Pak Darwin dan para sanak di palanta yth.

Ironisnya presiden RI sekarang ini bergelar Doktor lulusan institut Pertanian 
Bogor (IPB) yg diperolehnya menjelang pilpres 2009 yang lalu. 

Lalu, apakah ilmu pertanian yg telah ditekuninya itu tidak dimanfa'atkan untuk 
meningkatkan produksi pangan di Indonesia? 

Tidak sadarkah dia bahwa kedele merupakan produk strategis yang seharusnya 
diproduksi di dalam negeri (swasembada)?

Salam,
Fashridjal M. Noor Sidin
L 64 Bdg

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: "Darwin Bahar" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 28 Jul 2012 03:04:47 
To: Palanta Rantaunet<[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [R@ntau-Net] Bukan OOT: Ironi Negeri Tempe

Jumat, 27 Juli 2012 00:00 WIB     

http://www.mediaindonesia.com/read/2012/07/07/336013/70/13/Ironi-Negeri-Temp
e-

DALAM beberapa hari terakhir, tempe dan tahu mencuat menjadi isu nasional.
Makanan rakyat berharga murah tetapi kaya gizi itu langka di pasaran
lantaran mahalnya kedelai sebagai bahan baku.

Harga kedelai memang kian liar tak terkendali. Kenaikannya gila-gilaan,
bahkan menembus Rp8.000 dari biasanya Rp5.000 per kilogram. Dengan harga
bahan baku semahal itu, pengusaha tempe dan tahu memilih mogok produksi
selama tiga hari mulai Rabu (25/7) hingga kemarin.

Mereka tak punya pilihan lain untuk menyatakan sikap. Segala kiat, segala
cara, termasuk memperkecil ukuran tahu dan tempe, demi menyiasati mahalnya
harga kedelai tak lagi ampuh untuk bertahan.

Bagi mereka, mogok produksi adalah pilihan terbaik. Efeknya pun luar biasa.
Ketika tempe dan tahu absen di warung, pasar, hingga pasar swalayan, rakyat
ternyata merasa sangat kehilangan.

Tempe dan tahu yang selama ini dipandang sebelah mata kini menunjukkan
eksistensi. Keduanya memicu silang pendapat, memantik polemik panas terkait
dengan ketidakberdayaan pemerintah mengelola kebutuhan rakyat.

Kelangkaan tempe dan tahu terjadi karena ketidakberdayaan negeri ini melepas
ketergantungan impor kedelai. Di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi
ini, stok kedelai masih bergantung pada negara lain.

Untuk urusan kedelai saja, kita tak punya kedaulatan. Kita takluk pada
serbuan kedelai dari mancanegara karena produksi dalam negeri tak bisa lagi
diandalkan.

Produksi kedelai pada 2012 bahkan diperkirakan turun drastis ketimbang 2010
dari 907.300 ton menjadi 779.800 ton. Jumlah sebanyak itu terlampau sedikit
untuk mencukupi kebutuhan 2,2 juta ton per tahun.

Selama pasokan kedelai masih bergantung pada asing, selama itu pula masalah
kelangkaan tempe dan tahu akan terjadi. Ironisnya, pemerintah tak memandang
persoalan secara utuh. Mereka lebih suka menyikapi gejolak harga kedelai
dengan cara instan, yakni menghapus bea masuk.

Itulah solusi gampangan tanpa harus pusing-pusing berpikir. Penghapusan bea
masuk impor kedelai hanyalah obat sesaat yang mustahil bisa menyembuhkan
akar penyakit. Khasiatnya juga tak terlalu mujarab, cuma mampu menurunkan
harga sebesar Rp400 per kilogram. Kebijakan itu bahkan membuat impor kedelai
kian deras membanjir dan kian ganas melindas produksi dalam negeri.

Masalah kedelai adalah masalah ketidakmampuan negeri ini mencukupi kebutuhan
sendiri. Itulah persoalan pokok yang harus diselesaikan pemerintah. Tindakan
nyata wajib segera dilakukan agar petani dengan senang hati menanam kedelai.
Pemberian insentif dan jaminan harga kepada mereka tak bisa lagi
ditawar-tawar.

Indonesia yang kini dalam situasi darurat tempe merupakan konfirmasi bahwa
pengelola negeri ini sudah lama mengabaikan urusan pangan sehingga beras,
gula, kedelai, jagung, sampai singkong mesti diimpor. Untuk urusan pangan
dan banyak urusan lain, pemerintah sering mengeluh kesulitan. Lah,
pemerintah justru hadir untuk mengurusi yang sulit kok! Disorientasi
beginilah menyebabkan yang gampang pun jadi sulit.

 

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/




-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke