http://www.indrapiliang.com/2012/10/02/debat-versus-debat/
Selasa, 2 October 2012
Debat Versus Debat
oleh
Indra J Piliang
Ketua Balitbang DPP Partai Golkar
Debat
adalah cara untuk mempertahankan argumen sendiri dengan benteng
pemikiran, lalu melukai atau membunuh argumen lawan. Debat adalah metode
untuk menunjukkan perbedaan demi perbedaan dalam pilihan filsafat,
ideologi, teknologi sampai kebijakan, aturan dan pilihan kata. Tanpa
debat, substansi menjadi hilang, diselewengkan oleh apa yang dikenal
sebagai politik pencitraan berdasarkan apa yang melekat dalam diri
seseorang. Sebut saja suku, agama, ras, antar golongan, jumlah kekayaan,
asal keturunan, sampai apapun yang bisa dijadikan sebagai perbedaan.
Belakangan
ini, kita semakin sering menyaksikan debat di layar televisi. Debat
yang paling besar adalah menjelang waktu pemilihan presiden dan wakil
presiden. Debat lain adalah tatkala pemilihan kepala-kepala daerah, baik
di tingkat provinsi, kabupaten dan kota. Dalam warna yang berbeda,
debat sudah berlangsung dalam pemilihan pimpinan organisasi mahasiswa
ekstra dan intra kampus pada tahun 1990-an. Ketika mencalonkan diri
dalam pemilihan Ketua Senat Mahasiswa Universitas Indonesia tahun 1995,
saya juga terlibat dalam sejumlah debat yang dihelat di setiap fakultas
dan Balairung UI, Depok.
Minimal, terdapat lima unsur yang terlibat dalam debat.
* Pertama, kandidat sendiri yang sedang menjalankan debat.
* Kedua, moderator debat, biasanya diambil dari jurnalis televisi atau
radio.
* Ketiga, panelis, yakni (sejumlah) orang yang dianggap memiliki
keahlian di bidang yang diperdebatkan.
* Keempat, massa atau supporter masing-masing kandidat yang
menyemarakkan debat dengan yel-yel atau slogan.
* Kelima, media massa yang menayangkan debat secara live atau rekaman.
Tidak
semua kandidat mampu berdebat dengan baik. Mayoritas malah menilai
debat tidak berguna dalam meningkatkan elektabilitas. Memang, lembaga
survei sendiri tidak menempatkan debat sebagai salah satu faktor yang
menyebabkan seseorang memilih atau tidak. Bagai pertandingan sepakbola,
masing-masing penonton adalah fans yang ingin melihat kandidatnya
menang, tetapi tidak berpindah pilihan ketika kandidatnya kalah dalam
debat.
Tetapi jangan lupa, publik memiliki ingatan dan
rekaman. Kandidat yang siap, bisa melempatkan penggalan-penggalan
kalimat yang langsung bisa menjadi trend setter pemberitaan. Pidato Barack
Obama, misalnya, langsung bisa di-tweet, karena dikemas kurang dari 140
karakter. Psikologi pemilih juga belum tentu mengarah ke pemenang debat,
apabilabody language dan bahasa yang digunakan terlihat pongah. Kandidat yang
lebih
apresiatif terhadap lawan lebatnya, cenderung lebih didukung pemilih.
Moferator
debat juga kadang memiliki keterbatasan. Selain tidak menguasai
masalah, preferensi juga secara tidak sengaja muncul. Dalam talkshow (unjuk
bicara), bahkan preferensi ini semakin terlihat gamblang. Menurut kamus
jurnalistik, biasanya disebut sebagai agenda setting. Moderator seperti ini
cenderung membangun konstruksi media atas debat, bukan membiarkan
sendiri dengan menyerahkan kesimpulan kepada penonton. Bahkan, tidak
jarang moderator seakan penyidik yang jauh lebih pintar dari peserta
debat, sehingga mendominasi pembicaraan.
Kandidat yang
berpengalaman, layak untuk melepaskan diri dari kharisma moderator. Apa
yang ingin disampaikan, sampaikan. Kalau perlu, ajukan sedikit
pertanyaan kepada moderator untuk mencari sisi lemahnya, tetapi jangan
sampai juga menyalahkan moderator. Prinsipnya, walau terlihat arogan,
moderator tidak pernah salah, sebagaimana wasit dalam setiap
pertandingan sepakbola.
Begitu juga dengan panelis yang
mempersiapkan pertanyaan. Sering pertanyaannya terlalu bernilai
akademis, detil, menggurui, seolah peserta debat adalah calon penerima
beasiswa atau mahasiswa yang sedang mempertahankan tesis dan disertasi.
Panelis juga kurang mengaitkan debat dengan suasana kampanye, yakni agar
peserta debat dipilih oleh para penonton debat. Suasana tidak dibangun
ke arah posisi kandidat yang seolah sedang memerintah, lalu mengambil
keputusan berdasarkan posisinya untuk jabatan yang ingin diraih.
Kandidat
seyogianya tidak perlu terlalu memikirkan pertanyaan panelis, apalagi
kalau panelisnya seolah sedang menguji mahasiswanya. Saya pernah
membisikan kepada seorang kandidat Gubernur, apapun pertanyaan panelis
atau moderator, sampaikan poin yang lupa disampaikan. Tapi karena
kandidatnya belum terbiasa dengan kamera, tetap berposisi menjawab
pertanyaan moderator atau panelis. Suasana menjadi seperti tanya jawab,
bukan berkampanye kepada audiens yang menonton.
Supporter debat juga menjadi bagian yang membosankan. Emosi kadang mudah
dimainkan, sehingga memicu sikap antipati kepada kandidat lain dan tepuk tangan
untuk kandidat sendiri. Ibarat fans, perhatian juga mereka
tujukan kepada supporter lain. Sehingga dibutuhkan pengorganisasian tersendiri
atas supporter, sehingga mampu mempengaruhi jalannya debat, terutama bagi
kandidat untuk memberikan jawaban terbaik dalam debat. Seleksi atas supporter
memainkan peranan psikologis tersendiri bagi kandidat.
Kandidat tentu perlu mengatur sandiwara khusus dengan supporter. Jadi,
sebaiknya suporter diberi kesempatan melakukan gladiresik dengan kandidat,
sehinggachemistry terbangun. Jadi, publik melihat, kandidat bisa mengendalikan
supporternya, bahkan bisa memimpin massa itu, hanya dengan bahasa tubuh
tertentu. Yang namanya supporter, tugasnya hanya memberikan support,
sekaligus penyemangat.
Terakhir, media massa yang menayangkan debat. Di sini, unsur rating menjadi
penting, apabila debatnya benar-benar mampu menarik perhatian
penonton. Iklan-iklan di sela-sela debat, memberi nafas kepada publik,
tetapi sekaligus energi tambahan, apabila yang diiklankan adalah program
kampanye masing-masing kandidat. Beberapa kali iklan jauh lebih
diperhatikan, ketimbang substansi debat. Kesempatan yang sama untuk para
kandidat menayangkan iklannya, disertai dengan kemampuan kandidat untuk membeli
slot iklan yang disediakan.
Di sela iklan, kandidat
bisa berdiskusi dengan tim ahli yang mendampingi. Strategi baru
didiskusikan dan diputuskan, berdasarkan apa yang terjadi. Menyimak
jawaban kandidat lain tentu penting, sekaligus dari jawaban itu bisa
masuk memberikan pertanyaan, sanggahan atau malah sindiran. Tim ahli
yang mendampingi menjadi semacam tukang catat, sekaligus mata dan
telinga kandidat.
Dalam era yang semakin terbuka ini, debat
selayaknya semakin dibuat semenarik mungkin. Manajemen pemilu, pilpres
dan pilkada perlu diperbaiki. Para ahli dilibatkan, termasuk konsultan
debat, iklan dan psikologi massa. Debat idealnya diingat oleh pemilih,
sebagai alarm selama kandidat yang kemudian muncul sebagai pemenang.
Debat yang seperti ini, bisa memicu diskusi yang lebih panjang lagi,
sehingga politik menjadi semakin subtantif, tidak lagi transaksional
sepert yang sekarang dicemaskan.
Politisi moderen, selayaknya
muncul dari arena-arena debat, termasuk debat di dalam menjalankan
pemerintahan, baik di eksekutif, apalagi di legislatif. Sudahkah anda
siap untuk berdebat dan didebat? Jangan lupa, beristirahatlah dengan
baik sebelum jam debat dimulai. Tidur atau bermain bersama keluarga
adalah salah satu caranya. Tidak perlu memikirkan apa isi perdebatan,
sebelum debat sendiri dimulai.
Jakarta, 2 Oktober 2012
- Penulis adalah Juru Kampanye dan sekaligus Juru Debat Partai Golkar
dalam pemilu 2009 dan sekaligus Juru Bicara pasangan Capres-Cawapres
JK-Wiranto terbaik versi Charta Politika.
--
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/