http://indrapiliang.com/2012/10/31/iko-jaleh-piaman-1/

Iko Jaleh Piaman! (1)
Rabu, 31 October 2012Iko Jaleh Piaman! (1)

Oleh
Indra J Piliang *) 

Sejak
 memutuskan untuk mengambil formulir pendaftaran Calon Walikota Pariaman
 di DPD II Partai Golkar Pariaman, tanggal 22 Oktober lalu,  hampir 
setiap hari twitter saya menerima mention. Dukungan 
mengalir dari seluruh Indonesia dan bahkan luar negeri. Diskusi kecil 
juga berlangsung, termasuk dari tim kandidat calon walikota lain. 
Otomatis, otak saya juga bekerja lebih dari biasanya, mengingat 
pencalonan ini melibatkan saya langsung. Agenda kerja di kantor mulai 
kurang mendapatkan perhatian.

Begitulah, politik memerlukan 
pengorbanan. Ketika memutuskan maju dalam pemilu legislatif 2009 lalu, 
saya berhenti bekerja di empat kantor. Hanya satu kantor konsultan yang 
tersisa, itupun dengan makan gaji buta. Istri saya hanya mau menerima 
uang dari penghasilan saya sebagai pekerja kantoran. Memang sudah 
prinsipnya. Sekarang juga begitu, penghasilan saya dari minimal tiga 
kantor yang mengisi rekening rumah dalam setiap bulannya. Kalaupun ada 
penghasilan tambahan, dari honor pembicara di pelbagai kota, biasanya 
langsung saya kasih ke istri saya dalam amplop tertutup. 

Sebagai
 profesional dan politisi, saya sudah bisa menyesuaikan diri. Tidak lagi
 gagap, sebagaimana awal memasuki kehidupan politik praktis pada 6 
Agustus 2008. Di kampung, saya bertanam buah naga dan sudah menghasilkan
 setiap bulannya. Saya juga sudah memiliki satu perusahaan dengan saham 
mayoritas, pertama dalam hidup saya. Karyawan kantor juga terus 
bertambah, sekitar 15 orang. Keseharian saya adalah mengelola perusahaan
 yang sedang tumbuh ini, sembari terus aktif dalam kegiatan politik 
praktis. 

Agustus 2008 saya meninggalkan sejumlah pekerjaan 
dengan gaji dan penghasilan lebih dari Rp. 100 Juta per bulan. Sekarang,
 penghasilan saya kurang dari angka itu, tetapi tanpa harus 
meninggalkannya. Memang, saya membangun pekerjaan sesuai denganritme hidup saya 
sendiri, tanpa harus kehilangan apapun. Saya optimis, dengan sumberdaya manusia 
yang dimiliki kantor saya, perusahaan makin 
berkembang. Soalnya, sumberdaya manusianya berasal dari sebagian (besar) Tim 
IJP 09 Center yang dulu membantu saya dalam pemilu legislatif. 
Mereka sudah bersama saya hampir 4 tahun. Dulu mereka belum sarjana, 
sekarang sudah. Bahkan ada yang sudah mau menyelesaikan magister-nya. 

*** 

Bagi
 saya, sumber daya manusia menjadi penting. Saya membangun tim dulu dari
 lulusan SD atau tidak tamat SD, sampai mahasiswa dan sedikit sekali 
sarjana. Sebagian dari mereka ikut ke Jakarta. Sumber daya manusia 
memang langka, di bidang apapun. Bahkan untuk mencari karyawan di kebun 
buah naga kami, saya kesulitan. Dua orang adik saya yang sehari-hari di 
kebun, bukanlah petani buah naga profesional, hanya coba-coba. 
Pelan-pelan, saya membentuk mereka menjadi petani profesional, sekalipun
 terkendala oleh iklim dan kultur yang lamban. 

Karyawan di 
kantor saya juga begitu, saya bina dari tidak tahu apa-apa, menjadi 
mengerti dan kian profesional di bidangnya. Tentu banyak masalah, 
seperti konflik antar pribadi, transparansi yang kurang, motivasi yang 
berbeda, sampai kendala kultural dan pergaulan. Saya menghadapi dengan 
keras dan lembut, tetapi tetap dengan satu tujuan: mereka lebih berhasil
 dan maju dalam hidupnya. Alhamdulillah, hanya satu dan dua orang yang keluar 
dari tim, akibat perbedaan pendapat. 

Begitu
 juga Pariaman ke depan. Saya merasa Kota Pariaman memiliki masyarakat 
yang kreatif, egaliter dan dinamis. Semua adalah raja. Saking tidak 
adanya hamba sahaya, Kota Pariaman dikenal kurang ramah memberi 
pelayanan di bidang wisata. Sumatera Barat memang menghadapi masalah 
yang sama. Untunglah, pelan-pelan sudah mulai muncul penginapan yang 
baik, hotel yang karyawannya murah senyum, serta restoran yang stafnya 
rajin menyapa, tidak sibuk seperti pembawa piring yang dikenal fokus ke 
piringnya. 

Untuk Kota Pariaman, khususnya, serta Sumatera Barat,
 umumnya, pembangunan sumberdaya manusia menjadi lokus yang penting. 
Tanpa kehandalan sumberdaya manusia, Sumbar sama sekali hanya bisa 
mengandalkan sumber daya alamnya yang terbatas, wisata tradisional, 
produksi pertanian, perkebunan dan peternakan, serta tergantung kepada 
kiriman para perantau. Mayoritas anak-anak muda ingin menjadi pegawai 
negeri sipil, sehingga APBD sangat terbebani. Kota Pariaman, misalnya, 
PNS-nya lebih dari 10% dari jumlah pemilih dalam pilkada. Rata-rata, 70%
 APBD terserap untuk belanja pegawai. 

*** 

Hanya dalam 
waktu seminggu, saya mendapatkan banyak masukan tentang Pariaman ke 
depan, baik di bidang wisata, kelautan, pembangunan fisik, sampai segala
 macam usulan yang kadang terdengar tidak masuk akal. Sejumlah teman 
menawarkan bantuan secara langsung atau tidak langsung. Dan saya sibuk 
mencatatnya, lalu menyusun menjadi pola. Apapun masukan yang datang, 
tentulah memerlukan ranah lokalnya, sesuai dengan data yang ada. 


Apa
 visi saya untuk Pariaman? Ini pertanyaan yang sangat akademik dan 
rasional. Perlahan, saya akan membuka visi itu, termasuk di dalam 
artikel ini di bidang sumberdaya manusia. Visi yang sebetulnya sudah 
tertanam lama, sejak saya menyadari betapa kepergian ke rantau pada 
tahun 1991 tanpa dibekali oleh pemahaman apapun tentang rantau. Ketika 
saya kuliah di UI-pun sama sekali tidak ada perhatian dari Pemda. Hal 
ini langsung terpatri di benak saya. 

Pariaman memenuhi syarat 
sebagai kota dengan kultur kota. Tidak hanya sebutan sebagai Kota 
Pariaman, melainkan benar-benar kota. Syarat-syarat kota itu sudah 
terpenuhi. Walau Indeks Pembangunan Kota Pariaman – menurut data 2010 – 
masih yang terbawah dibandingkan dengan Kota-kota lain di Sumbar, namun 
dibandingkan dengan seluruh kabupaten sudah di urutan teratas. 

Kota
 Pariaman, sebetulnya sudah terbentuk jauh sebelum diresmikan pada 2 
Juli 2002. Kota Pariaman sudah hadir dalam khazanah ilmu pengetahuan 
sejak abad ke-16. Pariaman malah sudah memiliki koran lokal sendiri pada
 tahun 1930-an. Jadi, ketika secara administrasi Kota Pariaman 
ditetapkan oleh pemerintah pusat pada 2 Juli 2002, Pariaman justru 
dikukuhkan kembali kekotaannya, kepesisirannya dan kesyahbandarannya. 

Ini hanya sebuah langkah awal, dari langkah-langkah berikutnya. Iko Jaleh 
Piaman!!! 

*) Ketua Alumni SMA 2 Pariaman, kelahiran Kampuang Perak Kota Pariaman. 

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke