Miranda Kartika Sari Ferdinandus, Tidak Main-main dengan Agama

Selasa, 20 Juni 2006

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=252926&kat_id=407

Gadis kelahiran Maassluis, Rotterdam ini tampak sibuk di temui di sela-sela
acara training ESQ Eropa I Mei lalu. Kesibukannya itu ternyata tak hanya
sampai di situ, ketika dihubungi sepuluh hari lalu, ia tengah mengkoordinir
pengumpulan dana untuk korban gempa Yogya.

Ketika diajak ikut training ESQ Teens tiga tahun yang lalu ia mengaku merasa
enggan. ''Pertama Myra males banget ikut ESQ, karena yang terpikir ESQ itu
seperti pesantren. Setelah selesai training, Myra merasa menyesal karena
sudah berpikiran negatif. Padahal yang Myra dapat adalah perasaan tenang dan
damai yang begitu indah. Myra merasa yakin bahwa Islam adalah agama yang
tepat. Dengan training ESQ ini, Myra diingatkan untuk tidak bermain-main
dengan agama,'' ujar alumnus ESQ Teens Angkatan 5, tahun 2003. Waktu itu ia
tengah belibur ke Jakarta, namun ternyata sudah didaftarkan ESQ oleh saudara
sepupunya.

Materi yang didapat selama training menggerakannya untuk menulis artikel di
bulletin remaja PPME IQRA. Dalam artikel itu ia menulis tentang pendidikan
dan menjelaskan apa itu spiritual quotient (SQ). ''Myra jelaskan bahwa SQ
itu sama pentingnya dengan IQ dan EQ. Sangat sedikit orang yang menyadari
akan hal ini.'' Selain itu ia menceritakan pengalamannya selama 2 hari
mengikuti training ESQ Teens.

Ia begitu antusias mambantu pelaksanaan training ESQ Eropa I di Amsterdam.
''Waktu ikut training di Jakarta tidak banyak kenalan, tapi training di
Amsterdam, hampir 50 persen sudah kenal karena dari jamaah PPME jadi akrab
sekali. Apalagi waktu Mars ESQ, wow semangatnya, dari yang paling tua sampai
termuda! Luar biasa kesannya!'' Ketika penutupan training, ia terpilih
sebagai ketua Fosma Netherland, ''Alhamdulillah Forum Silaturahmi Mahasiswa
(Fosma) Belanda terbentuk, dengan izin Allah, Myra diamanahkan sebagai ketua
Fosma Belanda. But to be honest I don't feel like I'm the leader,'' aku
mahasiswi tingkat akhir jurusan komunikasi yang sedang menyelesaikan skripsi
ini. Meski demikian ia sangat bersemangat untuk dapat menjalankan amanah ini
sebaik mungkin. Ia juga berharap dapat menjalin berkerja sama dengan Fosma
di Indonesia.

Banyak hal yang ia rencanakan, diantaranya membantu kegiatan promosi untuk
penyelenggaraan ESQ angkatan ke II. Sedangkan untuk menjalin komunikasi
antar alumni di Belanda ia dan timnya sedang merancang konsep website Fosma
Belanda.

Tentang kuliah dan cita-citanya, ''Insya Allah, Myra selesai kuliah Juli
mendatang. Dalam hati kecil, Myra ingin sekali untuk dapat menyumbangkan
ilmu dan tenaga untuk menolong rakyat kecil.'' Tahun lalu ia mengikuti
proyek dari kampus di Desa Parang, Kediri. Kerja sukarela yang dilakukan
bersama pelajar-pelajar dari Jepang, Korea, Hong Kong, Indonesia dan
Belanda. ''Suatu pengalaman yang sangat berharga! Mudah-mudahanan Myra dapat
mengerjakan kesempatan ini di dalam pekerjaan yang akan datang,'' ujarnya
antusias.

Mengenai remaja Belanda, menurutnya mereka cenderung to the point, terutama
dalam memberi kritik. ''Apabila ada sesuatu yang tidak disukai atau
disetuju, mereka langsung saja menyampaikan tanpa alasan ini-itu! Sedangkan
remaja di Indonesia, lebih menghormati perasaan orang lain sangat
berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu agar tidak salah mengerti. Tentunya
remaja di Indonesia lebih sopan dari remaja di Belanda. Remaja di Belanda
sifatnya lebih mandiri, beda dengan remaja Indonesia yang kadang untuk
mengambil sepatu saja minta bantuan pembantu,'' paparnya.

Menurutnya menjalankan ajaran Islam di sekeliling masyarakat yang mayoritas
non-muslim terasa cukup berat. Sebagai orang muslim ia merasa harus bisa
tegas menjelaskan bagaimana seharusnya menjadi seorang Muslim. ''Mereka
belum mengenal apa itu Islam, mereka berprasangka sangat negatif terhadap
Islam. Apalagi setelah kejadian 11 September (2004), tugas kita sebagai
orang Islam lebih berat!''

Putri tunggal dari Mohammad Fikri Ferdinandus ini mengaku merasa hubungan
dengan kedua orang tuanya sangat dekat. ''Dengan papa dan mama, Myra merasa
seperti sahabat. Myra bisa cerita macam-macam, menyampaikan ide-ide, dapat
menolak apabila tidak setuju. Papa dan mama tidak saja memberi pentunjuk
berharga, tapi juga bisa di ajak bercanda dan enjoy bersama.'' Ia merasa
diberi kebebasan untuk banyak hal. ''Insya Allah, papa mama dapat Myra
jadikan sebagai contoh untuk langkah-langkah di masa yang akan datang.''

Ia berharap untuk training yang akan datang di Belanda pesertanya bisa jauh
lebih banyak. "Karena sekarang sudah ada 99 alumni di Belanda, mudah-mudahan
lebih banyak yang bisa membantu promosi." Ia menambahkan, ''Kami berharap
akan lebih banyak remaja yg ikut serta training ESQ, bukan hanya untuk
menambah jumlah anggota Fosma Belanda. Tetapi karena kami adalah penerus
generasi Islam mendatang di Netherlands!''

( ida s widayanti )

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke