~~."IJP".~~

-----Original Message-----
From: Indra Jaya Piliang <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 1 Oct 2012 04:15:04 
To: Lisi<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [LISI] Gestok dan Masa Depan Dendam

http://www.indrapiliang.com/2012/10/01/gestok-dan-masa-depan-dendam/


Gestok dan Masa Depan Dendam
Oleh

Indra J Piliang
Alumnus Jurusan Ilmu Sejarah UI

Gerakan 1 Oktober 1965 (Gestok) belum sepopuler Gerakan 30 September 1965 
(Gestapu atau G 30 S). Pada era Orde Baru, G30S ini mendapatkan tambahan lain, 
yakni Partai Komunis Indonesia (PKI) atau terbiasa disingkat menjadi G30S/PKI. 
Doktrin bahwa politik itu jahat, baik politik kaum kiri atau kaum kanan, selalu 
didengungkan. Kasus-kasus “pemberontakan” daerah juga selalu diungkap, sebagai 
serangan terhadap negara kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila. 

Belum lagi bisik-bisik tentang Soekarno. Soekarno terasa begitu jauh, seperti 
bukan proklamator. Saya pernah mendengar cerita di masa kecil, bahwa ketika 
jenazah Bung Karno dipindahkan, terlihat gosong. Sebagai generasi yang 
dilahirkan, sekolah dan kuliah di era Orde Baru, terasa sekali betapa mimpi 
kanak-kanak dan remaja saya terasa buruk membayangkan sejarah kejatuhan rezim 
Orde Lama, digantikan dengan rezim Orde Baru. Kurawa adalah Orde Lama, Pandawa 
adalah Orde Baru. 

Saya pertama kali diwajibkan menonton film G30S/PKI di bioskop Karia, Padang 
Panjang. Waktu itu saya kelas 5 Sekolah Dasar (sekitar tahun 1984). Kami 
diwajibkan menyumbang sebesar Rp. 50,- per orang. Dengan berpakaian sekolah, 
kami dituntun masuk ke bioskop, lalu menyaksikan film itu. Saya waktu itu 
sekolah di SD No 2 Air Angat, Kecamatan X Koto, Tanah Datar. Bukan hanya film 
itu yang kami tonton, karena dalam kesempatan berikutnya, ada film Janur Kuning 
dan film-film patriotis lainnnya. 

Baru setelah kuliah saya mulai mencari tahu apa yang terjadi dengan G30S/PKI. 
Cerita lebih banyak didapatkan dari kisah-kisah yang dialami para dosen, 
termasuk alumni Ilmu Sejarah FSUI, Soe Hok Gie dalam catatan hariannya. Para 
senior juga membagikan kisah secara sendiri-sendiri, mengingat kedekatan dengan 
para tokoh tertentu, termasuk sejarawan di luar negeri, para narapidana di 
penjara atau kelompok pergerakan pada umumnya. Semakin lama kuliah, semakin 
terdapat perbedaan pandangan di komunitas kaum akademis di kampus. Soalnya, di 
luar kampus, terjadi sejumlah dinamika politik yang berimbas ke kampus, seperti 
tuduhan soal “Organisasi Tanpa Bentuk” dan sebagainya. Para aktor mahasiswa 
1966 juga semakin banyak yang datang ke kampus, membagikan kisah masing-masing. 

*** 

30 tahun setelah Gestok, mestinya dokumen-dokumen resmi yang disimpan negara 
sudah bisa dibuka. Itu artinya tahun 1995. Batas usia dokumen itu belum banyak 
dibicarakan, sehingga publik dengan leluasa bisa membaca apapun, termasuk 
dokumen-dokumen (tanpa) pengadilan bagi mereka yang dipenjarakan akibat 
(dinyatakan) terkait dengan Peristiwa Gestok. Belum lagi orang-orang yang 
memiliki cap tersendiri di KTP mereka. Hanya saja, perhatian tidaklah kesana. 

Yang lebih mengenaskan, terdapat banyak orang di Indonesia yang diketahui 
sebagai PKI oleh masyarakat umum, begitupula dengan desa, kampung, dusun dan 
nagari. Pembicaraan itu muncul kapan saja. Ucapan “Kakek kamu PKI” atau “Orang 
Kampung Kamu PKI” dengan mudah ditemukan di masyarakat. Kalau ada daerah yang 
tertinggal, lalu masyarakatnya menuntut, langsung cap PKI muncul. Kalau ada 
aksi protes yang dilakukan, misalnya aksi buruh ataupun aksi masyarakat yang 
menuntut pergantian lahan, cap PKI dengan cepat menyelesaikan masalah. Tentu 
bukan hanya PKI (ekstrim kiri), melainkan juga DI-TII (ekstrim kanan) dan atau 
OTB (ekstrim lainnya). 

Mata pelajaran utama untuk membahas masalah ini adalah PSPB (Pendidikan Sejarah 
Perjuangan Bangsa), PMP (Pendidikan Moral Pancasila), P4 (Pedoman Penghayatan 
dan Pengamalan Pancasila) atau Kewiraan. Naik kelas atau pindah jenjang 
pendidikan, berarti mendapatkan mata pelajaran itu. Ketika contoh-contoh 
disebutkan, maka yang paling utama muncul adalah kisah G30S/PKI itu. Belum lagi 
pendidikan di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) yang diikuti pelbagai 
kalangan. Saya termasuk yang menempuh pendidikan di Lemhannas itu, ketika masih 
menjadi aktivis Senat Mahasiswa Universitas Indonesia. 

Masalahnya, pasca reformasi, G30S atau Gestok ini sudah lepas di masyarakat 
sebagai sesuatu yang mudah dibicarakan, dengan beragam sumber masing-masing. 
Lembaga BP7 sudah dibubarkan. Masyarakat menafsirkan sendiri versi 
masing-masing atas Gestok, termasuk lewat penerbitan beragam judul buku, foto 
dan dokumen. Informasi digali secara sendiri-sendiri. Versi negara atas Gestok 
hampir tidak ada lagi. Pihak mana yang jadi Kurawa atau Pandawa, sama sekali 
tergantung kepada pikiran masing-masing. 

Yang semakin jelas adalah kisah pergerakan pasukan dalam peristiwa Gestok itu. 
Pasukan itu berarti aparatur (pertahanan dan keamanan) negara. Baik jenderal 
yang dibunuh atau yang kemudian beroperasi menumpas PKI, berasal dari 
kesatuan-kesatuan TNI. Dari sisi kepartaian, PKI menempati urutan ke-4 pada 
pemilu 1955, padahal sudah dilumpuhkan pada tahun 1948 lewat apa yang disebut 
sebagai Peristiwa Madiun. 20 tahun setelah pemilu 1955, PKI menjadi kuat, 
tetapi tanpa ada pemilu berikutnya. Tuntutan terhadap penyelenggaraan pemilu 
hampir tidak terdengar, kecuali adanya keinginan membentuk Angkatan Kelima. 
Padahal, kekuatan politik tanpa pemilu sulit diukur, mengingat menjelang pemilu 
1955, ada sejumlah partai yang dianggap besar, namun keropos, seperti Partai 
Sosialis Indonesia (PSI). 

*** 

Bagi generasi sekarang, Gestok hanyalah bagian dari sejarah dendam antar pihak. 
Masalahnya, apakah dendam itu terus-menerus mau diabadikan dan diwariskan, 
ataukah hendak dibuang guna berangkat menuju keadaan yang lebih baik? Gestok 
menjadi berdarah, kian berdarah, ketika dipertontonkan sebagai kejahatan 
kemanusiaan yang paling besar sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Pendekatan 
dan perspektif apapun bisa saja digunakan, tetapi dari sisi tujuan, hendaknya 
terus disertai pertanyaan: mau menuju kemana seluruh rangka manusia yang 
menjadi korban dalam peristiwa Gestok dan sesudahnya? 

Pelbagai negara menyelesaikan masalah dalam masa lalunya dengan beragam cara. 
Kita bisa belajar banyak kepada China yang juga menyimpan riwayat korban dalam 
jumlah banyak, dalam era Mao Zedong (Mao tse-Tung) (1893-1976) atau Deng 
Xiaoping (1904-1997). Ada juga riwayat Polpot (1925-1998) di Kamboja. Amerika 
Serikat juga pernah terjebak dalam perang saudara (1861-1865). Begitupun 
peristiwa Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (1939-1945). Belum 
lagi apa yang dikenal sebagai Perang Salib I (1095-1099), Perang Salib II 
(1145-1149), hingga Perang Salib IX (1271-1272). 

Dalam sejarah kemanusiaan, peristiwa-peristiwa seperti itu kembali muncul ke 
permukaan, dalam bentuk aksi-aksi propaganda, diplomasi, kesenian, film, sampai 
hacker, perang baru dan terorisme. Gestok sebagai catatan sejarah, menyimpan 
banyak duka dan luka, baik bagi pihak yang menang, apalagi pihak yang kalah. 
Dimensi kemanusiaan menjadi hilang, walaupun muncul, sisi dendamnya yang paling 
utama dan bagaimana cara membalasnya. Untuk masyarakat majemuk Indonesia, 
keadaan ini ditambah dengan masalah lain, seperti etnosentrisme, etno 
nasionalisme, sampai kisah-kisah (perang) antar kerajaan di masa lalu. 

Sebagai sebuah pembicaraan, selayaknya Gestok dilihat dalam perspektif masa 
lalu itu, lalu dikaitkan dengan situasi masa kini yang barangkali serupa tetapi 
tidak sama. Bagaimana keterlibatan pihak asing di Indonesia sekarang? Adakah 
gejala perebutan kekuasaan di kalangan penyelenggara negara? Bagian mana yang 
paling penting dalam kehidupan politik, ekonomi dan sosial dewasa ini? Dari 
sisi etnografis dan asal kesatuan, sudahkah terjadi pemerataan peranan, 
sehingga tidak memunculkan sengketa akibat sentimen asal kesatuan, faksi 
ataupun kepentingan politik?

Sudah selayaknya dendam dihapus dalam menata sejarah masa depan Indonesia.

Jakarta, 1 Oktober 2012.

·    Catatan pengantar untuk diskusi di Universitas Paramadina, Jalan Gatot 
Subroto, Jakarta. 

[Non-text portions of this message have been removed]


-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke