Kompas, 14 Agustus 2012

TOTOK WIJAYANTO

Maria Hartiningsih & Myrna Ratna

http://cetak.kompas.com/read/2012/08/12/04372218/syafaatun.almirzanah.

Pengalaman khas dan berbeda yang dibagi dalam komunikasi terbuka dan
kesalingan belajar akan saling memperkaya identitas individu religius.

Syafaatun Almirzanah PhD (49) menghidupi setiap pengalaman perjumpaan
sebagai cahaya yang memperkaya jiwa untuk menuju kepada Yang Satu. Melalui
perjalanan panjang, ia meyakini, hanya dalam komunikasi yang terbuka dan
dialog mendalam dengan kerendahan hati, dimungkinkan perjumpaan untuk saling
memperkaya dan diperkaya.

Itu sebabnya, "Pengalaman bergaul dengan orang lain sangat penting dalam
hidup," ujar intelektual serta pakar kajian Islam dan kajian agama-agama
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.

Ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu, sepulang tugas mengajar di
Georgetown University, Washington, AS, Syafa, begitu ia disapa,
mengungkapkan, salah satu metodologinya untuk berdialog adalah passing over
from our own tradition, dari our motherland kepada tradisi orang lain yang
berbeda, kepada wonderland.

"Tetapi, tidak berhenti di situ. Kita coming back, pulang kembali ke
motherland dengan horizon baru yang sudah diperkaya."

Ia selalu menekankan, dialog bukan sekadar debat atau saling memahami terus
selesai. "Kalau tidak ada transformasi namanya bukan dialog," ujar Syafa.

"Transformasi terjadi ketika Anda mau diperkaya oleh orang lain. Di situ
harus ada self-criticism, ada dorongan mengkritisi diri sendiri. Juga,
kerendahan hati. Itu berkaitan. Bukan hanya dengan agama lain
(interreligious), melainkan juga di dalam agama yang sama (intrareligious).
Pengalaman saya, yang intra itu lebih sulit."

Religius sekaligus abai

Kritik diri bukan hal mudah, begitu ditegaskan Syafa. Dari buku dan survei
terungkap, religious ignorance hampir umum terjadi. "Sederhananya, orang
sudah nyaman dengan hanya sedikit atau bahkan tidak paham pengetahuan
tentang agama sendiri, apalagi agama orang lain," ujar Syafa, "Orang Amerika
dikenal religius but at the same time ignorant."

Maksudnya?

Menurut teolog Friedrich von Huegel dan pakar mistisisme, Gershom Scholem,
semua agama punya tiga elemen. Hal itu adalah historis-institusional
(fisiknya, umatnya, doktrinnya), intelektual yang berasosiasi dengan pikiran
(reason), dan mistikal yang membimbing atau menunjuk pada keinginan dan
perbuatan cinta. Ketiga elemen itu harus dalam hubungan harmonis. Kalau
hanya menekankan salah satu aspek dalam kehidupan beragama, problem akan
terjadi.

Mungkin ini juga terjadi di Indonesia. Kita suka yang historis
institusional, sementara aspek intelektual dan mistikalnya tidak
dikembangkan. Dalam semua agama, ritual akan menjadi empty cell kalau tak
ada mistikal dan spiritualnya. Para sufi itu juga melakukan ritual. Kalau
kita shalat digigit nyamuk masih terasa, dalam sejarahnya, para sufi, tak
merasa apa pun, bahkan ketika anak panah yang menancap di tubuhnya dicabut.

Islam yang masuk ke Indonesia sebenarnya lebih mistikal, yang melampaui
teks, menukik menuju esensi. Kita memiliki tradisi yang indah dalam semua
agama.

Jadi apa persoalannya saat ini?

Kesadaran. Dalam buku saya (When Mystic Masters Meet: Towards a New Matrix
for Christian-Muslim Dialogue, 2011), saya jelaskan, ketika diyakini hanya
ada satu jalan untuk sampai ke Tuhan, itu namanya melekat atau attach.
Eckhart (filsuf, teolog, mistikus Kristiani abad ke-11-12 ) bilang, getting
the way, and missing God. Kita ributnya di 'the way'. Jalan menuju Tuhan
itu, kata Ibn 'Arabi (mistikus Sufi, filsuf abad ke-10-11) sama banyaknya
dengan the breath of human being. Kalau yang dikembangkan tak hanya historis
institusional, kehidupan ini akan lebih harmonis. Itu juga self criticism
buat kita.

Bisa lebih dijelaskan? 

Ucapan manusia saja bisa diinterpretasikan macam-macam, apalagi kitab suci
bahasa Arab, juga kitab suci lainnya. Ibn 'Arabi mengatakan, kata saja di
dalam Al Quran, belum ayat, belum surah, punya makna tak terbatas dan
semuanya dikehendaki Tuhan. (Pemaknaan) Al Quran itu sebenarnya seperti
lautan tanpa tepi.

Sufi besar abad ke-10, Al-Junayd, mengatakan, the color of the water is the
color of its container, makna yang ditangkap bergantung pada kapasitas yang
menangkap, kesiapan kita, pengalaman kita, konteks ketika kita ada dan
perkembangan ilmu ketika kita memahami kitab suci itu. Yang diperbarui bukan
agamanya, bukan kitab sucinya, melainkan the mind and the eyes yang membaca,
yang sudah diperkaya oleh ilmu dan pengalaman yang lain. Pasti berbeda
ketika saya membaca di pondok dengan sekarang. Kalau masih sama, berarti ada
yang keliru.

Cinta, cinta...

Kepada mahasiswanya di AS, Syafa menjelaskan, Islam tidak monolitik. Dengan
pendekatan fenomenologis, dia menjelaskan perbedaan Islam di Indonesia dari
Islam di Timur Tengah.

Kepada mahasiswa yang mengenal Islam hanya dengan penekanan konflik,
dijelaskan bahwa konflik tak bisa digeneralisasi. Yang terjadi di Thailand
berbeda dengan di Filipina. Di Filipina, kelompok Abu Sayyaf berbeda dengan
yang lain. Ada masalah penindasan, jadi tak semua (konflik) merupakan
respons teroris.

Melalui metode diskusi dan dialog, setelah memberi tugas membaca beberapa
literatur selama seminggu, Syafa menuntun mahasiswa untuk sampai pada
pemahaman tentang self-criticism. "Tidak mudah, tetapi yang saya suka,
mahasiswa lalu mencobanya dengan pengalaman mereka dalam tradisi agama
masing-masing."

Salah satu cita-cita Syafa adalah mengembangkan model beragama yang sehat.
Ia selalu mencari jalan bagaimana mengubah metode dakwah. "Zaman kita kecil
ditakut-takuti dengan neraka, dengan titian sehelai rambut dibelah tujuh.
Kalau yang kita contohkan hal-hal seperti itu, ya ngeri," ujar Syafa.

Jadi?

Tuhan bilang, Kasih-Ku mendahului marah-Ku. Kenapa bukan kasih yang
didahulukan, bukan hukuman. Kalau hendak memulai sesuatu kan kita
mengucapkan "Bismillaahir rahmaanir rahiim". Kalau awalnya sudah dengan ar
rahman ar rahim, kenapa lalu harus pakai yang keras. Saya selalu sarankan,
yuk kita ngaji lagi, loving, loving, loving, dan itu lebih sehat. Ahli
neuroscience dan kajian agama, Andrew Newberg, mengatakan, model beragama
seperti itu (dengan loving) bisa menata otak.

Kebaikan, kebaikan

Meski keragaman agama, budaya, etnis, bahasa, dan lain-lain merupakan
realitas eksistensial, memberikan pemahaman tentang keberagaman bukan hal
mudah.

Suatu saat, ketika anaknya masih kecil, para tetangga yang melihat di meja
kerjanya banyak bacaan Kristen dan Buddha bertanya kepada sang anak, 'Mama
kamu itu gimana?' Padahal, Syafa memang mengajar perbandingan agama.

Pernah juga sepulang sekolah anaknya bertanya, 'Ma, apa betul yang masuk
surga hanya kita? Begitu kata guru'. "Dia seperti tak bisa terima karena ia
mengenal para biku dan romo yang sangat baik. Saya jelaskan, surga atau
neraka bukan urusan gurumu. Yang terpenting bagi kamu adalah berbuat baik
terhadap sesama manusia."

Banyak juga yang pengalamannya hanya within their own. Di AS ia bertemu
mahasiswa Katolik dari Thailand yang mengaku belum pernah ketemu orang non-
Kristen. Padahal, mayoritas di Thailand beragama Buddha.

"Jadi, memang tak mudah karena banyak juga orang yang tak mau bertemu dengan
orang lain. Ada tokoh yang mengatakan, jika hanya tahu satu agama,
sebetulnya tidak tahu apa-apa. Diktum ini sangat bermakna. Kalau kita tidak
memahami tetangga kita, sebetulnya kita tidak memahami diri sendiri,"
ungkapnya.

Dialog antaragama terus dilakukan, tetapi mengapa konflik terus terjadi?

Karena yang berdialog adalah orang yang sudah paham, tetapi persoalannya tak
hanya itu. Orang yang diajak dialog itu tidak mewakili komunitasnya. Pak
Mukti Ali (Menteri Agama 1971-1978) pernah menawarkan untuk membawa
orang-orang dari lingkungan yang homogen ke dunia yang penuh keberagaman.

Saya kira persoalan yang kita hadapi tak sepenuhnya masalah agama sehingga
tak bisa diselesaikan dengan mengumpulkan para tokoh agama. Ada faktor
sosial-politik-ekonomi, khususnya kemiskinan. Bagaimana mau bicara tentang
Tuhan dan berdialog kalau perut lapar dan hidup susah. Dari situ saya
belajar tentang teologi harapan. Semua butuh waktu dan tidak mudah.

Bagaimana dengan solidaritas yang makin tersegregasi?

Yang lebih utama adalah kemanusiaan, siapa pun orang dan labelnya. Tuhan
saja berfirman, Wa laqad karamna bani Adam, artinya Kami telah memuliakan
anak Adam. Jadi, tidak dikatakan memuliakan umat ini atau itu, tetapi
manusianya

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke