Kompas, Senin, 31 Desember 2012

Kompas/Jean Rizal Layuck

Foto Makam Imam Bonjol di Pineleng, Sulawesi Utara.

[http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2012/12/31/4992738p.jpg]

http://cetak.kompas.com/read/2012/12/31/03123184/minahasa-minangkabau.bertem
u.di.makam.imam.bonjol

Orang Minangkabau menyebut "Awak Badu Sana", sedangkan orang Minahasa
mengatakan "Torang Samua Basudara". Semangat persaudaraan bergelora saat
tokoh dan masyarakat berbeda etnis itu bertemu di makam Imam Bonjol,
November lalu.

Tuanku Imam Bonjol, ulama berpengaruh di Sumatera Barat yang gigih melawan
penjajahan Belanda dalam perang Padri (1821-1837), menjadi titik temu warga
Minahasa-Minangkabau. Imam Bonjol diasingkan jauh dari ranah Minang ke Desa
Lota, Pineleng, Minahasa, Sulawesi Utara, lalu meninggal dan dimakamkan di
sana.

Banyak cerita antara Minahasa dan Minangkabau. "Orang Padang dan orang
Manado jika bercakap pasti gembira. Orang Padang suka bergurau, orang Manado
bakusedu," kata Azwar Anas, tokoh masyarakat Minangkabau pada malam
keakraban dengan Gubernur Sulut SH Sarundajang di Manado. Azwar Anas serta
ratusan warga dan tokoh adat Minangkabau ke Manado dalam rangka berziarah ke
makam Imam Bonjol.

Sarundajang menimpali pernyataan Azwar, yang mengakui kegigihan orang Minang
dalam berdagang karena hampir semua pelosok Nusantara banyak ditemui rumah
makan Padang. "Masih ada kerja sama dengan kita di sini. Orang Minang
berjualan, orang Minahasa menjadi pembelinya," ujarnya, yang disambut tawa
hadirin.

Djumaris, Ketua Masyarakat Minangkabau Bundo Kanduang Anda Kasuma Nusa di
Sulut menyebutkan, di Manado, terdapat 1.000 warga Minang yang sebagian
membuka usaha rumah makan. Terdapat tak kurang dari 50 rumah makan Padang di
Manado.

Rumah makan Padang itu mengikuti selera orang Minahasa, dengan menambah
dabu-dabu dalam masakannya dengan bumbu cabe rawit. Rasanya lebih pedas
daripada yang biasa dimakan orang Padang.

"Makanan mengikuti budaya Minahasa. Torang (kami) beruntung memiliki Tuanku
Imam Bonjol yang diterima baik oleh orang Minahasa. Seperti tinggal di Tanah
Minang sendiri," kata Djumaris.

Perekat Nusantara

Zulfani Burhan, Ketua Umum Badan Koordinasi Kemasyarakatan Kebudayaan Alam
Minangkabau, mengatakan, konstruksi masyarakat Minangkabau dan Minahasa
mirip karena tak mengenal sistem kerajaan. Masyarakat egaliter.

Oleh karena itu, di Minangkabau, terkenal pepatah, pemimpin hanya selangkah
di depan (yang dipimpin). Masyarakat di Minahasa demokratis-dinamis.

Zulfani menyebutkan, sikap Belanda yang mengasingkan Imam Bonjol ke Minahasa
agar dibunuh ternyata salah. Imam Bonjol diterima baik oleh warga Pineleng,
yang kemudian menjadi pengikat wilayah Nusantara.

Zulfani dan segenap tokoh Minangkabau pun menyatakan, makam Tuanku Imam
Bonjol tak perlu dipindahkan ke tanah Minang. Dulu sempat ada wacana dari
Bupati Pasaman, sebagai daerah asal Imam Bonjol, untuk memindahkan makam
pahlawan nasional itu. "Kami menentang hal itu, kecuali jika kami datang ke
Minahasa memakai paspor," katanya.

Sarundajang juga "melarang" tokoh Minangkabau mengeluarkan dana untuk
merenovasi makam Imam Bonjol. Imam Bonjol sudah menjadi "orang Minahasa"
karena sempat hidup di Lota, Pineleng, selama sekitar 20 tahun sebelum wafat
pada 6 November 1864.

"Tuanku Imam Bonjol juga pahlawan kami. Pemerintah provinsi (Sulut) sudah
menganggarkan dana untuk renovasi makamnya," katanya.

Penjaga makam

Makam Imam Bonjol berada di lahan seluas 75 meter x 20 meter. Suasana di
makam ini sejuk sebab terlindung oleh pohon rimbun. Pusara Imam Bonjol
berada dalam bangunan berbentuk rumah adat Minangkabau, berukuran 15 meter x
7 meter. Di atas pusara bertaburan aneka bunga. Tempat ini tak pernah sepi
dari peziarah.

Di bagian belakang bangunan makam mengalir Sungai Malalayang. Dengan
menuruni anak tangga, di tepian sungai ini, terdapat batu kali yang dipakai
Imam Bonjol sebagai tempat melaksanakan shalat selama di pengasingan.

Batu kali itu berukuran sekitar 2 meter x 0,5 meter dengan tinggi sekitar
0,5 meter. Terdapat beberapa cekungan pada bagian batu itu. Cekungan itu
antara lain bekas kening Imam Bonjol saat bersujud. Juga ada bekas dua tapak
tangan dan bekas tempat duduknya.

Ainun Minggu (67), yang sehari-hari bertugas sebagai penjaga makam Imam
Bonjol, bergembira atas kedatangan banyak orang Minangkabau. Ia menyebutnya
sebagai saudara.

Ainun, adalah cicit dari Apolos Minggu, pengawal Imam Bonjol saat dalam
pengasingan. Apolos menikahi Mengky Parengkuan, gadis asal Pineleng. Di
Lota, Pineleng, Imam Bonjol berkebun dan menjadi guru agama. (jean rizal
layuck

 

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke