On Tue, 2008-05-02 at 18:08 -0800, Muhammad Dafiq Saib wrote:
> 
> 
> Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
>  
> 
> Dek mak Ban bacarito pakaro tukang copet di Kiktenggi lah ambo karang
> pulo carito nostalgia fiktif sahubuangan jo tukang copet ko ciek
> sarupo dibawahko. 
> 
>  
> 
> Wassalamu'alaikum
> 
>  
> 
> Lembang Alam
> 
>  
> 
> PENCOPET PASAR ATAS 1964
> 
>  
> 
> Hari Rabaa pukuah satu, Sadang rami di Bukiktinggi, Urang manggaleh
> barang mudo. Begitu bunyi awal sebait pantun. Bukit Tinggi di hari
> Rabaa, alias hari Rabu sebagaimana juga di hari Sabtu ramai
> allahurabbi. Orang datang dari seputar Agam, bahkan dari Tanah Datar,
> Lima Puluh Koto dan dari Pasaman. Bahkan dari Padang dan Pekan Baru.
> Di Bukit Tinggi orang penggalas kebat mengebat, pakuk memakuk, sayat
> menyayat. Heboh allahurabbi. Orang berserak di tengah balai. Yang
> menjual, yang membeli. Di pasar lereng jalan penuh oleh pedagang di
> bawah payung besar. Bukan, tidak ada yang menyebutnya pedagang kaki
> lima. Orang yang ingin lalu harus berselingkit-selingkit, disela
> barang galas para pedagang, di sela ketiak orang lain, di sela kambuik
> gadang yang disandang amai-amai. Pasar itu heboh allahurabbi, oleh
> sorak dan sorai, oleh bunyi parang yang menetak dan memakuk. 
> 
>  
> 
> Begitu pula di jenjang yang bertingkat-tingkat. Orang menggalas belaka
> dimana saja ada tempat terbuka. Menggalas apa saja, jarum penjahit dan
> peniti, kain lap dan saputangan, pisau dan lading buatan Sungai Pua.
> Atau yang menggalas kerupuk jangek balatua mentah, atau tulang
> cancang, atau dadih di dalam sambang. Semua serba ada. Menggelar galas
> di sela-sela jalan orang lalu di janjang gantung yang sempit
> berselingkit. Tidak ada yang menggerutu. Cara orang sekarang, tidak
> ada yang komplain. Semua berlapang dada saja. Semua mencari untung
> serupiah dua rupiah. Kenapa pula harus digerutui.
> 
>  
> 
> Di puncak pasar di Pasar Atas, sesudah melalui jenjang yang
> bertingkat-tingkat, sesudah melalui bau amis darah di pasar bantai,
> sesudah melalui bau anyir di pasar maco, menguap bau harum sate yang
> bukan sate Padang karena yang berjualan orang Pekan Kamis. Sate mak
> Mamuik (Mahmud) dan sate mak Aciak. Asapnya menjulang ke udara. Baunya
> yang semerbak menimbulkan rasa lapar. Ada pula bunyi
> bakalentongpentong orang mengaduk es di sampingnya. Es batu yang baru
> saja diketam untuk dicampurkan ke mangkuk es te bak yang sekarang
> diaduk dengan suara bakalentongpentong. Entah kenapa namanya es te
> bak. Tapi yang jelas rasanya bukan main nyaman, penawar pedas sesudah
> menyantap sepiring sate. Ada lagi soto bang Karto dan soto Haji Minah
> bersebelah-sebelahan. Bukan, keduanya bukan soto Padang. Orang yang
> membuatnya saja namanya bang Karto.
> 
>  
> 
> Pasar Atas ramai, idem ditto. Berselingkit pingkit orang lalu di
> antara jualan dan dagangan. Boleh masuk ke dalam los demi los. Yang
> diantaranya ada yang bernama los bergalung. Tempat orang berjualan
> kain dan alas kaki. Berjualan tikar dan lapik pandan. Berjualan segala
> macam rempah yang baunya harum menyebar kemana-mana. Berjualan
> tembakau dan daun terusan ataupun  daun enau, untuk digulung jadi
> paisok, yang bukan rokok.
> 
>  
> 
> Di lapangan di hadapan mesjid raya, di samping panggung (bioskop)
> Irian ada orang berjualan obat. Entah obat apa, tidaklah penting
> sangat. Yang berjualan suaranya parau. Banyak ceritanya. Berseleperan
> mulutnya. Kadang-kadang dibuatnya atraksi seperti tukang sulap.
> Berkerumun orang menonton dalam sebuah lingkaran besar. Penjual obat
> beraksi di tengah-tengah. Berjalan hilir mudik sambil mulutnya tidak
> henti-henti berciloteh. Mengiklankan obat pencahar yang dijualnya.
> Gelarnya konon Datuk Dalu. Obat yang dijualnya adalah untuk yang
> bermasalah dan sulit ke belakang. Kalu sudah memakan obat Datuk Dalu,
> puuut bunyi kentut, ceeer bunyi isi perut menyemprot sampai sejauh
> tiga meter. Meski yang berkerumun berbilang puluhan, yang membeli
> hanya empat lima orang tidaklah penting bagi Datuk Dalu. 
> 
>  
> 
> Beberapa puluh meter ke arah sana ada pula kerumunan yang lain. Tukang
> obat juga. Agak sedikit jelas obat yang dijualnya. Air racikan
> daun-daunan yang nanti dicampurnya dengan telur ayam dan madu untuk
> diminum para pembeli. Iklannya terdengar lebih pasti. �Obatku obat
> istimewa, bukan omong kosong. Obat orang Jerman hanya elok untuk orang
> Jerman. Obat orang Jepang hanya elok untuk orang Jepang. Obatku boleh
> untuk semua makhluk. Orang Jerman boleh meminumnya. Orang Arab boleh
> meminumnya. Orang Jepang boleh meminumnya. Sedangkan diberikan ke kuda
> jadi obat bagi kuda. Diberikan ke gacik (=anjing) jadi obat bagi
> gacik. Ha, singgahlah disini. Minumlah obat sitawa sidingin penyembuh
> sakit kepala. Penyembuh sakit hulu hati.� Begitu katanya. Tentu saja
> dia benar, karena telur dan madu memang diminum setiap bangsa untuk
> jadi obat.
> 
>  
> 
> Di tempat orang berkerumun menonton tukang obat itu ada pula yang
> sedang mengail rejeki. Caranya dengan merosok kantong orang diam-diam.
> Bagi yang serawarnya besar dan dompet diletakkan di kantong serawar
> besar itu alamat akan jadi makanan empuk si tukang rogoh. Si tukang
> copet ini biasanya berkawan, dua atau tiga orang. Tampangnya itu ke
> itu juga. Orang banyak yang tahu. Si tukang copet biasanya mencari
> tampang-tampang baru. Orang yang baru datang dari jauh. Orang kampung
> yang baru saja menjual hasil bumi. Orang merubung menonton penjual
> obat biasanya jadi sasaran enteng bagi pencopet. 
> 
>  
> 
> Barudin Sutan Bagindo pagi ini membawa 40 kilo lado (cabai merah) ke
> pasar Bukit Tinggi. Panen lado sadang elok-eloknya dan harganyapun
> sedang elok-eloknya pula. Dari hasil panen kali ini Barudin berniat
> akan mengganti atap ijuk rumah gadang dengan atap seng. Uang hasil
> penjualan lado itu dibaginya dua. Separo diletakkannya ke dalam puro
> (=kantong khusus) kain yang diikatkannya dengan tali di pinggang
> celana. Yang separo, yang akan dibayarkannya sebagai uang muka
> pembelian seng di letakkannya dalam saku baju gunting cina. Sesudah
> menerima uang pembayaran beli lado Barudin berjalan santai menuju
> pasar atas melalui jenjang empat puluh. Jenjang ini tidak seramai
> jenjang yang lain. Hal pertama yang akan dilakukan Barudin sesampai di
> pasar atas adalah pergi makan ke lepau nasi langganannya.
> 
>  
> 
> Di jalan yang sempit berselingkit di antara puncak jenjang empat puluh
> dan kedai nasi, Barudin terhalang oleh seorang laki-laki yang
> membungkuk mengambil saputangan jatuh. Tercatat juga di otaknya, bahwa
> agak aneh perbuatan orang laki-laki bersaputangan itu. Sempat terlihat
> olehnya roman muka orang itu yang berumur sekitar tiga puluh  tahun,
> yang tersenyum kepadanya. Barudin tidak berprasangka apa-apa. Dia
> terus melangkah ke lepau.
> 
>  
> 
> Barudin makan enak sampai berpeluh-peluh. Makan dengan gulai cancang
> kambing. Barulah dia terperangah ketika merogoh saku baju gunting cina
> untuk membayar. Saku itu sudah kosong melompong. 
> 
>  
> 
> Kapundung, katanya dalam hati. Ini rupanya arti tingkah si Kurapai
> yang membungkuk mengambil saputangan tadi. Uangnya sudah dicopet. Uang
> seharga 20 kilo lado sudah raib digondol si pencopet.
> 
>  
> 
> Barudin tidak mau merisaukan diri gara-gara uangnya dicopet.
> Dikeluarkannya uang dari puro yang terikat di ikat pinggangnya untuk
> membayar nasi orang lepau. Uang yang diniatkannya akan diserahkan
> kepada istrinya. Barudin adalah seorang laki-laki ninik mamak di
> kampung, yang menenggang dunsanak perempuan dan bertanggung jawab
> kepada anak istri.
> 
>  
> 
> Dia tidak jadi singgah ke toko yang menjual atap seng. Biarlah besok
> hari Sabtu saja. Sesudah dia menjual lado pula di hari itu nanti. Dan
> mudah-mudah-mudahan dia bisa bertemu lagi dengan tukang copet kurapai
> tadi. Akan dijebaknya manusia jahil itu. Akan ditagihnya piutang kalau
> orang itu berjumpa lagi. Dia bergegas saja pulang ke kampungnya. Masih
> banyak kerja yang akan dikerjakan.
> 
>  
> 
>  
> 
> 
> ***
> 
>  
> 
> Sesuai rencana hari Sabtu berikutnya Barudin berangkat lagi ke pasar.
> Panen lado sedang naik. Hari ini hampir lima puluh kilo yang
> dibawanya. Alhamdulillah harganyapun bertambah elok. Lebih banyak
> bilangannya dari hari Rabu kemarin untuk sekilo lado. Barudin tidak
> perduli bahwa harga naik itu karena nilai uang kertas memang merosot
> terus dari sehari ke sehari. Ketika menerima uang harga lado
> dilakukannya persis seperti yang dikerjakannya tiga hari yang lalu.
> Uang itu diperduanya. Separo masuk puro dan separo masuk saku baju
> gunting cina. Hanya yang terakhir ini, kali ini dimasukkannya dulu ke
> dalam sebuah amplop. Kantong baju gunting cina menggelembung dengan
> amplop berisi uang kertas. 
> 
>  
> 
> Barudin mampir sebentar ke peturasan di dekat surau di pasar bawah.
> Seperti orang akan buang air kecil. Di kakus itu di keluarkannya
> kembali uang yang di dalam amplop dan dimasukkannya semua ke dalam
> puro. Amplop itu diisinya dengan kertas sehingga tetap menggelembung
> dalam sakunya. Barulah dia melangkah keluar.
> 
>  
> 
> Hatinya berdetak bahwa dia sudah diamati orang sejak dia menerima uang
> pembelian lado tadi. Sekarang dia melangkah menuju jenjang empat
> puluh. Seperti hari Rabu kemarin. Melalui jalan yang sama. Dia akan
> menuju lepau yang sama. Persis ketika akan menjejak jenjang empat
> puluh yang sebenarnya, dia di dahului tiga orang laki-laki. Satu dari
> ketiga laki-laki itu mengatakan �daulu saketek, mak� (=saya duluan,
> paman) dengan sopan. Dan orang itu adalah yang waktu itu mengambil
> saputangan jatuh.
> 
>  
> 
> Barudin bergumam dalam hati. Akan kuterima piutang, katanya.
> 
>  
> 
> Dia sampai di puncak jenjang. Di hadapannya adalah keramaian pasar
> dengan orang yang sangat banyak. Barudin berjalan saja menekur seperti
> biasa. Tapi kali ini dia sedang berhitung dan berencana. Akan menagih
> piutangnya.
> 
>  
> 
> Benar saja. Beberapa langkah menjelang lepau nasi. Di jalan yang
> sempit seperti kemarin. Tiba-tiba saja Barudin sudah berada di antara
> dua orang laki-laki. Di depannya adalah orang yang kemarin mengambil
> saputangan jatuh. Saat ini dia memegang sebungkus rokok Kansas. Di
> belakangnya terasa ada orang yang menyelingkit-nyelingkit sambil
> mendorong. Barudin sedang waspada penuh.
> 
>  
> 
> Nah, inilah saatnya. Yang di depan menjatuhkan bungkus rokoknya.
> Barudin melihat itu dengan jelas karena memang sudah ditunggunya dari
> tadi. Berikutnya orang itu membungkuk mengambil rokok dengan mukanya
> seperti kemarin lagi, melengah ke belakang ke arahnya sambil
> tersenyum. Tangan orang yang di belakangnya secepat itu pula merogoh
> ke dalam kantong baju gunting cina Barudin. Inilah yang ditunggunya
> dari tadi. Secepat kilat, tangan yang sedang berada di saku bajunya
> itu ditangkapnya dengan tangan kanannya. Cap, tertangkap. Orang itu
> berusaha melepaskan tangannya dengan muka ketakutan. Barudin tidak
> mengambil banyak tempo. Dengan sekelebatan yang hanya berbilang detik,
> tangan orang itu dikeripukkannya sampai berbunyi seperti tulang patah.
> Pada saat yang sama si tukang halang di depannya yang baru bangkit
> dari mengambil rokok jatuh disepohnya dengan kaki sehingga jatuh
> terjengkang.
> 
>  
> 
> Si perogoh melolong kesakitan. Telunjuk dan jari tenganya patah
> terkulai-kulai. Si penghalang yang jatuh terjengkang luka keningnya
> terhempas ke jalan. Barudin melihat orang ketiga. Dia sudah
> mengenalinya sejak menaiki jenjang tadi. Dia berbaju berwarna biru.
> Ketika orang ketiga ini berusaha menghindar, Barudin menarik pinggang
> celananya. Orang itupun pucat pasi ketika menoleh kepadanya. Dengan
> gerakan secepat kilat pula diraihnya tangan orang itu dan
> dipelintirnya dengan gerakan sangat cepat. Terkeripuk pula dengan
> bunyi tulang patah. Diapun melolong kesakitan.
> 
>  
> 
> Semua itu berlangsung dalam waktu tidak sampai lima belas detik. Orang
> di tengah balai yang ramai itu terheran-heran menyaksikan dua orang
> yang meraung-raung kesakitan. Tidak ada seorangpun yang tahu entah apa
> sebenarnya yang terjadi. 
> 
>  
> 
> Barudin mendekat ke si kening berdarah sebelum berlalu. �Ba karilahan
> wak yo,� (=Saling mengikhlaskan kita, ya) katanya. Si kening berdarah
> hanya bisa menyeringai. Jual beli itu memang sudah selesai. Barudin
> mengambil untung sedikit dari ketiga sekawan yang kemarin sudah lebih
> dulu menerima uangnya. Hari ini giliran Barudin menerima piutang.
> 
>  
> 
> Barudin melanjutkan langkahnya ke lepau nasi. Makan nasi dengan gulai
> cancang seperti kemarin dulu. Bahkan dua kali bertambuh. Habis juga
> tenaganya sesudah bersilat tiga jurus tadi. Barulah sesudah itu dia
> pergi ke toko seng.
> 
>  
> 
>  
> 
> 
> *****
> 
>  
> 
> 
> Dapek juo di baco di http://lembangalam.multiply.com dan
> www.palantalembangalam.blogspot.com 
> 
> 
>  
> 
> 
> ______________________________________________________________________
> Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo!
> Search.
> > 
> 
> 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Peraturan yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke