Bismillahirrohmanirrohim��..
WARISAN
Eileen Rachman
& Sylvina Savitri
EXPERD
Personal
Growth & Soft Skills Training
(Ditayangkan
di KOMPAS, 2 Februari 2008)
Pembicaraan
terjadi antara saya dan arsitek kondang Tan Tjiang Ay, mengenai apa yang akan
kita tinggalkan, kalau kita �tutup buku�. Ketika saya mengatakan
bahwa sebagai arsitek, posisinya lebih mudah, karena yang akan
�ditinggalkan� nanti adalah hasil karya yang nyata dan teraga,
beliau pun membantah. Beliau lalu mengatakan bahwa yang ditinggalkan seorang
arsitek bukan benda mati seperti bangunannya, tetapi �legacy�-nya, yaitu dampak dan
kualitas positif yang bisa meng-inspire,
menjadi poros penyemangat bahkan landasan action
dan pola pikir bagi penerusnya. Pembicaraan jadi semakin seru dan berusaha
menjawab: �Apakah seseorang yang masih hidup perlu memikirkan apa yang
akan dia tinggalkan pada kematiannya, selain harta?� Orang yang cuek dan
tidak setuju, bisa saja malah memikirkan,�Apakah saya memang perlu
merancang apa yang akan saya nikmati ketika saya sudah di alam lain? Mati ya
mati��
Kita lihat
bahwa banyak tokoh dan ahli, yang hingga bertahun-tahun wafatnya masih
disebut-sebut jasa, pemikiran, teori, dan falsafahnya. Saya teringat
dalam pemakaman seorang tokoh pendidikan, penerusnya secara sederhana
mengatakan,�Beliau sudah meninggalkan spirit �kesejukan�
dalam organisasi kita, yang sebelum beliau menjabat, sering bertengkar dan
berselisih faham. Kultur inilah yang sampai sekarang kita jaga dalam
rapat-rapat dan cara berorganisasi.� Saya jadi teringat sebuah quote,�If you lead a meaningful life, you never really die�.
Mungkin ini yang dimaksud dengan �legacy�.
Tetapi, apakah �legacy�
hanya perlu dipikirkan oleh pemimpin besar, negara atau CEO
perusahaan-perusahaan beromzet trilyunan?
Secara
pribadi, konsep �legacy�
ini jadi berpengaruh dalam lamunan-lamunan saya. Yang jelas, memang banyak
orang yang punya keinginan untuk mewariskan spirit, enerji, visi, nilai dan berharap bahwa
ide-idenya, di kemudian hari tidak dianggap basi atau bahkan
�salah� oleh para penerusnya. Bukankah banyak
�kecanggihan� yang ditinggalkan oleh para tokoh dan ahli yang
sampai sekarang pun bisa kita implementasikan, kita jalankan, bahkan masih kita
kagumi, sehingga dunia, sepeninggalnya, malah jadi lebih baik?
�The Legacy you leave is the Legacy You Live�
Siapa sih yang
tidak ingin �nama� atau �nama perusahaan�-nya
me�legenda� secara harum dan positif? Kenyataannya banyak di antara
kita terutama para pemimpin atau manajer, karena kesibukan dan fokus pada masa
sekarang, tidak menyadari bahwa segala tindak-tanduk, strategi dan
kebijakan akan meninggalkan bekas. Bekas bisa positif tetapi bisa juga
membentuk dendam, kekalahan, kerugian, kekeroposan bahkan keterpurukan.
Berarti, di setiap tugas, kebijakan dan strategi kita, ada �Pe-eR�
tambahan, yaitu mempertanyakan apakah apa yang kita buat dan gariskan
sekarang akan �shape the future�
atau malah sebaliknya merugikan. Dengan pola pikir demikian, maka penerus atau
pengganti kita tidak perlu selalu mengganti �policy� atau bahkan merombaknya ketika baru menjabat,
karena justru bisa menggunakan bahkan ingin mengambil manfaat dan
meneruskan apa yang pernah kita bangun dan cita-citakan. Pemikiran ini juga
bisa membuat orang tidak �aji mumpung� ketika menjabat, karena ia
perlu berpikir panjang, tentang apa yang akan terjadi bila �Saya sudah
tidak di sini lagi�.
Legacy : Dampak dan Kualitas Positif yang tertinggal
Kita tahu
bahwa kita bisa menjadi lebih baik dengan belajar dari kesalahan masa lalu. Orang yang melihat ayahnya sering memukuli ibunya, bisa berjanji pada
dirinya untuk seumur hidup menghindari kekerasan. Kesalahan strategi yang
menyebabkan perusahaan merugi dan berhutang banyak, bisa jadi momentum
perbaikan bagi penerusnya agar lebih hati-hati dalam mengantisipasi dengan
menghindari kesalahan atau dosa-dosa lampau. Bahkan, banyak tokoh yang
melakukan kesalahan, mencetak kerugian tapi masih bisa dikenang nilai-nilai dan
faham positifnya. Meskipun kesalahan, kekhilafan dan kegagalan bisa menjadi
pemicu kehidupan yang lebih baik, namun itu bukanlah legacy.
Legacy adalah kualitas positif, spirit, penyemangat, nilai dan dampak positif
yang menjadi landasan kehidupan seterusnya yang lebih baik. Dampak yang
terlihat misalnya semakin pintarnya sekelompok manusia karena spirit belajar
dalam kelompok yang dibangun seorang tokoh seperti Ki Hajar Dewantoro,
semakin �hijau� dan produktif-nya lingkungan sehingga para
penerus bisa melanjutkan kualitas kehidupan yang lebih baik, atau semakin
kuatnya �self esteem� sekelompok orang sehingga mau dan giat
mengembangkan profesinya walaupun profesi tersebut �tidak ada
duitnya�.
Merancang legacy adalah Pilihan
Mewariskan
kekayaan �sampai tujuh turunan� tidak termasuk membuat legacy. Berarti terkadang membuat legacy lebih sulit daripada sekedar
mengumpulkan kekayaan supaya bisa menjadi warisan. Cara
kita hidup, berkata-kata dan mengambil esensi dari kualitas kehidupan, kemudian
men-�transfer�-nya kedalam kebijakan, peraturan dan sistemlah yang
perlu kita tata. Legacy yang kita turunkan juga akan menggambarkan visi dan obsesi kita selama
hidup. Semakin jelas visi dan kuat obsesi kita, semakin besar dampak nya.
Kalau kita berobsesi kuat agar lingkungan kerja bersih berintegritas, maka
tindakan, kata-kata kitapun akan ber�gaung� jauh ke depan. Kalau
kita ingin memajukan kaum nelayan, dan mati matian membuat kegiatan,
mendidik , mendera , menciptakan lapangan kerja , mengakomodasi , maka
sepeninggal kita para nelayan pasti masih menikmati spirit kita dan
meneruskannya dengan kekerasan hati pula.
Berpikir tentang legacy
sebenarnya bisa merupakan katalis dalam pengambilan keputusan, karena lebih
berorientasi jangka panjang. Memikirkan �legacy�
pun tidak perlu terkait dengan matinya seseorang. Setiap pemegang jabatan
sesungguhnya bisa membiasakan diri berpikir untuk �mewariskan�
sistem, value, SOP, yang mantap,
positif dan memberi nilai tambah di areanya, sehingga ketika dia
�pergi�, semua yang ditinggalkan berbekas keharuman namanya..
�Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang�,
janganlah kita pergi dengan meninggalkan �borok�.