Superkoran, November 3rd, 2005 | Category: artikel

http://superkoran.info/?p=169

Sebuah Catatan Kecil di Penghujung Ramadhan

Seperti Ramadhan-Ramadhan dalam beberapa tahun terakhir ini, apapun yang
terjadi di Republik ini, masjid-masjid selalu dipenuhi oleh jemaah Tarawih,
termasuk masjid di kawasan-kawasan elit seperti Pondok Indah. 

Dan setelah absen sekitar hampir sepuluh tahun, pada salat tarawih hari
pertama, saya, isteri dan salah seorang cucu kami Upik, melaksanakan  salat
Tarawih bergilir dari rumah ke rumah yang diselenggarakan setiap  tahun oleh
Ikatan Keluarga Minang (IKM) di lingkungan tempat tinggal  kami di Depok,
sejak kompleks perumahan yang dibangun PERUMNAS tersebut  selesai dibangun
dan ditempati dalam tahun 1979.

Kami mengambil yang sebelas rakaat seperti umumnya Tarawih yang dilaksanakan
di masjid-masjid di Sumatra Barat dan masjid-masjid di kawasan perkotaan di
Indonesia, tetapi biasanya selesainya lebih belakangan ketimbang Tarawih
yang dilaksanakan di sebagian masjid-masjid di lingkungan kami yang
melaksanakan 23 rakaat, karena kami melakukannya dengan lebih tartil.
Setelah selesai shalat kami teruskan dengan bertadarus secara bergantian
satu juz setiap malam, sehingga khatam pada akhir Ramadhan.

Ramadhan memang bulan yang kondusif untuk beribadah. Selain memenuhi masjid
untuk bertarawih, sekarang ada kecenderungan baru: banyak pula jemaah,
termasuk dari kalangan terdidik berikttikaf semalam penuh di sejumlah masjid
di beberapa hari terakhir, utamanya di malam ke 27.

Tetapi kembali kepada pertanyaan, ibadah itu untuk siapa sih? Untuk Allah
kah? Apakah Allah "kesepian" atau berkurang kemahabesaran-Nya jika makhluk
ciptaan-Nya tidak menyembah-Nya, memuji-Nya atau membesarkan Nama-Nya?

Di sini saya ingin mengutip sebuah hadis Nabi SAW yang penggalannya pernah
saya kutip pada kolom saya di Apakabar.ws menjelang Ramadhan, yaitu hadis
yang mengisahkan nasib dua perempuan, yang satu pelacur yang masuk surga
karena mendahulukan memberi minum seekor anjing yang kehausan di padang
pasir meskipun ia sendiri juga kehausan; yang lain ahli ibadah yang masuk
neraka karena sibuknya beribadah membiarkan seekor kucing mati kelaparan.

Saya tidak tahu siapa yang merawikan hadis yang 'dahsyat' tersebut. Tetapi
karena saya pernah mendengar hadis ini disitir oleh Ulama sekaliber Dr
Mifthah Faridh, saya tidak sangsi bahwa hadis tersebut adalah sahih.

Lalu, kembali pertanyaan ialah ibadah itu untuk siapa dan untuk apa, karena
seorang yang sangat rajin beribadah bisa saja masuk neraka untuk hal yang
(kelihatannya) sangat "sepele": karena membiarkan seekor kucing mati
kelaparan yang terkurung di dalam rumahnya.

Para ulama Tasauf umumnya mengatakan bahwa tujuan ibadah adalah untuk
membersihkan hati. Hati itu diibaratkan dengan kaca, yang perlu untuk
digosok setiap hari agar tetap jernih dan berkilat. Hanya hati yang bersih
yang dapat melihat dengan jelas hakekat dari pesan-pesan ilahiah dengan
genah, hati yang selalu mampu untuk memisahkan yang baik dengan yang buruk,
yang benar dengan yang salah, yang patut dengan yang tidak.

Ibadah seperti ini adalah ibadah yang dilakukan dengan ikhlas dan sepenuh
hati, tidak hanya ibadah yang sekedar memenuhi persyaratan syariah. Hanya
ibadah yang didasari rasa cinta kepada Allah kepada Nabi sang pembawa
risalah sahajalah yang memungkinkan ibadah dilakukan dengan ikhlas dan
sepenuh hati. Karena itu kidung-kidung para sufi, adalah kidung-kidung yang
sarat dengan cinta.

Musikus dan Sufi Besar India Hazrat Inayat Khan yang murid-muridnya datang
dari berbagai penganut agama (Islam, Hindu, Budha, Kristen/Katolik,
Zoroaster dan lain-lain ) pernah mengatakan bahwa kesalahan para penganut
agama ialah mereka umumnya berhenti (dari mencari Tuhan) pada tangga
pertama. Ini adalah ungkapan yang penuh makna. Tidak sukar untuk memaklumi
bahwa yang dimaksud dengan "tangga pertama" itu adalah syariat masing-masing
agama yang bersangkutan.

Tidak sukar pula untuk menyaksikan dalam praktik keberagamaan sehari-sehari
apa yang terjadi bila para penganut agama hanya berhenti pada syariat, atau
aspek legal-formal dari sebuah agama. Jangan kata beda agama, Satu agama
seperti beda mahzab dalam Islam (Sunni, Syiah) saja sering timbul konflik
berdarah-darah. Bahkan sesama Sunni (Wahabi dan Non-Wahabi) tidak jarang
terdapat perbedaan sedemikian rupa sehingga satu pihak tidak jarang
menghalalkan darah pihak lain.

Padahal jangankan menghilangkan nyawa manusia, menyebabkan seekor kucing
mati kelaparan di dalam rumahnya saja, seorang ahli ibadah masuk neraka
karena sibuknya beribadah.

Tentu saja perjalanan dalam merambah hakekat, dan kemudian ma'rifat
dilakukan bukan dengan meninggalkan syariat, karena itu bukan teladan dari
para Nabi dan Rasul. Pesan intinya, hendaklah para penganut agama tidak
hanya berhenti pada syariat.

Ketika mengawali shalat berjamaah dengan shalat Isya hari pertama, Pak Haji
Nasran Muluk yang menjadi imam malam itu membaca surrah favorit para imam
shalat, yaitu Surrah Al Insyirah [94] atau yang lebih dikenal dengan surrah
Alam Nasyrah.

Ini adalah sebuah surrah Makiyah (turun di Mekah) yang seperti surrah-surrah
Makiyah umumnya singkat (surrah ini hanya 8 ayat), kuat, padat dan
universal. Ayat ke-5 surrah ini, yang kemudian dipertegas pada ayat ke enam
dengan redaksi yang nyaris sama berbunyi: "Fa inna ma 'al 'usri yusra"
(sesungguhnya dalam kesempitan ada kelapangan). Sebuah pesan yang sarat
makna, sebuah seruan melarang seorang hamba untuk tidak pernah kecil hati
dalam menghadapi berbagai kesukaran, kesulitan dan kepahitan hidup, melarang
berputus harapan, harapan yang membuat seseorang berjuang dan bertahan untuk
hidup.

Ada suatu perasaan nikmat yang tidak terkatakan dalam bertadarus sehabis
Tarawih ini, sehingga jemaah tarawih sampai akhir Ramadhan kemarin malam
nyaris tidak berkurang. Selama 29 malam kami telah berlayar dalam semesta Al
Qur'an, yang diturunkan secara bertahap selama 23 tahun kenabian Al Mustapha
Rasulullah dalam bahasa Arab yang indah, jelas namun kaya makna. Sebahagian
bisa ditangkap apa adanya, sebagian memerlukan pemahaman atas konteks
kesejarahan ketika ayat-ayat tersebut diturunkan, sebagian bersifat
simbolik/alegorik, sebagian diyakini hanya Allah yang tahu maknanya
(ayat-ayat mutasyabihat).

Manusia dengan berbagai keterbatasannya pada dasarnya mempunyai iradat untuk
memahami teks-teks suci. Tetapi karena keterbatasannya itu pula, mana kala
seseorang berbicara tentang sebuah teks suci, maka ia berbicara tentang
makna yang ia tangkap berdasarkan kekmampuan fikir, sebuah tafsir.

Karena itu sebuah tafsir tidak pernah sempurna, final dan tunggal.

Malam itu kami menyelesaikan juz ketigapuluh yang seluruhnya berisi
surrah-surrah Makiyah. Ada sesuatu yang terasa namun tak terkatakan, mengapa
Nabi memerintahkan untuk menempatkan sebagian besar surrah-surrah Makiyah
tersebut pada bagian terakhir dari Al Qur'an.

Dan ketika doa khatam Qur'an dibacakan, suasana hening terasa mencekam dan
mata jemaah ada yang basah. Akankah Ramadhan tahun depan kami masih akan
bertaraweh besama secara lengkap, mengingat kegiatan tersebut sudah
berlangsung tanpa henti selama hampir 25 tahun. Banyak di antara kami yang
sudah berumur, termasuk saya. Apalagi yang namanya umur tidak mengenal usia
tua dan muda.

Pada Acara hari terahir "Learning from Cak Nur" yang ditayangkan MetroTV
setiap jam 4.30 pagi selama Ramadhan, Sufi dan Pemikir Besar Islam yang
wafat tanggal 29 Agustus yang lalu, kebetulan membahas surrah Al Insyirah,
dimulai dengan surrah 5 dan 6 yang saya kutip di atas yang kemudian
dilanjutkannya dengan ayat 7: Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu
urusan) maka kerjakanlah (urusan yang lain) dengan sungguh-sungguh, 8: Dan
hanya kepada Tuhanmu kamu berharap.

Selama saya mengarungi samudara kehidupan selama hidup saya yang menjelang
senja ini terasa benar bagi saya kebenaran dari pesan-pesan suci tersebut.

Menjelang detik-detik menjelang azan maghrib pada Ramadhan hari terkahir
kemarin petang, berbagai perasaan lega, gembira, sedih, terharu, rasa
kehilangan dan keengganan yang sangat untuk berpisah, menggumpal di dada
saya. Tidak ubahnya seperti perasaan saya ketika hendak meninggalkan Masjid
Nabawi di Medinah untuk terakhir kalinya setelah menyelesaikan shalat wajib
ke 40 (Arbain) di masjid yang sangat bersejarah itu dua hari menjelang
kepulangan ke Tanah Air ketika menunaikan ibadah haji tahun 2003 yang lalu.

Air mata saya tidak mulai tidak terbendung ketika azan magrib berkumandang,
yang sekaligus menandakan berakhirnya Ramadhan tahun ini.

Dan sebagaimana kaum muslimin lainnya yang berpuasa, saya tentu saja
berharap dalam sebuah ucap yang sangat populer: "Minal 'aidina wal faizin"
(Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali dalam keadaan fitri dalam
kemenangan)

Allahhu Akbar, Allahhu Akbar, Allahhu Akbar, Waliilahhil hamd.

Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin atas setiap lembar kilaf dan
kesalahan yang telah terlakukan

Taqabalallahu minna waminkum taqoball ya Karim

Wassalam, Darwin

Depok, 3 November 2005, menjelang pagi

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke