KARENA BAHASA IBU


Padang tahun 70-an



“Sia dalam kamar mandi?”, tanya Ni Des teman kos kakakku di jalan Kamang
Padang.

”Aden”, jawabku mantap.  Terdengar teman-teman kakakku tertawa

Ketika aku keluar dari kamar mandi, aku dipanggil  teman-teman kakakku,  mereka
 menasihatiku tentang kata “Aden”  yang tidak boleh diucapkan di Padang.  Walau
tidak mengerti alasannya, untuk seterusnya aku dilarang menggunakan kata
“Aden” tersebut.  Sebagai gantinya aku harus menyebut nama sendiri bila ada
yang memanggilku.



Waktu itu memang aku tak banyak membantah, dan mengikuti apa mau
teman-teman kakakku yang calon-calon dokter itu. Untuk menghindari banyak
salah maka aku kurangi berkata-kata dengan orang lain. Aku pilih
banyak  bermain
dengan teman-teman yang ada disekitar rumah kos kakakku untuk mengisi waktu
liburan. Teman bermainku  menyebut “kami”  untuk pengganti namanya.  Aku
dengan cepat menyesuaikan diri dan ikutan ber”kami” untuk menyebut diri.



Pulang dari liburan, apa yang diingatkan oleh teman-teman kakakku kucoba
untuk mempertahankannya. Karena beda sendiri yaitu ber”kami”  untuk
menyebut diri , teman-teman sepermainanku di kampung langsung protes.
“Cuman liburan ke Padang  saja  sudah sok, pakai kami segala”, kata mereka.
Aku terdiam dan terpaksa kembali ber ”aden”.



…



Bengkulu 2009



Tetangga yang heterogen, dan bahasa suami yang terasa aneh di telingaku
walau sama-sama berasal dari Ranah Minang tetapi berlain Nagari, membuat
kami memutuskan untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa
sehari-hari.  Ketika muncul rasa rindu akan kampung halaman dan
saudara-saudaraku yang sudah merantau pula, aku gunakan bahasa ibu ketika
berkomunikasi dengan saudara-saudaraku. Suasana kampung ketika bersama ibu
terasa hadir tatkala kami saling bercerita dan bernostalgia.



Berharap suasana serupa akan muncul maka aku menggunakan bahasa ibu pada
salah satu tulisanku. Aku menceritakan suasana membuat pergedel kentang
menjelang pesta.  “Bialah aden nan mangubak kantang dih?” kato  Gaek Ketek.
“Aden satololah mangubak kantang, sabanyak dun kantang masak surang sen kau
mangubak ?”, kato Kak Ni manyolo. “ Bialah den ansua manggoreng nan alah
bakubak gon dih?”, kato Gaek Udo. Datang pulo Ni Zar manyolo, “ bialah den
nan manggiliang bumbuno, nak baransua juo karajo taro”. “Sambia manggoreng,
nan alah masak bialah den linyakan sakali”, kato Gaek Udo.  Sesudah kantang
halus dan bumbu halus juga sudah tersedia, dan sudah disatukan ke dalam
panci besar, ibu-ibu yang berbagi tugas tadi berkumpul menghadapi panci
besar dan mulai membuat pergedel.  “Alah taraso bumbuno go”, tanyo Ni Zar
ka Gaek Udo.  “ Kato den tambahlah garam sangenek li” jawek Gaek Udo. Baa
manuruik Kak Ni? “, tanyo Nizar ka Kak Ni. “Alah mah, alah taraso di den
garamno” kato Kak Ni. Sudah disepakati tentang rasanya, lalu para ibu mulai
membuat pergedel. “Alah go sagiko gadangnp?”, tanyo Ni Zar. “Ketek mek du,
tambah senek li, sagan wak kalau ketek amek”, kato Gaek Ketek. “Sagadang
nan dibuek Kak Ni dun sadang elok du”, kecek Gaek Ketek.Sampai pergedel
masak, selalu ada kesepakatan terlebih dahulu di antara ibu-ibu yang
memasak.





 Namun apa yang terjadi, aku merasa terlempar ke tengah-tengah kelompok
yang darahnya biru. “Huuhhh kasar, seperti preman di terminal”, begitu
komentar mereka. “Memangnya kampungku jajahan Nagari lain sehingga aku
harus tunduk pada bahasa Nagari  lain?”, protesku. Jumlah mereka yang
mencibir sangat banyak, sehingga aku terdiam seribu basa.



Aku tidak mengerti mengapa begitu rendahnya bahasa ibuku di mata kaum yang
berdarah biru. Ibuku alumni Diniyah Putri, cantik , lembut dan sangat
penyayang, mana mungkin akan menghantarkan anak-anaknya untuk dihina orang
bahasanya. Papaku yang terkenal pintar dan menguasai beberapa bahasa asing,
dan juga pernah jadi pejabat di kantornya, tidak pernah bercerita tentang
bahasa kampung yang salingka Nagari bahasa yang rendah di mata orang Minang
yang berdarah biru. Dengan mantap papaku menggunakan kata “Aden” untuk
pengganti dirinya.



Pesan papaku padaku tentang bahasa hanya sederhana saja, “Kuasailah
matematika dan bahasa Inggris, maka ilmu lain akan bisa dikuasai dengan
mudah”. ”Kok bisa pa?”, tanyaku. Aku lupa apa jawaban papa waktu itu. Otak
SMPku belum mampu mencerna maksudnya. Yang terjadi padaku, semua pelajaran
terasa sulit, apalagi pelajaran bahasa Inggris itu.

Padang 2011

….



Salah seorang sahabatku  yang bukan orang kampungku,menurutku darahnya juga
biru. Pada suatu hari mengajakku menggunakan bahasa ibuku untuk
berkomunikasi di dunia maya.

“Aden taragak maota jo bahaso ibu kau”, katanya

“He he he”, jawabku senang

“Bakalah kayu nan basilang di dado kau itu”, katanya padaku

Tentu saja aku terkejut dengan permintaannya itu,

Belum sempat aku menjawab, datang lagi perintahnya

“Turuikkanlah kato den”, katanya lagi

Aku tetap saja terdiam dan berkata sendiri dalam hati “baa pulo mambakano
du”

“harusno kau basyukur dan batarimo kasi ka kawan-kawan kau itu”, sambungnya
lagi

“Batartimo kasi ka kawan-kawan den??”, tanyaku membalas

“ iya, kau harus basyuikur dan batarimo kasi ka mereka”, ulangnya

“ Baa mangko aden batarimo kasi ka mereka?”, tanyaku lagi

“Gara-gara merekalah mangko kau dapek hidayah”. jawekno

“Alun mangarati den mukasuikno ladoh”, jawabku

“ Kau ranuangkanlah dulu kato-kato den”, jawekno

…



Bahagia rasanya ada yang menghormati bahasa ibuku. Bagaimana mungkin bahasa
Minang akan bertahan bila ada yang tak menghornati bahasa ibu di Nagari
lain?





Padang, 15 Desember 2012



Hanifah Damanhuri

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke