http://www.indrapiliang.com/2012/09/28/fauzi-bowo-dan-kota/ Fauzi Bowo dan Kota Jumat, 28 September 2012Fauzi Bowo dan Kota
oleh Indra J Piliang Ketua Dewan Pendiri Yayasan Harkat Bangsa Indonesia Ada kejutan dalam pemilihan langsung gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta tahun ini. Fauzi Bowo sebagai incumbent dikalahkan oleh Jokowi, Walikota Solo. Kekalahan terbesar sepanjang sejarah pilkada di Indonesia, apalagi untuk posisi Gubernur DKI yang prestisius. Walau DKI memang dipenuhi dengan kejutan demi kejutan politik, tetap saja kekalahan layak diberi catatan. Foke mengandalkan koalisi partai-partai politik dalam pilkada 2007. Waktu itu, Foke menghadapi Adang Dorodjatun. Faktor Calon Waki Gubernur Prijanto dianggap menjadi kunci, mengingat Prijanto berasal dari Angkatan Darat. Berbeda dengan Adang yang merupakan mantan Wakapolri. Namun, setelah terpilih, Foke terlihat biasa-biasa saja, malahan mendekati pilkada 2012 berseteru dengan Prijanto. Menurut hasil survei setahun sebelum pilkada DKI, posisi Foke tidak aman. Sosok yang mendekati Foke adalah Rano Karno dan Tantowi Yahya. Ada juga nama Djan Faridz, namun tidak terlalu populer. Ketika Rano Karno memutuskan maju sebagai Calon Wakil Gubernur Banten, lalu Djan Faridz menjadi menteri, Foke tinggal berhadapan dengan Tantowi. Sayangnya, Tantowi tidak mendapatkan dukungan dari partai-partai politik, sehingga tidak jadi mendaftar. Apalagi, Tantowi terjegal putusan Rapimnas II Partai Golkar yang memberi sanksi pelepasan jabatan struktural dan fungsional di Partai Golkar, apabila maju bukan lewat jalur Partai Golkar. Setelah Rano Karno dan Tantowi Yahya keluar dari list bakal calon, Foke tampak sendirian di atas. Namun, elektabilitas Foke tidak pernah mencapai angka 50% menurut survei. Dalam teori pemasaran politik, apabila posisi seorang incumbent berada di bawah angka 50%, berarti bisa dikalahkan. Dari sinilah tampil Cyrus Network di bawah pimpinan Hasan Nasbi yang melakukan kerja serius, dengan cara mencari sejumlah nama yang bisa dimajukan untuk mengalahkan Foke. Fadel Muhammad, Jokowi dan Azis Syamsuddin sempat muncul sebagai sosok alternatif. Proses politik kemudian membawa nama Jokowi sebagai penantang Foke. *** Dari sisi strategi kewilayahan, Foke sebetulnya mampu mengamankan posisinya. Hampir semua kandidat lain yang mencoba membangun reputasi di DKI Jakarta rontok. Cengkeraman Foke juga kuat ke infrastruktur pemerintahan. Masalahnya, Foke terlalu banyak bermain di level elite. Kerja politik yang sebenarnya di tengah masyarakat DKI yang menjadi pemilik suara, terlambat dilakukan. Foke berada di awang-awang, dalam baliho-baliho besar. Bahkan, penulis sempat memotret baliho raksasa Foke yang menutupi gedung Pemda DKI. Foke, seperti diakuinya, juga tidak memaksimalkan kerja kehumasan. Ketika banyak coretan nyinyir di tiang-tiang monorel di Jalan Rasuna Said, Foke tidak memberikan jawaban. Persepsi segera terbentuk, Foke menelantarkan sebuah proyek yang bisa mengurangi kemacetan. Walau dalam masa kampanye masalah ini dijelaskan sebagai milik swasta, tetapi persepsi tetap saja sudah terbentuk, seperti masalah Lapindo yang selalu saja dikaitkan dengan Aburizal Bakrie sebagai kepala keluarga besar Bakrie. Sebutan terhadap "macet" juga diganti menjadi "foke" oleh kelas menengah Jakarta. Lagi-lagi, Foke terlambat melakukan antisipasi langsung. Catatan prestasi Foke gagal dimunculkan, sehingga yang tersisa hanya sentimen negatif yang terus-menerus dan beranak pinak. Akibatnya, Foke tidak lagi menjadi magnet bagi partai-partai politik dan terpaksa bertarung di rumahnya sendiri, Partai Demokrat, berebut tiket dengan Nachrowi Ramli. Walau kemudian jadi pilihan, konspirasi elite lebih terbangun, ketimbang kerja riil dan dukungan di masyarakat. Pembangunan pusat-pusat perbelanjaan dalam skala raksasa, malah jadi biang masalah di masyarakat bawah, terutama bagi pedagang kaki lima. Crisis Center sama sekali tidak bekerja, ketika muncul para pedagang yang kehilangan lapaknya di Tanah Abang dan pasar-pasar lain yang digusur. Rusa yang kelaparan di Monas, jadi ajang pawai keprihatinan kelas menengah kota terutama kelompok perempuan. Kekerasan ormas dan premanisme, menjadi ajang pertengkaran di social media. Pajak warteg menjadi ajang keprihatinan kelas menengah atas yang bahkan jarang makan di warteg. Belum lagi kasus makam Mbah Priok. *** Bukan berarti Foke tanpa prestasi. Masalahnya, masyarakat DKI tidak tahu apa prestasi Foke itu. Jusuf Kalla jauh lebih berhasil menjelaskan prestasi selama menjadi Wakil Presiden 2004-2009, ketika maju dalam Pilpres 2009. Perjudian yang menghilang di Jakarta, misalnya, adalah salah satu kerja Foke, sekalipun juga ada kontribusi pihak lain. Semakin kecilnya jumlah kampung-kampung padat dan kumuh, juga menjadi bagian dari prestasi Foke. Foke juga mampu mengurangi tingkat urbanisasi ke DKI Jakarta, walau ini juga bisa dicatat sebagai bentuk dari semakin sedikitnya pekerjaan di sektor informal. Pasca pelantikan Jokowi nanti, sebaiknya Foke membangun semacam Fauzi Bowo Institute guna mencatat segala pengalamannya di DKI Jakarta. Foke adalah pamong senior yang sejak muda sudah bergabung dalam jajaran Pegawai Negeri Sipil di DKI Jakarta, selama lebih dari 30 tahun. Status sebagai doktor lulusan Jerman juga menjadi penting, dalam membangun kota-kota di Indonesia. Kesempatan emas inilah yang layak diraih Foke, ketimbang bergabung lagi di pemerintahan dalam posisi menteri sekalipun. Indonesia adalah negara yang semakin banyak penduduknya tinggal di perkotaan. Sejumlah kota juga sedang tumbuh, baik di Jawa, maupun di luar Pulau Jawa. Dengan waktu, pengalaman, jaringan dan dana yang dimiliki, Foke bisa saja menjadikan dirinya sebagai ahli tata kota dan arsitektur kota yang sebenarnya. "Serahkan Pada Ahlinya" sebagai slogan kampanye Foke pada tahun 2007, bisa menjadi salah satu pertaruhan Foke dalam mengisi masa pensiunnya. Sebab, agak sulit membayangkan Foke tanpa Kota. Foke adalah Kota, Kota adalah Foke, sebagaimana pengalaman yang ditempuh selama berkiprah di DKI Jakarta. Dengan kerja yang terlepas dari posisi pengambil keputusan, Foke justru sedang memelihara basis politiknya dan menunjukkan karakter pribadinya sendiri. Masyarakat Jakarta yang terbelah suaranya, tentu memerlukan figur yang terus menjaga aspirasi itu, tetapi dalam bentuk yang lebih akademik dan independen. Kemunculan Foke dalam wajah baru itu, tentulah memberikan manfaat bagi bangsa Indonesia. Tidak semua orang harus duduk di pemerintahan. Apalagi yang memiliki pengalaman di birokrasi dan dunia akademik seperti Foke. Dengan nuansa akademis yang kuat, berikut hasil-hasil pemikiran, riset dan kajian yang dilakukan, Fauzi Bowo Institute tentulah menjadi alternatif bagi penyelesaian masalah kota-kota di Indonesia, khususnya DKI Jakarta. Terima kasih, Bang Foke, apapun prestasi anda selama ini. Satu putaran pengabdian lagi, mengapa tidak? -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
