[Satu lagi artikel penting yang terlewat, HDB-SBK]

Senin, 03 Mei 2010

http://pustakadigital-buyanatsir.blogspot.com/2010/05/pesan-sekarmadji-marid
jan-kartosoewirjo.html

Berbagai cara dilakukan Natsir untuk melunakkan hati Kartosoewirjo. Kendati
gagal, Kartosoewirjo tetap menghormatinya.

DI lereng Gunung Rakutak, Cicalengka, Kabupaten Bandung, Sekarmadji Maridjan
Kartosoewirjo meng-akhiri perlawanannya. Ketika gelap mulai merayapi
punggung Rakutak, 3 Juni 1962, bersama seorang anak buahnya, Dodo Muhammad
Darda, sang imam Negara Islam Indonesia, "angkat tangan". Ia menyerah kepada
pa-sukan Batalion 328 Kujang yang dipimpin Letnan Dua Suhanda.

Tiada perlawanan. Ketika ditangkap, pria 57 tahun itu tergolek lemah di
dalam gubuk akibat luka di kakinya yang makin parah. Ki Dongkol, keris
pusakanya, masih terselip di pinggang. Pasukan Suhanda terpaksa memakai
tandu membawa Kartosoewirjo turun gunung.

Setelah tiga belas tahun berge-rilya melawan pemerintah, Kartosoewirjo dan
pasukannya memang makin terpojok. Cadangan logistik yang terus menipis
membuat mereka terpaksa makan daun-daunan. Mental pasukan makin jatuh
ketika, dalam pertempuran di Desa Cipaku, Ciparay, sekitar lima kilometer
dari Cicalengka, sebulan sebelum penangkapan itu, kaki sang imam kena
tembak.

Sejak itu, satu per satu pendukung utama Tentara Islam Indonesia, demikian
nama pasu-kan- Kartosoewirjo, meletakkan senjata atawa tertangkap. Pada
akhir Mei 1962, misalnya, Adah Djaelani Tirtapradja, salah satu Panglima
Tentara Islam, menye-rahkan diri. Langkah Adah itu menyusul jejak Toha
Machfoed dan Danoe Moehammad Hasan. Dengan menyerahnya tiga pimpinan pasukan
itu, tinggal Agus Abdullah pendukung Kartosoewirjo yang masih bertahan.
Pasukan Agus terus bergerilya di sekitar Gunung Ciremai, Kuning-an, Jawa
Barat.

Selepas fajar, pada 5 September 1962, sang imam diangkut kapal Tentara
Nasional Indonesia Angkatan Laut dari pangkalan Tanjung Priok menuju salah
satu pulau tak berpenghuni di Kepulauan Seribu. Di sana sudah menanti satu
regu tembak. Sebelumnya, Mahkamah Militer sudah menjatuhkan vonis hukuman
mati untuk Kartosoewirjo. Pagi itu, ujar Sardjono Kartosoewirjo, putra
bungsu sang imam, kepada Tempo, ayahnya dieksekusi. Bersama perginya sang
imam, berakhirlah pula Darul Islam.

BIBIT perlawanan Kartosoewirjo bersemai ketika perjanjian dengan Belanda di
atas kapal perang USS Renville milik Amerika Serikat yang sedang berlabuh di
Teluk Jakarta ditandatangani Perdana Menteri Amir Syarifuddin pada 17
Januari 1948. Salah satu butir kesepakatan Renville, penetapan garis Van
Mook sebagai batas wilayah Indonesia dengan Belanda. Konsekuensinya, semua
tentara Indonesia harus keluar dari wilayah Jawa Barat yang dikuasai
Belanda.

Kartosoewirjo termasuk yang kecewa akan Perjanjian Renville. Ia merasa
ditinggalkan pemerintah. Bersama pasukan Sabilillah dan Hizbullah,
Kartosoewirjo menolak mengikuti jejak Divisi Siliwangi mundur ke Jawa
Tengah. Dia bertekad tetap bertahan di Jawa Barat serta terus melawan
Belanda.

Sebagai persiapan, pada 10 Februari 1948 Kartosoewirjo mengumpulkan ratusan
pemimpin Islam se-Jawa Barat di Desa Pang-wedusan, Cisayong, Tasikmalaya.
Selain menuntut pembatalan Perjanjian Renville dan membekukan Partai
Masyumi, pertemuan itu menyepakati membentuk Tentara Islam Indonesia untuk
mengisi posisi yang ditinggalkan Tentara Nasional Indonesia.

Melihat kondisi ini, -Perdana Menteri Mohammad -Hatta menunjuk Muhammad
Natsir sebagai penghubung pemerintah-yang saat itu berdomisili di
Yogyakarta-dengan Kartosoewirjo. Hatta menganggap Natsir cukup mengenal
Kartosoewirjo. Selain sama-sama orang Masyumi, Natsir dan Kartosoewirjo
memang beberapa kali pernah berjumpa di rumah salah satu guru Natsir, A.
Hassan, tokoh Persatuan Islam, di Bandung.

Natsir, dalam wawancara dengan Tempo pada Desember 1989, menggambarkan
hubungan Kartosoewirjo dengan pemerintah saat itu masih lumayan mesra.
Berulang kali Kartosoewirjo datang ke Yogyakarta minta bantuan makanan atau
dana bagi pasukannya. "Bung Hatta memberikan bantuan supaya Kartosoewirjo
bisa mendinginkan hati orang-orang Jawa Barat yang merasa ditinggalkan
Republik," kata Natsir.

Baku tembak antara pasukan Tentara Islam dan Tentara Nasional Indonesia
pertama kali terjadi pada 25 Januari 1949 di Kampung Antralina, Ciawi,
Tasikmalaya. Paling tidak ada dua versi cerita mengenai penyebab
"pertempuran Antralina" itu. Masing-masing pihak mengklaim mereka diserang
lawan. Sejak itu, bara permusuhan Tentara Islam dan Tentara Nasional
Indonesia terus menyala.

Bagi kelompok Kartosoewirjo, kekosongan kekuasaan di Jawa Barat juga berarti
peluang mendirikan Negara Islam. Lewat beberapa kurir, niat mendirikan
negara Islam itu disampaikan Kartosoewirjo ke beberapa pengurus besar
Masyumi di Yogyakarta, antara lain Anwar Tjokroaminoto, A.M. Soebakin, dan
Abikoesno Tjokrosoejoso. Dalam surat itu, Kartosoewirjo juga mengundang
tokoh-tokoh Masyumi datang ke Jawa Barat untuk membahas bentoek dan langkah
perdjoeangan oemmat pada dewasa ini.

Puncaknya, pada 7 Agustus 1949, di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar,
Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya, Kartosoewirjo mendeklarasikan Negara Islam
Indonesia. Tanggal itu dipilih bertepatan dengan keberangkatan Hatta ke Den
Haag, Belanda, untuk menghadiri Konferensi Meja Bundar. "Proklamasi. Kami,
Oemmat Islam Bangsa Indonesia. MENJATAKAN: Berdirinja "NEGARA ISLAM
INDONESIA". Maka hoekoem jang berlakoe atas Negara Islam Indonesia itoe,
ialah: HOEKOEM ISLAM. Imam NEGARA ISLAM INDONESIA S.M. Kartosoewirjo."

BERBAGAI upaya dilakukan pemerintah untuk menghentikan niat Kartosoewirjo
memisahkan diri dan mendeklarasikan Negara Islam Indonesia, atau Darul
Islam. Sebelum berangkat, Hatta sudah berpesan kepada Natsir agar berbicara
dengan Kartosoewirjo untuk menutup segala sengketa.

Ketika itu, 4 Agustus, Natsir menginap di Hotel Homann, Bandung. Dia menulis
pesan di selembar kertas hotel, dan kemudian meminta tolong A. Hassan
menyampaikannya ke Kartosoewirjo. Namun, apa daya, surat itu sampai ke
tangan Kartosoewirjo tiga hari setelah proklamasi Darul Islam. "Yah,
terlambat. Itu namanya takdir Tuhan," kata Natsir, 19 tahun lalu.

Menurut Natsir, Kartosoewirjo memang dijaga ketat para peng-awalnya. Tak
sembarang orang bisa bertemu. A. Hassan pun sempat diminta menunggu hingga
beberapa hari. Namun, kalaupun tiba tepat waktu, kata Natsir, itu pun tak
mudah menggeser sikap Kartosoewirjo. "Bagi dia, yang berat itu menjilat
ludah sendiri," kata Natsir.

Bendera Darul Islam memang sudah telanjur dikibarkan di Jawa Barat, dan
pasukan Kartosoewirjo terus bergerilya. Kendati demikian, hubungan Natsir
dengan Kartosoewirjo tetap ter-sambung. Selama bergerilya, paling tidak dua
kali Kartosoewirjo mengirim surat rahasia kepada Presiden Soekarno, yang
ditembuskan kepada Natsir.

Surat pertama dikirim pada 22 Oktober 1950, berisi pujian sang imam atas
keputusan pemerintah menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Menurut
dia, kebijakan itu menunjukkan sikap pemerintah telah bergeser dari politik
netral menjadi politik antikomunis. Di surat berikutnya, enam bulan
kemudian, Kartosoewirjo menjanjikan dukungan untuk pemerintah melawan
komunisme. "Republik Indonesia akan mempunyai sahabat sehi-dup semati,"
katanya. Namun, ia memberikan syarat: pemerintah harus mengakui Darul Islam.

Usaha Natsir melunakkan hati sang imam dan pengikutnya tak pernah berhenti.
Pada Juni 1950, dia mengutus Wali Alfatah, teman lama Kartosoewirjo, menemui
sang imam. Namun Kartosoewirjo menolak bertemu. Sang imam menyatakan, dia
hanya bersedia menerima pejabat tinggi Indonesia, bukan utusannya.

Pada akhirnya, memang bukan Natsir yang berhasil menaklukkan sang imam,
melainkan peluru yang menembus dadanya. Walau demikian, menurut penuturan
salah seorang bekas anak buah Kartosoewirjo, seperti dikatakan Sardjono
Kartosoewirjo, ayahnya tetap menaruh hormat kepada Natsir. Bahkan
Kartosoewirjo berwasiat kepada pengikutnya: "Kalau aku nanti mati, kalian
ikuti Pak Natsir."

Sumber : Laporan Utama Majalah Tempo Edisi 21/XXXVII/14 - 20 Juli 2008

 

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke