Tanggal 20 November 2012 LEON AGUSTA, Harian Singgalang - http://bit.ly/UbNdrU
Kemanakah gerangan lajang-lajang kita menghilang?, Semarak kampung di rembang petang?, Mereka hilang bersama debu perang saudara, Yang tak pulang ditelan hutan, Yang pulang berterbangan, Anakku bilang, bumi luas tempatku tualang, Kenapa tak pulang, sayang, (Dari Gendang Pengembara, Leon Agusta) PRRI dinamakan perang saudara karena kita memilih sikap dan bahasa kebudayaan. Sementara dalam bahasa politik kekuasaan peristiwa disebut pemberontakan. Pada masa itu banyak orang Minang, terutama anak-anak muda yang meninggalkan kampung halamannya karena ketakutan bisa jadi korban perang saudara. Itulah suatu masa kelam dalam kehidupan masyarakat Minang yang penuh dengan pengalaman traumatik. Kutipan puisi di atas (1962) menggambarkan tragedi dari suatu masa yang walaupun sudah lama berlalu namun selalu hidup dalam kenangan. Bagi yang mengalami, tak terlupakan. Mereka pergi karena ingin menyelamatkan diri dari bahaya perang dan berbagai akibatnya setelah perang selesai terutama pada masa-masa pembersihan sisa-sisa pemberontakan. Keterpelantingan eksistensial. Itulah yang terjadi. Di perantauan mereka harus bertarung dengan segala daya upaya agar bisa survive. Beruntung bila ada sanak saudara yang dituju sebagai tempat bergantung. Tetapi banyak juga yang betul-betul berjuang sendirian. Bapak cari dunsanak cari, iduak samang cari daulu, menjadi pegangan. Cukup banyak di antaranya yang survive; bermula dari kaki lima sampai masuk pertokoan Tanah Abang, atau perguruan tinggi hingga berhasil jadi sarjana. Ada pula yang berganti nama untuk mengaburkan kesan keminangannya agar dapat diterima di sekolah militer dan sebagainya. Dalam perjalanan waktu, bahaya pun seperti berlalu dan hidup dapat ditata sebagaimana yang diharapkan. Walau kehidupan ekonomi (selama pemerintahan Orde Lama) terkenal sangat sulit tapi mereka bebas bergerak. Episode post perang saudara dan era pemerintahan Orde Baru membuka lembaran baru dalam sejarah perantauan orang Minang. Tradisi merantau untuk berdagang berubah menjadi pertarungan di gelanggang kehidupan moderen yang berkeluasan. Tampaknya perantau Minang lebih cenderung memilih bidang profesional dari pada bidang politik kekuasaan. Bila ada yang sampai menduduki kekuasaan politik, jumlahnya tak seberapa dan prestasinya sedang-sedang saja. Hasrat bersaing dalam bidang politik tampaknya kalah dibandingkan dengan mencapai kedudukan dalam jabatan profesional. Sukses yang dijanjikannya sangat berbeda. Profesionalisme memiliki ruang kebebasan yang lebih luas, persaingan yang lebih sehat dibandingkan dengan ruang kekuasaan yang hirarkis. Dalam kehidupan di perantauan, orang Minang menjadi urban people karena mereka hidup membaur di tengah-tengah urban society hingga perbedaannya dengan etnis lain tak begitu kentara. Keminangan mereka baru menonjol atau ditonjolkan ketika upacara perkawinan dan berbagai ritual lainnya. Seringkali timbul kesan, upacara yang diperlihatkan orang Minang di Jakarta atau di kota-kota lain, kemegahannya jauh melampaui di negeri asalnya. Mungkin, faktor persaingan dengan kemegahan upacara yang diperlihatkan etnis lain ikut mendorong. Generasi baru yang lahir di rantau masih tetap mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang Minang. Entah kenapa, dalam pergaulan dengan suku lain, menyebut diri orang Minang merupakan satu kebanggaan tersendiri. (Paling tidak itulah yang penulis serta keluarga rasakan). Megapolitan Jakarta adalah gelanggang persaingan. Secara tak terelakkan semua harus ikut bersentuhan atau gaul dengan kultur lain yang ikut membentuk karakter megapolitan yang serba dinamis penuh tantangan. Sekarang dimensi waktu dan jarak sudah berubah. Yang dulu jauh, sekarang terasa dekat. Jarak yang dulu butuh waktu lama mencapainya kini pun juga sudah menjadi lebih cepat. Perlengkapan kerja terus semakin moderen. Akses informasi terbuka bagaikan tak ada batas; komunikasi jarak jauh lebih cepat dari tarikan napas. Bumi terasa kian kecil, terapung dalam keluasan galaxy. Perkataan merantau pun kian mengabur. Orang Maninjau buka restoran di Washington DC, orang Payakumbuh di San Francisco, para penari dari Padang melanglang buana di lima benua, begitu juga pemain musik dan sastrawan. Tak ada lagi di antara mereka yang bilang merantau. Yang ada hanyalah tempat tinggal atau domisili. Para dosen kuliah ke luar negeri dan kembali mengajar di tempat asalnya. Para birokrat sarapan pagi di Padang, makan siang di Jakarta dan makan malam kembali di Padang. Mobilitas manusia kian tinggi dan kian cepat. Setengah abad yang lalu semua ini sungguh tak terpikirkan. Istilah marantau cino juga ada. Mereka juga pulang, membawa anak cucu, walau untuk jangka yang tak lama. Masjid kian indah di desa-desa. Rumah mewah dengan berbagai gaya arsitektur bermunculan di sebarang ranah dalam nagari. Arsitektur Minang banyak dijadikan pilihan karena pertimbangan artistik dan kebanggaan kultural. Di antaranya dikaitkan dengan kegiatan memajukan peradaban dan seni. Sepanjang tahun, sejak awal era Orde Baru, desa di Minangkabau kelimpahan banyak rezeki dari berbagai negeri. Terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. Sungguh satu sajian karya peradaban yang menghibur dan mencerahkan. Apalagi buat sebuah negeri yang boleh dibilang miskin sumber daya alam. (Beda dengan ‘pahlawan devisa’ yang mengirim sebagian hasil keringatnya dengan keluarga di kampung yang justru merupakan ironi kemanusiaan yang sangat getir. Orang Minang tidak mau jadi korban jebakan nasib seperti yang dialami TKI sebab sistem kekerabatan orang Minang tak mungkin mengizinkan terjadinya hal sedemikian). Putra-putri negeri miskin ini, di perantauan, memiliki ilan vital yang kuat, terkenal dengan naluri bisnis yang mereka miliki, di mana pun mereka berada. Tetapi hanya mampu bermain di dunia bisnis tingkat menengah saja. Di tingkat konglomerasi dominasi Cina sangat kentara. Orang Minang bagaikan tak berdaya. Mengapa? Jawaban pertanyaan ini untuk sebagian, tersimpan dalam sumber-sumber modal usaha yang berkaitan dengan kebijakan politik. Sebagian lagi terletak pada kelemahan kultur bisnis orang Minang sendiri yang — menurut cerita almarhum Hasyim Ning — cepat puas dan selalu ingin menikmati lebih banyak. “Pengusaha Minang, waktu modal asing mulai masuk, punya kesempatan sama dengan Cina,” kata Hasyim Ning. Orang Minang, baik di rantau mau pun di kampung, sebagaimana diungkapkan Taufik Abdullah, dalam satu diskusi Gebu Minang beberapa tahun yang lalu di Padang, suka hidup bapuak-puak. Terlihat jelas dari perkumpulan yang mereka dirikan di rantau. Ada semangat persaingan yang sehat tersimpan di sini. Hubungan psikologis orang Minang perantauan dengan yang menetap di kampung, bagaikan pantun kerinduan bersahut-sahutan seperti sering terdengar dalam lagu yang melankolik. Terkadang, juga ada semacam gesekan yang mencerminkan kecemburuan pada orang rantau, yang memang punya kelebihan dalam berbagai hal. Perbincangan mudah terganggu. Apa yang dikerjakan orang rantau di ranah Minang, umumnya diterima dengan baik karena yang bicara adalah bahasa kerja, bukan kata-kata. Dalam apa yang wujud karena kerja, tumbuh bahasa yang menyimpan etika. Kemuliaan manusia pun bersemayam di sana. (*) -- Wassalam Nofend | L-36 | CKRG -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
