http://indrapiliang.com/2012/11/03/iko-jaleh-piaman-4/ 

Iko Jaleh Piaman! (4)
Sabtu, 3 November 2012
Iko Jaleh Piaman! (4) 
 
Oleh
Indra J Piliang *) 
 
Waktu kecil, ketika menempuh pendidikan SD di Aie Angek, X Koto, Tanah Datar, 
saya merasakan perbedaan iklim yang ekstrim. Saya mengalami sampai 
kelas I SMP Koto Lawas. Pariaman adalah wilayah yang panas, sementara 
Aie Angek begitu dingin. Perbedaan ucapan terjadi antara Pariaman dengan Aie 
Angek. Pariaman adalah pasisie, sementara Aie Angek adalah darek. 


Yang banyak saya dengar juga perbedaan budaya. Kalau baralek di Pariaman, ada 
acara “malam barituang”, yakni penyebutan sumbangan dari para tamu yang datang. 
Malam badoncek, bila helat dilakukan di rumah mempelai perempuan (anak daro). 
Di Aie Angek, para tamu hanya membawa beras di kampie. Pulangnya, kampie berisi 
pinyaram dan katan. 


Banyak yang saya dengar soal perbedaan urang darek memandang Piaman, begitupula 
sebaliknya. Urang darek biasa berkata berkias, sementara urang Piaman terus 
terang, kalau perlu 
ketika bicara terdengar sampai ke bukit. Namun, setelah pindah sekolah 
ke Kampuang Dalam, Padang Pariaman, saya mulai menemukan yang lain. 
Misalnya, belajar berpetatah-petitih untuk acara-acara kemasyarakatan. 
Juga belajar mengaji di surau, disamping bermain silat. 


Saya beruntung punya ibu orang Pariaman, sementara ayah orang Tanah Datar. 
Darah saya dialiri pasisie dan darek. Ayah saya Koto, ibu saya Piliang. Laras 
Koto Poliang di Minangkabau 
memang keturunan dari Datuak Ketumanggungan. Berbeda dengan Datuak 
Perpatih Nan Sebatang, laras Koto Piliang lebih banyak menjadi penasehat 
Kerajaan Pagarruyung. Langgam politik laras Koto Piliang lebih 
aristokrat, dibandingkan dengan laras Bodi-Chaniago yang demokratis dan 
egaliter. 


Kini, darek tidak lagi sedingin dulu. Tidak perlu pakai kain sarung dan sebo, 
dari sore sampai pagi hari. Iklim darek dan pasisie semakin dekat, akibat bumi 
semakin panas. Gunung-gunung es di kutub juga sudah 
lama mencair, beberapa menenggelamkan pulau-pulau kecil. Kutub yang 
muncul berjuta tahun yang lalu itu tidak lagi mampu menahan laju 
pengembangan teknologi yang menembus lapisan ozon. Dunia sudah berubah, 
begitu juga dunia di kampung saya: Pariaman dan Tanah Datar. 
 
*** 
 
Satu hal yang saya ingat, selalu membawa kelapa dan ikan asin dari Pariaman 
ke Aie Angek. Sebaliknya, dari Aie Angek saya membawa sayuran, kentang, 
bawang perai, buah japan dan cabe yang pedas. Begitu juga pisang yang 
berbeda rasa, pisang manis dari Pariaman dan pisang sarai dari 
Aie Angek. Bertahun-tahun saya melakukan itu, naik kendaraan umum, 
menjadi perantara bagi keluarga yang terpisah akibat tugas negara yang 
dilakukan ayah. 


Ayah adalah seorang eksperimentalis yang baik. Apa yang ditanam di Pariaman, 
dia bawa ke Aie Angek untuk ditanam. Begitu juga sebaliknya. Kalau 
percobaannya gagal, ayah mencoba lagi yang lain, bertahun-tahun juga. 
Ayah membekali diri dengan buku-buku pertanian. Pernah ayah 
berbulan-bulan tidak masuk kerja, lalu hidup di ladang kami di Pariaman, 
menanami dengan beragam buah-buahan. Saya juga melakukan hal yang sama, 
bertanam bunga matahari dan tomat di halaman rumah nenek di Aie Angek.  Buahnya 
luar biasa. Subur. 


Produksi kelapa Pariaman termasuk sektor unggulan sampai sekarang. Bahkan, 
sabut kelapa juga sudah mulai dimanfaatkan, selain tempurungnya yang 
dijadikan sebagai “batu bara” bagi pedagang-pedagang sate. “Batu bara” 
dari tempurung kelapa ini lebih disukai di luar Pariaman dan luar 
negeri, karena tidak mengganggu lingkungan. Membakar sate atau daging di atas 
panggangan tempurung kelapa, tentu memberi rasa berbeda ketimbang 
di atas bungkil batubara.  


Di halaman facebook, terdapat foto zaman dulu, ketika ada “sekolah beruk” di 
Pariaman. Foto 
ini ada dalam blog Ajo Suryadi, alumni SMA 2 Pariaman yng mengajar di 
Leiden University, Belanda. Sekolah itu masih ada sampai sekarang, namun tidak 
berombongan lagi. Orang-orang mengajarkan kepada beruk untuk 
menjadi pemanjat buah kelapa yang handal. Walau harga buah kelapa turun, 
digantikan dengan buah sawit, Pariaman masih jadi sentra produksi 
kelapa rakyat. Tahun 1980-an, pemerintah memperkenalkan kelapa hybrida, yakni 
kelapa yang cepat berbuah. Kalau kelapa masih menjadi milik 
rakyat, sawit kebanyakan milik perusahaan, terutama perusahaan asing. 


Orang Pariaman sering disindir karena beruknya itu. Bagi penyayang hewan, 
tentu masalah ini jadi klasik, yakni penggunaan hewan untuk membantu 
produksi manusia. Tapi cobalah berjalan ke daerah-daerah lain di 
Indonesia, kelapa dipanjat oleh manusia. Mana yang lebih “maju”, kelapa 
dipanjat beruk atau diturunkan oleh manusia? Sebagai hewan pekerja, 
tentu beruk diperlakukan dengan baik, sesekali diberi telur dan madu, 
sebagai penambah tenaga. 
 
*** 
 
Saya membayangkan, bagaimana kalau ada festival panjat kelapa? Ini bisa menjadi 
atraksi budaya yang unik, selain pacu jawi dan karapan sapi. Yang sudah mulai 
dilarang adalah adu kerbau, adu ayam atau adu anjing, walau masih dilakukan 
secara sembunyi. Ekspor beruk 
juga bisa dilakukan ke daerah-daerah sentra kelapa yang masih 
mengandalkan manusia untuk memanjatnya. Tentu, bagi orang yang bekerja 
untuk melindungi hak-hak binatang, atraksi ini dianggap buruk. Namun, 
kalau dipikirkan lebih jauh lagi, atraksi panjat kelapa oleh beruk yang 
dilakukan secara baik, bisa membawa manfaat budaya dan ekonomi. 


Sebuah festival atau atraksi panjat buah kelapa ini bisa diiringi dengan 
festival lain yang terkait kelapa. Misalnya, bagaimana memilin sabut kelapa 
sebagai tambang yang kuat? Belum lagi buah kelapa muda, 
bisa dikompetisikan untuk diminum sebanyak mungkin. Yang tak kalah seru, 
melakukan lomba mengukir tempurung kelapa, dijadikan beragam pernik, 
termasuk bisa menjadi cangkir dan piring yang khas. 


Di tepi Danau Singkarak, saya menemukan cangkir dan piring kelapa itu. 
Walau harganya agak mahal, saya membelinya dan membawanya ke Jakarta. 
Kopi dan teh yang dituang dalam keadaan panas ke dalam cangkir dan cerek kelapa 
ini, jauh lebih sedap rasanya, daripada ke dalam gelas-gelas kaca. 
Semakin lama digunakan, semakin kuat aromanya. Untuk mendapatkan 
tempurung kelapa yang kuat, bisa saja terlebih dahulu direndam di 
kubangan beberapa lama. Butuh inovasi guna mendapatkan hasil yang baik. 


Setahu saya, belum ada yang benar-benar melakukan inovasi di bidang 
perkelapaan ini. Nata de Coco dibeli di super-super market di Jakarta. 
Di kampung saya di Pariaman, Nata de Coco bisa langsung dipetik dari 
kebun. Tingkat kehausan penduduk Indonesia begitu tinggi, sehingga Nata 
de Cocopun perlu diimpor, minimal dikerjakan perusahaan-perusahaan 
bermodal asing. 


Pabrik Nata de Coco yang jadi bagian dari industri layak bisa saja dibangun di 
Pariaman. Minyak kelapa dianggap terlalu mengandung radikal bebas, 
berkolesterol, dibanding sawit. Tapi fakta juga yang berbicara, sawit 
membawa masalah dalam lahan danhukum pertanahan. Pilihan kebijakan yang 
tepat, di tengah kompetisi ekonomi kelas Mike Tyson vs Chris John ini, 
tergantung dari bagaimana tangan pemerintah mengelolanya. 


Apabila Nata de Coco lahir di Pariaman, namanya bisa saja jadi Paris de Coco. 
Iko Jaleh Piaman! 
 
*) Penyuka air buah kelapa asli. 

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke