2012/11/28 Akmal N. Basral <[email protected]>

>
>
> Sanak Fitr, soal FLP, wakatu ambo di Pakistan sampek pulo diminta
> anak-anak FLP Pakistan menjadi instruktur tamu (sabananyo waktu itu ambo
> masih si Tempo meliput pembunuhan Benazir Bhutto sampai pemilu Pakistan,
> dan keliling Karachi, Islamabad, Rawalpindi, jo Lahore). Wakatu tibo di
> Islamabad ruponyo ado anak-anak FLP nan tahu, akhianyo dibueklah "workshop"
> dadakan di halaman KBRI Islamabad di hari Ahad, menggelar tikar jo prayer
> mat (agar rhyming, hehehe...). Ado kiro-kiro hampir 20 anak FLP nan ikuik,
> dan banyak di antaro mereka nan anak Ma'had pulo.
>
> Salam,
>
> ANB
>


Dek basabuik pulo rhyming, lah takana pulo jo tulisan lamo nan pokoknyp
barima...:)

Wassalam
fitr

---

Di kaki lembah bukit barisan. Dekat ke hutan dan terpisah dari pemukiman.
Disitulah rumah kayu sederhana itu berdiri. Menyendiri. Seakan hendak
berpisah dari peradaban. Menyatu dengan alam.

Zainab, nenek tua satu-satunya penghuni rumah tersebut sudah bangun sebelum
subuh. Walaupun sepenuh rambutnya adalah uban, tapi ketegarannya masih
utuh. Keriputan di wajahnya memang terlihat nyata. Tapi nenek Zainab jauh
dari kesan renta. Sejak pagi dia sudah memulai segala aktifitas. Memasak
air, menanak beras. Mengurus kambing memberi makan unggas. Mencuci pakaian
di sungai yang berair deras. Kemudian ke ladang mengurus segala tanaman.
Berbagai sayuran dan bermacam umbian.

Namun dibalik ketegarannya, sebenarnya nenek Zainab menyimpan resah.
Kesepian dihari tuanya sering membuatnya gelisah. Ditengah segala
kesibukan, tak jarang bibirnya mendesah. Walaupun bukan berkeluh kesah,
dapat diduga hati beliau sangat gundah. Dimalam sunyi tidak jarang
airmatanya buncah.

Suaminya telah lama dipanggil Ilahi. Meninggalkan 2 anak laki-laki yang
sudah mandiri. Kesayangan dan belahan diri. Obat jerih penawar hati. Tapi
sekarang mereka hidup di negeri orang. Merantau jauh ke pulau seberang.

Anak pertama membuatnya terluka. Keras hati dan keras kepala. Tapi pada
dasarnya bukanlah seorang anak yang durhaka. Namun setelah sekolah di Jawa,
menikah dengan orang sana. Bukan nikahnya yang membuat nenek Zainab
berduka. Soal lain daerah, dia sudah sangat rela.

Tapi entah seperti apa orang Minang menurut pikiran menantunya. Seakan
lelaki Minang suka kawin batambuah semuanya. Itulah yang menyebabkan
istrinya melarang pulang. Takut lakinya direbut orang. Atau dikawinkan lagi
sesama rang Minang. Makanya, jangankan pulang, menelponpun jarang. Walaupun
selalu mengirim uang. Atau lewat sanak saudara menitip barang. Tentulah itu
sangat kurang. Melepaskan rasa rindu yang alang kepalang.

Anak kedua membuatnya bangga. Berotak pintar dan bermental baja. Bersahaja
dan sederhana. Wajahnya gagah mirip abaknya. Anak berbakti dan baik budi.
Sangat pandai mengambil hati. Ringan tangan senantiasa membantu. Selalu
punya waktu untuk sang ibu. Untuk sekedar berbagi cerita sambil tak lupa
memijat bahu.

Namun memang sudah suratan tangan. Diapun harus meninggalkan kampung
halaman. Seperti kakaknya, menuntut ilmu mencari pengalaman. Setelah tamat
kuliah di Unand, menjadi dosen di Padang. Selalu teratur bertandang pulang.
Tapi kini mendapatkan beasiswa ke negeri orang. Melanjutkan S2 ke negara
Jepang. Inginlah nenek Zainab hendak melarang. Tapi demi masa depan anak,
dadapun dibuat lapang. Luapan hati dipendam hilang.

Akan tetapi semakin jauh badan berpisah, sejujurnya, rasa rindu membuat
nenek Zainab payah. Untuk melawan rasa rindu pada dua anaknya itu, siang
hari tubuh tua itu sengaja dibuat lelah. Di malam hari dalam sujud-sujud
panjangnya, beliau mengadu kepada Allah. Dengan sepenuh tawakal dan segenap
pasrah. Agar hendaknya putra-putranya hidup dalam berkah. Agar hati mereka
bahagia, dan kekayaan pun bertambah. Mendapat rezeki yang berlimpah-limpah.
Tidaklah ingin dia menjadi seperti ibu Malin Kundang. Yang telah kelepasan
mulut, mengutuk anak kandung menjadi batu karang. Tapi jika kerinduan itu
datang menggebu, dada nenek Zainab seakan hendak pecah. Airmata berjatuhan
sampai ke tanah. Bahkan sampai sajadahnyapun menjadi basah.

Maka kesibukan sehari-hari adalah pelarian bagi nenek Zainab. Sawah,
ladang, binatang bahkan bukit dan hutanlah yang menjadi teman akrab. Dengan
tetap meletakkan harapan dan yakin pada kasih sayang Allah. Bibir beliau
tak putus-putus dari membaca tilawah. Kalaulah bukan ingatan yang sudah
dimakan usia, tentulah beliau sudah jadi hafizhah.

Apalagi dalam beberapa bulan belakangan ini. Ada anak muda yang selalu
menyambangi. Seumur dengan anak pertamanya. Tapi sangat santun dan
bersahaja. Sekali dua minggu datang bertamu. Walaupun sampai sekarang
bahkan namanya pun nenek Zainab tidak tahu. Dia lebih suka dipanggil saja
buyuang. Mengakunya dari suku tanjuang.

Semenjak itu pula nenek Zainab merasa ada yang aneh dan perubahan hebat.
Alam menjadi terasa lebih sejuk dan bersahabat. Binatang buas, seperti
harimau, ular dan srigala seakan menjadi jinak. Walaupun sudah di depan
mata, tidak pernah lagi mereka menyerang binatang ternak. Hujanpun turun
dengan lebatnya. Tapi tidak lagi membawa bencana. Semua sawah dan ladang
mendapatkan jatah air. Namun tak ada lagi cerita tentang tanah longsor atau
banjir. Hasil panen berlimpah dan banyak berkah. Sampai susah pula sekarang
ini mencari orang yang mau menerima zakat dan sedekah.

Dan hari ini, setelah shalat Zuhur, nenek Zainab makan siang dengan lauk
ikan asin. Kemudian melanjutkan istirahatnya sambil membaca surat Yasin.

“Assalamu’alaikum, siapa pula yang meninggal, Mak”, suara pemuda itu dari
arah belakang mengejutkan nenek Zainab. Saking khusyuknya tak sadar kalau
dia sudah begitu dekat. Mendengar pertanyaan itu beliau hanya terkekeh.
Sampai air liurnya keluar meleleh.

“Begitulah kalian…”, jawab nek Zainab, setelah membalas salam, memancing
rasa ingin tahu. “Kalian pikir Yasin hanya untuk orang mati saja?”, tanya
beliau balik menyerbu.

“Amak lebih tahu dari aku”, jawab si pemuda dengan suara lemah. Itu yang
disuka nenek Zainab, karena buyuang ini suka merendah. Maka beliaupun
berceramah. Bagaikan guru dari madrasah.

“Bacalah ayat yang ke 70”. nenek Zainab bersemangat. “ Tidakkah dikatakan
disana, Ini adalah peringatan untuk yang hidup?”lanjutnya memberi
penjelasan singkat.
“Jadi lebih patutlah dia dibacakan pada orang hidup, daripada orang mati”,
ringkas beliau dengan padat.

“Dari mana pula Amak belajar tafsir?”, tanya si pemuda sambil mendekat.

“Buya yang mengajariku…”’, suara nenek Zainab mengandung rindu. Menyebut
nama panggilan suaminya hatinya jadi terharu.

Suaminya itulah yang menjadi alasan nenek Zainab tak mau beranjak dari
rumah kayu mereka. Walaupun terpencil dari pemukiman penduduk, dari sinilah
mereka memulai lagi segalanya. Ketika tanah kaum mereka dirampas paksa oleh
tetangga sendiri. Mereka memilih menghindar untuk menyelamatkan diri.
Percuma saja dibawa ke meja hijau untuk berperkara. Hanya akan menghabiskan
dana untuk menyogok hakim dan pengacara.

Dan sudah berpuluh tahun mereka jalani disini bersama. Lengkap dengan
segala duka citanya. Maka, setelah buya meninggal, tidaklah dia hendak
beranjak. Tidak ingin dia dengan kuburan suaminya dibatasi jarak. Dalam hal
ini nenek Zainab sudah tak bisa dibujuk. Pindah ke perkampungan agar
gampang orang menjenguk.

“Amak ajarilah aku seperti Buya mengajar Amak,”pinta si pemuda dengan ramah.


“Kalian yang muda-muda lebih banyak bersekolah dari aku”, nenek Zainab
merendah.

“Tapi pengalaman Amak lebih luas dari kami”, si pemuda tak mau kalah.

Akhirnya nenek Zainab mulai bercerita. Memberi penjelasan panjang lebar
seperti yang diajarkan suaminya. Dilengkapi kisah-kisah sejarah Nabi.
Dikaitkan pula dengan cerita aktual zaman kini.

Sebenarnya nenek Zainab bisa menduga, bukan si pemuda ini tak tahu apa yang
dia sampaikan. Tapi pemuda itulah yang membiarkannya bercerita untuk
memberinya kepuasan. Dengan menyampaikan sedikit ilmunya, membuat dirinya
merasa berarti. Cukuplah itu untuk mengusir rasa sepi. Maka nenek Zainab
terus bercerita sampai hatinya puas. Goreng ubi, pisang dan kopi yang
menemanipun sampai tandas. Sedang si pemuda hanya sesekali menimpali dan
mengiyakan. Atau bertanya minta penjelasan. Lebih banyak tersenyum dan
terpekur. Mencoba menyerap hikmah dengan hati jujur.

Sehabis asyar pembicaraan mereka terus berlanjut. Semangat nenek Zainab
seakan tak pernah surut. Bermacam cerita yang dia sampaikan. Kisah dia dan
buya yang dijodohkan. Atau anak-anak yang sedang di rantau. Berpisah
nagari, berpisah pulau. Ceritanya berkepanjangan tak henti-henti. Tapi si
pemuda mendengarkan sepenuh hati. Dia biarkan nenek Zainab bertutur dengan
bebas. Tak diselanya sampai hati beliau jadi puas. Apalagi nenek Zainab
pandai bercerita. Cerita berulangpun tak bosan orang mendengarnya.

Tapi saat sampai membahas kelakuan para pemimpin, pandangan si pemuda
tertunduk rendah. Dibahas pula pemimpin daerah. Si pemuda seperti jengah.
Nenek Zainab bisa melihat perubahan air wajah.

“Buyuang pendukung fanatik pemimpin sekarang ya?” nenek Zainab main tembak.

“Tidak Mak”, si pemuda hanya tergelak.

“Kalau begitu Buyuang pasti tim suksesnya pas pilkada”, nenek Zainab
mencoba galak.

“Juga bukan”. jawab si pemuda mengelak.

“Kalau begitu sanak saudaranya”, nenek Zainab terus menebak

“Dapatlah dikatakan begitu…”, suara si pemuda menjadi lunak.

“Kalau begitu sampaikanlah nasehat ambo kepadanya”. “Janganlah hanya
duduk-duduk saja di rumah bagonjong itu. Turunlah ke bawah. Lihatlah
kondisi rakyat. Betapa banyak yang hidupnya masih melarat. Susah makan
susah sekolah. Tapi mereka menjaga diri. Pantang meminta menengadahkan
tangan. Mereka itulah yang harus dilacak. Dan itu tak akan dipahami jika
dia tidak turun sendiri”, nenek Zainab berpanjang lebar.

“Tambahkanlah nasehatnya Mak”, pinta si pemuda dengan sabar.

“Takutlah pada doa orang yang teraniaya”. Tambah nenek Zainab, tegas dan
datar.

Mendengar kalimat tersebut tubuh si pemuda itu seakan bergetar. Menggigil
seperti orang menahan lapar. Sejenak wajahnya menjadi pucat pasi. Tapi dia
segera bisa mengontrol diri. Khawatir membuat nenek Zainab merasa bersalah.
Dia menggeserkan tubuh dan memalingkan wajah.

“Sudah senja Mak, izinkan aku pulang”, si pemuda minta diri seakan
menghindar. Sebelum nenek Zainab menyadari perubahan dirinya dan
pertanyaannya akan makin gencar.

“Oh ya?, …Kalau begitu hati-hatilah di jalan”, pesan nenek Zainab perlahan.

“Assalamu’alaikum”, si pemuda mengucap salam sambil berjalan.

“Wa’alaikumussalam”, jawab nenek Zainab seraya membereskan gelas dan
pinggan.

Nenek Zainab melepas si pemuda dengan senyum bahagia. Di hatinya ada
perasaan lega. Tak lupa membekali buah tangan hasil ladang beberapa
bungkus. Si pemuda pun menerima dengan rasa terima kasih yang tulus.
Kerinduannya pada anak-anaknya seakan telah tertumpah lepas. Setidaknya
malam ini, nenek Zainab yakin bisa tidur dengan pulas. Bagai berpadu dengan
alam bebas.

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke