Kesaksian Guru Besar Fakultas Psikologi UI Prof. DR Sarlito Wirawan
terhadap kinerja Jokowi

Oleh: mulyanto | 24 Juli, 2012

Dicopy dari statusnya facebook Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto 

http://mulyantogoblog.wordpress.com/2012/07/24/kesaksian-guru-besar-fakultas
-psikologi-ui-prof-dr-sarlito-wirawan-terhadap-kinerja-jokowi/

=================================================================

Setiap hari saya bekerja di Jakarta, tetapi saya warga Banten, karena KTP
saya berlamat di Ciputat. Jadi saya tidak punya hak pilih di Pilkada DKI
(Rabu, 11 Juli) lalu. Saya juga bukan simpatisan, apalagi anggota parpol
mana pun, termasuk PDIP.

Juga bukan kerabat atau famili dari Jokowi,walaupun istri saya keturunan
Solo.Jadi buat saya tidak penting siapa yang jadi Gubernur DKI, asal bukan
Sarlito. Namun, saya kenal Jokowi. Bukan berteman sejak kecil (masa balita
sampai ABG saya di Tegal, jauh dari Solo), tetapi pertama kali tahu dari
mahasiswa saya,namanya Okky Asokawati (dulu peragawati, sekarang anggota DPR
dari Fraksi PPP).

Waktu dia berpraktik dalam kuliah S-2 Psikologi UI, dia dan timnya mengambil
Solo sebagai objek studi dan dia berkenalan dengan Jokowi. Kemudian Okky dan
timnya tentu membuat laporan buat suhunya. Setelah saya membaca laporannya,
saya berkesimpulan bahwa Jokowi bukan wali kota biasa. Mungkin banget dia
manusia fenomenal (maksud saya: unik, langka). Karena itu saya minta Okky
mengundang Jokowi ke kampus untuk memberi kuliah kepada mahasiswa saya
(kalau tidak salah ada 23 mahasiswa di kelas saya).

Maka pada hari yang ditentukan Jokowi datang ke Kampus UI, Depok. Langsung
dari Solo dan seusai kuliah juga langsung pulang ke Solo. Naik taksi. Okky
menjemputnya di depan gedung fakultas,karena takut tidak ada yang mengantar
beliau ke lantai atas, karena memang penampilannya tidak bonafid (maksud
saya: tidak tampak seperti seorang pejabat sekelas Solo-1),sehingga mungkin
sekali dia akan dicuekin satpam.

Saya pun hampir- hampir salah, karena tidak bisa membedakan mana yang Jokowi
dan mana yang ajudan. Untung ada Okky, jadi tidak sampai terjadi hal-hal
yang tidak dikehendaki. Kemudian kuliah pun berlangsung, dilanjutkan dengan
diskusi, selama hampir tiga jam. Materi kuliahnya adalah tentang proses
pemindahan PKL (pedagang kaki lima) dari Taman Banjarsari (dulu: Balapan) ke
Pasar Klithikan, Notoharjo, Semanggi. Kisahnya sangat kondang dan banyak
yang sudah mengetahuinya.

Tetapi buat yang belum tahu, bisa disampaikan bahwa Taman Banjarsari dulunya
taman terbuka, asri, elite, tempat warga Solo berekreasi dengan keluarga
mereka. Tetapi sejak krisis moneter tempat itu dijadikan ajang usaha oleh
PKL yang jumlahnya makin lama makin meningkat, sehingga taman itu berubah
jadi daerah kumuh.

Kemudian datanglah Wali Kota Jokowi untuk mengembalikan fungsi taman kota
itu.Satu- satunya cara adalah dengan memindahkan para PKL. Tetapi Jokowi
tidak datang dengan satu kompi Satpol PP untuk mengusir para PKL berdasarkan
perda,melainkan diundangnya para PKL itu ke

kediamannya untuk makanmakan saja.Ada 52 kali makan-makan mingguan bersama
PKL diselenggarakan oleh Jokowi.

Dengan sendirinya lama-lama Jokowi dan stafnya akrab dengan para PKL. Dalam
suasana makan-makan yang informal itu semua curhat dan harapan PKL
ditampung, sekaligus disiapkan sarana dan prasarana jalan keluarnya. Pada
pertemuan-pertemuan terakhir barulah Wali Kota mengumumkan niatnya untuk
memindahkan PKL ke Semanggi.

Tetapi PKL tidak bisa protes lagi, karena bangunan pasar sudah disiapkan,
pihak bank sudah menyiapkan pinjaman dana dengan cicilan hanya beberapa ribu
rupiah per hari, perizinan semua digratiskan, bahkan sudah dikeluarkan perda
yang mengatur jalur angkot untuk melalui Pasar Klithikan. Singkatnya, para
PKL tinggal memboyong barang-barang mereka ke lokasi yang baru.

Pada hari boyongan pun disiapkan kirab yang diawali dengan pembesar-pembesar
Keraton Mangkunegaran dan para pejabat Kota Solo (termasuk wali kota) yang
menunggang kuda, diiringi oleh barisan pusakapusaka keraton dan tentara
tradisional keraton,gamelan yang bertalu-talu, diakhiri dengan barisan para
PKL. Arak-arakan yang terjadi tanggal 26 Juli 2006 ini menjadi peristiwa
yang menarik wisatawan domestik dan asing- dan tentu saja media massa dalam
dan luar negeri.

Gegap gempita.Semua bergembira. Proyek pemindahan PKL Taman Banjarsari hanya
awal dari gebrakan Jokowi untuk membangun Kota Solo. Program- program Jokowi
dan wakilnya (Hadi Rudyatmo) berlanjut terus sehingga Solo menjadi kota
wisata yang nyaman dan menyenangkan. Taman Banjarsari sudah kembali ke
fungsinya sebagai taman kota yang asri.

Seusai kuliah itu saya terus mengikuti kiprah Jokowi, pernah sekali atau dua
kali bertemu dengannya dalam acaraacara tertentu di Solo dan kisah
pemindahan PKL Banjarsari pernah saya jadikan contoh dalam beberapa tulisan
maupun kuliah saya. Kesimpulan saya, Jokowi memang fenomenal. Walaupun tidak
pernah mempelajari ilmu sosial, apalagi psikologi (kuliahnya dulu di
Fakultas Kehutanan, UGM, Yogyakarta), Jokowi menerapkan kaidah-kaidah
intervensi sosial dengan sangat tepat,hanya berdasarkan akal sehatnya dan
komitmennya pada tugas (saya tidak mau menyebut "hati nurani", karena
istilah itu sudah jadi pasaran, malah murahan).

*** Ketika saya menulis artikel ini, sambil menonton televisi saya melihat
Jokowi diwawancara di televisi.Pertanyaan reporter di layar kaca itu,
seperti biasa, pasaran juga,"Pada putaran kedua nanti Anda akan
berkolaborasi dengan siapa?" Maksud reporter tentu dengan yang mana di
antara empat calon gubernur yang sudah gugur. Tetapi jawaban Jokowi di luar
dugaan, "Aaah,tidak.Yang terbaik adalah berkolaborasi dengan masyarakat DKI,
dengan rakyat Jakarta." Luar biasa.

Ini adalah jawaban yang cerdas,keluar dari akal sehat. Dalam kesempatan
paparan DPR,Jokowi dan pasangannya, Ahok,menyampaikan fakta Banjir Kanal
Timur yang dibangun oleh pemerintah pusat, bukan dari dana Pemprov DKI, dan
bahwa Gubernur Sutiyoso bisa membangun 10 jalur Busway, tetapi Gubernur Foke
hanya bisa menambah satu jalur saja. Maka Jokowi-Ahok akan memprioritaskan
angkutan umum, termasuk meneruskan pembangunan monorel.

Selain itu Jokowi-Ahok merencanakan Kartu Sehat (berobat gratis) dan Kartu
Pintar (sekolah gratis) untuk warga tidak mampu. Yang perlu diperhatikan di
sini bukan janji pelayanan kesehatan dan pendidikan gratisnya (ini merupakan
janji semua calon gubernur di mana pun, tidak hanya di Jakarta), tetapi cara
dia memberi nama kepada dua pelayanan itu.

Dengan menggunakan istilah "kartu", setiap warga yang kurang mampu nantinya
akan mengantongi dua kartu (sehat dan cerdas) yang bisa dibawa ke mana-mana
dan bisa digunakan sewaktu-waktu (tidak usah minta surat ke RT atau lurah
dulu, dan sebagainya). Jokowi tidak menjanjikan membangun rumah sakit atau
memberi fasilitas kepada sekolah- sekolah (seperti bantuan operasional
sekolah alias BOS yang bukan boss), melainkan menjanjikan kartu buat setiap
warga yang memerlukan.

Maka jelas sasarannya adalah hati warga DKI sebagai perorangan yang sudah
penuh unek-unek. Suatu pemecahan yang benar-benar cerdas, yang keluar dari
akal sehat. Masyarakat Jakarta tidak semuanya cerdas, apalagi berpendidikan,
terlebih pendidikan tinggi.Tetapi rakyat yang paling jelata pun bisa
membedakan antara akal sehat dan akalakalan. Berpuluh tahun bangsa kita
terlatih untuk akal-akalan (menggunakan akal untuk sesuatu yang tidak masuk
akal).

Di zaman Soeharto dana reboisasi diakali, sehingga hutan- hutan malah makin
gundul. Perjalanan dinas dua hari diakali sehingga jadi lima hari, sehingga
sisa dana perjalanan dan akomodasi bisa masuk kantong sendiri. Di zaman
sekarang ada akalakalan proyek Hambalang,ada Gayus yang mengakali pajak dan
sebagainya. Masyarakat yang sudah capai dengan akalakalan ini langsung
melihat peluang pada diri Jokowi yang berakal sehat.

Jokowi akan berhasil sebagai gubernur DKI,bukan karena dia manusia ber-okol
(berotot) yang didukung oleh partai besar atau birokrasi atau militer
(seperti Hosni Mubarak, Khadafi,atau Saddam Husein), melainkan karena dia
didukung oleh rakyat Jakarta. Insya Allah, dengan rahmat- Nya,Jokowi akan
bergeser dari Solo-1 menjadi Jakarta-1.

SARLITO WIRAWAN SARWONO

Guru Besar Fakultas Psikologi UI,

Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Persada Indonesia - with Hadidjojo Nitimihardjo, Budiarto
Shambazy, Irma R. Permadi, Sendy Sontosa, Nanik S Deyang, Barnard Muharram
Olii, Beby Irawaty, Dewi Djakse, Siti Hidayati, Berlian Siagian, Ndari
Sulandari, Steve Mustang and Sari Putri.

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke