Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
Carito-carito lamo. Dulu dalam bahaso awak judulno Pengajian Di Musajik Gurun.
Nan iko nan bahaso Indonesia.
Wassalamu'alaikum
Lembang Alam
TAKLIM BUYA ABIDIN (5)
TANGGUNG JAWAB KEPADA KELUARGA
‘Mari kita sambung bahasan kita minggu lalu,’ ujar Buya Abidin mengawali
pengajian beliau pada Sabtu malam itu. ‘Minggu yang lalu sudah kita kaji bahwa
sebagian dari istri-istri dan anak-anak ada yang bisa menjadi musuh kepada
kita. Sudah kita jelaskan pula bahwa menjaga keimanan istri dan anak-anak itu
dilakukan setelah masing-masing kita terlebih dahulu menjaga diri sendiri dari
kejaran api neraka. Hal tersebut adalah kewajiban dan kita sudah diingatkan
Allah tentang itu. Biarlah saya teruskan kaji ini dengan tanggung jawab
terhadap pemeliharaan anak-anak yang diamanahkan Allah kepada kita.
Pemeliharaan sejak dia dilahirkan sampai dia beranjak dewasa.
Kebanyakan orang di jaman sekarang ini merasa bahwa tanggung jawab itu
terbatas hanya sampai menyekolahkan anak-anak ke perguruan tinggi. Sebab, pada
saat mereka sudah selesai bersekolah tinggi, sudah jadi sarjana, lalu dapat
pula bekerja di perusahaan yang bisa menjadikan mereka orang kaya, orang tuanya
merasa bahwa dia sudah sangat berhasil dalam mendidik anak-anaknya. Kalau untuk
biaya pendidikan maka orang tua biasanya mau habis-habisan. Tidak kayu, jenjang
dikeping. Tidak emas, bungkal diasah. Maka sangatlah senang hati seorang orang
tua jaman sekarang, ketika dia mempunyai empat orang anak, semuanya sarjana,
semuanya punya kedudukan yang mapan, bahkan ada yang menjadi anggota DPR. Bukan
alang kepalang besar hatinya. Bagaimana tentang persiapan akhirat mereka? Jika
ini yang kita tanya, biasanya berkerut keningnya. ‘Apakah hal itu penting?’
tanyanya. Atau paling-paling dia akan mengatakan, bahwa dulu ketika anak-anak
itu masih kecil mereka
dimasukkan ke sekolah mengaji, bahkan sudah sampai khatam al Quran. Lalu,
bagaimana keadaannya sekarang? Masih pernahkah diingatkan shalatnya? Diingatkan
kalau dia sudah membayar zakat atau belum? Bagaimana pula dengan puasanya? Nah,
biasanya jarang orang tua sekarang yang masih melakukan hal-hal tersebut,
mengingatkan anak-anaknya sesuatu yang berhubungan dengan masalah agama.
Padahal, Nabi SAW mengajarkan, jika anak-anak sudah berumur tujuh tahun agar
diajar shalat. Kalau sudah umur sepuluh tahun belum juga shalat, harus dihukum.
Boleh dipukul. Begitu perintah Nabi. Begitu peringatan beliau agar kita
mempersiapkan anak-anak-anak supaya mereka terhindar dari api neraka. Ajarkan
kepada anak-anak itu bagaimana caranya mengingat Allah dengan cara
bersungguh-sungguh. Mengenal Allah sebagai Yang Maha Mencipta, Yang Maha
Mengatur segala urusan, Yang Maha Kuasa. Dan cara mengajarkan pengenalan
terhadap Allah itu adalah dengan menegakkan shalat.
Kalau kita tidak bersungguh-sungguh menyiapkan mereka, maka berhati-hatilah.
Sebagaimana kita juga harus berhati-hati ketika kita tidak memelihara dan
menafkahkan rezeki yang diberikan Allah kepada kita dengan cara yang diridhai
Allah. Kita diberi Nya harta yang banyak, anak-anak yang banyak, serba hebat
semua, anak-anak sarjana semua. Tapi kita tidak mengurus harta atau anak-anak
itu di muka bumi ini seperti yang dikehendaki Allah. Kita hanya sibuk
mengumpulkan harta lalu menghitung-hitungnya. Disana aku punya tanah sekian
luas, disitu ada rumah mewahku, disana aku punya toko sekian pintu. Anak-anakku
sudah jadi orang semua, sudah jadi sarjana dan hebat-hebat. Sudah punya
kedudukan penting. Menantu-menantukupun tidak kalah hebat. Maka tunggu dulu.
Ingatlah firman Allah, ‘Sesungguhnya hartamu, anak-anakmu itu adalah fitnah,
sementara disisi Allah ada pahala yang besar.’ (Surah At Taghabun ayat 15).
Harta yang banyak dan anak-anak itu hanyalah fitnah bagimu. Tidak sedikitpun
akan menyelamatkanmu kalau kamu pakai hanya untuk berbangga-bangga saja di muka
bumi ini. Harta dan anak-anak itu akan jadi fitnah kalau tidak pandai-pandai
mengelolanya. Kalau kamu tidak mempersiapkan mereka untuk menjadi hamba-hamba
Allah yang mengerti akan Ke Maha Kuasa an Nya.
Ada sebuah cerita tentang seorang laki-laki punya enam orang anak, semua
anaknya laki-laki. Semua anak-anak itu sarjana dan masing-masing bekerja
ditempat yang hebat. Semua sering bepergian ke luar negeri. Ada yang ke
Amerika, ada yang ke Jerman dan ada yang ke Jepang. Betapa bangganya sang ayah
melihat keberhasilan keenam anak-anaknya tersebut. Ketika sekali-sekali
berkumpul di rumah orang tuanya, misalnya disaat hari raya terlihat bahwa
mereka memang bukan orang sembarangan. Sesama mereka, kadang-kadang mereka
bercakap-cakap dalam bahasa Inggeris. Sangat hebat dan mengagumkan. Ayah mereka
bangga luar biasa.
Allah berkehendak, mungkin karena sudah berangsur tua juga, sang ayah jatuh
sakit. Mulanya anak-anak bergantian menunggui di rumah sakit. Derita sakit itu
ternyata berlangsung lama. Secara berangsur-angsur makin berkurang saja
kesempatan anak-anaknya menemani dikarenakan mereka sibuk. Atas kehendak Allah
semakin dekat rupanya kedatangan ajalnya. Menjelang sakratul maut, orang tua
itu memanggil-manggil keenam anaknya bergantian. Dua orang sempat hadir
menyaksikan ketika maut datang sedangkan empat orang yang lain baru datang
sesudah sang ayah terbujur kaku jadi mayat. Maka berundinglah keenam anak-anak
itu bagaimana cara mengurus jenazah ayah mereka yang sudah terbujur kaku itu.
Yang paling tua mengusul agar diserahkan saja ke Yayasan Bunga Surga. Kita
undang seorang ustad untuk menyelenggarakan jenazah ayah, beres semua urusan,
begitu katanya.
Maka dihubungilah yayasan yang dimaksud si sulung. Di undang pula seorang ustad
yang tinggal dekat rumah orang tua mereka itu. Ustad tadi bertanya kepada
mereka, apakah mereka tidak akan ikut memandikan jenazah ayah mereka. Apa jawab
mereka? Tolongl;ah ustad saja yang memandikan. Sudah selesai dimandikan, dan
dikafani jenazah tersebut, ustad tadi mengingatkan lagi bahwa yang paling afdal
menjadi imam shalat jenazah adalah salah seorang dari anak-anak beliau. Jawab
mereka, tolong sajalah ustad yang jadi imam. Bahkan ada di antara keenam anak
itu tidak ikut menyalatkan jenazah ayah mereka.
Inilah contoh bagaimana anak-anak menjadi fitnah kepada orang tua. Tidak ada
sedikit juga manfaat bagi orang tuanya padahal anak-anaknya sudah
disekolahkannya tinggi-tinggi. Anak-anak yang selama ini jadi kebanggaannya,
yang selalu jadi bahan cerita mengasyikkan kalau dia bercerita kepada orang
lain. Maka bertemulah peringatan Allah; ‘Innamaa amwaalukum wa aulaadukum
fitnattun, wallahu 'indahuu ajrun 'azhiim.' (Sesungguhnya hartamu dan
anak-anakmu adalah cobaan (fitnah). Sedangkan disisi Allah ada pahala yang
besar.)
Seandainya saja dulu anak-anak itu dididik pengetahuan agama secara memadai.
Diajarkan agar dia mengenal Allah dengan sungguh-sungguh, diajarkan cara
beribadah kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Seandainya dulu banyak berdoa
kepada Allah minta petunjuk Nya untuk diri sendiri dan untuk anak-anak. Meminta
kepada Allah agar istri dan anak-anak dijadikan Nya penyejuk mata. Agar
dijadikan Nya orang-orang yang terkemuka di kalangan orang-orang yang bertaqwa.
Seandainya dulu sering berdoa; Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa
tzurriyatinaa qurrata a'yun, waja'alnaa lil muttaqiina imaama. Atau bahkan
berdoa agar dikaruniai Allah anak keturunan yang saleh seperti doanya nabi
Ibrahim a.s., Rabii hablii minashshaalihiin. (Tuhanku,
anugerahilah aku dengan anak-anak yang shalih.)
Kalau perkara harta yang menjadi fitnah bukankah sudah sama kita lihat. Harta
yang hanya sekedar dikumpul-kumpulkan untuk dihitung-hitung. Sudah sama kita
lihat tidak sedikitpun harta itu dapat menolong. Apa yang terjadi sesudah itu?
Biarpun anak-anak sudah jadi orang-orang hebat sekalipun, urusan harta
peninggalan orang tua tetap saja mereka berebutan. Tidak jarang timbul
permusuhan di antara mereka sesudah itu, saling iri dan dengki antara yang satu
terhadap yang lain. Kalau sudah seperti ini, alih-alih akan jadi pahala untuk
yang sudah meninggal malahan jadi penambah dosa jadinya. Sebab harta yang
ditinggalkan hanya menjadi bahan pertengkaran di antara anak-anaknya. Harta itu
hanya menjadi fitnah semata. Menjadi cobaan semata.
Seandainya dulu rajin bersedekah, rajin berinfak. Seandainya dulu sebelum mati
sudah dibagi harta itu sesuai dengan ketentuan dan petunjuk Allah. Barulah ada
manfaatnya. Tapi karena tidak ada amalan seperti itu yang didapat hanyalah
kesusahan dan fitnah saja sesudah itu. Fitnah berupa perkelahian di antara
sesama anak-anak dalam perebutan harta.
Jadi artinya, hendaklah kita pandai-pandai dalam mengelola harta di jalan
Allah. Membelanjakannya dengan cara yang diridhai Allah. Boleh kaya, kalau
memang kita pintar dalam mencari uang. Tapi ingat bahwa di dalam harta yang
kita peroleh itu ada hak orang lain. Ada zakat yang harus dibayarkan.
Pandai-pandailah dalam mendidik anak. Silahkan sekolahkan mereka setinggi
mungkin tapi ingat pula untuk membekalinya dengan pengetahuan agama yang
mencukupi. Supaya nanti mereka sanggup mengurus kita ketika kita sudah jadi
orang tua. Sanggup menyelenggarakan jenazah kita ketika kita mati. Menyalatkan
kita sebelum kita diantar orang ke kuburan. Sebab sabda Rasulullah SAW,
‘Bilamana mati anak Adam maka putuslah segala amalannya kecuali dalam tiga hal.
Pertama adanya sedekah jariah. Kedua adanya ilmu yang bermanfaat dan yang
ketiga adanya anak yang saleh yang mendoakan kedua orang tuanya.’ Jadi perlu
adanya anak yang saleh. Dan anak saleh yang dididik sendiri. Disiapkan sendiri,
karena dengan cara mendidiknya itu akan terbina ikatan batin antara orang tua
dan anak.
Sampai disini dululah kaji kita. Isya Allah minggu berikut kita sambung lagi.’
Demikian Buya Abidin mengakhiri taklimnya kali itu.
*****
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?
Find them fast with Yahoo! Search.
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan
menyampaikan komitmen akan mematuhi Peraturan yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---