tarimo kasih banyak bakeh komentar nyo, pak Saafroedin, pak Syaf AL, pak Muljadi, sanak Fitr, dan dunsanak sadonyo,
sebagai tambahan ada cerita menarik dari seorang kawan, berkenaan dg hal tsb , ia bercerita mengenai joke dari jaman dulu ; ( maaf hanya sejarah, tak ada unsur SARA ) In the past, when there was still nigger slaves in America, there were two kind of niggers. The first are field niggers, the other are house niggers. Field niggers slept in the field, their hands and legs were cuffed, and they used to work very hard along the day in the fields. House niggers, in contrary, slept in their master's nice houses (even though only a small room), and used to do house jobs. One day, the white master's house was burning on fire. And how was the reaction from field niggers and house niggers ? Field niggers cheered up and prepared to run away from their master's field. House niggers were panic and shouted, 'Master, OUR house is burning !' Perumpamaan bangsa2 yang mengadakan perlawanan terbuka terhadap imperialisme modern seperti Palestina atau Afghan adalah laksana field niggers. Hidup mereka keras dan tertindas, namun sebenarnya merekalah pemilik kemerdekaan jiwa yang hakiki. Hidup kita mungkin lebih mirip house niggers, tidak pernah kelaparan walaupun cuma kebagian jatah makanan sisa. Tidur masih di ruangan walaupun ruangan paling kecil di pojok. Namun jiwa kita justru menjadi kerdil, dan dalam penindasan yang terus berlangsung ini, anehnya kita kadang-kadang memiliki 'rasa memiliki' yang luar biasa terhadap sistem yang menindas kita. Ingat seruan si house niggers 'OUR house is burning'. Persis seperti para ekonom dan pejabat keuangan kita yang kalang kabut ketika ekonomi AS dan Eropa mengalami resesi. Bayangkan, si house niggers itu sampai merasa bahwa ini adalah OUR house, padahal selama ini dia menjadi orang tertindas di rumah itu. Paling kata majikannya 'kita ? gue aja kaleee'. Untuk kita renungkan... ( by ismir K ) ---------- Bung Hendra, saya setuju dan senang dengan analisa Bung ini. Perlu kita pikirkan bersama bagaimana cara mengatasi mental inlander ini. Wassalam, SB. Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita --------------- Sanak Hendra, Pak Saaf dan sanak dipalanta! Nasib bangsa ko ke depan sangat tergantung sia pemimpin 2014. Wee nan kabisa mengubah keadaan. Sepanjang presiden mendatang masih restu pamansam, jan diarok akan ado perubahan. Itu sangenek dari ambo. Syaf AL/Bogor ----- Itulah sebabnya kenapa SBY dapat gelar ksatria dari ratu Inggris. Dia sudah menjalankan tugas ksatria membela kepentingin Inggris dan sekutunya soalnya..:) Wassalam fitr ----------- Assalamualaikum Wr.Wb. Yth. Bapak Hendra Messa ST. Saya salut atas info dari ungkapan & analisa teman Pak Hendra yang disampaikan dibawah ini. Wassalam, Muljadi Ali Basjah. ---------------- Rekan sekalian, sebuah ungkapan yg menarik dari seorang teman, mengenai betapa banyak orang tak suka bila perusahaan asing mengeruk kekayaan alam negeri kita , betapa kita sebagai anak negeri, hanya jadi penonton yg hanya mengais sisa2 nya sajah, protes dilakukan dimana2 dg berbagai cara. Namun bila ada lamaran dari perusahaan asing tsb, semua org berebut ingin melamar kerja disana, bila ada project kerjasama dg persh asing tsb, smua pejabat pemerintah, mulai dari lurah sampai petinggi negara ingin ikutan, supaya kebagian juga..:-)) Kalau sudah pada kenyang kebagian, akhirnya jadi diam seribu bahasa Pada waktu lain, timbul lagi protes di berbagai tempat, saat sudah kenyang , akhirnya diam lagi, dan begitu lah seterusnya Namun ada juga yg benar2 dg niat mulia ingin bangsa nya maju, mandiri dalam mengelola kekayaan alam anugrah dari Yang Maha Kuasa ini, ia tak bisa di patahkan dg godaan dunia, Akhirnya dipakai lagi deh, teori lama jaman penjajahan inlander, baheula, “divide et impera”, di adu domba dg sesama teman nya ( yg sudah dikenyangkan ), akhirnya ia dikeroyok teman2 nya sendiri, habis juga deh… Belajar dari sejarah Indonesia dan memahami karakter psiko sosial khas Indonesia spt itulah para penasihat perusahaan asing yg beroperasi di negeri ini, tahu sekali bagaimana cara “memainkan” nya, sehingga mereka tetap langgeng sejak jaman baheula sampai saat ini… “Sungguh terlalu” ,kata bang Rhoma Irama.., “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin” , lagu bang Rhoma yg sangat digemari tukang ojek yg biasa mangkal di bawah pohon mangga, perempatan jalan pasar jum’at Mental yang miskin dan hilangnya jati diri , adalah hal pertama yg perlu di perbaiki dalam diri kita, kita perlu membangun kekayaan jiwa, sebelum bisa mengelola kekayaan alam , "kekayaan yang sesungguhnya, ialah kekayaan jiwa" ( kalam hikmah) salam HM http://hdmessa.wordpress.com -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
