http://www.indrapiliang.com/2012/10/14/biografi-politik-kontemporer/
Minggu, 14 October 2012Biografi Politik Kontemporer Oleh Indra J Piliang* Di Indonesia, biografi politik belum begitu banyak ditulis. Biografi adalah tulisan mengenai riwayat hidup seseorang yang dituliskan oleh orang lain. Sementara otobiografi adalah riwayat hidup yang ditulis sendiri, atau bisa jadi ditulis oleh ghost writer (penulis hantu), tetapi menggunakan nama sendiri. Soalnya, tidak semua orang punya kecakapan menulis. Biografi dan otobiografi ini menjadi bagian dari sumbangan seseorang kepada orang lain dalam menjalani kehidupan, tidak terbatas di bidang politik atau pemerintahan. Sebagian besar biografi politik ditulis ketika seseorang berusia 70 tahun. Saya tidak tahu kenapa angka itu yang dijadikan patokan. Bisa jadi karena di usia 70 tahun itulah kehidupan politik menjelang akhir atau memasuki tahap pensiun. Walau, ada juga yang mencapai karier politik tertinggi di usia 70 tahun. Angka 70 tahun barangkali muncul ketika usia harapan hidup seseorang, terutama di Indonesia, di bawah usia 70 tahun itu. Namun, banyak juga yang sudah menulis biografi politik sebelum usia 70 tahun. Saya belum sempat memeriksa pada usia berapa Mohammad Hatta menulis “Memoir” yang berisi kisah hidupnya. Buku itu memberikan inspirasi yang begitu banyak ke dalam pengetahuan para peminat ilmu sejarah, sekaligus juga menyerap pikiran Mohammad Hatta yang luas dan dalam di bidang ekonomi, pertahanan, diplomasi dan sekaligus pemerintahan. Kebutuhan biografi politik muncul ketika majalah Prisma menerbitkan karya monumental “Manusia Dalam Kemelut Sejarah” tahun 1977 yang berisi tulisan tentang sejumlah tokohfounding fathers and mothers Indonesia. Dari buku itu, terdapat kisah-kisah tokoh yang saling mempengaruhi di masa hidupnya. Buku-buku tebal lain juga tersedia, seperti “Tan Malaka: Dari Penjara Ke Penjara” karya Harry A Poeze, “Sutan Syahrir: Politik dan Pembuangan di Indonesia” karya Rudolf Mrazek, sampai “Soe Hok Gie” karya John Maxwell dan lain-lain. Dari buku-buku itulah, pergulatan hidup banyak sosok dan tokoh dalam sejarah Indonesia diungkap. *** Saya menulis semacam buku memoar di usia 38 tahun. Judulnya “Mengalir Meniti Ombak: Memoar Kritis Tiga Kekalahan”. Saya tidak memaksudkannya sebagai karya yang berisi pemikiran, namun lebih banyak mengungkap detil Pemilu 2009, Pilpres 2009 dan Musyawarah Nasional Partai Golkar 2009. Walau saya juga menulis sedikit tentang riwayat hidup saya, tetapi lebih sebagai latar saja untuk pembaca yang tidak mengenal saya. Namun, jauh di lubuk hati saya, terdapat satu sikap betapa keringnya kehidupan politik kontemporer Indonesia dari buku-buku biografi. Buku yang saya tulis di usia muda itu sekaligus menjadi kartu undangan kepada para tokoh lain yang senior untuk menuliskan biografinya masing-masing. Apapun yang ada dalam buku itu, bagi saya bisa dijadikan sebagai bahan untuk melihat kehidupan politik hari ini. Saya tidak khawatir ketika dinilai terlalu muda mengeluarkan biografi, mengingat yang berusia tuapun jarang menulis biografinya sendiri. Belakangan saya bertemu seorang penulis bernama Ayu Asman yang menulis beberapa buku biografi. Ayu lebih banyak menulis para bupati di wilayah Kalimantan dan Indonesia Timur. Salah satu yang ditulis Ayu adalah Namto, Bupati Halmahera Barat. Selain tulisan yang tertata rapi, Ayu tidak lupa menyelipkan foto-foto keindahan alam Halmahera. Indonesia terlihat lebih dari sekadar gambar-gambar artis yang dibawa layar televisi ke setiap isi kepala penontonnya. Philips Jusario Vermonte, sahabat saya di Center for Strategic and International Studies (CSIS) dan Luky Jani, teman baik saya di Indonesian Corruption Watch (ICW), kini mulai berkeliling Indonesia untuk mewawancarai sejumlah politisi lokal yang dianggap memberi warna baru dalam politik. Menurut Philips, Indonesia memiliki banyak potensi pemimpin di tingkat lokal, ketika politisi “nasional” di Jakarta didominasi kalangan yang itu-itu juga. Usaha Philips dan Luky ini semakin memberi dasar, betapa Indonesia seyogianya sudah bisa mengandalkan banyak tenaga kebangsaan di pundak para pemimpin lokal. Butuh sedikit kontestasi saja untuk memunculkan pemimpin lokal di ranah nasional, sebagaimana terjadi dengan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama di DKI Jakarta. Jokowi-Ahok kini menjadi semacam harapan bagi pemimpin-pemimpin lain di daerah untuk bisa memanggungkan diri di level yang lebih tinggi, seperti di DKI Jakarta. Dengan pola yang bisa saja dibuat, misalnya konvensi antar pemimpin lokal masing-masing partai, Indonesia bakal bisa memiliki pelapis-pelapis baru dalam mencari pemimpin nasional. *** Serah terima pejabat kini tidak lagi disertai dengan semacam Memori Akhir Jabatan dari pejabat lama. Indonesia sepertinya terus dibelenggu oleh kilometer nol, memulai sesuatu dari awal, termasuk dan terutama di level daerah. Masyarakat dengan cepat melupakan bupati atau walikota atau gubernur atau anggota DPRD yang tidak lagi menjabat, lalu fokus kepada yang sedang menjabat. Padahal, pembelajaran bisa dimulai dari serah-terima Memori Akhir Jabatan itu, sebagai tolok ukur untuk mengejar keberhasilan demi keberhasilan berikutnya. Ingatan masyarakat perlu terus dipelihara untuk memberikan perspektif dan sekaligus perbandingan antar periode kepemimpinan. Indonesia bukanlah negara monarki yang sudah memastikan siapa pemimpin berikutnya. Gemuruh demokrasi bisa melahirkan pemimpin baru, termasuk yang baru belajar jadi pemimpin. Biografi politik bisa menjadi pemandu bagi ingatan kolektif itu, sekalipun dalam sudut pandang pelaku politik yang sudah atau sedang menjabat. Dengan cara seperti itu, belenggu kilometer nol bisa dihilangkan, ketika jejak kepemimpinan sebelumnya tinggal diteruskan, sehingga benar-benar menjadi kebijakan terbaik bagi kepentingan masyarakat luas. Ketika menjadi juru bicara Jusuf Kalla dalam Pilpres 2009, saya begitu kesulitan untuk mencari tahu tentang JK. Buku-buku tentang JK baru sedang disusun, termasuk – kemudian -- diluncurkan oleh para wartawan. Namun waktu begitu terbatas, sehingga sebagian baru bisa diluncurkan setelah masa kampanye selesai dan JK-Wiranto dinyatakan kalah. Bagaimanapun, saya tidak mengenal JK dan sama sekali tidak mengamatinya secara khusus, ketika menjadi analis politik di CSIS. Saya baru berinteraksi dengan JK dan Wiranto dalam masa-masa kampanye Pilpres 2009 itu. Pentingnya biografi politik ini membuka jalan bagi para penulis, terutama penulis-penulis muda. Walau tidak mudah menulis buku biografi politik, termasuk menyebut banyak nama yang masih hidup berdasarkan persepsi subjektif, tetap saja usaha ini layak dikembangkan. Dengan melimpahnya bahan bacaan menyangkut kehidupan politik dan pemerintahan, terdapat banyak sisi yang bisa dijadikan sebagai bahan untuk lebih maju lagi. Sebab, sesungguhnya, masa lalu – sepahit apapun – selalu memberi bentuk kepada masa kini, lalu masa kini memberi pengaruh kepada masa depan. Kita saja yang sering melupakan fakta itu... *) Ketua Balitbang DPP Partai Golkar dan Dewan Penasehat The Indonesian Institute -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
