Iko gambaran nan agak singkek:
http://www.emel.com/article?id=77&a_id=2139

Kok namuah mambaco nana agak panjang caliak pdf ko:
http://www.pewforum.org/uploadedfiles/topics/demographics/muslimpopulation.pdf

-- Inyiak Sunguik
Sjamsir Sjarif


--- In [email protected], "sjamsir_sjarif" <hambociek@...> wrote:
>
> Iko ado duo sumber 1. Jumlah rombongan Hajji ka Makah 2012ko.
> 2. Perbandingan bara jumlah muslim di dunia.
> Rancakdicaliak:
> http://europe.chinadaily.com.cn/china/2012-10/08/content_15799278.htm
> http://www.qran.org/a/a-world.htm
> 
> Salam,
> -- Inyiak Sunguik
> Sjamsir Sjarif
> Di Tapi riakanan Badabua
> Ka Sumbayang tahajjud 1:50AM PST Monday Oct 8, 2012 
> 
> --- In [email protected], "Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf10leo@> wrote:
> >
> > 
> > 
> >  
> > Assalamualaikum ww, para sanak sapalanta, 
> > 
> > Sesekali, kita membicarakan besarnya pengaruh keturunan Cina dalam 
> > kehidupan perekonomian kita, yang disertai dengan perasaan kebencian 
> > berkepanjangan kepada mereka. Sekedar informasi, di bawah ini saya teruskan 
> > latar belakang sejarah dari peran ekonomi serta kebencian tersebut.
> > 
> > Sungguh menarik, bahwa peran ekonomi tersebut diberikan oleh kaum kolonial 
> > Hindia Belanda, dan ternyata orang Cina -- baik di negerinya maupun di 
> > Indonesia -- telah lebih dahulu beragama Islam dari kita orang 
> > Minangkabau. 
> > 
> > Semoga bermanfaat.
> > 
> > Wassalam,
> > 
> > 
> > 
> > Saafroedin Bahar - Soetan Madjolelo  
> > (Laki-laki, Tanjung, Kampung Dalam Pariaman, masuk 76 th, Jakarta) 
> > Taqdir dalam Tangan Allah, Syukurnya Nasib dalam Tangan kita.
> > 
> > 
> >   
> > >
> > >
> > >Sejarah alasan kenapa Pribumi Benci Keturunan Tionghoa..
> > >
> > >http://bit.ly/wYbvx9. 
> > >So Touchy 
> > >
> > >KENAPA HWANA DAN TEN-NANG SALING BENCI???
> > >By Boston Max
> > >Bangsa Cina mendarat di Indonesia pada abad ke 5, di pesisir pantai Jawa 
> > >Timur. Mereka adalah pedagang yg berlayar untuk mencari rempah2, dan 
> > >kemudian karena satu dan lain hal, mereka menetap di Indonesia dan 
> > >berasimilasi dengan penduduk setempat. Para pedagang Cina ini juga 
> > >diyakini sebagai yg membawa agama dan tradisi Islam masuk ke Indonesia, 
> > >karena berkat Jalan Sutra, agama Islam yg berasal dari Arab, masuk ke Cina 
> > >melalui India. Bahkan menurut sejarah, beberapa orang dari Wali Songo 
> > >adalah keturunan Cina seperti Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, 
> > >dan Sunan Gunung Jati. Hal ini merupakan sesuatu yg ironis di masa pada 
> > >jaman sekarang hanya sedikit orang Tionghoa yg memeluk agama Islam. 
> > >Mengapa bisa demikian?
> > >Ironically, though most of the present Chinese Indonesians are not 
> > >Muslims, some of the earliest Islamic evangelists in Java (Wali Songo, or 
> > >the Nine Ambassadors) were of Chinese ancestry. At least four of those 
> > >nine were original Chinese or Chinese descendants: Sunan Ampel, Sunan 
> > >Bonang (son of Ampel and a Chinese woman), Sunan Kalijaga, and Sunan 
> > >Gunungjati
> > >
> > >Pada jaman Kolonial Belanda, tahun 1680, para pedagang Tionghoa memegang 
> > >peranan penting dalam perekonomian di Batavia. Bahkan usaha penjajah untuk 
> > >memonopoli pun terhambat dan mereka terpaksa berbisnis dengan para 
> > >pedagang Tionghoa tersebut. Akibatnya, penjajah merasa terancam karena 
> > >keberadaan orang Tionghoa secara tidak langsung menyokong kehidupan 
> > >pribumi di Indonesia, dan jika orang Tionghoa dan pribumi bersatu untuk 
> > >melawan, para penjajah akan kewalahan. Karena itulah, para penjajah 
> > >berusaha mengadu domba pribumi dan orang Tionghoa, dan mereka berhasil.
> > > 
> > >Pada tahun 1740, karena krisis ekonomi yg disebabkan oleh turunnya harga 
> > >gula di pasar global, Belanda hendak mengikis upah gaji para pekerja 
> > >dengan cara memindahkan para kuli, yg sebagian besar adalah pribumi, ke 
> > >Afrika. Padahal maksud sebenarnya adalah mereka bermaksud membuang para 
> > >kuli itu ke laut lepas diam2. Entah bagaimana caranya, isu tersebut 
> > >tersebar dan para pedagang Tionghoa di Batavia, menggalang kekuatan untuk 
> > >menyerbu kapal2 Belanda tersebut. Pertumpahan darah pun tidak dapat 
> > >dielakkan.
> > > 
> > >Akibat perlawanan tersebut, Belanda mengeluarkan perintah untuk memeriksa 
> > >dan melucuti para pedagang Tionghoa, namun yg terjadi sebenarnya adalah 
> > >pembantaian besar2an di mana dalam 3 hari, 50.000-60.000 orang Tionghoa 
> > >dibunuh. Belanda juga mengeluarkan dekrit bahwa orang Tionghoa lah yg 
> > >berencana membunuh para kuli pribumi dan mereka seolah2 bertindak sebagai 
> > >penyelamat bagi orang2 pribumi. Kemudian Belanda juga menjanjikan imbalan 
> > >bagi setiap kepala orang Tionghoa yg berhasil dibunuh. Inilah awalnya 
> > >perselisihan antara Tionghoa dan pribumi. Nama "Kali Angke" yg ada di 
> > >daerah Jakarta Utara berasal dari kata "Sungai Merah" yg menggambarkan 
> > >kejadian pembantaian saat itu di mana sungai2 menjadi warna merah oleh 
> > >darah Tionghoa. 
> > >
> > >On October 9, 1740, the order was issued to search the houses of all the 
> > >Chinese residents in Batavia. This soon degenerated into an all-out, 
> > >three-day long massacre - with Chinese being massacred in their homes, and 
> > >earlier captured Chinese being killed out of hand in prisons and hospitals.
> > >A preacher fanned the flames from the pulpit, declaring that the killing 
> > >of Chinese was "God's Will", and the colonial government itself reportedly 
> > >posted a bounty for decapitated Chinese heads. The number of victims in 
> > >these three days is variously estimated at between five thousand and ten 
> > >thousand. The name Kali Angke (traditional Chinese: 紅溪; literally, 
> > >"Red River") is said to date from that time, recalling the blood flowing 
> > >into the river. 
> > >
> > >Pada jaman perang kemerdekaan, orang Tionghoa juga berperan penting dalam 
> > >perjuangan melawan menjajah di mana dalam BPUPKI terdapat 6 orang Tionghoa 
> > >yg berkontribusi dalam pembentukan UUD'45. Hanya sedikit orang Tionghoa yg 
> > >terjun langsung pada konflik bersenjata karena pada saat itu jumlah mereka 
> > >hanya sedikit. Pada jaman agresi militer, Belanda dan Jepang melakukan 
> > >blokade terhadap impor barang2 kebutuhan seperti sabun dan peralatan 
> > >memasak. Orang Tionghoa memegang peranan besar dalam menyelundupkan 
> > >barang2 itu masuk ke dalam negeri. Namun karena situasi negara saat itu 
> > >sedang kacau, tidak ada catatan jelas mengenai hal itu sehingga peranan 
> > >Tionghoa dalam perjuangan meraih kemerdekaan menjadi blur. 
> > >
> > >During the Indonesian National Revolution following World War II, many 
> > >Chinese Indonesians supported the Independence movement. BPUPKI's (Body 
> > >for Investigating Preparation Attempts of Indonesia's Independence) 
> > >membership included six ethnic Chinese members who contributed to the 
> > >drafting of the Indonesian Constitution in 1945.[citation needed] The 
> > >formation of all-Chinese Indonesian units in the Revolution was 
> > >discussed,[13] similar to the formation of the all-Japanese American Nisei 
> > >units in World War II. This suggestion was ultimately rejected, and the 
> > >ethnic Chinese were advised to instead join their local pro-Independence 
> > >groups. Due to the lack of such clearly-defined ethnic unit, the precise 
> > >number of Chinese Indonesians who took part in the Indonesian National 
> > >Revolution, and their percentage of the Chinese Indonesian community as a 
> > >whole, remains disputed. It is a sensitive issue due to it sometimes being 
> > >linked to the post-war status of
> >  Chinese Indonesians and their equal status (or lack of one) in the 
> > Indonesia created by that war.
> > > 
> > >During the 1945â€"1950 National Revolution to secure independence from the 
> > >Dutch, few Chinese Indonesians were involved in the Indonesian Republican 
> > >army. At that time, the economy plummeted and the taxes increased 
> > >dramatically. Everyday goods, such as soap and cutlery, were rare; much 
> > >and had been confiscated by the Japanese and Dutch for their own armies. 
> > >Chinese Indonesians contributed in the smuggling of these goods
> > >Tahun 1955-1965, perselisihan pun terjadi antara pribumi dan Tionghoa di 
> > >mana Tionghoa dituduh "tidak patriotik" dan tidak ikut serta dalam perang 
> > >meraih kemerdekaan. Pemerintah Indonesia saat itu pun akhirnya 
> > >mengeluarkan peraturan yg membatasi peran Tionghoa dalam politik. Hal itu 
> > >menyebabkan orang Tionghoa pun lebih fokus dalam bidang perdagangan dan 
> > >industri. Kemajuan para Tionghoa dalam perekonomian ternyata kembali 
> > >menyebabkan perselisihan di mana para Tionghoa dituduh sebagai agen 
> > >kolonial dan menerima suap. Pemerintah pun memerintahkan para pedagang 
> > >Tionghoa untuk menutup usahanya di kota2 besar dan memindahkan mereka 
> > >dengan paksa ke daerah2 seperti Kalimantan dan Palembang. Saat itu kurang 
> > >lebih ratusan ribu orang Tionghoa "dibuang", dan 42.000 yg dituduh 
> > >membangkang dibunuh.
> > >Chinese Indonesians were accused of unpatriotic ways during the war (as 
> > >they were rarely involved in armed conflicts). The fledgling Indonesian 
> > >government forced many to relinquish acquired properties. This would be 
> > >the first of many Chinese Indonesian restrictions on personal rights.
> > > 
> > >In 1959, President Soekarno approved PP 10/1959, a directive that forced 
> > >Chinese Indonesians to close their businesses in rural areas and relocate 
> > >to urban areas. Enforcement was brutal; in one 1967 incident in Western 
> > >Kalimantan, 42,000 accused separatists were slaughtered.
> > >Sebagai protes, banyak orang Tionghoa yg mencoba pulang kembali ke negara 
> > >asalnya, hanya untuk menemukan bahwa mereka tidak diterima di sana karena 
> > >dianggap sudah "tidak berdarah murni" Hal ini menyebabkan orang2 Tionghoa 
> > >di Indonesia kehilangan jati diri, karena mereka bukan Indonesia dan juga 
> > >bukan Cina. Akhirnya sebagian dari mereka pindah ke negara2 lain seperti 
> > >Malaysia, Singapura, dan Brazil. 
> > >
> > >In protest, many Cina Totoks returned to either mainland China, Hong Kong, 
> > >or Taiwan, only to find that they were not welcomed there either. 
> > >Ironically, they were not regarded as "pure Chinese", regardless of their 
> > >effort of maintaining a "pure Chinese breed". The unfortunate news of the 
> > >early migrants was widespread among the Chinese Indonesians. They soon 
> > >found themselves as neither Indonesian nor Chinese. Some decided to move 
> > >to some other places, like Singapore, Malaysia or even as far afield as 
> > >Brazil. 
> > >
> > >Pada jaman pemerintahan Soeharto, orang Tionghoa di Indonesia diharuskan 
> > >mengganti nama mereka dengan nama Indonesia. Hal ini merupakan sesuatu yg 
> > >sangat pedih karena mereka menjadi kehilangan marga dan nama keluarga 
> > >mereka. Segala tradisi yg berbau Cina diharamkan, dan bahasa Mandarin pun 
> > >dilarang karena mereka dituduh menyebarkan paham komunis. Di beberapa 
> > >daerah juga hal ini disangkut pautkan dengan agama di mana orang Tionghoa 
> > >dianggap tidak menghormati agama Islam dan tradisi muslim dan dibunuh. 
> > >Pada periode 1965-1975, aparat dapat dengan seenaknya mengeksploitasi 
> > >orang Cina dengan merampok dan memperkosa keluarga mereka. Cara satu2nya 
> > >untuk survive pada masa itu adalah dengan menyogok.Bahkan para Tionghoa yg 
> > >berjasa bagi Indonesia pun ditangkap, dipenjara, dan dibunuh, dan hal ini 
> > >menyebabkan orang Tionghoa menjadi memisahkan diri dengan Indonesia. 
> > >Mereka tidak senang disebut sebagai warga "Indonesia" Hal ini terjadi 
> > >hingga hari ini. Walaupun
> >  generasi muda saat ini tidak seekstrim leluhurnya dalam menjalani tradisi 
> > Tionghoa, tapi tetap mereka merasa berbeda dan menjaga jarak dengan 
> > pribumi. Budaya mereka menjadi lebih kebarat-baratan, karena banyak orang 
> > tua Tionghoa memilih untuk menyekolahkan anak mereka ke Amerika atau Eropa. 
> > >
> > >The Chinese-Indonesian were all forced to change their names to Indonesian 
> > >sounding ones. This law is considered as one of the most humiliating ones 
> > >to those in the Chinese community in Indonesia since by doing so, they are 
> > >forced to lose their family name. Between 1965 and 1975, army and police 
> > >officers were rampant in abusing Chinese Indonesians, such as openly 
> > >robbing and raping their families. During this time, police could abuse 
> > >any people using Chinese language. The only way to survive during this 
> > >harsh period was by using bribes.
> > >In addition, those who were considered as heroes of Indonesian 
> > >independence, such as Siauw Giok Tjhan and Liem Koen Hian, were either 
> > >brutally executed, exiled, or jailed. Those who protested were silently 
> > >murdered. None of them were bestowed national hero status. It effectively 
> > >discouraged any Chinese Indonesian of the time to dedicate their lives for 
> > >Indonesia.
> > >Since Chinese Indonesians were banned from all aspects of life except from 
> > >the economy and industry, they concentrated their effort in those areas 
> > >and became remarkably successful. It opened opportunities for government 
> > >and military officers to levy bribes from Chinese Indonesian businessmen. 
> > >Bribes and corruption soon became a norm. This widened the gap between 
> > >them and pribumi. The pribumi accused Chinese Indonesians with colluding 
> > >with the government and thereby poisoning the entire political system. On 
> > >the other hand, Chinese Indonesians felt that they were treated unfairly 
> > >and the government was much more lenient toward the pribumi.
> > >Most Chinese Indonesians are not Muslim, further generating negative 
> > >sentiments from the mostly Muslim natives. This is ironic in light of the 
> > >fact that some of the earliest Muslim evangelists in Java (who were called 
> > >the Wali Songo or 'The Nine Ambassadors') were of Chinese ancestry. A 
> > >historical theory even suggests that the first people who brought Islamic 
> > >faith to Indonesia were the Chinese traders, especially those who came to 
> > >Semarang under the leadership of Sam Po Kong or Admiral Zheng He. Zheng He 
> > >was not a Han, but a Muslim from a minority ethnic group in China.
> > >Because of discrimination, most Chinese Indonesians were not politically 
> > >active and could not lobby for legislation to protect their own interests, 
> > >despite their economic affluence. The situation is different in 
> > >neighboring Malaysia where the overseas Chinese have been both politically 
> > >and economically active despite being a minority in a similar environment 
> > >â€" better off economically in a Muslim majority country.
> > >Despite laws and public opinion against the Chinese Indonesians, many have 
> > >succeeded in fields other than business, most notably in the sport of 
> > >badminton, the most popular competitive sport in Indonesia. Indonesian 
> > >athletes dominated the sport from the 1960s to the 1990s. Many of the 
> > >beloved players and coaches are Chinese Indonesians, such as Tan Joe Hok, 
> > >Rudy Hartono, Christian Hadinata, Tjun Tjun, Johan Wahjudi, Ade Chandra, 
> > >Liem Swie King, Ivana Lie, Verawaty, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Ardy 
> > >Wiranata, and Heryanto Arbi. 
> > >
> > >Pada kerusuhan 1998, orang Tionghoa dituduh menjadi biang krisis ekonomi 
> > >dan KKN di Indonesia karena mereka sering menggunakan sogokan untuk 
> > >mendapatkan kemudahan dari pemerintah. Ratusan ribu orang Tionghoa di 
> > >Indonesia, dibunuh, diperkosa, dan milik mereka dijarah massa. Hal ini 
> > >menyebabkan banyak orang Tionghoa memutuskan untuk lari dari Indonesia, 
> > >dan pindah ke negara2 tetangga seperti Australia dan New Zealand. Dan 
> > >bahkan setelah reformasi, sebagian besar memutuskan untuk tidak kembali ke 
> > >Indonesia karena mereka menemukan bahwa negara2 barat lebih menghormati 
> > >hak2 mereka ketimbang Indonesia.
> > > 
> > >Ada blog yg ngebahas soal kerusuhan Mei, untuk jelasnya mengenai situasi 
> > >saat itu, baca aja di sini
> > >As more and more discrimination and enmity accumulated, Chinese 
> > >Indonesians increasingly identified themselves as a separate group and did 
> > >not like to be referred to as "Indonesians". Although younger generations 
> > >did not as strictly follow traditions as the older ones did, they still 
> > >felt they were different from Indonesians.
> > >During this era, younger generations adopted western culture more and more 
> > >as they perceived it as being more superior. They were more aligned toward 
> > >western countries such as the United States or the United Kingdom. The 
> > >westernization became popular as many parents sent their children abroad 
> > >to western countries.
> > >The Jakarta riot of 1998 targeted many Chinese Indonesians. The riot 
> > >itself drew condemnations from Chinese speaking countries. Suharto was 
> > >allegedly the mastermind of this riot, but it misfired. Suffering from 
> > >lootings and arsons, many Chinese Indonesians fled from Indonesia. 
> > >Ironically, they found western countries were more accepting than 
> > >Indonesia, their country of birth. Even after the riot subsided, many of 
> > >them did not want to return. 
> > >
> > >Setelah reformasi, pada masa pemerintahannya, Gus Dur mencabut larangan 
> > >bagi orang Tionghoa untuk berpartisipasi dalam pemerintahan. Kwik Kian Gie 
> > >dijadikan menteri perekonomian. Gus Dur juga memberikan ijin bagi orang2 
> > >Tionghoa untuk menjalankan tradisinya tanpa harus meminta ijin kepada 
> > >pemerintah. Pada masa pemerintahan Megawati, hari raya Imlek pun 
> > >ditetapkan sebagai hari libur nasional.
> > > 
> > >Setelah 45 tahun dilarang di Indonesia (sejak tahun 1965), pada tahun 
> > >2000, Metro TV menjadi stasiun TV pertama yg menggunakan bahasa mandarin. 
> > >Pada tahun 2006, pemerintah mengeluarkan undang2 yg menghapus segala 
> > >perbedaan antara Tionghoa dan pribumi. Dan pada tahun 2007, SBY meresmikan 
> > >istilah "Tionghoa" sebagai nama bagi penduduk keturunan Cina di Indonesia.
> > > 
> > >---
> > > 
> > >So, setelah membaca uraian di atas, bisa kita lihat bahwa pada awal 
> > >mulanya, orang Tionghoa dan pribumi hidup berdampingan. Diskriminasi 
> > >terjadi akibat usaha penjajah untuk memecah belah Indonesia. Berbagai 
> > >usaha perbaikan telah dilakukan oleh pemerintah, namun luka yg telah 
> > >mendarah daging selama berbagai generasi tidaklah semudah itu untuk 
> > >dihapuskan.
> > > 
> > >Marilah kita sebagai generasi muda, belajar dari kesalahan pada leluhur 
> > >kita, untuk bersikap kritis. Jangan mudah diadu domba oleh pihak2 yg tidak 
> > >bertanggung jawab. Diskriminasi adalah sebuah hal yg menginjak2 martabat 
> > >dan hak asasi manusia, dan perbedaan SARA adalah sebuah kekayaan budaya 
> > >bangsa yg harus kita hargai. Satu nusa, satu bangsa. Bhinneka Tunggal Ika.
> > > 
> > >And most of all, we are a children of the world, God's great big family, 
> > >and love is all we need =)
> > >
> > >In this note: Zavic Phan, Framita Ai, Robin Freecs, Cherries Na, Susanti 
> > >Ping, William Sutanto, Zigic Gunz, Kok Min Wen, EmiLy MicKy, EnI' Emmie, 
> > >Hui Luph Fang-fang, Sha Ly, Juli Yenz, Babyjane Salvo, Jenny Syah Putra, 
> > >Yunie Lin, Takizawa Or, Takeda Wang and Neson Lim 


-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke