Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakaatuh.
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Entah berapa tahun yang silam, aku masih ingat,
tatkala secara spontanitas saja aku memberikan pilihan
pertama pada pasangan hidupku agar memilih Hp mana
yang ia sukai. Saat itu aku baru membeli Hp di Dubai,
sementara Hp beliau sudah lama.Aku katakan
padanya:Silahkan uda pilih Hp mana yang uda sukai,
mau Hp yang baru beli, maka Ima yang lama, kalau uda
suka yang lama, Ima yang baru, tetapi uda harus
memilih yang uda sukai diantara kedua Hp tersebut.
Suamiku bingung rupanya, ia memilih yang lama. Lantas
kutanyakan, memang uda suka Hp yang lama?, jawabnya
;Enggak sih, suka yang barulah, tapi uda lebih mau
mengalah, asalkan Ima pakai yang baru.Yah sudah kalau
gitu, karena memang uda suka model Hp yang baru itu,
maka silahkan uda pakai Hp itu, biar Ima yang lama,
bagi Ima mana yang uda sukai, berarti Ima juga senang,
asal uda senang. Hal semacam Hp ini sebenarnya ada
beberapa kali terjadi, saya lebih suka menyuruh orang
memilih lebih dahulu ketimbang saya dahulu, ketenangan
hati ada disana, melihat suami bahagia dan memang
beliau ini lebih membutuhkannya, saya ikhlas saja
mengalah untuk hal-hal kematerialan semacam ini.
Sebelum berangkat Ke kairo, aku dan dua orang kakak
kandungku pergi ke pasar grosir Aur Kuning. Semulanya
aku hanya berniat menemani kakakku yang datang dari
Medan ingin belanja di Aur tersebut. Tapi malah aku
yang lebih banyak belanja ketimbang diri beliau. Aku
belanja itu, bukan untuk diriku semuanya, tetapi untuk
barang yang bisa kudagangkan di Kaironya, yang semula
ngak ada rencana untuk bawa barang dagangan, karena
jumlah bagasi yang diperbolehkan hanya 20kg per
orang.Saya dan anak-anak tiga orang, jadi jumlah
timbangan semua yang diperbolehkan hanya 80kg, makanya
ngak ada niat untuk bawa barang dagangan, sebab, kali
ini, saya akan membawa buku-buku mata pelajaran kedua
anak saya, yang kelas 4-6, dimana tahun ini InsyaAllah
kls 5SD-1SMP, jadi aku bawa buku kelas 5 dan 1 SMP
tersebut, dimana aku juga membawa bahan-bahan buku
untuk skripsiku, betapa beratnya bawaanku tersebut,
belum lagi oleh-oleh dan barang lainnya.
Aku membeli dua pasang baju kaos, warna biru dan
coklat(hanya tinggal dua warna itu saja lagi yang ada
semodel baju kaos itu), dan warna yang paling aku
sukai adalah warna biru tersebut. Begitupun aku
membeli beberapa potong jilbab dengan bermacam warna,
tetapi yang aku sukai warna hitam. Ketika kakakku yang
satu lagi pamitan mo pulang ke Padang(kakak ini ngak
beli apa-apa, karena memang ia ngak punya uang),
tetapi aku tau, ia sangat suka jilbab dan baju yang
aku beli tersebut, karena ialah yang pertama sekali
bertanya mengenai harga baju tersebut. Aku ngak sampai
hati, saat diatas angkot warna biru muda(angkot ke
Baso, via Biaro), aku panggil kakakku itu:
kak,..sinilah, kakak silahkan pilih baju mau yang mana
warnanya?. Kakakku heran, : Ngak usah, katanya, Ima
lebih perlu, karena Ima akan ke Kairo, belum tentu ada
model baju ini disana, Ngak..ngak papa kak, cepatlah
orang menunggu di angkot ini, kemudian jawab kakakku
lagi: Ngak usahlahTerus kukatakan,: Silahkan kakak
pilih, mau warna apa, biru atau coklat. Kakakku
Tanya: Ima suka warna apa?, Saya jawab: Warna apa
saja kulit Ima masuk dikedua warna baju itu koq, kakak
pilihlah pintaku dan jawabnya lagi.kalau gitu, kakak
pilih warna biru.
Kemudian kutawarkan lagi jilbab yang sangat
diinginkannya tadi: kak, ini ada jilbab lima warna,
silahkan kakak pilih mau warna apa?Ima mau yang mana
katanya, Saya tetap jawab,: Warna apa saja jadi.
Kakakku memilih warna hitam, yang biasanya warna hitam
ini, biasa masuk ke banyak warna baju lain.
Sesampai dirumah, kakakku yang satu lagi(dari Medan),
itu bertanya:Ima kenapa memberikan baju warna biru
yang justru pilihan Ima pertama, dan yang Ima sukai,
juga memberikan ia pilihan memilih jilbab yang Ima
sukai? Apa kujawab: Kak, hati Ima akan tenang, bila
memberikan seseorang apa yang justru ia sukai, meski
Imapun jauh lebih menyukainya. Bukankah Allah
berfirman: kamu tidak akan mencapai kebaikan(yang
sempurna), sehingga kamu memberikan sebahagian apa
yang kamu sukai, dan apa saja yang kamu nafkahkan,
maka sesungguhnya Allah mengetahuinyaQ.S Al Imran
awal juz 4), kalau gitu, kakak mau baju-baju Ima yang
dilemari itu, kakak banyak menyukai baju-baju Ima,
juga barang-barang Ima untuk kakak saja yah..?. (kata
kakakku sambil bercanda), Kujawab saja: Silahkan kak,
kalau kakak sanggup membawanya.
Kedua sikap dan cerita saya diatas, adalah benar-benar
sikap spontanitas, yang sudah terbiasa saja, kata
orang, alah biasa dek terbiasa.
Sesampai di Kairo, tentu aku ceritakan hal ini pada
suamiku. Kenapa aku ceritakan setelah aku berikan,
bukankah kewajiban seorang istri dan hak suami adalah
seorang istri tidak boleh menafkahkan(memberikan)
sesuatu barang, ataupun uang pada orang lain, kecuali
harus seizin suaminya?.Aku jawab, aku memberikan hal
itu bukanlah uang suamiku, tetapi uang hasil kerjaku,
jadi tidak ada dosanya bila aku tidak
memberitahukanpun pada suamiku tersebut, tetapi kalau
diberitahu juga ngak papa bahkan lebih baik, karena
dalam Islam, hakikatnya uang istri berhak
disedeqahkannya tanpa sepengetahuan suami, berbeda
bila itu harta atau uang suami, bila hendak diberikan
pada keluarga sekalipun maka sang istri berkewajiban
minta izin dahulu pada suaminya.(Ini salah satu
kelonggaran dan kemuliaan yang Allah berikan pada
perempuan yang bekerja dari hasil keringatnya sendiri,
bisa kita lihat firman Allah taala, Bagi lelaki
nasib(kadar rezeki), yang ia usahakan, bagi
perempuanpun ada bagian dari yang ia upayakan juga.
Dan ini juga sebenarnya kemuliaan Islam terhadap
perempuan. Islam justru meninggikan derajat kaum
perempuan. Banyak orang sibuk dengan emansipasi,
persamaan gender. Islam justru jauh berabad yang silam
lebih mengutamakan kaum perempuan. Islam menyuruh kaum
perempuan agar berjilbab.Ini semua gunanya menjaga
maruah perempuan, cobalah kita bayangkan dengan
makanan yang ditutup tentu lebih baik ketimbang
makanan yang terbuka begitu saja, sering dihinggapi
lalat, nyamuk, debu dllnya. Banyak lagi kemuliaan
islam terhadap kaum Hawa ini, namun dengan cara yang
benar, bukan dengan cara memberikannya harta
berlimpah, mewariskan seluruh harta untuk perempuan.
Lihatlah kalau Islam sebenarnya mengutamakan kaum
perempuan, ditinjau dari lahirnya setengah dari kaum
lelaki. Banyak propaganda mereng dalam hal ini seakan
hukum waris Islam tidak bertindak adil. Cobalah kalau
kita bayangkan, seorang perempuan yang wajib
menafkahinya adalah suaminya, tetapi adakah sang istri
berkewajiban menafkahi suaminya?
Dan kalau saja ayah sang perempuan meninggal, siapakah
yang bertanggungjawab menafkahinya? Abang kandungnya,
atau Pamannya(adik lelaki, atau abang lelaki perempuan
tersebut), kalau saja suaminya meninggal, kemudian
kalau ia menikah lagi, siapa yang akan menafkahinya?
Suami barunya bukan, tetapi kalau suami yang sang
istri meninggal, adakah istri baru yang akan
menafkahinya? Tetap sang suami, itu sebabnya maka
bagian lelaki jauh lebih besar ketimbang bagian
perempuan.Perempuan hartanya bisa tetap, atau bahkan
bertambah kalau dia pandai memutarkannya, bila sang
suami meninggal, sementara kaum lelaki, bila istrinya
meninggal, hartanya akan menafkahi istri barunya, jadi
wajar sang suami mendapatkan jauh lebih besar
ketimbang istrinya dari sisi hokum waris Islam.
Begitu mulianya Islam dalam memuliakan perempuan.
Tapi teramat disayangkan, jarang diantara kita ummat
Islam menyadari hal ini, kita terbawa propaganda kaum
orientalis dengan slogan mereka :Emansipasi
wanita,Persamaan gender. Rugi kita kaum wanita kalau
disamakan begitu, padahal Allah telah meninggikan kita
dari kaum Bapak-bapak. Lihatlah hadits Rasulullah
bagaimana seorang anak harus lebih berbakti kepada
ibunya, sampai tiga kali dari
Bapaknya.Ibumu..ibumu..ibumu
baru Bapakmu...Karena
apa? Karena kaum Ibulah yang telah melahirkan
anak-anaknya, kaum Ibulah yang lebih banyak mendidik
anak-anaknya, menjaga, memasakkan, mencucikan,
merawat, membimbing. Nah,..tugas ini, ingin kita
alihkan kepada kaum lelaki, terlalu bodoh rasanya kita
menolak kemuliaan dan kelebihan yang telah Allah
berikan itu. Terlalu bodoh kita kaum perempuan kalau
dijadikan ajang iklan, tubuh kita dilihat semua orang,
duh..dimana lagi keistimewaan kalau semua dah pada
melihatnya? Yang anehnya para suami, para abang
kandung, para ayahpun merasa bangga pula, kalau
anaknya jadi pameran,penyanyi, atau penari.
Ada sebuah hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al
Baihaqi:Dari Abu
Waqidz Allaitsi menceritakan biasanya nabi Muhammad
Shalllalhualaihiwasallam bersabda:Sesungguhnya Allah
yang Maha Tinggi dan Mulia berfirman, sesungguhnya
kami menurunkan harta bagi manusia agar mereka kuat
menegakkan shalat, dan supaya dibayar zakatnya,
seandainya manusia itu mempunyai satu lembah emas,
niscaya dia senang mempunyai lembah emas kedua, dan
seandainya dia sudah mempunyai lembah emas kedua, maka
dia senang mempunyai lembah emas yang ketiga.Tidak ada
yang dapat memenuhi rongga manusia selain tanah.Allah
menerima taubat kepada orang yang bertaubat kepadaNya.
Dalam H.R. Muslim disebutkan, Rasulullah bersabda:
Hati orang yang sudah tua, tetap muda dalam hal
mencintai dua perkara,hidup dan harta
Ada sebuah kisah dizaman rasulullah
Shalllalhualaihiwasallam. Sahabat Jafar bin Abdi
Thalib syahid pada perang Mutah. Ia meninggalkan tiga
anak yang masih kecil. Maka Rasulullah berdiri dan
berkata:Siapakah yang akan menanggung anak-anak
Jafar, (padahal kala itu, para sahabat masih miskin
dan lemah), maka datanglah tiga orang sahabat yang
mulia, mereka berlomba-lomba untuk menanggung
anak-anak Jafar Radhiallahuanhu, meskipun semua
sahabat yang menawarkan itu dalam keadaan
miskin.Adakah dizaman sekarang kita muslimin
berlomba-lomba untuk mengkafil anak-anak yatim/piatu?
Ada lagi sebuah kisah yang mana kisah ini juga
diceritakan di H.R Bukhari dan Muslim, dimana pada
perang Khandaq, Ahzab, para sahabat saking laparnya,
mereka mengikatkan batu pada perut mereka. Datanglah
jabir bin Abdullah, dan berkata kepada Rasulullah,:
Di rumah ada sisa-sisa ayam dan gandum.Mari kita makan
bersama.Rasulullah bertanya, :Apakah aku sendiri
saja? jawab sahabat Jabir,Ajaklah seorang atau dua
orang bersama baginda.
Rasulullah berdiri dan berkata, Wahai segenap kaum
Muhajirin, Wahai segenap kaum Anshar, makan siang kita
hari ini dirumah Jabir bin Abdullah. Jabir
berkata:Dengan serta merta saya beranjak menuju
rumah.Saya berkata kepada istri saya,bantulah aku,
Rasulullah akan datang bersama pasukan kaum
muslimin!.Wanita Mukminah itupun berkata,Apakah
engkau telah memberitahukan tentang makanan ini kepada
Rasulullah?Jabir berkata,Ya, istrinyapun
berkata,Allah dan RasulNya yang lebih
mengetahui
..(hadits ini cukup panjang,yang pada
akhirnya makanan sedikit tadi cukup untuk sekian
banyak tentara muslimin, karena sedikit itu, tetapi
benar-benar ikhlas, bisa menjadi penuh berkah)
Coba kita lihat betapa seorang istri yang mukminah
memberikan support kepada suaminya agar menjamu tamu
dengan baik, dan betapa istri-istri para sahabat,
mendukung bahkan yang menganjurkan para suami untuk
selalu berbuat baik, berinfaq, bersedeqah, menjamu
tamu, dan mensugesti dakwah Islam, adakah para istri
semacam zaman Rasulullah dan para sahabat masih ada
dizaman sekarang ini, dizaman yang justru serba
moderen dan lebih canggih ini, masak dah ada blender,
atau bahkan dah bisa beli cabe giling, santan dah jadi
dan sebagainya, ngak perlu begitu letih untuk menjamu
tamu, sayang sekali sangat jarang terjadi, yang ada
malah istri marah-marah kalau suami pulang terlambat
untuk cari nafkah, apalagi untuk berdakwah, untuk
komunikasi dengan masyarakat sekeliling, dan
merepet-repet tak berketentuan kalau suami bersedeqah,
apalagi kalau harus capek-capek masak untuk sang tamu
suami, maunya diri suami dan harta suami hanya untuk
dirinya saja atau keluarga saja, kalau berbagi, maka
resahlah hatinya, ngak tentram jiwanya, padahal salah
satu tujuan perkawinan adalah untuk mempererat tali
siraturrahmi dan persaudaraan sesama muslim,
mengembangkan dakwah Islamiyah, bukan hanya sekedar
memuaskan nafsu belaka, memiliki keturunan saja,
tujuan perkawinan jauh lebih luas dari itu.
Dari beberapa cerita diatas, tahukah kita sikap apa
yang telah bersemayam didalam diri para sahabat
radhiallahuanhum? Itulah dia apa yang dikatakan sikap
Iisar(mendahului kepentingan orang lain, ketimbang
kepentingan diri sendiri, yang mana tujuan akhir dari
sikap iisar ini adalah mendahului Ridha Allah
ketimbang ridha siapapun).
Dalam kamus A Dictionary of modern written
Arabic(kamus berisikan dari Arab ke bahasa Inggris),
kata Itsar in berartikanpreference, altruism,
prelidection, love, affection(yang berratikan dalam
bahasa Indonesianya, memilih ini daripada itu),
sebenarnya kurang tepat makna dalam terjemahan bahasa
Inggris itu sendiri, begitulah kata Arab Itsar ini,
sulit ditemukan sinonimnya dalam bahasa lainnya, jadi
kurang tepat yang dimaksud dari Itsar itu
sendiri.Sementara yang dimaksud Iisar adalah
mendahulukan kepentingan orang lain, ketimbang
kepentingan diri sendiri.
Kalau Amru Khalid dalam bukunya :Asshabru
waddzauqmengatakan, sulit atau bahkan sering kita
tidak menemui kata yang tepat dalam bahasa Arab, bila
di terjemahkan kedalam bahasa Inggris, atau Prancis,
contoh lain, Al haya(malu),yang diterjemahkan dalam
bahasa InggrisnyaShy atau Ashamed, keduanya
berarti rasa malu, namun kedua kata ini belum
memberikan makna malu secara sempurna, begitupun kata
Tawadhu(rendah hati), yang terjemahan dalam
Inggrisnya humble, maknanya tunduk dan merendah, tetap
saja belum menjelaskan makna tawadhusecara sempurna.
Dan saya juga pernah menterjemahkan suatu buku, dimana
buku tersebut saya melihat betapa bahasa Arab memiliki
keistimewaan yang sulit ditemukan dibahasa lain.
Contoh saja kata :Saudara lelaki, dalam bahasa
Arabnya Akh, sementara kalau bahasa Inggrisnya
Brother, dan dalam bahasa Arabnya Saudara
perempuan, masih tetap berasal dari akar kata yang
sama, yaitu A- kha-Ukhti, kalau kita lihat bahasa
Inggris jauh sekali perbedaan tulisan ataupun ucapan
saudara lelaki dan saudara perempuan. Saudara Lelaki
brother, saudara perempuan sister, Paman dan
bibi(Khaalun, khaalatun), kalau bahasa
Inggrisnya:Uncle, aunt. Didalam bahasa Arab, masih
dalam satu akar kata(dan masih banyak lagi,
keistimewaan bahasa Arab, yang sempat saya rangkum
saat saya di Indonesia).
Mari kita Tanya diri kita sendiri, sudahkah kita
memiliki sikap Itsar ini. Kalaulah semua orang
memiliki sikap ini, saya kira kaum Muslimin tidak ada
yang kelaparan sebagaimana sekarang. Kalaulah sikap
kaum Muslimin sebagaimana sikap Rasulullah
Shalllahualaihiwasallam, dan para salafusshalih, saya
yakin dan percaya, kaum muslimin ngak akan mungkin
lemah. Namun teramat disayangkan, sikap penyayang,
sikap pemurah, sikap mendahulukan dan merasakan bahwa
saudara muslim juga adalah saudaranya juga sudah
sangat berkurang dari kepatrian jiwa muslimin, dan
juga karena Rasulullahpun telah memperingatkan kita
akan makna Iman yang sempurna, adalah dengan mencintai
saudara sesama muslim, sebagaimana kita mencintai diri
kita sendiri:
Kita tidak akan merasakan nikmatnya Iman, tidak
dikatakan mukmin yang sempurna, kalau kita belum
merasakan cinta dan kasih sayang saudara muslim,
sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri.
Rasulullah bersabda: Tidak beriman salah seorang
kamu, sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana
dia mencintai dirinya sendiri. Sudah tenangkah hati
kita makan enak, sementara tetangga kita, saudara kita
rakyat miskin disekeliling kita untuk sesuap nasipun
ia tak bisa rasakan?.
Kenapa semakin berkurangnya nilai-nilai ke islaman
sesama muslim semakin berkurang, apakah penyebabnya?
Sudah sering atau paling tidak sudah pernahkah kita
selalu memberikan uang yang terbaik bukan uang yang
lusuh lecek kepada penjual sayur mayur, kepada fakir
miskin, kepada pembantu kita. Atau pernahkah dalam
hidup kita mengumpulkan uang recehan seratus,
limaratus atau berapapun, kita kumpulkan, dan kita
berikan pada sang sopir angkot yang selalu setia
menemani kita mengantarkan kita ketempat kerja kita.
Tahukah dan sadarkah jiwa-jiwa kita bahwa uang seribu
dua ribu yang sering terbuang atau tercecer dilantai
rumah kita, uang tersebut sangat berharga bagi kenek
angkot, atau sopir angkot, karena seribu dua ribu
mereka mengumpulkannya dari berapa orang penumpang,
atau limaratus, yang tercecer dikamar mandi kita, kita
biarkan begitu saja, padahal uang tersebut sangat
berharga dan berarti bagi sang penjual kue dijalanan
untuk penopang hidup mencari sesuap nasi?, sementara
tak jarang diantara kita yang suka menawar kepada
pedagang kaki lima, pedagang rendahan dengan tawaran
yang serendah-rendahnya, limaratus atau seribu dua
ribu rupiah sering kita permasalahkan pada pedagang
kecil, pedagang kue, sementara biasanya seribu dua
ribu itu tercecer dibawah kasur kita? Setelah itupun,
kita ngak pula membiasakan diri kita memberikan uang
kertas baru kepada mereka, seringnya kita memilih uang
yang dah kumal.
Aku sering sekali sedih, melihat Pak Polisi yang
menilang sopir angkot yang terkadang mereka tak
berpenumpang, dan kadang uang mereka pas-pasan, atau
bahkan untuk menutupi setoran pada induk semangnyapun
ngak cukup hari itu, karena penumpang sepi, kadang
penumpangnyapun cerewet, kembalian yang hanya 500
rupiahpun masih ditagih juga, padahal kadang uang itu
terbawa kekantong dan tercuci, apalagi kalau
mencucinya disungai terbawa arus sungailah uang itu,
cobalah kalau dikasih sedeqah saja pada pak sopir,
atau penjual kue, maka kekallah ia diakhirat sana,
berbuah 700 kali lipat, bahkan lebih, ketimbang
terbawa arus tak berbekas, mana datang pula Pak
Polisi meminta uang dari mereka para sopir , kenapa
bukan para pejabat, para millioner, para ..para..yang
berUang, bermobil mewah itu yang dimintai uang?
Betapa sikap iitsar dah semakin menjauh dari kaum
muslimin, merasakan penderitaan yang dirasakan orang
lain, mendahulukan kepentingan orang lain dari
kepentingan dirinya sendiri dengan mendahulukan ridha
Allah Subhanahu wataala.membiasakan diri untuk
berlapang dada, rasa kasih sayang dan cinta sesama itu
mungkin sudah mulai menghilang didada kaum muslimin,
sehingga sempit saja dunia ini baginya, kecuali dunia
akan lapang kalau segala sesuatu itu hanya miliknya
seorang, atau sesuai dengan keinginannya, sesuai
dengan tujuan hidupnya sendiri.Ketahuilah wahai
saudaraku kaum muslimin, semua yang kita miliki saat
ini, pada hakikatnya itu adalah harta Allah yang
diamanahkan kepada kita, kelak akan kita
pertanggungjawabkan dihadapanNya, oleh sebab itu
carilah hanya Ridha Allah semata, berhukumlah hanya
kepada hukum Allah semata, itulah makna tertinggi
daripada Iisar(mendahulukan Ridha Allah ketimbang
ridha siapapun)..
Wassalamualaikum. Rahima, Cairo, 4 Pebruari 2008
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?
Find them fast with Yahoo! Search.
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca dan dipahami! Lihat
di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur dan Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG!!! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui
jalur pribadi.
- Anggota yg posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg
bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen akan mengikuti peratiran yang
berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahul
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---