Aww.MN kiriman dari member nan slalu kami respon dmkian.ambo slallubarusao 
manampekkan stiap memberatw lainnyo dg  positif thinking sarato manjago  
silaturahmi indak taputuih.wass.haasma depok

 ----------
Terkirim dari telepon Nokia saya

------Pesan asli------
Dari: Mochtar Naim <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]>
Cc: "MOCHTAR NAIM" <[email protected]>
Date: Friday, November 16, 2012 8:26:38 PM GMT+0800
Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] Sabuah Catatan 'Kenapa Ada Orang-orang (Minang) 
Yang Mengingkari Islam?'

Pak Asmun,
 
Sering2lah berdakwah seperti ini. Bialah awak ndak sato-sato barantaunet
kalau cuma sekadar mangaluakan sempritan ataupun semprotan.
 
MN

From: asmun sjueib <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Friday, November 16, 2012 6:59 PM
Subject: Bls: [R@ntau-Net] Sabuah Catatan 'Kenapa Ada Orang-orang (Minang) Yang 
Mengingkari Islam?'


Tks. kiriman email tasabuik. Haasma

Dari: Muhammad Dafiq Saib <[email protected]>
Kepada: "[email protected]" <[email protected]> 
Dikirim: Jumat, 16 November 2012 18:40
Judul: [R@ntau-Net] Sabuah Catatan 'Kenapa Ada Orang-orang (Minang) Yang 
Mengingkari Islam?'


Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

Sabuah catatan.....


Kenapa Ada Orang-orang (Minang) Yang Mengingkari Islam?
oleh Muhammad Dafiq Saib pada 15 September 2012 pukul 22:38 ·Kenapa Ada 
Orang-orang (Minang) Yang Mengingkari Islam?

Baru-baru ini ada suatu kejadian mengejutkan di Ranah Minang. Ada seorang 
pegawai negeri urang awak menyatakan dirinya sebagai atheis. Lebih dahsyat lagi 
dia mengatakan bahwa dia adalah anggota organisasi Atheis Minang. Ada kelompok 
orang Minang yang atheis? Yang tidak percaya dengan Allah? Siapa yang tidak 
akan terkejut? Atau (kebanyakan) orang Minang mana yang tidak akan terkejut? 
Bukankah orang Minang itu adalah orang-orang yang taat beragama. Yang beridiom 
Adat Bersendi Syara', Syara' Bersendi Kitabullah? Kok tiba-tiba ada berita 
seperti ini? Tapi, benarkah semua orang kaget? Terkejut? Mungkin tidak semua. 
Karena pasti ada yang tidak kaget, sekurang-kurangnya anggota kelompok mereka 
itu sendiri.

Saya termasuk yang tidak terlalu terkejut. Tidak ada suatu kelompok (suku) 
bangsa yang terdiri dari berjuta-juta orang jumlahnya, serba seragam belaka 
Serba sama tingkat keimanan dan keyakinannya. Suku bangsa manapun  mereka.  
Begitu juga dengan orang Minang. Bahwa mayoritas orang Minang terdaftar 
beragama Islam, boleh-boleh jadi saja. Apakah semuanya penganut Islam yang 
taat? Apakah semuanya menjalankan perintah agama Islam secara seksama? Secara 
kaffah? Tidak sulit menjawabnya. Tidak mungkin yang demikian itu. Ada yang 
mereknya saja beragama Islam, tapi dia tidak menjalankan perintah agama Islam. 
Dia tidak shalat, tidak puasa, apalagi membayar zakat. Apalagi pergi berhaji. 
Adakah kelompok yang seperti itu? Pasti ada dan tidak susah mengamatinya. 
Cobalah amati orang-orang yang kita kenal, di sekeliling kita. Bahkan mungkin 
di lingkungan sanak famili kita sendiri. Ada yang shalih, ada yang tidak 
shalih. Ada yang taat dan ada yang acuh tak acuh saja. 

Di lingkungan tempat tinggal saya, di sebuah komplek 200 an buah rumah, ada 12 
an keluarga urang awak. Ada yang suami istri orang Minang dan ada pula yang 
campuran. Yang laki-lakinya Minang,  istrinya Jawa atau Betawi. Dan sebaliknya 
yang wanitanya Minang sedangkan suaminya Jawa atau Bugis atau Madura. Yang 
menarik adalah fakta bahwa hanya enam atau tujuh orang bapak-bapak urang awak 
itu yang taat datang ke mesjid untuk shalat berjamaah. Saya katakan enam atau 
tujuh karena ada yang masih setengah-setengah, kadang-kadang hadir, 
kadang-kadang tidak. Ada yang hadirnya hanya di hari Jumat saja. Shalat tarawih 
di bulan puasa pun ada yang tidak pernah datang. Dan ada satu orang yang tidak 
pernah sekalipun hadir ke mesjid. Tidak hadir shalat Id ke lapangan. Masya 
Allah..... Yang satu ini pernah diajak oleh warga, jawabannya hanya senyum 
sinis saja.

Di kampung saya, shalat subuh paling banyak dihadiri oleh sekitar dua puluh 
orang jamaah laki-laki dan sejumlah itu pula jamaah perempuan. Penduduk kampung 
itu adalah sekitar 200 orang dewasa. Yang lain mungkin shalat di rumah 
sendiri-sendiri. Mungkin......  Adakah orang kampung yang tidak shalat? Ah, 
entahlah.....

Di mesjid Raya Bukit Tinggi shalat subuh juga dihadiri sekitar dua puluhan 
orang jamaah laki-laki dan belasan orang jamaah perempuan. Tapi, kan mesjid ini 
bukan di tengah pemukiman letaknya. Mesjid Baitul Haq di ujung jalan Lurus di 
Kampung Cino agak sedikit lebih banyak jamaah subuhnya. Adalah sekitar tiga 
puluhan orang laki-laki dan dua puluhan jamaah wanita.  Ada pula sebuah mushala 
dekat tempat tinggal ipar saya di sebuah komplek perumahan pula di Garegeh - 
Bukit Tinggi. Kompleknya cukup besar, yang hadir shalat subuh kurang dari 
sepuluh orang saja. Di sebuah tempat lagi di pinggir kota Sawahlunto, tempat 
ipar saya yang lain. Saya perlu berjalan dua ratus meter  ke mesjid terdekat 
untuk shalat subuh. Melalui deretan rumah-rumah. Jamaah shalat subuh  hanya 
satu shaf kurang dari dua puluh orang. Beberapa contoh ini barangkali cukup 
untuk mewakili keadaan umum di Ranah Minang.

Coba pulalah perhatikan ketika dikumandangkan azan yang mana saja di tengah 
kota Bukit Tinggi atau Padang. Cobalah perhatikan berapa banyak yang datang 
memenuhi panggilan azan tersebut? Bahkan yang memenuhi panggilan azan di hari 
Jum’at? Ada yang acuh tak acuh saja. Dan jumlahnya cukup banyak.

Itu kalau kita lihat dari ibadah shalat. Di bulan puasa ada saja orang yang 
terang-terangan tidak menjalankan ibadah puasa. Tidak terkecuali di kampung 
kita. Di Bukit Tinggi ada lepau berkelambu di bulan Ramadhan tempat orang makan 
minum di siang hari. Pernah saya bertanya, kenapa tidak puasa? Jawabnya, sakit 
maag. Benarkah? Wallahu a’lam.
Kenapa demikan tingkat keberagamaan urang awak? Yang ber ABS-SBK itu? Saya 
memahami, inilah ma'na dari yang difirmankan Allah,Fa alhamaha fujuuraha 
wataqwaaha. Ada yang ditaqdirkan Allah untuk fujuur, untuk fasik dan ada yang 
ditaqdirkan untuk bertaqwa. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah tiada 
siapapun yang akan dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang dibiarkan sesat 
oleh Allah tiada siapapun yang dapat menunjukinya. Dan Allah memberlakukannya 
secara sangat umum. Sebagaimana di kalangan orang Arab ada yang fujuur ada yang 
taqwa, begitu pula di tengah masyarakat Minang.

Sekedar perbandingan saja, kami pernah punya pembantu yang pernah bekerja 
beberapa tahun di Arab Saudi. Dan dia bercerita, majikan Arabnya seringkali 
shalat subuh di waktu dhuha. Katanya karena tertidur. Tapi masak tiap hari 
tertidur? Jadi di kalangan orang Arab di sana ada yang sekedarnya saja tingkat 
ketaqwaannya.

Sekarang kita terkejut mendengar ada yang memproklamirkan dirinya sebagai 
anggota kelompok Atheis Minang. Padahal bukan hanya sekarang ada orang atheis 
di negeri awak. Di jaman masih ada PKI dulu, cukup banyak angota PKI yang 
notabene  tidak mengakui adanya Tuhan di sana. Yang jadi anggota PKI itu dari 
berbagai macam lapisan anggota masyarakat. Ada yang dari lingkungan orang 
beragama, bahkan sudah haji. Ada dari lingkungan penghulu bergelar Datuk. Ada 
dari kalangan terpelajar, dari kalangan guru-guru.

Kenapa mereka jadi komunis? Jadi atheis?

Kita alih sedikit kaji. Ada pula yang menghebohkan bahwa ternyata ada pula 
orang Minang yang murtad, yang masuk agama Kristen. Bahkan dari kalangan 
keluarga ulama. Lalu mau diapakan? Kalau Allah akan membiarkan mereka fujuur? 
Menjadi fasiq dan meninggalkan  aqidah? Jangankan anak ulama, anak Nabi kalau 
akan dibiarkan sesat oleh Allah, ya tersesat saja. Itulah Kan’an putera Nabi 
Nuh. Ada seorang rombongan sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang 
mula-mula, yang ikut berhijrah ke Habasyah, ternyata di sana kemudian murtad. 
Masuk agama Nashrani. Tidak ada yang dapat menunjuki mereka. Nabi Nuh tidak 
berhasil memperingatkan puteranya untuk bertaqwa kepada Allah.

Terlintas pula pertanyaan di hati kita. Tanggung jawab siapa sebenarnya menjaga 
aqidah umat? Termasuk umat Islam di Minangkabau? Tanggung jawab ulamakah? Atau 
penguasakah? Atau ninik mamakkah? Atau diri mereka sendiri-sendirikah? Pada 
hemat saya, tanggung jawab utama itu terletak di pundak masing-masing individu. 
Di pundak kepala setiap keluarga. Di pundak seorang ayah. Di pundak seorang 
suami. Sesuai dengan perintah Allah agar setiap orang yang beriman menjaga diri 
mereka dan ahli keluarga mereka dari siksaan api neraka. Quu anfusakum wa 
ahlikum  naara.

Tugas ulama adalah untuk senantiasa mengingatkan setiap individu muslim, setiap 
umat Islam agar bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintah Allah. Tapi tugas 
ulama hanya sebatas mendakwahkan. Sebatas mengingatkan tanpa bosan-bosan. 
Memberi peringatan dan penjelasan kepada umat tentang akibat dan resiko jika 
seseorang melanggar perintah Allah. Penguasa bertanggung jawab memfasilitasi 
keberagamaan masyarakat dan  berkewajiban menegakkan hukum-hukum Allah dalam 
mengurus kemashlahatan masyarakat. Penguasa yang seperti ini yang dalam Islam 
disebut sebagai Ulil Amri. Seandainya mereka, para penguasa tidak melakukannya 
sesuai dengan yang diperintahkan Allah, itu adalah tanggung jawab mereka kelak 
di hadapan Allah dan biarlah mereka menanggung segala resikonya. Tapi ketika 
kita lalai untuk urusan ibadah kita sehari-hari, maka itu adalah tanggung jawab 
kita masing-masing pula.

Terakhir sekali, apa yang harus kita lakukan ketika mendengar ada di kalangan 
saudara-saudara kita yang atheis? Yang murtad? Kalau mungkin cobalah dakwahi. 
Kalau tidak, cobalah doakan agar kiranya mereka diberi hidayah oleh Allah, 
kembali ke jalan yang diridhai Allah. Kalau tidak berhasil juga, sadarlah bahwa 
mereka memang orang-orang yang dibiarkan oleh Allah untuk tersesat dan itu 
adalah hak dan kekuasaan Allah. Mari kita senantiasa berusaha dan berdoa agar 
kita dan anak keturunan kita diberi petunjuk oleh Allah dan terhindar dari 
siksaan api neraka.  

*****                 


Wassalamu'alaikum,


Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H, 
Jatibening - Bekasi-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
 
 
 


-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/




-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke