Beberapa pekan lalu saat ada anggota milis mengirim posting tentang Majapahit 
sebagai "kerajaan Islam" berdasarkan tim riset Muhammadiyah, saya sempat 
menganggapi bahwa kunjungan resmi pejabat kekhalifahan Utsman bin Affan yang 
dipimpin Sa'ad bin Abi Waqqash sampai di Cina pada tahun 650 M, saat ibukota di 
Xian, yang sudah merupakan ibukota Tiongkok kuno selama 10 dinasti. (Silakan 
diretrieve lagi filenya di arsip milis).

Salam,

Akmal N. Basral

On Oct 10, 2012, at 1:13 AM, "sjamsir_sjarif" <[email protected]> wrote:

> Iyo Angku Saaf, paragraf partamu nan dibirui Angku Lembang tu manyabuikkan 
> garih gadang waktu "abad ke-5" aratinyo antaro tahun 401-500 Gregorian. 
> Nagari Arab wakatu itu masih dalam Maso Jahiliyah.
> 
> Nabi Muhammad s.a.w. alun lahia lai wakatu itu karano maso hiduik baliau nan 
> 61.5 tahun (dihitung Gregorian, 63 tahun dihitung Hijriyah) itu tacatat 
> antgaro rahun 570 – 8 June 632 Gregorian.
> 
> Salam,
> -- Inyiak Sunguik
> 
> 
> --- In [email protected], "Dr Saafroedin Bahar" 
> <saafroedin.bahar@...> wrote:
>> 
>> Tarimo kasih, Sanak Sutan Lembang Alam. 
>> Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
>> 
>> -----Original Message-----
>> From: Muhammad Dafiq Saib <stlembang_alam@...>
>> Sender: [email protected]
>> Date: Mon, 8 Oct 2012 17:43:55 
>> To: [email protected]<[email protected]>
>> Reply-To: [email protected]
>> Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] OOT: Fw: [dm_group2] Sejarah alasan kenapa
>> Pribumi Benci Keturunan Tionghoa
>> 
>> Wa'alaikumussalam wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
>> 
>> Sangenek bana sajo....
>> 
>> 
>> Katiko Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam masih hiduik, Islam alun 
>> manyubarang lai dari semenanjuang Arab. Islam masuak ka Parsia, di jaman 
>> khalifah Umar bin Khaththab. Dan taruih labiah jauah ka timur di jaman 
>> khalifah Utsman bin 'Affan. Jadi kok dikecek-an urang Cino alah bakatauan jo 
>> Islam katiko baliau shalallahu 'alaihi wa sallam masih hiduik mungkin indak 
>> batua.
>> 
>> Sangenek lai,
>> 
>> Artikel nan dikirim pak Saaf agakno kurang 'koma'. Urang Cino muloi masuak 
>> ka Indonesia di abaik ka limo, itu mungkin. Bahkan mungkin labiah awal dari 
>> pado itu. Tapi di abaik kalimo kan alun ado Islam nan dibao Rasulullah 
>> shalallahu 'alaihi wa sallam lai.
>> 
>> Sakadar sato-sato sangenek sajo
>> 
>> Â 
>> 
>> Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
>> Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
>> Lahir : Zulqaidah 1370H, 
>> Jatibening - Bekasi
>> 
>> 
>> ________________________________
>> From: Arman Bahar <arman_bahar@...>
>> To: "[email protected]" <[email protected]> 
>> Sent: Monday, October 8, 2012 1:27 PM
>> Subject: Bls: [R@ntau-Net] OOT: Fw: [dm_group2] Sejarah alasan kenapa 
>> Pribumi Benci Keturunan Tionghoa
>> 
>> 
>> Assalamualaikum ww
>> 
>> Bangsa yg pertama masuk Islam diluar Arab adalah China, tapi jangan salah2 
>> yaa China yg mana dulu, gitu lho .... China itu kan banyak ada Manchuria yg 
>> dekat ke Korea, ada yg Mongol yg dekat ke Mongolia, tibet dan Nepal, ada ada 
>> yg lain juga lho
>> Yg pertama masuk Islam itu bahkan dizaman Rasulullah masih hidup adalah 
>> China dari Suku Hui yg menghuni daerah Tsin Kiang arah ke Barat dan 
>> Utara-nya yg berdekatan dg negeri2 Islam sekarang spt Afganistan, Kazakstan, 
>> Uzbekistan, Turkenistan, Azerbaijan dll ..... Nah Cina yg ada di Indonesia / 
>> Asia Tenggara pada umumnya ini adalah dari suku Han yg rata2 beragama Budha 
>> sekte Tantrayana dan tentu saja juga banyak yg menganut agama nenek moyang 
>> mereka spt Tao maupun Kong Hu Chiu, mereka2 kan dari Tongkok Selatan spt 
>> Kanton, Shang Hai dll 
>> wasalam
>> 
>> abp
>> 
>> 
>> ________________________________
>> Dari: Dr.Saafroedin BAHAR <saaf10leo@...>
>> Kepada: rantaunet rantaunet <[email protected]> 
>> Cc: Mochtar Naim <mochtarnaim@...>; Gebu Minang Pusat Jakarta 
>> <gebuminangpusat@...> 
>> Dikirim: Senin, 8 Oktober 2012 9:12
>> Judul: [R@ntau-Net] OOT: Fw: [dm_group2] Sejarah alasan kenapa Pribumi Benci 
>> Keturunan Tionghoa
>> 
>> Â 
>> Assalamualaikum ww, para sanak sapalanta, 
>> 
>> Sesekali, kita membicarakan besarnya pengaruh keturunan Cina dalam kehidupan 
>> perekonomian kita, yang disertai dengan perasaan kebencian berkepanjangan 
>> kepada mereka. Sekedar informasi, di bawah ini saya teruskan latar belakang 
>> sejarah dari peran ekonomi serta kebencian tersebut.
>> 
>> Sungguh menarik, bahwa peran ekonomi tersebut diberikan oleh kaum kolonial 
>> Hindia Belanda, dan ternyata orang Cina -- baik di negerinya maupun di 
>> Indonesia -- telah lebih dahulu beragama Islam dari kita orang Minangkabau. 
>> 
>> Semoga bermanfaat.
>> Wassalam,
>> 
>> Saafroedin Bahar - Soetan Madjolelo  
>> (Laki-laki, Tanjung, Kampung Dalam Pariaman, masuk 76 th, Jakarta)Â 
>> Taqdir dalam Tangan Allah, Syukurnya Nasib dalam Tangan kita.
>> 
>> 
>> Â  
>>> 
>>> 
>>> Sejarah alasan kenapa Pribumi Benci Keturunan Tionghoa..
>>> 
>>> http://bit.ly/wYbvx9. 
>>> So Touchy 
>>> 
>>> KENAPA HWANA DAN TEN-NANG SALING BENCI???
>>> By Boston Max
>>> Bangsa Cina mendarat di Indonesia pada abad ke 5, di pesisir pantai Jawa 
>>> Timur. Mereka adalah pedagang yg berlayar untuk mencari rempah2, dan 
>>> kemudian karena satu dan lain hal, mereka menetap di Indonesia dan 
>>> berasimilasi dengan penduduk setempat. Para pedagang Cina ini juga diyakini 
>>> sebagai yg membawa agama dan tradisi Islam masuk ke Indonesia, karena 
>>> berkat Jalan Sutra, agama Islam yg berasal dari Arab, masuk ke Cina melalui 
>>> India. Bahkan menurut sejarah, beberapa orang dari Wali Songo adalah 
>>> keturunan Cina seperti Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan Sunan 
>>> Gunung Jati. Hal ini merupakan sesuatu yg ironis di masa pada jaman 
>>> sekarang hanya sedikit orang Tionghoa yg memeluk agama Islam. Mengapa bisa 
>>> demikian?
>>> Ironically, though most of the present Chinese Indonesians are not Muslims, 
>>> some of the earliest Islamic evangelists in Java (Wali Songo, or the Nine 
>>> Ambassadors) were of Chinese ancestry. At least four of those nine were 
>>> original Chinese or Chinese descendants: Sunan Ampel, Sunan Bonang (son of 
>>> Ampel and a Chinese woman), Sunan Kalijaga, and Sunan Gunungjati
>>> 
>>> Pada jaman Kolonial Belanda, tahun 1680, para pedagang Tionghoa memegang 
>>> peranan penting dalam perekonomian di Batavia. Bahkan usaha penjajah untuk 
>>> memonopoli pun terhambat dan mereka terpaksa berbisnis dengan para pedagang 
>>> Tionghoa tersebut. Akibatnya, penjajah merasa terancam karena keberadaan 
>>> orang Tionghoa secara tidak langsung menyokong kehidupan pribumi di 
>>> Indonesia, dan jika orang Tionghoa dan pribumi bersatu untuk melawan, para 
>>> penjajah akan kewalahan. Karena itulah, para penjajah berusaha mengadu 
>>> domba pribumi dan orang Tionghoa, dan mereka berhasil.
>>> Â 
>>> Pada tahun 1740, karena krisis ekonomi yg disebabkan oleh turunnya harga 
>>> gula di pasar global, Belanda hendak mengikis upah gaji para pekerja dengan 
>>> cara memindahkan para kuli, yg sebagian besar adalah pribumi, ke Afrika. 
>>> Padahal maksud sebenarnya adalah mereka bermaksud membuang para kuli itu ke 
>>> laut lepas diam2. Entah bagaimana caranya, isu tersebut tersebar dan para 
>>> pedagang Tionghoa di Batavia, menggalang kekuatan untuk menyerbu kapal2 
>>> Belanda tersebut. Pertumpahan darah pun tidak dapat dielakkan.
>>> Â 
>>> Akibat perlawanan tersebut, Belanda mengeluarkan perintah untuk memeriksa 
>>> dan melucuti para pedagang Tionghoa, namun yg terjadi sebenarnya adalah 
>>> pembantaian besar2an di mana dalam 3 hari, 50.000-60.000 orang Tionghoa 
>>> dibunuh. Belanda juga mengeluarkan dekrit bahwa orang Tionghoa lah yg 
>>> berencana membunuh para kuli pribumi dan mereka seolah2 bertindak sebagai 
>>> penyelamat bagi orang2 pribumi. Kemudian Belanda juga menjanjikan imbalan 
>>> bagi setiap kepala orang Tionghoa yg berhasil dibunuh. Inilah awalnya 
>>> perselisihan antara Tionghoa dan pribumi. Nama "Kali Angke" yg ada di 
>>> daerah Jakarta Utara berasal dari kata "Sungai Merah" yg menggambarkan 
>>> kejadian pembantaian saat itu di mana sungai2 menjadi warna merah oleh 
>>> darah Tionghoa. 
>>> 
>>> On October 9, 1740, the order was issued to search the houses of all the 
>>> Chinese residents in Batavia. This soon degenerated into an all-out, 
>>> three-day long massacre - with Chinese being massacred in their homes, and 
>>> earlier captured Chinese being killed out of hand in prisons and hospitals.
>>> A preacher fanned the flames from the pulpit, declaring that the killing of 
>>> Chinese was "God's Will", and the colonial government itself reportedly 
>>> posted a bounty for decapitated Chinese heads. The number of victims in 
>>> these three days is variously estimated at between five thousand and ten 
>>> thousand. The name Kali Angke (traditional Chinese: 紅溪; literally, "Red 
>>> River") is said to date from that time, recalling the blood flowing into 
>>> the river. 
>>> 
>>> Pada jaman perang kemerdekaan, orang Tionghoa juga berperan penting dalam 
>>> perjuangan melawan menjajah di mana dalam BPUPKI terdapat 6 orang Tionghoa 
>>> yg berkontribusi dalam pembentukan UUD'45. Hanya sedikit orang Tionghoa yg 
>>> terjun langsung pada konflik bersenjata karena pada saat itu jumlah mereka 
>>> hanya sedikit. Pada jaman agresi militer, Belanda dan Jepang melakukan 
>>> blokade terhadap impor barang2 kebutuhan seperti sabun dan peralatan 
>>> memasak. Orang Tionghoa memegang peranan besar dalam menyelundupkan barang2 
>>> itu masuk ke dalam negeri. Namun karena situasi negara saat itu sedang 
>>> kacau, tidak ada catatan jelas mengenai hal itu sehingga peranan Tionghoa 
>>> dalam perjuangan meraih kemerdekaan menjadi blur. 
>>> 
>>> During the Indonesian National Revolution following World War II, many 
>>> Chinese Indonesians supported the Independence movement. BPUPKI's (Body for 
>>> Investigating Preparation Attempts of Indonesia's Independence) membership 
>>> included six ethnic Chinese members who contributed to the drafting of the 
>>> Indonesian Constitution in 1945.[citation needed] The formation of 
>>> all-Chinese Indonesian units in the Revolution was discussed,[13] similar 
>>> to the formation of the all-Japanese American Nisei units in World War II. 
>>> This suggestion was ultimately rejected, and the ethnic Chinese were 
>>> advised to instead join their local pro-Independence groups. Due to the 
>>> lack of such clearly-defined ethnic unit, the precise number of Chinese 
>>> Indonesians who took part in the Indonesian National Revolution, and their 
>>> percentage of the Chinese Indonesian community as a whole, remains 
>>> disputed. It is a sensitive issue due to it sometimes being linked to the 
>>> post-war status of Chinese
>> Indonesians and their equal status (or lack of one) in the Indonesia created 
>> by that war.
>>> Â 
>>> During the 1945â€"1950 National Revolution to secure independence from the 
>>> Dutch, few Chinese Indonesians were involved in the Indonesian Republican 
>>> army. At that time, the economy plummeted and the taxes increased 
>>> dramatically. Everyday goods, such as soap and cutlery, were rare; much and 
>>> had been confiscated by the Japanese and Dutch for their own armies. 
>>> Chinese Indonesians contributed in the smuggling of these goods
>>> Tahun 1955-1965, perselisihan pun terjadi antara pribumi dan Tionghoa di 
>>> mana Tionghoa dituduh "tidak patriotik" dan tidak ikut serta dalam perang 
>>> meraih kemerdekaan. Pemerintah Indonesia saat itu pun akhirnya mengeluarkan 
>>> peraturan yg membatasi peran Tionghoa dalam politik. Hal itu menyebabkan 
>>> orang Tionghoa pun lebih fokus dalam bidang perdagangan dan industri. 
>>> Kemajuan para Tionghoa dalam perekonomian ternyata kembali menyebabkan 
>>> perselisihan di mana para Tionghoa dituduh sebagai agen kolonial dan 
>>> menerima suap. Pemerintah pun memerintahkan para pedagang Tionghoa untuk 
>>> menutup usahanya di kota2 besar dan memindahkan mereka dengan paksa ke 
>>> daerah2 seperti Kalimantan dan Palembang. Saat itu kurang lebih ratusan 
>>> ribu orang Tionghoa "dibuang", dan 42.000 yg dituduh membangkang dibunuh.
>>> Chinese Indonesians were accused of unpatriotic ways during the war (as 
>>> they were rarely involved in armed conflicts). The fledgling Indonesian 
>>> government forced many to relinquish acquired properties. This would be the 
>>> first of many Chinese Indonesian restrictions on personal rights.
>>> Â 
>>> In 1959, President Soekarno approved PP 10/1959, a directive that forced 
>>> Chinese Indonesians to close their businesses in rural areas and relocate 
>>> to urban areas. Enforcement was brutal; in one 1967 incident in Western 
>>> Kalimantan, 42,000 accused separatists were slaughtered.
>>> Sebagai protes, banyak orang Tionghoa yg mencoba pulang kembali ke negara 
>>> asalnya, hanya untuk menemukan bahwa mereka tidak diterima di sana karena 
>>> dianggap sudah "tidak berdarah murni" Hal ini menyebabkan orang2 Tionghoa 
>>> di Indonesia kehilangan jati diri, karena mereka bukan Indonesia dan juga 
>>> bukan Cina. Akhirnya sebagian dari mereka pindah ke negara2 lain seperti 
>>> Malaysia, Singapura, dan Brazil. 
>>> 
>>> In protest, many Cina Totoks returned to either mainland China, Hong Kong, 
>>> or Taiwan, only to find that they were not welcomed there either. 
>>> Ironically, they were not regarded as "pure Chinese", regardless of their 
>>> effort of maintaining a "pure Chinese breed". The unfortunate news of the 
>>> early migrants was widespread among the Chinese Indonesians. They soon 
>>> found themselves as neither Indonesian nor Chinese. Some decided to move to 
>>> some other places, like Singapore, Malaysia or even as far afield as 
>>> Brazil. 
>>> 
>>> Pada jaman pemerintahan Soeharto, orang Tionghoa di Indonesia diharuskan 
>>> mengganti nama mereka dengan nama Indonesia. Hal ini merupakan sesuatu yg 
>>> sangat pedih karena mereka menjadi kehilangan marga dan nama keluarga 
>>> mereka. Segala tradisi yg berbau Cina diharamkan, dan bahasa Mandarin pun 
>>> dilarang karena mereka dituduh menyebarkan paham komunis. Di beberapa 
>>> daerah juga hal ini disangkut pautkan dengan agama di mana orang Tionghoa 
>>> dianggap tidak menghormati agama Islam dan tradisi muslim dan dibunuh. Pada 
>>> periode 1965-1975, aparat dapat dengan seenaknya mengeksploitasi orang Cina 
>>> dengan merampok dan memperkosa keluarga mereka. Cara satu2nya untuk survive 
>>> pada masa itu adalah dengan menyogok.Bahkan para Tionghoa yg berjasa bagi 
>>> Indonesia pun ditangkap, dipenjara, dan dibunuh, dan hal ini menyebabkan 
>>> orang Tionghoa menjadi memisahkan diri dengan Indonesia. Mereka tidak 
>>> senang disebut sebagai warga "Indonesia" Hal ini terjadi hingga hari ini. 
>>> Walaupun
>> generasi muda saat ini tidak seekstrim leluhurnya dalam menjalani tradisi 
>> Tionghoa, tapi tetap mereka merasa berbeda dan menjaga jarak dengan pribumi. 
>> Budaya mereka menjadi lebih kebarat-baratan, karena banyak orang tua 
>> Tionghoa memilih untuk menyekolahkan anak mereka ke Amerika atau Eropa. 
>>> 
>>> The Chinese-Indonesian were all forced to change their names to Indonesian 
>>> sounding ones. This law is considered as one of the most humiliating ones 
>>> to those in the Chinese community in Indonesia since by doing so, they are 
>>> forced to lose their family name. Between 1965 and 1975, army and police 
>>> officers were rampant in abusing Chinese Indonesians, such as openly 
>>> robbing and raping their families. During this time, police could abuse any 
>>> people using Chinese language. The only way to survive during this harsh 
>>> period was by using bribes.
>>> In addition, those who were considered as heroes of Indonesian 
>>> independence, such as Siauw Giok Tjhan and Liem Koen Hian, were either 
>>> brutally executed, exiled, or jailed. Those who protested were silently 
>>> murdered. None of them were bestowed national hero status. It effectively 
>>> discouraged any Chinese Indonesian of the time to dedicate their lives for 
>>> Indonesia.
>>> Since Chinese Indonesians were banned from all aspects of life except from 
>>> the economy and industry, they concentrated their effort in those areas and 
>>> became remarkably successful. It opened opportunities for government and 
>>> military officers to levy bribes from Chinese Indonesian businessmen. 
>>> Bribes and corruption soon became a norm. This widened the gap between them 
>>> and pribumi. The pribumi accused Chinese Indonesians with colluding with 
>>> the government and thereby poisoning the entire political system. On the 
>>> other hand, Chinese Indonesians felt that they were treated unfairly and 
>>> the government was much more lenient toward the pribumi.
>>> Most Chinese Indonesians are not Muslim, further generating negative 
>>> sentiments from the mostly Muslim natives. This is ironic in light of the 
>>> fact that some of t

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke