http://www.indrapiliang.com/2012/09/24/kebangkitan-politikus-humanis/

Kebangkitan Politikus Humanis 
 
KORAN JAKARTA/GANDJAR DEWA
Kemenangan Jokowi-Basuki atas Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli 
dalam pemilihan langsung kepala daerah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota 
Jakarta membuat banyak kejutan. Kejutan itu bukan saja dari ketangguhan 
Jokowi-Basuki dalam putaran pertama, melainkan juga mempertahankannya 
dalam putaran kedua. Publik nasional dihentak dengan kemunculan Jokowi 
dan Basuki yang seakan sulit dibendung. 

Pihak pertama yang 
menjadi kambing hitam kekalahan Foke-Nara adalah partai politik. 
Padahal, jauh-jauh hari, lembaga survei sudah menunjukkan keterkaitan 
pemilih dengan partai politik (party id) hanya sekitar 20 persen secara 
nasional. Dengan party id yang kecil itu, ada 80 persen pemilih yang 
merasa independen dari partai politik (parpol) mana pun. Parpol hanyalah
 pihak yang mengusung pasangan calon, tetapi bukan identitas yang bisa 
menggerakkan pemilih. 

Ketika Foke-Nara mengambil dukungan dari 
seluruh partai besar di luar parpol pengusung Jokowi-Basuki, satu 
kesalahan besar sudah dilakukan. Apalagi citra parpol sedang menurun. 
Kehadiran banyak pernyataan dari politisi lintas partai untuk Foke-Nara,
 membawa jarak tersendiri dengan pemilih, terutama pemilih rasional yang
 banyak di Jakarta. Hal inilah yang kemudian memicu kampanye gajah 
versus semut, sebagaimana PDI Perjuangan menggunakan istilah "wong 
cilik' jelang pemilu 1999. 

Sebagai kota Metropolitan atau pasca 
moderen, pemilih di Jakarta jauh lebih sulit untuk diyakinkan, ketimbang
 pemilih di provinsi lain. Jakarta selalu memilih pemenang berbeda dalam
 setiap kali pemilu, sejak tahun 1955. Sebagai contoh, pemenang pemilu 
1997 (Golkar), 1999 (PDI Perjuangan), 2004 (PKS), dan 2009 (Partai 
Demokrat). Sutiyoso saja hampir gagal menjadi Gubernur DKI untuk periode
 kedua (2002-2007), akibat penolakan yang masif dari massa PDI 
Perjuangan. Hanya "pemaksaan" dari Presiden Megawati Soekarnoputri yang 
membuat pelantikan Sutiyoso menjadi terlaksana. Akibat lanjutnya? Warga 
DKI menghukum PDI Perjuangan dalam pemilu 2004. 

*** 

Perbedaan
 pilihan politik dari waktu ke waktu itu menunjukkan bahwa pemilih 
Jakarta mengalami kebosanan yang cepat terhadap pemimpin formalnya. 
Popularitas seseorang atau parpol bisa dengan cepat naik, namun 
sebaliknya juga dengan mudah turun. Tuntutan perbaikan fasilitas umum 
dan fasilitas sosial terjadi sepanjang hari. Ketika sedikit saja 
terlihat kepentingan elite bermain, pemilih Jakarta langsung mengambil 
jarak. 

Kehadiran Jokowi, terutama, lalu Basuki, berikutnya, 
menjadi faktor penarik bagi warga DKI yang bosanan, kritis, dan apolitis
 ini. Magnetnya adalah sosok Jokowi yang terlihat biasa-biasa saja, 
dengan perawakan yang kurus, serta beberapa kali terlihat kesulitan 
untuk menjawab pertanyaan debat dengan cara yang cerdas. Jokowi lebih 
menonjol sisi kemanusiaannya, ketimbang keunggulan kandidat lain yang 
coba ditampilkan yang sudah banyak dilihat oleh masyarakat Jakarta. 

Fauzi
 Bowo justru sebaliknya, begitu juga Nachrowi Ramli. Sikap seolah-olah 
adalah penantang, bukan petahana, memberikan kesempatan kepada pemilih 
kritis untuk mengevaluasi kinerja Foke selama menjadi Gubernur DKI. 
Ketika Foke mencoba melakukan kampanye darat dengan cara banyak masuk ke
 pasar, satu hal segera tampak bahwa Foke bukanlah Jokowi dan Jokowi 
bukanlah Foke. Diferensiasi yang semakin tebal itu memicu simpati kepada
 Jokowi, sebaliknya antipati kepada Foke. Di media sosial, sentimen 
negatif terhadap Foke-Nara selalu lebih dominan, daripada sentimen 
positif. 

Sisi humanisme Jokowi juga berhasil dipelihara para tim
 suksesnya. Jokowi dilepaskan tampil apa adanya, tanpa polesan. Kadang 
Jokowi menggaruk kepala ketika tidak tahu angka yang tepat dari sebuah 
pertanyaan. Sikap yang khas masyarakat biasa. Jokowi juga tidak 
tiba-tiba menjadi serba tahu segalanya, tetapi bersemangat untuk mencari
 tahu dan melakukan pembenahan. Ide-ide yang kena juga dimasukkan, 
misalnya dengan cara lebih dulu membangun perkampungan, ketimbang daerah
 lain di DKI. 

*** 

Tetapi
 Foke bukan tanpa perlawanan. Bagi seorang petahana yang sudah berada di
 bawah angka 50 persen dalam survei, memang sulit untuk mempertahankan 
posisinya. Ini argumen mati bagi seorang konsultan politik mana pun. 
Tidak ada satu pun lembaga survei yang mengatakan Foke akan memenangkan 
pilkada putaran pertama dan kedua di atas angka 50 persen. Secara 
otomatis, angka psikologis itulah yang sulit mengangkat lagi Foke untuk 
jabatan kedua kalinya. 

Penggemaan isu SARA dalam pilkada putaran
 kedua, justru pilihan yang salah, siapa pun yang mencanangkannya. 
Pemilih rasional sulit dibidik dengan isu SARA. Dengan adanya isu SARA, 
justru kampanye program menjadi tertutupi. Spanduk-spanduk "Terima Kasih
 Gubernur" terlambat keluar. Padahal itulah yang sesungguhnya cara untuk
 membalik politik imajinasi dan pencitraan, lalu membentenginya dengan 
angka-angka. Dengan tingkat pendidikan rata-rata penduduk Jakarta yang 
di atas rata-rata nasional, justru kampanye program jauh lebih efektif, 
ketimbang isu SARA yang sudah menjadi identitas personal, ketimbang 
kolektif. 

Lalu, bagaimana wajah pemerintahan DKI Jakarta ke 
depan? Tidak jauh dari itu. Jokowi lebih banyak didukung pemilih kritis 
dan berpendidikan tinggi, ketimbang Foke. Pemilih kritis tabiatnya 
bukanlah pemilih yang loyal. Pemilih kritis cepat sekali berubah, ketika
 performa, kinerja dan konduite Jokowi tidak banyak berubah daripada 
Foke. Di sinilah beban yang sebenarnya, bagi siapa pun yang memimpin 
Jakarta. 

Jokowi memang harus membuktikan diri sebagai Ali 
Sadikin Kedua atau Jusuf Kalla dalam wujud Gubernur DKI. Tanpa 
prestasi-prestasi kecil, menengah dan besar, sulit bagi Jokowi untuk 
terus mendapat dukungan warga. Jokowi patut menunjukkan identitas 
personal yang kuat, sebagai manusia yang memang mampu membawa perubahan.
 Kalau tidak, hukuman warga DKI akan kembali terulang, sebagaimana 
terjadi dalam pilkada atau pemilu sebelumnya. 

Oleh Indra J Piliang
Penulis adalah Dewan Penasihat The Indonesian Institute

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke