"Frustrasi oleh kebingungan ini, para pemimpin Muslim di seluruh Eropa semakin 
beralih ke astronomi modern 
untuk membantu memecahkan masalah. "

Sepertinya masyarakat eropa sana memang kurang suka dengan hal-hal yang 
bersifat tidak pasti sehingga mereka 
cepat frustasi dengan kondisi yang tak menentu setiap akan memulai dan 
mengakhiri puasa. Selain itu, mereka 
(ilmuwan muslim barat) bukan saja sekedar mengintip hilal (bagian yg sangat 
kecil dari bentuk/cahaya bulan)
 tapi mereka sudah menjajakan kaki di bulan berkali-kali dan merukyat bumi dari 
bulan atau merukyat bulan 
dan bumi sekaligus pada tempat yang lain (planet / ruang angkasa). 
Sebagai informasi tambahan dari teman yang juga pemilik blog 
http://cis-saksono.blogspot.com/2012/07/mengapa-1-ramadan-jatuh-pada-20-juli.html menurut
 beliau 
FCNA (Fiqh Council of North America) telah menetapkan perhitungan astronomi 
murni untuk kalender Islam 
sejak 13 Agustus 2006 silam. 
Mudah2-an ini merupakan secercah harapan menuju terwujudnya kalender hijriyah 
terpadu bagi ummat 
muslim seluruh dunia, sehingga ummat tak perlu lagi menunggu dan menunggu untuk 
sesuatu yang sebetulnya 
tidak perlu ditunggu dan kebersamaan yang terjadi bukan saja kebersamaan dalam 
skala regional tapi 
kebersamaan global. 
wallahualam.


Mohon maaf atas segala khilaf dan salah, semoga kita dapat menjalankan ibadah 
Ramadhan pada tahun
ini dengan kwalitas yang lebih baik dari tahun sebelumnya dan diterima ALLAH 
SWT.

wassalam,
harman



http://muslimdaily.net/berita/internasional/muslim-eropa-coba-sinkronkan-ramadhan.html 



Muslim Eropa Coba Sinkronkan Ramadhan
Diposting Kamis, 12-07-2012 | 09:17:14 WIB
Perbedaan yang mengawali bulan suci Ramadhan memaksa minoritas Muslim di 
seluruh Eropa beralih ke astronomi modern untuk membantu menentukan hari 
pertama bulan puasa.

"Dalam dunia modern, terutama di Barat, orang tidak bisa memutuskan dengan 
cepat untuk memulai atau mengakhiri bulan suci pada pukul 10 malam, pada malam 
sebelumnya," kata Nidhal Guessoum, astrofisikawan kelahiran Aljazair, 
kepada Reuters, sebagaimana dikutip onislam.net.

Sejumlah kelompok Muslimin sering menghadapi perbedaan dalam menentukan awal 
dan akhir bulan Ramadhan. Salah satu perbedaannya adalah, menentukan waktu 
jatuhnya bulan hijriah menyesuaikan dengan tempat/negara mereka, sementara yang 
lain mengikuti pendapat untuk menyesuaikan dengan kalender yang ditetapkan oleh 
Arab Saudi, di mana Makkah sebagai kota suci dan kota pusat Islam terletak. 

Hal ini biasanya menyebabkan kebingungan di kalangan umat Islam, khususnya di 
negara barat. Frustrasi oleh kebingungan ini, para pemimpin Muslim di seluruh 
Eropa semakin beralih ke astronomi modern untuk membantu memecahkan masalah. 
Astrofisikawan seperti Guessoum, seorang profesor fisika di American University 
of Sharjah, mengatakan bahwa sekarang dapat menghitung dengan tepat saat bulan 
baru akan muncul di langit di seluruh dunia. Menurutnya, metode ini membantu 
karena keadaan awan yang menghalangi cahaya maupun penampakan palsu yang sulit 
dibedakan di langit. 

Bulan ini, bulan Ramadhan pertama akan terlihat di Amerika Selatan pada 19 Juli 
lalu di sebagian besar wilayah kecuali bagian utara Eropa dan Kanada pada 
tanggal 20 dan akhirnya hampir semua tempat pada tanggal 21. Karena 
keterlambatan ini, Guessoum akan membagi dunia menjadi Timur, di mana 
negara-negara Muslim kebanyakan, dan Barat, khususnya wilayah Amerika. Melalui 
perhitungan atau ilmu hisab, Turki  menyatakan 20 Juli merupakan awal Ramadhan. 
Perancis, yang memiliki minoritas Muslim terbesar di Eropa dengan berakar pada 
negara-negara Arab-Afrika utara, biasanya mengikuti keputusan Arab Saudi. 

Tahun ini, Federasi Organisasi Islam di Eropa dan Dewan Fatwa dan Riset Eropa 
meningkatkan kampanye untuk hanya menggunakan perhitungan astronomi dalam 
menentukan awal Ramadhan dan `Idul Fitri. Dewan menyatakan pekan lalu bahwa 
perhitungan ilmiah sepenuhnya diterima menurut Syariah Islam dan mengumumkan 
pada Senin bahwa Ramadhan akan dimulai pada tanggal 20 Juli pada tahun ini. 

Mohammed Moussaoui, presiden Dewan Muslim Perancis (CFCM), mengatakan 
organisasi Muslim Prancis kemungkinan besar akan menyetujui metode ini akhir 
tahun ini dan menerapkannya tahun 2013. 

Ada saran di Prancis bahwa beberapa hari libur Kristen secara nasional bisa 
diganti dengan hari raya Islam maupun Yahudi bagi masing-masing umat, namun 
pemerintah di pusat di Paris perlu tanggal yang sudah pasti untuk menentukan 
waktu liburannya. 

Menurut hadist, baik awal dan akhir Ramadan ditentukan dengan mengamati bulan 
baru atau hilal. Bila hilal tidak terlihat maka bilangan bulannya digenapkan 
menjadi 30. 

[muslimdialy.net/OI]

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke