ingin Negara Gagal
To: "Palanta Rantaunet" <[email protected]>
Cc: "Andiko" <[email protected]>
Date: Thursday, June 21, 2012, 4:44 AM







Perlu Kebersamaan untuk Perbaiki Kekurangan
http://cetak.kompas.com/read/2012/06/21/02005832/kita.tak.ingin.negara.gagal
Jakarta, Kompas - Semua elemen bangsa tidak menginginkan negara Indonesia 
dinilai atau menjadi negara yang gagal. Karena itu, semua elemen bangsa harus 
bersama-sama berupaya untuk memperbaiki hal-hal yang dinilai masih kurang.
Hal tersebut ditegaskan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko 
Suyanto dalam perjalanan dari Makassar ke Jakarta, Rabu (20/6). Djoko dimintai 
tanggapan terkait publikasi Indeks Negara Gagal (Failed States Index) 2012 di 
Washington DC, Amerika Serikat, Senin. Indonesia berada di peringkat ke-63 dari 
178 negara. Indonesia masuk kategori negara dalam bahaya (in danger).
Dalam indeks tersebut, semakin tinggi peringkatnya, semakin buruk kondisi 
sebuah negara sehingga mendekati status negara gagal. Tahun lalu Indonesia 
menempati peringkat ke-64 dari 177 negara. ”Semua elemen bangsa tidak mau 
negara ini gagal. Kalau ada yang masih kurang, mari kita perbaiki bersama,” 
katanya.
Juru Bicara Wakil Presiden Yopie Hidayat juga memandang positif hasil survei 
yang dikeluarkan organisasi internasional The Fund for Peace itu. Hasil survei 
tersebut dinilai berguna untuk memacu kinerja aparat dan pejabat pemerintahan.
”Kita hidup di era terbuka sehingga kita harus terus melihat ke tetangga kita. 
Kalau mereka lebih baik, kita tentu saja harus lebih baik lagi. Kami melihatnya 
sebagai upaya untuk memacu kinerja kita. Saya setuju, kita harus lebih baik. 
Kita merasa sudah maksimal, ya, tetap saja harus dipacu lebih keras lagi,” 
tutur Yopie, di Kantor Wapres.
Namun, Djoko mempertanyakan apa yang dimaksud dengan ”gagal”. ”Kalau gagal, 
kita tidak bisa apa-apa. Apakah negara Indonesia gagal membangun, tidak 
demokratis, tidak aman, atau tidak memiliki cadangan devisa yang cukup,” kata 
Djoko.
Kalau soal kemiskinan, Djoko mengakui, pasti ada orang miskin. ”Di Amerika 
Serikat pun ada orang miskin,” tuturnya.
Djoko mencontohkan kehidupan demokrasi. Keterbukaan dan kebebasan pers di 
Indonesia sangat maju. ”Jadi, saya tidak mau membantah. Lihat saja itu semua,” 
katanya. Karena itu, Djoko berpendapat Indonesia bukan negara gagal. ”Negara 
kita sedang membangun,” katanya.
Terkait aksi-aksi kekerasan, menurut Djoko, hal itu tidak terjadi di seluruh 
Indonesia. ”Hampir di semua negara juga ada kekerasan,” katanya. Kekerasan di 
suatu daerah jangan digeneralisasi seakan-akan kekerasan terjadi di seluruh 
Indonesia.
Tidak tiba-tiba
Menurut Daron Acemoglu, profesor ekonomi Massachusetts Institute of Technology 
(MIT), dan James Robinson, profesor politik dan ekonomi Universitas Harvard, 
dalam sebuah artikel di laman majalah Foreign Policy, Senin (18/6), kegagalan 
suatu negara tidak terjadi tiba-tiba dalam waktu semalam. Bibit-bibit kegagalan 
itu sebenarnya sudah tertanam jauh di dalam berbagai institusi politik 
kenegaraan, terkait bagaimana sebuah negara dijalankan.
Penulis buku Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty 
itu membahas mengapa ada beberapa negara di dunia yang sangat sukses secara 
ekonomi, tetapi ada juga yang tetap miskin dan terpuruk.
Ada beberapa negara yang mengalami kegagalan tiba-tiba dan spektakuler, seperti 
Afganistan setelah pasukan Uni Soviet mundur akhir 1980-an. Namun, sebagian 
besar negara gagal tidak secara mendadak. Negara-negara itu tidak gagal karena 
perang, tetapi lebih karena gagal memberdayakan potensi pertumbuhan rakyatnya 
yang besar.
Menurut Acemoglu dan Robinson, yang paling tragis dari kegagalan di sebagian 
negara tersebut adalah karena disengaja. Negara-negara tersebut runtuh setelah 
dikuasai institusi-institusi ekonomi ”ekstraktif”, yang merusak daya dorong 
ekonomi, melemahkan setiap usaha inovasi, melemahkan bakat dan potensi warga 
negaranya dengan menciptakan medan permainan yang tidak adil, dan menghilangkan 
kesempatan warga untuk maju.
Dalam indeks negara gagal itu, situasi Indonesia dinilai memburuk, terutama di 
tiga indikator dari total 12 indikator yang digunakan dalam penyusunan indeks 
tersebut. Ketiga indikator itu adalah tekanan demografis, protes kelompok 
minoritas, dan hak asasi manusia. Bagaimanapun, Indonesia diakui berhasil 
mendorong pertumbuhan ekonomi dan melakukan reformasi politik beberapa tahun 
terakhir.
Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Hariyadi B Sukamdani 
mengatakan, kalangan pengusaha merasakan bagaimana kualitas penegakan hukum dan 
jaminan keamanan menurun beberapa tahun terakhir. Kondisi itu cukup 
mengkhawatirkan. Hariyadi mencontohkan, cetak biru pembangunan nasional cukup 
jelas dalam Rencana Induk Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi 
Indonesia, tetapi menghadapi masalah koordinasi.
”Kalau negara itu rapi, jumlah sengketa pasti turun. Masalah serius lain adalah 
manajemen pemerintahan berkait koordinasi dan kebijakan pemerintah daerah yang 
tumpang tindih dengan pusat sehingga merugikan investor,” ujar Hariyadi.
Namun, Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky 
Sibarani mengatakan, kalau disebut sebagai negara gagal, sesungguhnya masih 
terlalu jauh. ”Kita masih ada yang bisa diharapkan asalkan ada kemauan dari 
semua pihak, terutama pemerintah, dalam menyusun kebijakan.”
Franky menilai, kebijakan yang tidak konsisten lambat laun bakal menggiring 
Indonesia sebagai negara gagal. Masalah infrastruktur dan penegakan hukum 
memang membutuhkan proses yang cukup lama.
Infrastruktur di Indonesia juga mendapat perhatian. Menurut Yopie, untuk 
memastikan proyek-proyek infrastruktur berjalan mulus, Wapres Boediono 
memutuskan untuk memantau hingga ke pelaksanaan proyek. ”Orang menilai, kok, 
sampai segitunya. Wapres seharusnya tidak perlu mengawasi detail teknis. Namun, 
itu dilakukan untuk memastikan fungsi-fungsi itu berjalan baik,” tuturnya.
Selain infrastruktur, menurut Yopie, Wapres memberikan perhatian serius pada 
pelaksanaan reformasi birokrasi. Alasannya, birokrasi adalah eksekutor 
kebijakan sehingga birokrasi yang baik akan membuat kinerja pemerintah ikut 
jadi lebih baik.
Bagaimanapun peringkat Indonesia dalam kategori bahaya itu merupakan kritik 
serius terhadap kinerja pemerintah. Menurut Ketua Badan Pengurus Setara 
Institute Hendardi, dan anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, M Ridha 
Saleh, pemerintah jangan terus berkelit, melainkan harus bekerja lebih keras 
lagi untuk menjauhkan negara ini dari keterpurukan.
”Dalam banyak kasus kekerasan terhadap minoritas, pemerintah cenderung 
membiarkan, tidak tegas menindak, apalagi memproses hukum para pelakunya,” kata 
Hendardi.
Ridha menilai, pemerintah belakangan ini memang lemah dalam melindungi hak-hak 
sipil politik warga negara Indonesia dari kekerasan, konflik sosial, dan 
gangguan keamanan. ”Pemerintah hendaknya memperbaiki regulasi, sistem, dan 
kepemimpinan untuk melindungi HAM,” katanya.
Bagi pakar hukum tata negara Universitas Andalas Saldi Isra, pemerintah harus 
membuktikan mampu melaksanakan fungsi pemerintahan secara baik. ”Semua 
kelemahan hanya mungkin diatasi dengan keberanian dan langkah besar,” katanya.
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke